
Mata Maira terbelalak lebar melihat apa yang dilakukan Daniel. Apa yang sebenarnya pria ini pikirkan? Kenapa dengan mudah memberikan uangnya.
"Jangan! Jangan, jangan lakukan itu Tuan. Ini masalahku, aku pasti akan menyelesaikan ini sendiri," kata Maira benar-benar tak ingin merepotkan siapapun.
Daniel hanya menatap Maira dengan wajah dinginnya. "Jangan keras kepala, anggap saja ini hutang, aku akan memotong dari gajimu nanti. Cepat selesaikan ini," ucap Daniel meminta nomor rekening debt collector itu dan menyelesaikan semuanya dengan cepat.
"Sudah, aku sudah mengirimkan uangnya dan aku lebihkan 5 juta, jangan mengganggunya lagi," kata Daniel menunjukkan bukti transaksi di ponselnya.
"Nah, kalau begini kan beres, kita cabut," kata debt collector itu tersenyum puas, ia sempat menjawil pipi Maira sebelum pergi dari sana.
"Terima kasih, tapi seharusnya kau tidak perlu melebihkan uangnya, sekarang bertambah banyak hutangku padamu," kata Maira setengah menggerutu.
Daniel mengangkat alisnya, merasa Maira ini wanita aneh, ia sudah membantunya, kenapa malah marah-marah.
"Tidak perlu memikirkannya, anggap saja itu sedekah dariku," kata Daniel enteng, baginya uang segitu sangat kecil untuknya.
"Eh, tidak bisa begitu. Aku akan tetap membayarnya nanti dengan gajiku. Sekali lagi terima kasih, Tuan. Tapi sebagai ucapan terima kasihku, bagaimana kalau aku mentraktir Anda makan di sana," kata Maira menunjuk salah satu warung yang berada tak jauh dari sana, ia tak ingin menerima bantuan dari atasannya ini dengan cuma-cuma.
"Tidak, aku sedang tidak berselera makan." Kata Daniel ketus, hatinya sedang sakit, mana mungkin ia memikirkan makan.
"Nggak boleh nolak rejeki, Ayo" kata Maira langsung menarik tangan Daniel begitu saja.
Daniel sempat ingin memprotes, tapi Maira sudah mengajaknya berlari. Mau tak mau Daniel ikut berlari untuk mengimbangi langkah Maira.
"Jangan lari! Aku capek!" teriak Daniel cukup ngos-ngosan berlari di atas pasir.
"Tidak, ini menyenangkan! Ayo, sebentar lagi sampai," teriak Maira terus membawa Daniel berlari. Melihat wajah Daniel tadi, ia tahu kalau pria ini sedang ada masalah, jadi Maira mencoba menghiburnya.
Daniel terus mengikuti Maira, berlari dengan kaki panjangnya hingga membuatnya terengah-engah dan berkeringat. Namun entah kenapa, hatinya sedikit lega karena digunakan berlari.
"Yeay!! Kita sudah sampai." Kata Maira tersenyum senang begitu sampai di tempat tujuannya.
Daniel menggelengkan kepalanya melihat tingkah Maira yang seperti anak kecil.
"Capek?" tanya Maira menatap wajah Daniel yang memerah dan penuh peluh.
Daniel mengangguk singkat sebagai jawaban.
"Tuan duduk dulu di sana, aku akan memesan minum," kata Maira menunjuk salah satu tempat duduk kayu yang terletak tak jauh dari warung.
Daniel menurut, ia melepaskan dasinya karena sangat gerah. Ia juga membuka kancing bagian atas untuk mengurangi rasa gerah dalam dirinya. Tak lama setelah itu, Maira datang dengan membawa dua botol soda.
__ADS_1
"Minum dulu Tuan," kata Maira memberikan satu minuman untuk Daniel. Ia lalu mengambil duduk di samping pria itu, namun tidak terlalu dekat.
"Terima kasih," kata Daniel mengambil minuman itu lalu meminumnya hingga tandas.
Hening ...
Tak ada obrolan apapun antara keduanya, hanya suara angin dan deburan ombak yang terdengar bersahutan. Maira pun hanya diam saja, membiarkan Daniel menikmati kesunyian ini.
"Terima kasih," ucap Daniel tiba-tiba memandang Maira.
"Untuk?" tanya Maira tak mengerti.
"Sekarang aku sudah lumayan lega," kata Daniel kembali membuang pandangannya ke depan.
"Sebenarnya bahagia itu kita sendiri yang menciptakan. Terkadang kita sibuk mengejar sesuatu yang tidak mungkin kita dapatkan, sampai kita lupa kalau ada sesuatu yang lebih berharga yang sedang menanti kita," kata Maira ikut membuang pandanganya ke depan.
