
Joana memandang makanan didepannya dengan tatapan aneh. Makanan itu berupa salad dan juga nasi goreng udang. Lalu disampingnya sudah ada buku tebal yang berisi semua hal tentang wanita bernama Mega.
Disana memang tertulis kalau Mega menyukai sarapan nasi goreng dan salad. Untuk minuman favoritnya jus strawberry atau alpukat. Dan semua hal itu bertentangan dengan dirinya.
"Nona, sarapannya silahkan di makan. Tuan Devan sebentar lagi akan menghubungi, Anda." Pelayan yang sejak tadi ditugaskan untuk mengikuti Joana mendekati wanita itu dengan membawa ponsel ditangannya.
"Aku tidak suka jika makan diganggu," sahut Joana dengan wajah malasnya.
Pelayan itu tidak mendengarkan Joana, ia tetap mengangkat panggilan telepon dari tuannya ketika ponselnya berdering. Lalu meletakkannya disamping Joana.
"Ini Tuan Devan, Nona."
Joana melirik malas, dari posisinya ia melihat Devan sedang duduk dengan menggunakan pakaian kerjanya. Tatapan pria itu seperti biasa, tajam dan menusuk.
"Sudah sarapan?" tanya Devan, dengan suara khas dirinya yang berat.
"Sedang makan," sahut Joana singkat.
"Nanti siang pergilah bersama Tita, dia akan mengantarmu ke salon," ujar Devan dengan wajahnya yang serius.
Sedikit mengepalkan tangannya melihat gaya Joana yang cuek padanya. Padahal dulu Mega tidak pernah seperti itu.
"Apa kamu tidak mendengarkan aku?" sentak Devan.
"Aku tidak tuli, katakan saja apa yang ingin kamu katakan," ketus Joana masih dengan sikapnya yang dingin.
"Apa kamu sudah mempelajari semua tentang Mega?" tanya Devan.
Joana tidak menyahut, ia enggan untuk berbicara rasanya.
"Jaga sikapmu, Mega. Aku mau saat aku pulang nanti kamu harus berperilaku seperti Mega yang biasanya. Dan dengarkan aku, aku tidak suka kamu mengikat rambutmu," ujar Devan begitu geram, rasanya benar-benar diuji melihat gaya acuh Joana.
"Sudah? Itu saja yang ingin kamu katakan? Jika sudah tidak ada yang penting, aku matikan sambungan teleponnya," ujar Joana tanpa ada niat untuk berbasa-basi lagi.
"Hei dengar-"
Tut.
Joana langsung mematikan sambungan telepon itu tanpa menunggu ocehan Devan selanjutnya. Ia butuh ketenangan untuk saat ini agar bisa berpikir bagaimana caranya bisa keluar.
"Tita, ini ponselnya. Jika Tuanmu menelepon lagi, katakan saja aku sedang tidak mau diganggu. Sekarang antarkan aku ke kamar," kata Joana.
Tita menahan napasnya, keringat dingin tampak membasahi wajahnya dan tubuhnya gemetaran sata Joana memberikan ponsel itu.
"Kenapa?" Joana bertanya bingung.
"Biasanya Tuan-"
"Tuan Devan pulang!"
__ADS_1
Tita langsung menegakkan tubuhnya begitu mendengar suara anak buah Devan yang terbiasa menjaga pintu. Joana pun begitu, ia kaget kenapa Devan tiba-tiba pulang ke rumah.
Tak lama kemudian, suara derap kaki yang keras terdengar mendekat. Tita langsung menjauhi Joana sehingga Joana bisa melihat sosok Devan yang datang dengan raut wajah dinginnya. Semua pelayan yang ada disana langsung menyingkir dan tinggallah mereka berdua.
"Ada apa?" tanya Joana sedikit takut, sejak tadi Devan hanya diam saja membuat ia mati kutu.
"Kenapa mengikat rambutmu?" Devan bertanya dengan raut wajah dingin.
Joana membesarkan matanya, jangan bilang Devan pulang hanya gara-gara ia mengikat rambut.
