
Joana seperti melihat orang yang berkerumun mengitari sesuatu. Sepertinya ada yang aneh, ia melihat sekelilingnya yang tampak gelap. Hanya ada cahaya dari lampu kecil yang berada cukup jauh dari tempat Joana berdiri.
Berdiri?
Joana semakin terkejut saat menyadari dirinya saat ini berdiri diatas kakinya sendiri. Ia benar-benar tidak percaya, ia menggerakkan kakinya kembali, apakah semua itu bukanlah mimpi? Tapi semuanya terasa sangat nyata.
Joana menatap sekelilingnya kembali, terasa sangat asing, tapi seperti pernah melihatnya juga. Dimana sebentar ia ini? Kenapa ia bisa terjebak dalam tempat kelam seperti itu?
"Arghhhhhhhh! Ampun Tuan! Ampun!"
Terdengar suara teriakan pria yang menggema ditempat kelam itu. Joana kebingungan, ia mencari arah sumber suara itu. Meski ia sendiri takut, ia memberanikan dirinya untuk mendekati kerumuman yang sempat ia lihat tadi.
Joana bisa mendengar suara teriakan itu kian jelas, seperti seseorang yang disiksa dengan sadis hingga suaranya terdengar menyayat hati. Saat ia ingin mendekat lebih jauh, ia menghentikan langkahnya. Matanya membulat sempurna melihat seseorang yang sudah tidak berdaya dan berlumuran darah tapi masih disiksa tanpa ampun.
Sang penyiksa itu begitu sadis, tak segan memukul, dan menendang korbannya sampai berdarah-darah. Yang lebih mengerikan adalah, sang penyiksa itu mengambil sebuah tongkat golf yang diberikan anak buahnya lalu memukul kepala korban itu hingga darah langsung muncrat kemana-mana.
"Akhhhhhhhhhhhh!" Joana reflek berteriak keras melihat hal itu, ia menutup mulutnya saat perutnya bergejolak ingin muntah.
Namun, karena suaranya yang keras, sang penyiksa sadis itu menegakkan tubuhnya dan menoleh kearah Joana. Matanya berkilat-kilat dengan wajah yang penuh darah. Tapi saat Joana melihat siapa orang itu, ia semakin syok.
"Devan?" ucap Joana dengan bibir bergetar.
"Joana Sayang, kenapa datang tidak mengabari dulu?" Devan tersenyum lembut seolah tidak terjadi apapun, padahal pria itu baru saja mengamuk layaknya iblis yang kehausan darah.
Joana berjalan mundur, ia sangat takut sekali, menelan ludahnya saja rasanya sangat susah. Keringat dingin membasahi wajahnya hingga rasanya ia tidak bisa bergerak.
"Jangan," kata Joana.
"Aku benci pengkhianat," ucap Devan seraya terus berjalan mendekati Joana.
Joana menggelengkan kepalanya, ia terus berjalan mundur karena perasaan takutnya. Tapi sialnya ia sudah tidak bisa mundur lagi karena belakangnya adalah balkon. Joana sangat panik, ia tidak bisa kemanapun sekarang.
"Jangan Dev, pergi. Jangan mendekatiku," kata Joana mengangkat tangannya keatas pertanda meminta Devan mundur.
"Aku benci pengkhianat."
Devan hanya terus mengulangi kata-kata itu berulang kali seraya terus mendekati Joana. Pria itu sangat marah sekali, dan tanpa siapapun duga, Devan tiba-tiba mendorong Joana dengan keras hingga tubuhnya terjun bebas ke bawah.
"Arghhhhhhhh!"
________
__ADS_1
"Jangan!"
Joana berteriak keras saat terbangun dari tidurnya. Ia sampai terduduk karena rasa kaget yang luar biasa. Tapi ia lebih kaget saat matanya bertatapan langsung dengan mata tajam Devan.
"Akhhhhhhhhhhhh!" Joana kembali berteriak, benar-benar kaget melihat wajah Devan tepat didepan wajahnya.
"Kenapa?" tanya Devan.
Joana mengatur napasnya yang ngos-ngosan, ia baru sadar jika ia baru saja bermimpi sangat menakutkan sekali. Wajahnya masih pucat pasi karena perasaan takut yang luar biasa.
"Apa aku membangunkanmu?" Devan kembali bertanya, ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi Joana.
Joana tersentak, ia reflek langsung mundur. Ia menatap Devan sekali lagi, wajahnya masih dingin seperti biasa. Tapi tidak mengerikan seperti di mimpi Joana tadi.
"Aku baru saja bermimpi, kamu seperti sedang membunuh orang," kata Joana, entah kenapa lebih memilih berkata jujur.
Devan mengerutkan dahinya, ia kemudian tersenyum tipis. "Itu hanya pemikiranmu saja, aku tidak akan membunuh orang didepanmu," kata Devan dengan santainya, seolah pembunuhan adalah hal biasa yang sering ia lakukan.
Joana menelan ludahnya kasar, bulu kuduknya seketika merinding mendengar perkataan Devan itu.
