
Daniel duduk seraya membelakangi Stella yang sedang berbaring di ranjang. Wajah Daniel terlihat kesal namun juga tidak berdaya saat Dokter Mazaya menjelaskan kondisi Stella. Hati pria mana yang tak sakit mendengar wanita yang dicintainya tak akan memiliki umur panjang.
Saat ini Stella harus di rawat sementara karena kondisinya kurang fit. Ia juga harus mendapatkan transfusi darah karena tekanan darahnya turun. Meski Stella memaksa tidak mau, Daniel tak peduli, Stella butuh perawatan segera.
"Kak, kakak tidak perlu memikirkan masalahku ini Kak. Aku sudah ikhlas menerima semuanya," ucap Stella tak ingin Daniel terlalu kepikiran dengan penyakitnya.
"Apa Xander tahu masalah ini?" tanya Daniel mengabaikan perkataan Stella.
Stella mengigit bibirnya seraya menggeleng lemah. Daniel yang melihat itu mengepalkan tangannya erat.
"Aku akan memberitahunya," ucap Daniel merasa hanya Xander yang bisa membuat sifat keras kepala Stella ini bisa ditaklukkan.
"Jangan Kak," Stella langsung menahan tangan Daniel sebelum pria itu beranjak, ia menggelengkan kepalanya pelan.
"Kenapa? Dia harus tahu, kau juga harus segera di operasi Stella," ujar Daniel tak habis pikir dengan jalan pikiran Stella.
"Jika Xander tahu, dia pasti akan memaksaku mengugurkan bayi ini Kak. Kakak lihat, dia sudah besar dan menjadi bagian dari diriku. Bagaimana aku bisa memilih antara dia dan nyawaku sendiri," ucap Stella menangis lirih.
"Tapi kalau kau sembuh, kau bisa hamil lagi Stella," ucap Daniel ingin menjambak rambutnya karena kepalanya yang ingin pecah.
"Kak, aku sangat mohon padamu. Jangan katakan pada Xander, aku hanya ingin melahirkan anak ini Kak," ucap Stella mengatupkan kedua tangannya, memohon dengan tangisannya yang pilu.
Daniel mengalihkan pandangannya, matanya nyatanya sudah ikut basah, tak tahu apalagi yang harus dilakukannya saat ini.
Tak lama pintu ruang rawat Stella terbuka membuat keduanya langsung menoleh. Terlihat Xander datang dengan wajah paniknya karena baru mendapatkan kabar tentang istrinya.
"Stella, kenapa kau bisa seperti ini?" Xander mengabaikan Daniel yang berdiri di sana, ia langsung menghampiri Stella dan memeluknya.
"Hubby tahu dari siapa aku disini?" tanya Stella mengusap air matanya cepat, tak ingin Xander sampai melihatnya.
"Pak Wang yang memberitahuku, kau kenapa Sayang? Mana yang sakit?" tanya Xander memandang lekat-lekat wajah istrinya, entah karena jarang memperhatikan Stella atau bagaimana, tapi Xander merasa kalau Stella semakin kurus sekarang, hanya perutnya saja yang terlihat membesar.
"Tekanan darahku turun by, sepertinya kecapekan," ucap Stella melirik Daniel sekilas.
"Kamu harus banyak istirahat, mulai sekarang nggak perlu lagi masak atau berangkat ke sekolah. Aku akan mengambil cuti untukmu," ucap Xander tegas, sudah berulang kali ia menyuruh istrinya ini tidak mengajar lagi, tapi Stella juga tidak mau menurut.
"By aku nggak ..."
__ADS_1
"Sssttt, Stella aku mohon kali ini saja. Aku sangat mencintaimu Stella, aku tidak mau terjadi apapun padamu dan anak kita, berjanjilah untuk selalu baik-baik saja untukku Stella," ucap Xander menggenggam kedua tangan Stella lalu menciumnya, tak ada yang lebih menyakitkan dari apapun di dunia ini bagi Xander, kecuali melihat Stella berbaring tak berdaya seperti ini.
Stella terdiam, matanya berkaca-kaca mendengar ucapan Xander. Bagaimana bisa ia berjanji untuk terus baik-baik saja, sedangkan umurnya saja tidak akan bertahan lama lagi.
"Sepertinya disini tugasku disini sudah selesai, aku permisi dulu," ucap Daniel tak sanggup melihat keadaan Stella, jika ia terus di sana, ia takut akan membocorkan semuanya pada Xander.
"Terima kasih Daniel, sudah membawa istriku kemari," ucap Xander mencoba tersenyum meski sangat kaku, pertemuan mereka terakhir kali sangatlah tidak enak dan menyakitkan, Xander hanya ingin mencoba memperbaiki segalanya.