"Aku kegerahan, jadi aku tidak suka menggerai rambutku," kata Joana.
Devan tidak bicara apapun, tapi ia langsung mendekat lalu menarik ikat rambut Joana hingga terlepas. Sangking kuatnya tarikan itu membuat rambut Joana seperti tertarik.
"Akhhhhhhh!" Joana berteriak pelan.
Belum bilang rasa kagetnya tiba-tiba saja Devan langsung memerangkap tubuhnya hingga mereka sangat dekat sekali. Joana sampai mundur menjauhkan wajahnya karena posisi mereka sangat dekat.
"Aku tidak suka ada orang lain melihat lehermu. Dan aku tidak peduli siapapun orangnya, jika mereka berani sedikit saja melihat wanitaku lebih dari dua detik, dia pasti akan aku habisi," ucap Devan dengan gigi gemeletuk menahan amarah.
Joana menelan ludahnya kasar, bulu kuduknya merinding mendengar ucapan Devan itu.
"Apa kamu mengerti?" lanjut Devan, kali ini berbicara lembut seraya memegang pipi Joana pelan.
"Tapi ... Aku tidak akhhhhhhh!" Joana tidak melanjutkan ucapannya tatkala tiba-tiba saja Devan menarik rambutnya sedikit kasar lalu mencium bibirnya.
"Berapa kali aku bilang, jangan membantahku, Mega!" bentak Devan, tatapannya berubah menggelap penuh amarah.
Joana mendesis kesakitan, bibirnya benar-benar sakit karena Devan menggigitnya sangat kuat. Rambutnya juga nyeri karena terus ditarik seperti itu. Ia pun tak kuasa menahan tangisnya.
Melihat air mata Joana, Devan melepaskan pegangan rambutnya, wajahnya yang semula menyeramkan berubah panik.
"Kenapa kamu menangis? Mana yang sakit?" tanya Devan, seolah pria itu lupa jika dia yang menjadi penyebab Joana menangis.
"Kamu tidak mungkin menangis hanya karena ini 'kan? Ayolah, istrinya Devan harus menjadi wanita yang kuat. Aku benci melihatmu menangis," tukas Devan, kali ini berubah tajam kembali tatapan matanya.
Joana semakin yakin kalau Devan memiliki kepribadian ganda. Pria itu bisa berubah-ubah sifat setiap saat membuat Joana semakin takut jika berada didekat pria ini.
"Tolong lepaskan aku," kata Joana memberanikan dirinya menatap Devan. "Aku tidak ada hubungan apapun denganmu, apalagi berniat menganggu. Aku janji akan pergi sejauh mungkin, aku mohon biarkan aku pergi," pinta Joana dengan raut wajah memelasnya, berharap hal itu bisa membuat Devan luluh.
Devan mendesis pelan, wajahnya sama sekali tidak senang. Ia menatap Joana lekat-lekat, lalu tanpa peringatan apapun tiba-tiba Devan mencekik leher Joana.
"Agrhhhhh!" Joana berteriak pelan, tenggorokannya langsung terasa nyeri.
"Katakan sekali lagi kalau kamu ingin pergi dariku," kata Devan memandang Joana penuh amarah yang membara.
Joana tidak bisa menjawabnya, ia memukul-mukul tangan Devan agar melepaskan cekikannya itu. Leher Joana sakit, napasnya pun kian menipis hingga air matanya keluar.
"Aku sangat benci jika kamu terus ingin pergi dariku. Apakah kamu begitu tidak tahu diri Mega? Siapa orang yang telah menyelamatkan keluargamu yang miskin itu saat mereka bangkrut? Aku! Aku Devandra Dawson yang telah menjadi malaikat penolong untuk keluargamu!"
__ADS_1
"Sekarang, setelah kalian mendapatkan semuanya, kamu ingin meninggalkan aku? Tidak akan aku biarkan! Apa kamu tidak tahu seberapa gilanya aku saat kamu pergi selama dua tahun? Aku seperti tidak punya semangat hidup lagi, Mega. Arghhhhhhhh!"
