Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
Perdamaian Keluarga.


__ADS_3

Pagi menyingsing cepat, Stella dan Xander terlihat sudah duduk berkumpul bersama Medison dan Melisa. Kedua orang tua Xander juga ada di sana karena Medison sengaja mengundang mereka sebagai bentuk silaturahmi keluarga.


"Sebelumnya saya ingin mengucapkan permintaan maaf saya atas sikap kami yang pernah membuat perusahaan Nak Xander terkena masalah. Untuk itu saya berjanji akan memperbaiki segalanya," ucap Medison membuka percakapan pagi itu, ia harus meminta maaf karena pernah menyudutkan Xander.


"Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada keluarga Tuan Kendrick karena sudah mau menerima putri saya Stella saat dulu kami mengusirnya. Saya ucapkan terima kasih sedalam-dalamnya," ucap Melisa memandang keluarga Xander dengan tatapan penuh syukur.


"Tidak apa-apa Tuan, Nyonya, kami sudah menganggap Stella seperti putri kami sendiri. Jadi tidak perlu meminta maaf lagi, sekarang ini kita keluarga," kata Mama Rita menggenggam tangan Melisa lembut.


"Mama Rita benar Pa, Ma, kita ini keluarga sekarang. Papa dan Mama jangan terus merasa bersalah, lagipula Stella yakin, Papa dan Mama pasti tidak ingin masalah ini terjadi," ucap Stella sudah mengikhlaskan semua kesilapan di masa lalunya.


Medison dan Melisa saling pandang, mereka merasa luar biasa. Bukan hanya menemukan putrinya yang hilang, mereka juga bersyukur karena memiliki seorang putri yang baik dan sangat tulus kepadanya.


"Baiklah, karena acara maaf-maafan sudah selesai, bagaimana kalau kita sarapan sekarang? Kasihan istriku belum makan, dia sedang hamil," celetuk Xander membuat semua orang saling pandang lalu tertawa bersamaan.


"Apaan sih by," cetus Stella mencubit gemas paha suaminya.


"Aduh, aku mengatakan kebenaran loh, kamu memang hamil, jadi harus banyak makan. Iya kan Ma?" ucap Xander dengan gayanya yang pura-pura kesal, ia memang sebal karena semalam tidak mendapatkan yang ia mau, jadi wajahnya masih sangat masam sekarang.


"Benar, orang hamil memang harus banyak makan biar bayinya sehat," kata Mama Rita tersenyum senang melihat anak dan menantunya bisa berkumpul kembali.


"Stella sudah hamil berapa bulan Sayang?" tanya Melisa baru ingat kalau putrinya sedang hamil.


"Lima bulan Ma," sahut Stella tersenyum manis.


"Kita akan segera punya cucu Jeng," ucap Mama Rita.


"Oh iya, 4 bulan lagi kita udah jadi nenek," kata Melisa ikut tak sabar menantikan hari itu tiba.


Acara sarapan pagi itu terasa berwarna dan sangat berkesan. Semua keluarga tertawa dan bercengkrama riang membicarakan berbagai hal yang selama ini terlewatkan. Hanya sebuah kegiatan sederhana, namun memiliki rasa yang istimewa jika kita melakukannya dengan cinta.


*****


Xander lagi-lagi dibuat bete di rumah, apalagi alasannya kalau bukan Stella. Wanita itu kini justru semakin sibuk bersama kedua Mamanya. Yang membuat kue lah, menyiram bunga, entah apalagi. Setiap ia ingin mendekat, Mama Rita atau Mama Melisa memanggilnya.


Padahal hari ini ia sengaja tidak bekerja karena ingin menghabiskan waktu bersama istrinya. Tapi semuanya gagal total, ia malah terdampar bersama Papa Kendrick dan Papa Medison membahas perusahaan.


"Menurut kamu bagaimana Xander?" pertanyaan dari Papa Medison membuat Xander keluar dari lamunannya.


"Bagaimana apanya Pa?" tanya Xander benar-benar tidak tahu dengan apa yang sedang dibicarakan.


"Sekarang kamu tahu kan kalau Stella itu adalah putri Papa satu-satunya, sebagai suaminya, Papa ingin kau tahu kalau Papa akan menyerahkan semua hak milik perusahaan kepada Stella," ujar Medison sudah memikirkan matang-matang keputusannya ini.


"Boleh saja, Papa tanyakan saja kepada Stella. Dia setuju atau tidak," sahut Xander tak punya kuasa untuk menolak karena semua itu pemberian dari orang tua Stella.

__ADS_1


"Ya, tapi sebelum itu, Papa ingin kau yang memimpin perusahaan ini, apakah kau bersedia?" tanya Medison lagi.


"Memimpin perusahaan?" Xander malah syok mendengar permintaan ini.