"Stella sudah memilih dia," kata Daniel lagi.
"Ha? Jadi dia memilih kembali dengan pria brengsek itu?" ucap Maira terkejut.
Daniel mengangguk lemah, hatinya kembali nyeri mengingat apa yang dikatakan Stella tadi.
"Ya, sayangnya kau bukan Stella," sahut Daniel membuat Maira menoleh.
"Ehm, maksudku ... eh? Itu ramen nya sudah datang, ayo kita makan dulu. Tuan harus mencoba ramen disini, aku jamin akan ketagihan," kata Maira mengalihkan pembicaraan dengan hal lain.
Daniel hanya diam saja, ia menunggu melihat mie ramen yang di sediakan di depan nya. Sebenarnya ia tidak pernah makan di tempat seperti ini, tapi demi menghargai Maira, ia mau-mau saja.
"Tuan Daniel nggak bisa makan di tempat seperti ini ya?" tanya Maira melihat wajah ragu Daniel.
"Ya," sahut Daniel singkat.
"Tenang saja, Tuan Daniel tidak akan keracunan kok, makanan disini sehat meskipun bentuknya seperti itu," kata Maira mulai memakan ramen miliknya.
Daniel mengerutkan dahinya, ia juga tahu tak akan mati jika hanya makan satu kali di sana. Akhirnya ia mau mencoba makanan itu, tapi ia malah gagal fokus melihat gaya makan Maira yang serampangan. Tidak ada anggun-anggunnya sama sekali.
"Jangan melihatku terus Tuan, Anda tidak akan kenyang jika seperti itu," celetuk Maira membuat Daniel gelagapan.
"Aku tidak melihatmu," kata Daniel menyangkal tuduhan itu.
Maira tersenyum kecil, ia melanjutkan makan nya begitupun Daniel. Diam-diam ia sering memperhatikan Maira yang menurutnya berbeda dari wanita yang sering di kenalnya.
__ADS_1
*****
Stella dan Xander sudah tiba di Jakarta, mereka melakukan penerbangan sehari setelah Stella menyetujui semuanya. Sebelumya Stella sudah berpamitan kepada sahabatnya Maira dan mengajak wanita itu untuk ke Jakarta, tapi Maira menolak karena ingin merawat ibunya yang sedang sakit.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Xander menegur Stella yang sejak tadi hanya diam saja.
"Tidak ada, kita akan langsung ke Apartemen?" tanya Stella menatap wajah Xander.
"Tidak, kita tidak akan pergi kesana lagi." Kata Xander sepertinya tahu apa yang sedang di pikirkan istrinya ini.
"Aku masih belum bisa jika harus tinggal di sana," kata Stella menghela nafasnya.
"Maafkan aku, saat itu aku terlalu bodoh hingga terus membuatmu sakit," kata Xander masih merasa bersalah jika mengingat kelakuannya dulu.
"Jangan membahasnya lagi Xander, aku sudah memaafkan mu bukan?" kata Stella menggenggam lembut tangan Xander, ia tahu semua yang dilakukan pria ini sangat kejam, tapi semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua dan memperbaiki segalanya.
"Terima kasih, aku sangat beruntung memilikimu," kata Xander mencium kedua tangan Stella lalu mencium keningnya penuh kasih. Ia tak henti mengucap syukur karena bisa kembali memiliki wanita indah ini.
Stella tersenyum manis, namun setitik air mata lolos membahasi pipinya. Air mata kebahagian karena ia bisa merasakan cinta dari pria yang selama ini menjadi pemilik hatinya.
"Kita langsung pulang?" tanya Stella.
"Enggak, ke rumah Mama dulu. Mama udah nungguin menantunya pulang," kata Xander seadanya, Mamanya itu memang sudah sangat menantikan kedatangan Stella.
Stella mengangguk singkat, ia juga sudah merasa rindu dengan ibu mertuanya itu.
Sesampainya di rumah Xander, mereka tak langsung turun karena ada mobil yang terparkir tepat di depan pintu utama. Xander mengerutkan dahinya, siapa tamu yang datang?
Happy Reading.
Tbc.
Mohon maaf atas keterlambatan up, othor lagi sibuk banget di real life.
Jangan lupa tinggalkan like dan komen ya guys ... Othor nggak di kasih kopi nggak apa-apa asal like dan komen jangan lupa...
Tapi kalau mau ngasih ya monggo ... hehehe
Ini othor kasih bonus visual Maira ya ..
__ADS_1