Devan mengamuk dengan mendorong Joana dengan kasar hingga wanita itu terjatuh dari kursi rodanya. Sekelebat bayangan hidup menderita saat Mega pergi membuat ia kalap. Rasa takut akan ditinggalkan membuat Devan menjadi sangat egois. Ditambah Devan adalah pria yang memiliki temperamen yang buruk, membuat ia mudah marah meski hanya alasan sepele.
Joana semakin mengencangkan tangisnya, ia merasakan seluruh tubuhnya nyeri semua dan ia sangat takut melihat kemarahan Devan.
"Aku bukan Mega, Devan. Aku Joana," kata Joana, ingin membuat Devan mengerti.
"Hanya orang bodoh yang tidak mengerti perkataan manusia. Aku sudah bilang kamu adalah Mega, jadi kamu harus menjadi MEGA!" hardik Devan hingga suaranya mengggelar didalam ruangan itu.
"Kenapa? Kenapa kamu begitu ingin lari dariku? Apa yang kurang dariku? Ha?" Devan berjalan mendekati Joana perlahan.
Joana menggelengkan kepalanya cepat-cepat, ia berusaha menyeret dirinya sejauh mungkin dari Devan. Pria ini pasti akan berbuat jahat padanya.
"Teruslah menjauh, terus menjauh sampai aku datang dan menyeretmu datang kemari. Berhenti sekarang," titah Devan memasang raut wajahnya yang dingin.
Joana tidak menghiraukannya, ia tetap mengesot menjauh dari Devan. Setidaknya ia masih punya perlawanan diri agar tidak selalu ditindas oleh Devan.
"Oh shittttt! Wanita ini memang sangat memancing emosiku," geram Devan dengan giginya yang gemeletuk, amarah itu sudah menguasai dirinya sampai ke ubun-ubun.
"Berhenti sekarang." Devan kembali memberikan perintah.
Namun, Joana sama sekali tidak menggubrisnya. Ia terus menjauh, sejauh mungkin dari manusia iblis itu. Hingga beberapa saat kemudian ada sesuatu yang dilempar dengan keras hingga mengenai kepala Joana.
"Akhhhhhhhhhhhh!" Joana berteriak keras, ia memegang kepalanya yang sangat nyeri sekali, darah langsung keluar membuat tubuhnya limbung.
Devan bergegas mendekati Joana, ia melihat wanita itu sangat kesakitan.
"Sakit 'kan? Untuk itulah ikuti perintahku," kata Devan menyeringai licik.
Joana tidak terlalu melihat wajah Devan, pandangannya kabur dan berkunang-kunang. Sekilas ia melihat Devan berdiri menjulang didepannya, membuat pria itu terlihat semakin menyeramkan.
"Lepaskan aku, aku bukan Mega," kata Joana dengan suara lirihnya.
"Tidak akan, semakin kamu ingin pergi dariku. Aku akan semakin membuatmu terus bertahan disisiku, karena itu memang tempatmu, Mega."
Setelah mengatakan itu Devan membuang jasnya lalu mengungkung tubuh Joana yang masih tergeletak tak berdaya.
"Jangan lakukan itu, aku mohon ..." Joana menggeleng pelan, berusaha menolak.
"Teruslah membangkang agar aku puas menyiksamu," desis Devan menarik kaki Joana dengan kasar sebelum ia menggauli wanita itu dengan liar dengan panas.
Segala teriakkan dan permohonan Joana seolah tidak membuat Devan luluh sama sekali. Pria itu kian menjadi-jadi jika Joana terus melawan dan terus memaksa ingin pergi. Disana tidak ada siapapun yang bisa membantu Joana, anak buah Devan pun tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh pria itu.
Joana harus puas tubuhnya disiksa dengan cara yang menyakitkan oleh Devan. Jika boleh meminta, Joana ingin mati saja daripada ia terus-menerus diperlakukan layaknya binatang yang tak punya perasaan.
'Ibu, tolong jemput aku disini. Aku takut, aku ingin ikut ibu. Jemput aku, ibu ...."
__ADS_1