
Xander duduk di depan ruang operasi tanpa beranjak sedikitpun. Selama tujuh jam proses berlangsungnya operasi itu, Xander sama sekali tidak bergerak. Padahal sudah sejak semalam pria itu tidak tidur atau memakan apapun. Sedangkan sekarang sudah pukul 9 pagi tapi Xander hanya diam saja membuat Kendrick mendekatinya.
"Tidak ingin makan dulu?" Tanya Kendrick ikut mendudukan dirinya di samping putranya.
"Nanti saja," sahut Xander pelan, mulutnya terasa lengket karena tidak berbicara apapun.
"Operasinya mungkin masih lama, bersihkan dirimu dulu. Jika Stella melihat darahnya masih ada di bajumu, dia pasti akan sangat sedih," kata Kendrick melihat baju anaknya yang masih kotor karena darah Stella kemarin.
"Apa Stella akan baik-baik saja Pa?" Tanya Xander terus menatap pintu ruang operasi Stella. Banyak sekali hal yang ada dipikirannya saat ini, yang jelas ia sangat berharap kalau istrinya selamat dan bisa kembali bersamanya.
"Pasti, Stella wanita yang kuat. Dia pasti akan sembuh, banyak-banyak berdoa kepada Tuhan," ucap Kendrick menyemangati putranya meski ia sendiri tidak tahu apakah Stella akan sembuh atau tidak.
Xander tak menjawab, ia sendiri tidak tahu apakah operasi ini akan berjalan lancar atau justru sebaliknya. Saat mereka terdiam dengan pikirannya masing-masing pintu ruang operasi terbuka, Xander pikir operasinya sudah selesai tapi ia salah karena Dokter mah siap keluar dengan ekspresi wajah yang sangat tidak enak.
"Kita harus memanggil beberapa dokter lagi, keadaan pasien kritis, aku katakan sekali lagi keadaan pasien saat ini kritis." Ucap Dokter Mazaya lalu kembali masuk ke dalam ruangan.
Xander menghempaskan kepalanya ke belakang hingga membentur tembok, hatinya yang belum tenang kini kembali dibuat campur aduk tak karuan. Xander lalu mendekatkan dirinya ke kaca penghubung antara ruang operasi dan ruang tunggu.
Xander menyentuh kaca yang terasa dingin itu, di dalam sana wanitanya sedang berjuang di antara garis kehidupan dan kematian.
"Stella, jika kali ini kau ingin menyerah. Tolong jangan menyerah dulu, bertahanlah untukku Stella. Beri aku kesempatan untuk membuatmu bahagia meski itu hanya sehari, biarkan aku memelukmu dan membuatmu tersenyum kembali. Tolong beri aku kesempatan itu," batin Xander seraya mengepalkan tangannya erat, matanya memerah karena menahan tangisnya.
*****
"Jantungnya melemah, ambilkan alat kejut jantung," Dokter senior meminta Dokter Mazaya seraya terus memantau keadaan Stella.
Operasi transplantasi sumsum tulang belakang itu sudah berhasil. Tapi keadaan Stella semakin melemah. Stella banyak kekurangan sel darah merah membuat kondisinya sangat sulit diatasi.
"Dokter, nadinya juga semakin hilang," ucap Dokter Mazaya panik saat melihat monitor penunjang kehidupan Stella berbunyi sangat keras.
"Siapkan semuanya!" Perintah Dokter Senior mengambil alat kejut jantung lalu meletakkannya di dada Stella, ia bersiap untuk melakukan Dc-shock ke tubuh Stella. Tapi irama jantung Stella masih belum normal.
__ADS_1
"Sekali lagi," ucap Dokter Senior.
"360 Joule," ucap Dokter Mazaya mengisi daya pada DC-Shock.
"Clear?" Tanya dokter senior.
"Clear,"
Suara detuban alat itu terdengar keras, kali ini tubuh Stella kembali terhentak. Dokter senior langsung melihat alat monitor dan melihat irama jantung Stella sudah kembali.
Dokter Mazaya langsung menyeka keringatnya menggunakan lengan. Hatinya lega karena Stella sudah kembali stabil.
"Kita bisa mengecek hasilnya sekarang, jangan lupa pantau terus pasien yang satunya. Kadang kondisinya bisa berubah sewaktu-waktu," ucap Dokter senior juga sangat lega, percobaan pertamanya ternyata membuahkan hasil yang memuaskan.
"Baik Dokter," sahut Dokter Mazaya melakukan pengecekan kepada Medison lalu menemui keluarga Stella yang sudah menunggu.
