
Joana terbangun saat merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya. Ia tidak tahu apa yang tadi sempat disuntikkan oleh para penata rias itu. Kepalanya mendadak pusing dan ia tidak sanggup untuk membuka matanya.
Joana merasa seperti sedang dipeluk oleh seseorang dengan sangat erat. Tubuhnya sangat berat hingga napas Joana terasa sesak, ia mencoba melihat siapa yang telah memeluknya, tapi ia kaget saat matanya langsung bertatapan langsung dengan mata hazel Devan yang sangat tajam itu.
"Sudah bangun, istriku?" ucap Devan mengulas senyum manisnya.
"Apa yang kamu lakukan? Menjauhlah!" bentak Joana seraya mendorong Devan agar melepaskan pelukannya.
"Menjauh ke mana? Dulu, kamu pernah bercerita padaku, jika terbangun di pagi hari, kamu ingin melihat wajahku yang pertama kali kamu lihat. Sekarang, kamu sudah bisa mewujudkannya," kata Devan menarik pinggang Joana agar kembali menempel dengannya.
"Ke-napa kamu melakukan ini? Kamu sudah tahu kalau aku bukan Mega," kata Joana, mencoba untuk tenang menghadapi Devan yang menyeramkan ini. Joana tahu jika Devan akan semakin menjadi-jadi kalau ia melawannya.
"Sejak aku memutuskan kamu adalah Mega, maka kamu harus menjadi Mega," sahut Devan.
"Semua tidak akan merubah segalanya, Devan. Aku bukan Mega, tapi orang lain," kata Joana.
"Jangan membuat aku mengulangi kata-kata yang sama, Mega. Mulai besok, aku mau kamu bertingkah seperti Mega yang aku kenal," titah Devan dengan geraham mengetat, kesabarannya setebal tisu seolah diuji terus menerus.
"Tapi aku tidak akan bisa melakukannya, Devan. Apa kamu tidak bisa melihat perubahan pada diri kami? Apakah Mega yang kamu kenal lumpuh seperti diriku? Tidak 'kan? Dia pasti lebih baik dariku, aku hanya perempuan jahat yang lumpuh. Apa yang kamu harapkan dariku?" jerit Joana, benar-benar frutasi dengan keadaannya saat ini, ia tidak berdaya untuk melakukan perlawanan.
"Sejak kapan aku mementingkan fisikmu? Aku menyukaimu bukan karena kamu bisa berjalan disampingku atau tidak, Mega. Aku menyukaimu karena dirimu, kamu tahu itu semua 'kan?" ucap Devan memandang Joana penuh cinta, benar-benar menganggap kalau Joana adalah Mega-nya yang telah kembali.
"Mega, aku tahu kamu tidak suka dengan sifatku yang ini. Aku tidak berjanji untuk menghentikannya, karena ini adalah caraku untuk melindungi kita, aku mencintaimu." Devan kembali berbicara, ia mengusap lembut pipi Joana seraya sesekali membenarkan rambutnya yang acak-acakan.
__ADS_1
Joana menangis lirih, sudah lelah rasanya menjelaskan jika dirinya bukan Mega. Ia tidak tahu bagaimana lagi caranya menjelaskan pada Devan kalau dia bukan Mega. Pria itu sudah terlalu terobsesi dengan wajahnya yang sangat mirip dengan tunangannya.
"Apa kamu belum mengantuk?"
Joana tersentak saat merasakan hembusan napas Devan menerpa lehernya, ia tidak menyangka pria itu sudah sangat dekat dengannya.
"Pergi, jangan mendekatiku!" bentak Joana kembali mendorong Devan menjauh.
"Cukup! Sudah cukup aku memberimu kebebasan!" Devan balas membentak, ia mencengkram tangan Joana dengan kasar. "Seharusnya kamu lebih mengenalku Mega, aku tidak ingin berbuat kasar, tapi kamu yang sudah memancingku untuk melakukan ini," lanjut Devan menatap Joana dengan bengis.
Devan lalu menarik kedua tangan Joana dan menekuknya diatas, ia lalu menindih tubuh wanita itu agar tidak bisa bergerak.
"Lepaskan aku, apa yang kamu lakukan?" Joana berteriak panik.
"Ini malam pertama kita," kata Devan tersenyum aneh.
"Ayo melakukan seperti yang biasa kita lakukan, aku merindukanmu," lanjut Devan berbisik di telinga Joana sebelum pria itu membenamkan bibirnya diatas bibir Joana.
Joana terkejut dan langsung berontak, Ia menggunakan tangannya untuk mendorong bahu dekat Devan agar melepaskan ciumannya. Air matanya meleleh tanpa bisa dicegah, baru kali ini Joana merasa sangat terhina dan tidak berdaya seperti ini.
Devan adalah pemain ahli yang sangat berpengalaman, dulu ia selalu melakukannya dengan Mega sebelum menikah. Tapi setelah perpisahan 2 tahun, Devan menjadi sangat liar begitu bisa mencium bibir Mega kembali, ia tak segan menyedot dan mengigit bibir itu sampai bengkak.
"Devan, sadarlah aku bukan Mega!" Joana berteriak histeris saat Devan mencium lehernya, tangisannya itu seolah tidak membuat Devan mau berhenti melakukan hal be jat itu.
__ADS_1
Devan benar-benar menulikan telinganya, kerinduan serta gairah yang bercampur menjadi satu membuat ia kehilangan kendali. Devan jelaskan menggigit setiap bagian tubuh Joana sampai memerah, ia juga langsung merobek baju pengantin yang tadi masih di pakai Joana hingga tersisa segitiga bermuda milik Joana.
"Devan, aku mohon berhenti," lirih Joana menangis histeris.
"Tenang saja, aku pasti akan bermain lembut, Mega." Devan tidak menghiraukannya, ia tetap melepaskan satu-satunya benda milik Joana yang tersisa hingga wanita itu telanjang bulat.
"Devan ... aku bukan Mega." Sekali lagi Joana mengatakan fakta yang sebenarnya, tapi hal itu sama sekali tidak menghentikan Devan untuk melakukan hal itu.
Joana hanya bisa pasrah dengan tubuh lumpuh tidak berdaya. Membiarkan Devan melakukan apa yang dia mau. Joana hanya bisa mencengkram sprei dibawahnya dengan sangat kuat. Meksipun tidak perawan, hati Joana benar-benar sangat sakit karena Devan melakukan ini hanya karena mengira dia adalah Mega.
Apakah ini yang dulu di rasakan oleh Stella? Setiap hari wanita itu selalu diperlakukan dengan kasar oleh Xander. Apakah sekarang ia benar-benar sudah mendapatkan karma itu? Akan disentuh oleh orang tapi bukan ia yang dipikirkan.
"Aku mencintaimu, Mega."
Air mata Joana kian menderas, memang tidak ada hal yang lebih menyakitkan dari apapun di dunia ini selain kehadiran kita yang tidak dianggap. Yang lebih parah, kita hadir tapi selalu dianggap orang lain. Rasanya benar-benar sangat menyakitkan.
"Stella, maafkan aku."
Happy Reading.
TBC.
__ADS_1