
Stella tersenyum mendengar pertanyaan Xander, ia menenggelamkan wajahnya di dada hangat suaminya.
"Aku pikir kau juga bisa mengenaliku," ucap Stella pelan.
"Maafkan aku karena tidak bisa mengenalmu, saat itu aku pikir kau sudah melupakan ku karena aku pindah sekolah," ucap Xander mengingat kenangan beberapa tahun silam saat ia pindah sekolah karena Papanya masih sering bergonta-ganti tempat tinggal untuk mengurus bisnisnya.
"Aku tidak akan pernah melupakanmu. Bahkan saat pertama kali kau berdiri memberikan sambutan di kapal pesiar waktu malam tahun baru. Aku tahu itu kau By," ucap Stella ikut mengenang saat pertemuannya pertama kali dengan Xander setelah beberapa tahun berpisah.
"Kapal pesiar?" Xander langsung menatap Stella, ekspresi wajahnya tampak begitu terkejut saat mengingat kapan hal itu terjadi. "Itu sudah sangat lama," gumam Xander ingat kalau kejadian itu sekitar 4 tahun yang lalu.
"Ya, saat itu kau baru saja kembali pendidikan dari luar negeri dan memimpin perusahaan, sesuai impianmu, kau bisa mencapai semuanya diusia 22 tahun," ucap Stella membuat Xander tak bisa lagi berkata-kata. Ia hanya diam menatap wajah Stella dengan sorot mata mendamba.
"Bagaimana aku bisa begitu beruntung memilikimu?" ucap Xander benar-benar bersyukur bisa memiliki wanita indah ini.
"Aku yang lebih beruntung memilikimu By, terima kasih sudah mencintaiku," ucap Stella lirih, matanya berkaca-kaca memandang suaminya.
"Ssst, jangan berkata hal itu. Aku yang seharusnya malu karena pernah menyakitimu," ucap Xander mendekatkan wajahnya hingga keningnya beradu dengan kening Stella.
"Hal seperti itu memang sudah seharusnya di lupakan, tidak perlu membahasnya lagi," ucap Stella tersenyum kecil.
"Kau benar, lebih baik kita mencoba hal yang baru saja," ucap Xander mengerlingkan matanya, ia sudah sampai di lantai atas yang terdiri dari 3 ruangan. Kamar tidur utama, tempat kerja dan juga tempat gym pribadi.
"Hal baru? Bukan TKP baru?" tanya Stella balas menggoda suaminya.
"Hahaha, istriku emang pinter, belajar darimana sih?" Xander tertawa mendengar perkataan istrinya.
"Memangnya siapa lagi yang ngajarin?" Stella memutar bola matanya malas.
Xander semakin tertawa melihat ekspresi Stella yang sangat menggemaskan. "Jangan memasang wajah seperti itu," ucap Xander lagi.
"Memangnya kenapa?" tanya Stella tak mengerti.
"Karena aku sudah tidak sabar untuk menciummu," bisik Xander dengan mata yang sudah berkabut gairah.
Stella tersenyum malu, perlahan Xander membawanya masuk ke dalam kamar utama yang sangat luas. Memiliki jendela kaca besar dan juga balkon yang memperlihatkan pemandangan lapangan golf yang indah.
__ADS_1
"Wow, pemandangannya sangat bagus Xander," ucap Stella berdecak kagum melihat pemandangan di depannya.
"Kalau malam pemandangannya lebih bagus," ucap Xander seraya menurunkan Stella dari gendongannya.
"Kapan hubby membeli rumah ini?" tanya Stella ingin tahu.
"Tidak lama, setelah kau memutuskan menerima ku kembali, aku baru mencarinya. Dan aku rasa rumah ini sangat cocok," ucap Xander merengkuh pinggang Stella agar posisi mereka lebih intim.
"Ya, disini sangat bagus. Aku juga suka," ucap Stella jujur sudah nyaman begitu masuk rumah ini.
"Di rumah ini, kita akan membesarkan anak-anak kita nanti," ucap Xander sudah tak sabar membayangkan hal itu. Memiliki istri cantik dan anak-anak yang menyenangkan, sungguh bayangan keluarga yang indah.
"Anak-anak? Memangnya kau ingin punya anak berapa?" tanya Stella sedikit mengernyit.