Daniel hanya mengangguk singkat lalu pergi begitu saja, membiarkan kedua pasangan suami istri itu memiliki waktu berdua saja.
"Kamu udah makan belum? Pasti belum 'kan? Mau makan apa? Aku belikan," tanya Xander.
"Hubby nggak balik ke kantor?" Stella balas bertanya saat melihat Xander membuka jasnya.
"Istriku sedang sakit, bagaimana mungkin aku bisa ke kantor. Aku akan menemanimu disini saja," ucap Xander mana bisa bekerja jika istrinya sakit seperti ini.
"Maaf ya, aku jadi ngerepotin," ucap Stella tak enak hati.
"Kau ini bicara apa? Mana mungkin kau merepotkan ku Sayang, ini memang tugasku," ucap Xander menggelengkan kepala tak setuju dengan pemikiran Stella.
"Sudah, kau istirahat saja. Aku akan menemanimu disini," Xander mengelus rambut Stella seraya mengulas senyum tipisnya.
Stella mengangguk dan balas tersenyum, mungkin karena efek obat yang di minumnya tadi, membuat Stella menjadi cepat mengantuk dan mudah terlelap. Xander senantiasa menjadi istrinya itu tanpa beranjak sedikit pun dari sana.
*****
Satu minggu telah berlalu, Stella sudah boleh pulang karena keadaannya yang membaik. Selama seminggu di rumah sakit, kedua orang tuanya juga tak pernah absen menjenguk Stella, mertuanya juga turut andil meski tidak setiap hari.
Di hari kepulangannya ini, Stella di temani seluruh keluarga besar. Mereka ikut menjemput Stella dan mengantarnya pulang.
"Kamu harus banyak istirahat Sayang, harus bener-bener bad rest selama seminggu penuh. Kalau bandel, Mama akan marahin kamu nanti," Melisa kembali mewanti-wanti putrinya ini agar tidak terlalu memaksakan dirinya.
"Iya, marahin aja kalau dia bandel," sahut Xander setuju dengan Mama mertuanya, Stella memang sangat keras kepala dan sangat susah jika dinasehati.
"Baiklah, aku akan istirahat yang cukup kok," ucap Stella tersenyum tipis, senang karena semua orang sangat peduli padanya.
"Nah bagus, sekarang juga waktunya kau beristirahat. Ayo, aku akan mengantarmu ke kamar," ucap Xander menggandeng bahu istrinya.
__ADS_1
"Eh, tapi aku masih mau ngobrol sama Mama by," ucap Stella tak enak jika meninggalkan keluarganya untuk beristirahat.
"Nggak apa-apa Sayang, kamu istirahat saja. Besok aja kita ngobrol, jaga kesehatan kamu," ucap Mama Rita sangat pengertian.
Stella hanya diam saja, jika sudah begini mana mungkin ia bisa membantah. Ia akhirnya menurut saja saat Xander mengajaknya masuk ke kamar.
"By, apa aku boleh meminta sesuatu padamu?" ucap Stella ketika sampai di lantai atas rumahnya.
"Tentu saja, kau mau minta apa? Katakan saja Sayang," sahut Xander tak keberatan sama sekali, ia malah senang jika Stella meminta apapun darinya.
"Aku mau di gendong by," ucap Stella memandang suaminya sendu.
"Hanya gendong saja?" tanya Xander dibalas anggukan cepat oleh Stella.
"Siap laksanakan Nyonya," ucap Xander langsung saja menggendong istrinya, ia tak merasa keberatan meski saat ini Stella hamil tujuh bulan.
"Apa aku berat by?" tanya Stella terus menatap lekat wajah suaminya.
"Tidak sama sekali, percayalah tangan ini akan sangat kuat menggendong mu setiap hari. Jika tua nanti kedua tanganku tidak lagi kuat menggendong mu, aku masih kuat untuk selalu menggandeng mu di sisiku Sayang," ucap Xander mencium kening Stella penuh kasih.
Stella hampir saja menangis mendengarnya, ia menenggelamkan wajahnya di dada suaminya, mencium bahu harum khas tubuh suaminya sebelum semua ini tidak bisa lagi dilakukannya.
"Maka, lakukanlah setiap hari by, aku mau kau terus menggendong ku seperti ini," pinta Stella memejamkan matanya di dada suaminya.
"Dengan senang hati aku akan melakukan," Xander mau-mau saja melakukannya tanpa tahu niat terselubung istrinya. Mungkin jika Xander tahu, entah bagaimana hancurnya pria itu.
Happy Reading.
Tbc.
Sambil menunggu mas Xander up, mampir yuk ke karya author yang baru ...
Bantu like, komen dan subscribe ya gengs ...
__ADS_1