"Papa sudah tua Xander, Papa rasa sudah tak sanggup lagi memimpin perusahaan ini. Papa ingin mengundurkan diri dari kursi jabatan Papa, menepi sejenak untuk melepas penat bersama Mama mu. Papa yakin, kau adalah orang yang tepat," kata Medison lirih.


Xander terdiam, ini adalah pilihan yang sangat sulit baginya. "Aku harus membicarakan ini dengan Stella Pa," ujar Xander ingat pesan Stella pentingnya komunikasi di dalam pernikahan. Ia harus melibatkan Stella dalam setiap keputusan yang dibuatnya.


Jadi ketika malam harinya, Xander meminta untuk membicarakan masalah ini berdua dengan Stella. Ia mengajak istrinya itu untuk duduk bersantai di balkon kamar yang sejuk.


"Hubby mau ngomong apa?" tanya Stella mendongakkan menatap suaminya.


Xander tak langsung menjawab, ia memilih merebahkan kepalanya di pangkuan Stella untuk sejenak melepas penat.


"Kenapa? Hubby sakit?" tanya Stella cemas.


"Pusing," sahut Xander mengambil tangan Stella, meminta wanita itu mengusap kepalanya.


"Manja banget," celetuk Stella tersenyum kecil, ia menurut dengan mengusap-usap kepala Xander lembut.


"Manja dengan istri sendiri masa tidak boleh, kamu seharian sudah punya Mama, sekarang punya aku," kata Xander menenggelamkan wajahnya di perut Stella.


"Aduh by, geli ..." ucap Stella kegelian.


Stella semakin kegelian saat bibir basah Xander menyentuh perutnya. "By ..." rengeknya tak tahan geli.


"Anak aku apa kabar? Dia sudah semakin besar," ucap Xander memejamkan matanya seraya menampilkan pipinya di perut Stella.


"Aku baik-baik saja Papa," sahut Stella menirukan suara anak kecil untuk menjawab pertanyaan Xander.


Xander mengembangkan senyumnya, ia semakin menciumi perut Stella dengan gemas lalu barulah mengeluarkan kepalanya.


"Jahil," ucap Stella mencubit hidung Xander.


"Aku nggak sabar menunggunya lahir," kata Xander memandang istrinya.


"4 bulan lagi by," kata Stella kembali mengelus kepala Xander.


"Oh ya, aku mau ngomong penting Sayang," ucap Xander teringat hal penting tadi siang.


"Ngomong apa?" tanya Stella mengernyit.


"Ini soal Papa," kata Xander.

__ADS_1


"Papa?"


"Ya, Papa Medison. Dia bilang, akan menyerahkan semua hak perusahaan untuk kamu," ucap Xander bangkit dari tidurannya. Merasa tak enak jika harus membicarakan masalah penting dengan posisi seperti itu.


"Bukankah ini terlalu cepat by?" tanya Stella tak ingin dikira aji mumpung, apalagi semua itu adalah tanggung jawab besar meski dia merupakan anak kandung Papanya.


"Kau bisa menolak jika memang belum siap, Papa tadi juga memintaku untuk menjadi pimpinan perusahan," kata Xander lagi.


"Lalu?"


"Lalu apalagi? Aku belum memutuskannya, aku mau bilang dulu sama kamu," kata Xander seadanya.


"Tumben," kata Stella menyindir.


"Jadi bagaimana? Kamu setuju nggak?" tanya Xander mengabaikan sindiran halus istrinya.


"Itu semua terserah hubby, kalau memang nggak sanggup ya jangan di terima. Takutnya hubby malah nggak bisa bagi waktu dan malah kecapekan," sahut Stella lebih mementingkan kesehatan suaminya, apalagi perusahaan Papanya perusahaan yang besar, belum lagi Xander yang juga harus diurus.


"Sebenarnya gapapa, asal amunisinya lancar," kata Xander mengerlingkan matanya.


"Amunisi apa?" Stella memandang suaminya curiga.


Xander melirik istrinya dengan senyum tipis, tatapan matanya pun sudah sangat dikenali Stella. "Nggak ada ya, aku masih ngambek," kata Stella pura-pura kesal.


"Tapi aku butuh amunisi sekarang, dan kau harus mau, tidak boleh menolak," ucap Xander langsung menggendong Stella begitu saja.


"Eh? Turunin nggak by, aku nggak mau!" teriak Stella meronta dari gendongan suaminya.


"Ssssttt, jangan teriak-teriak," Xander langsung membungkam bibir Stella dengan ciumannya, ia terus menggendong Stella. Setelah sampai di dalam kamar, Xander melanjutkan kegiatannya di ra n jang yang panas.


Happy Reading.


Tbc.


Jangan lupa like dan komen ya guys ....


Author juga mau kasih rekomendasi novel bagus nih ...


Mampir yuk ke karya teman author ...


Judul : Ternyata Dia Jodohku.


Author : Sofa Marwa

__ADS_1



__ADS_2