"Berapa saja boleh, asalkan kau ibunya," ucap Xander mengeluarkan gombalan mautnya.
"Pinter banget kalau di suruh gitu," ucap Stella mencibir pelan tingkah suaminya ini.
"Mau di kasih berapa tergantung nanti saja, yang terpenting sekarang ... kita membuatnya dulu," bisik Xander mengusap lembut pipi Stella sebelum membenamkan ciuman di bibir merah bak kelopak mawar istrinya.
"Aku suka banget sama ini," ucap Xander berdecak kagum melihat keranuman dada Stella.
Stella hanya tersenyum malu, ia ingin menutupnya namun Xander dengan cepat menekuk tangannya keatas dan membenamkan wajahnya di sana.
"By ... ah ..." de sa han Stella mengalun lembut saat Xander menciumi kedua asetnya. Pria itu tak segan me ny edot dan meninggalkan bekas-bekas cinta di sekitar dada Stella.
Beberapa saat kemudian, de sa han keduanya terdengar bersahutan memenuhi kamar. Dengan mata yang tak lepas saling memandang dan tertidur seraya berpelukan setelah semuanya terselesaikan.
*****
Keesokan paginya, Xander terbangun saat mendengar suara ponselnya berdering. Ia mengucek matanya yang masih lengket dan menatap sekelilingnya yang tampak sudah terang benderang. Stella sepertinya sudah bangun terlebih dulu karena wanita itu sudah tidak ada di tempatnya.
Xander lalu membuka ponselnya yang berada di nakas, ternyata Luke yang meneleponnya dari tadi.
"Halo, Luke?" ujar Xander dengan mata yang masih mengantuk berat.
__ADS_1
"Selamat pagi Tuan, maaf menganggu waktu Anda. Tapi ini sangat darurat Tuan,"
"Ada apa?" mata Xander yang semua mengantuk berat seketika langsung terbuka lebar.
"Anda harus membaca portal berita sekarang,"
Xander menurut, ia segera membuka ponselnya dan mencari halaman berita pagi. Seketika matanya terbelalak lebar saat membaca berita yang tertulis di sana.
Terbaru! Pengusaha XO (26) di duga telah menghamili model inisial (JM) yang merupakan mantan kekasihnya.
VIRAL! CEO Perusahaan OLX Corporation memaksa mantan kekasih untuk menggugurkan kandungan karena tidak ingin bertanggung jawab.
Bak kacang lupa kulitnya, pemilik OLX Corporation tidak mau mengakui anak dari mantan kekasihnya dan memaksa untuk aborsi.
"Ba ji ngan!" Xander membanting sebuah lampu tidur yang ada di sampingnya karena begitu emosi melihat semua berita tentang dirinya.
"Joana! Kau memang wanita iblis," geram Xander mengepalkan tangannya erat, ia segera menghubungi Luke kembali untuk mengetahui perkembangan selanjutnya.
"Brengsek! Kenapa kita bisa mati langkah seperti ini?" Xander langsung mengumpat begitu telepon tersambung.
"Sepertinya Tuan Medison sudah bergerak Tuan, saat ini semua pemilik saham di perusahaan meminta untuk diadakan rapat dadakan,"
"Sialan! Sekarang bagaimana kondisi kantor?" tanya Xander kesal karena ia kecolongan.
"Para wartawan sejak pagi sudah berada disini Tuan, mereka juga ada yang di rumah utama. Jika Anda keluar, maka mereka pasti akan menyerbu Anda,"
"Kau siapkan saja semua anak buah kita untuk menjaga rumah utama. Kirimkan juga aku pengawal untuk datang ke kantor," ucap Xander harus memutar otaknya.
"Baik Tuan, Tuan Kendrick juga sudah berada disini,"
"Aku akan kesana sebentar lagi. Tugasmu sekarang harus menurunkan berita sialan itu, aku tidak mau sampai istriku tahu tentang masalah ini!" perintah Xander segera bergerak cepat untuk membersihkan dirinya. Ia tak akan membiarkan berita tidak benar itu akan menghancurkan namanya, dan pastinya ia tak akan membiarkan hal ini membebani pikiran istrinya.
Happy Reading.
Tbc.
__ADS_1
Likenya jangan kelewatan ygy......