"Kabar baik, operasinya berjalan dengan lancar. Saat ini Stella dan Tuan Medison masih terkena efek obat bius, mungkin beberapa jam lagi akan segera siuman. Selamat Xander," ucap Dokter Mazaya mengulurkan tangannya pada Xander.
Akhirnya semua keluarga bisa mengendurkan otot bahu mereka yang sangat tegang sejak semalam. Xander sendiri tak henti mengucap syukur kepada Tuhan karena mau mendengar doanya dengan mengembalikan setelah di sisinya.
*****
"Stella, Nak, kamu sudah sembuh sekarang Sayang," ucap Melisa menciumi wajah Stella seraya terus menangis.
Stella ikut menangis, ia mengambil tangan Mamanya dan menciumnya lembut. Tahu bagaimana khawatirnya Mamanya ini.
Pandangan Stella lalu beralih pada sosok yang berdiri gagah di belakang Mamanya. Tanpa melihatnya saja Stella tahu kalau pria itu sangat mencemaskan nya. Stella mendengar suara Xander yang terus memintanya untuk kembali, tapi saat itu tubuhnya benar-benar tak berdaya dan sangat lemas.
Stella ingin menyerah dan memilih untuk pergi, tapi sekali lagi ia melihat Xander yang terus memangilnya, karena hal itulah Stella berusaha bertahan dan melawan segala rasa sakit itu.
"Stella, hei ..." Xander mendekat membuat Melisa mundur untuk memberi ruang kepada Xander.
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu?" tanya Xander menundukkan dirinya agar posisinya sejajar dengan mata indah istrinya.
"Aku baik, maafkan aku," sahut Stella dengan suara tercekat, ia merasa sangat bersyukur saat bisa melihat wajah ini kembali. Ia menyesal karena hampir saja menyerah pada takdirnya tanpa memikirkan perasaan suaminya.
"Sssttt, jangan minta maaf, kau sama sekali tidak bersalah Sayang," kata Xander menggelengkan kepalanya seraya mengusap rambut Stella. "Kau adalah wanita terhebat yang pernah aku temui. Stella, aku ingin mengucapkan terima kasih padamu. Terima kasih sudah kembali padaku, terima kasih sudah datang dalam hidupku. Stella, mungkin kau sudah pernah mendengarnya, tapi aku ingin mengatakan sekali lagi, aku sangat beruntung memilikimu Stella, aku mencintaimu melebihi apapun di dunia ini. Terima kasih, terima kasih Sayang ..." ucap Xander begitu tulus dan haru, ia mencium kening Stella, lalu matanya dan memeluknya erat.
Tangis Stella langsung pecah, ia sangat terharu dengan ungkapan cinta Xander yang sangat tulus. Apalagi yang dia ragukan sekarang? Kenapa ia bisa memiliki pemikiran bodoh untuk pergi sedangkan Xander begitu mencintainya seperti ini.
Melisa dan kedua orang tua Xander ikut menangis, mereka juga sangar terharu dengan ucapan Xander. Melisa merasa bersyukur karena Stella dipertemukan dengan lelaki yang tepat.
"Jangan menangis, kau sudah sembuh sekarang, tersenyumlah. Kita akan bersama selamanya," ucap Xander mengusap air mata Stella.
Stella mengangguk singkat, ia lalu melirik perutnya yang ia rasa sudah menjadi rata. Stella terkejut dan menatap Xander.
"By, anak kita?" tanya Stella.
"Anak kita baik-baik saja Stella, dia sudah lahir, cepatlah sembuh agar kita bisa melihatnya sama-sama nanti," kata Xander mengigit bibirnya, hatinya kembali nyeri jika mengingat anaknya yang masih berjuang di ruang NICU.
"Kenapa dia harus lahir sekarang? Dia masih tujuh bulan?" tanya Stella histeris, ia takut jika kehilangan anaknya.
"Stella, tenanglah, dia memang harus dilahirkan. Bukankah kita diberi anugerah untuk melihatnya lebih cepat?" kata Xander berusaha menenangkan Stella.
"By, tolong jangan membohongiku. Apakah dia sudah?" tanya Stella tak sanggup mengatakan hal yang menakutkan itu.
"Belum, dia masih selamat sayang. Percayalah padaku, anak kita anak yang kuat, dia pasti baik-baik saja, aku yakin itu," ucap Xander entah menyakinkan dirinya sendiri atau Stella, ia sendiri bagaimana kondisi anaknya saat ini.
Happy Reading.
Tbc.
Jangan lupa like dan komen ya kak ...
__ADS_1
Sambil nunggu up, mampir yuk ke karya bestienya Virzha ...