
Setelah puas memakan seblak yang diinginkan, Joana kembali mengajak Devan berkeliling untuk mencari es krim. Memang tidak ada bosannya seorang wanita jika menyangkut es krim seperti itu. Dan kebetulan ada IndoMei yang dekat dengan tempat mereka tadi sehingga mereka bisa membeli es krim disana.
"Carilah es krim yang kamu inginkan. Aku ingin beli rokok," kata Devan.
Joana hanya mengangguk saja, ia segera berjalan ke arah tempat es krim dan mencari es krim yang diinginkan.
Namun, saat Joana asyik melihat-lihat, tiba-tiba saja ada seseorang yang memegang bokongnya dari belakang sehingga membuat Joana terkejut bukan kepalang.
"Maaf, aku tidak sengaja," ujar pria itu dengan wajah tak bersalah sama sekali.
Joana begitu geram, ia langsung mendorong pria itu dengan kasar. "Kurang ajar! Apa kamu pikir aku bodoh? Dasar pria mesum!" teriak Joana.
"Wow, teriakanmu terdengar sangat seksi dan menggoda seperti ini," ucap pria itu kembali menjawil lengan Joana.
Joana segera menghindar, tanpa ragu langsung memukul wajah pria itu dengan sangat keras. Pria itu memang sangat kurang ajar sekali.
"Kau-"
"Apa? Kamu ingin membalasku? Lakukanlah, pria pengecut!" umpat Joana benar-benar sangat marah karena dilecehkan seperti tadi.
"Beraninya kau! Aku akan membuatmu menyesal!" Pria itu tampak sangat geram, ia tiba-tiba mendekati Joana dan menarik lengannya. "Ayo ikut aku!" titahnya dengan nada sarkas.
Joana segera berontak dengan memukuli tangan pria itu, akan tetapi kekuatannya tentu tidak sebanding dengan seorang pria. Joana hampir saja diseret oleh pria itu, tapi sebelum itu terjadi Devan sudah datang dan langsung melibas kepala pria mesum itu dengan tendangan kuat.
"Arghhhhhhhh! Brengsek!" Pria mesum itu mengumpat marah, ia segera membalik tubuhnya, ingin melihat siapa orang yang kurang ajar padanya.
Namun, sebelum ia berbalik tubuhnya kembali dihantam dengan keras oleh pukulan telak. Devan yang sangat marah tidak segan menarik bajunya lalu membantingnya ke lantai.
"Baji ngan! Beraninya kamu menyentuh wanitaku! Kamu harus mati!" teriak Devan seperti orang kesetanan, ia segera menarik pria mesum itu lalu melemparnya kearah rak-rak yang berjajar rapi hingga hancur seketika.
BRAKKKKKKKK
"Akhhhhhhhhhhhh!"
Beberapa pembeli yang ada disana berteriak kaget mendengar suara dentuman itu. Mereka sangat syok melihat dua orang yang sedang bergelut dengan brutal seperti itu.
"Bangun kamu baji ngan!" Seolah tidak puas melihat pria mesum itu berdarah-darah, Devan kembali menarik tangannya lalu menghantamkan kepalanya ke rak berkali-kali.
"Dev!" Joana ikut berteriak, ia bergegas mendatangi Devan yang tengah mengamuk itu.
__ADS_1
Dilihatnya kondisi IndoMei itu sudah berantakan tak karuan. Pegawai IndoMei sendiri sedang mendatangi Devan karena pria itu sedang membuat kekacauan.
"Lepaskan! Biarkan aku membunuh pria ini!' teriak Devan.
"Dev, kamu membuat keributan. Aku tidak apa-apa," kata Joana buru-buru menarik Devan menjauh.
Devan menghempaskan tangan Joana dengan kasar, napasnya terengah-engah dengan wajah yang memerah padam. Mungkin jika tidak dihentikan Joana, ia akan benar-benar membunuh pria itu.
Kedua pegawai IndoMei itu mendatangi mereka, tapi sebelum mengatakan apapun Devan sudah menyerahkan kartu namanya.
"Devandra Dawson, aku akan menanggung semua kerugiannya. Tapi buang pria tidak berguna itu di jalanan," kata Devan dengan wajah penuh emosi.
Kedua pegawai itu langsung diam saja, dari mereka sudah paham jika Devan merupakan orang yang sangat berkuasa. Dari kartu namanya saja sudah terlihat.
"Ayo pergi," ajak Devan dengan suara lembut saat menggandeng tangan Joana.
"Dev, es krim." Joana ingin pergi, tapi masih ingat dengan es krimnya.
Devan menghela napas panjang. "Dua detik." Hanya kata itu yang meluncur dari bibir Devan.
Joana tersenyum tipis, ia segera mengambil es krim yang diinginkannya dan Devan segera memberikan uang pecahan seratus ribu kepada pegawai itu lalu pergi begitu saja. Ia sudah sangat muak sekali dan ingin secepatnya pulang.
Sama seperti saat datang, Devan kembali memegang payung dengan tangan yang merangkul bahu Joana. Hujan sepertinya tidak ingin berhenti meskipun sudah berjam-jam menumpahkan airnya. Justru sekarang semakin deras.
"Aku tidak suka basa-basi. Sekali-kali kita perlu menunjukkan siapa kita agar orang tidak memandang kita remeh," ujar Devan dengan sikap dinginnya.
"Ya, tapi kamu jadi melukai dirimu juga 'kan? Kenapa sih cowok itu selalu menyelesaikan masalah dengan otot?" tukas Joana dengan dahinya yang berkerut.
"Naluri." Devan kembali menjawab dengan singkat.
Joana memanyunkan bibirnya, memang tidak ada gunanya berharap Devan akan bersikap manis atau bagaimana. Pria itu sepertinya sudah terbiasa bersikap dingin sejak lahir.
"Ceritakan padaku, bagaimana dulu kamu mendekati para wanita agar mau denganmu?" tanya Joana tiba-tiba.
"Aku tidak pernah mendekati mereka," sahut Devan.
"Tidak mungkin, kamu pasti yang menyatakan cinta terlebih dulu 'kan?" Joana memandang Devan tidak percaya.
"Semuanya hanya berjalan begitu saja. Aku tidak pernah mengungkapkan perasaanku selain kepadamu," jawab Devan dengan jujur.
__ADS_1
"Ck, tapi kemarin kamu juga tidak romantis," celetuk Joana.
"Aku memang seperti itu."
"Ya, tapi setidaknya belajarlah untuk bersikap romantis. Katanya kamu cinta, tapi nggak ada manis-manisnya sama aku," keluh Joana mendadak sangat manja kepada Devan.
Devan menarik sudut bibirnya. "Lalu, bagaimana yang romantis itu?" Devan menanggapi saja ocehan Joana.
"Ehm, begini." Joana menghentikan langkahnya, ia melepaskan tangan Devan lalu berdiri tepat dihadapan pria itu.
"Kamu harus memandang wanitamu seperti ini," kata Joana seraya memegang kedua pipi Devan agar menatap matanya. "Jangan menatapnya sangat tajam seperti itu, tapi tataplah matanya dengan penuh cinta dan buatlah hatinya bergetar karena tatapan matamu," lanjut Joana menirukan gaya tatapan mata menggoda yang sering ia lempar kepada para prianya.
"Ah, sepertinya tidak ada gunanya. Kamu tidak akan paham maksudku, ayo pulang saja," ucap Joana menggerutu sendiri, antara malu dan juga sedikit kesal karena Devan tidak mengerti apa yang ia inginkan.
Joana buru-buru berbalik, tapi saat ia berbalik Devan menarik pinggangnya dengan lembut hingga tubuh mereka menempel erat. Setelah itu Devan membuang payung yang tadi dipegang dan menatap Joana dengan pandangan lembut penuh cinta seperti yang Joana inginkan.
"Dev," lirih Joana, ia mencoba menguasai dirinya, tapi berpelukan dibawah naungan hujan seperti ini membuat seluruh tubuhnya bergetar, entah karena dingin atau hal lain, tapi Joana merasakan jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.
"Apa seperti ini yang kamu inginkan?" ucap Devan.
Joana tidak langsung menjawab, tapi sesaat kemudian ia tersenyum seraya mengangguk malu-malu.
Devan ikut tersenyum, ia menarik dagu Joana agar menatap wajahnya. "Jika ini yang kamu inginkan, sekarang kamu harus tahu apa yang aku inginkan," ucap Devan tiba-tiba saja sudah menyatukan bibirnya diatas bibir Joana.
Joana begitu terkejut, tapi tidak kuasa menolak ciuman penuh cinta itu. Ia memeluk pinggang Devan dengan erat seraya menikmati ciuman itu dibawah hujan yang masih cukup deras.
Saat ciuman itu semakin intens, Joana tiba-tiba melepaskan dirinya dan mendorong Devan menjauh.
Devan mengerutkan dahinya, terkejut juga kenapa Joana tiba-tiba melepaskan tautan bibir mereka yang sangat mesra.
"Jangan bertanya kenapa, tapi aku sedang membalas dendam padamu. Bagaimana Tuan Devandra? Satu sama!" teriak Joana tersenyum puas melihat ekspresi Devan.
Devan juga cukup terkejut, tapi ia ikut tersenyum melihat tawa Joana yang sangat lepas itu.
"Berani kamu ya? Berlarilah, aku pasti akan mendapatkanmu dan tidak akan melepaskanmu," kata Devan langsung saja mengejar Joana yang sudah berlari terlebih dulu.
Joana semakin tertawa melihat Devan yang berlari mengejar dirinya. Rasanya menyenangkan sekali berlari ditengah hujan dan tertawa sangat lepas seperti itu.
Joana berlari sekuat yang ia bisa, tapi dengan kaki panjangnya, Devan bisa mengejar Joana lalu menggendong tubuhnya dan memutar-mutarnya keatas sehingga membuat kebahagiaan Joana bertambah.
__ADS_1
Sekarang ia tahu, bahagia itu tergantung diri kita yang menciptakan. Selain dari kita, siapa lagi? Lupakan ocehan dari satu orang pembenci untuk selamanya. Karena ... bahagia itu sederhana.
__________