"Sepertinya terlalu banyak yang kamu pikirkan. Ada apa? Tidak ingin bercerita padaku?" tanya Devan, ia kembali mendekati Joana, tidak peduli wanita itu terlihat menjauh.
"Tidak." Joana menggelengkan kepalanya cepat-cepat.
Joana mengigit bibirnya, jantungnya seketika berpacu lebih cepat dari sebelumnya. Devan ini benar-benar bisa mengintimidasi dirinya meskipun hanya dengan tatapan matanya saja.
"Menyembunyikan apa? Aku tidak apa-apa, Dev," kata Joana, ia berusaha tersenyum untuk menutupi kegugupannya.
"Ya siapa tahu saja. Seharian kemarin, apa yang kamu lakukan?" tanya Devan lagi, ingin melihat sampai sejauh mana Joana akan berbohong padanya.
"Aku tidak melakukan apapun, hanya melukis di galery," sahut Joana.
"Sudah itu saja?" Devan bergerak pelan mengusap lengan Joana, gerakannya sangat lembut tapi membuat Joana gemetaran.
Joana mengepalkan tangannya, berusaha keras untuk tidak bersikap aneh yang akan membuat Devan curiga nantinya.
"Ya, kemarin Felix memberikanku kucing," ucap Joana, memilih untuk tidak berbohong kali ini, karena kemungkinan besar Devan juga sudah tahu.
"Oh, baiklah. Malam nanti persiapkan dirimu, aku ingin mengajakmu pergi," kata Devan.
"Ke mana?" tanya Joana. Dalam hatinya sudah begitu lega karena Devan tidak bertanya macam-macam.
__ADS_1
"Kemana yang kamu inginkan?" Devan justru balik bertanya, membuat Joana bingung.
Jika memang boleh memilih, Joana pasti akan memilih pergi sejauh mungkin dari Devan. Tapi ia tidak mau gegabah, Devan adalah orang yang licik. Dan orang licik harus dilawan dengan cara yang licik juga.
"Sejak kakiku lumpuh, aku lebih suka di rumah," ucap Joana.
"Kenapa jadi seperti itu? Apa dengan kaki lumpuh kamu tidak boleh keluar rumah?" kata Devan seraya mengerutkan dahinya.
"Memang tidak ada yang melarang. Tapi aku yang sadar diri, orang hanya akan menghina kekurangan fisikku," celetuk Joana terdengar sangat sedih.
Devan mengerutkan dahinya, ia memegang dagu Joana dengan lembut hingga mereka berdua bertatapan langsung.
"Tidak perlu sibuk memikirkan perkataan orang lain, mereka adalah mereka, dan kamu adalah kamu. Aku akan menunjukkan padamu kalau tidak ada bedanya kamu bisa berjalan atau tidak. Dunia akan tetap indah, jika kita bersama orang yang tepat," tutur Devan, mengambil kedua tangan Joana lalu mengecupnya dengan bibirnya yang basah.
Joana terkejut sebenarnya, tapi ia begitu tersentuh mendengar perkataan Devan. Ia hanya seorang wanita biasa, mendapatkan perlakuan manis seperti ini, siapa yang tidak luluh? Joana menjadi takut, sangat takut sekali jika ia akan benar-benar terjerat dalam cinta Devan.
"Dev," panggil Joana.
"Hm ...." Devan hanya bergumam sebagai jawaban, masih enggan untuk menarik dirinya dari keharuman tangan Joana.
"Jangan jatuh cinta padaku," kata Joana.
"Tidak ada yang berhak melarangku untuk jatuh cinta dengan wanita manapun," tukas Devan langsung mengangkat wajahnya mendengar perkataan Joana.
Joana menggeleng pelan. "Aku bukan wanita yang pantas untuk dijadikan pasangan, apalagi seseorang yang dicintai. Aku hanya wanita jahat, Dev. Aku wanita yang sangat jahat, bahkan aku malu untuk menceritakan kisahku sendiri," kata Joana, ia menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah karena menahan tangis.
'Ini lebih baik, sebelum Devan terlalu jauh. Aku harus menghentikannya.'
"Aku sering pembunuh orang, menghancurkan masa depan banyak keluarga yang pemimpinnya aku renggut. Memaksa seorang wanita yang tidak tahu apapun untuk menjadi milikku dengan cara yang licik. Apa itu sudah cukup, untuk menjadikan diriku pantas untuk bersamamu?" ujar Devan dengan suara yang terdengar sangat serius.
Joana bukannya tenang, tapi ia justru menangis semakin kencang. Jawaban itu mungkin terdengar menyeramkan, tapi Joana bisa memahami artinya. Karena tidak semua orang di dunia ini memiliki kisah yang sempurna, mereka semua pasti punya masa lalu yang mungkin saja tidak bisa diterima oleh orang lain.
"Kita berdua sama-sama punya kekurangan dan masa lalu. Aku tidak bisa berjanji untuk merubah diriku menjadi lebih baik. Aku tidak bisa seperti orang lain yang menyelesaikan masalah dengan cara baik-baik dan hanya kata maaf. Aku adalah orang yang pemarah dan juga pendendam."
"Tapi, satu hal yang harus kamu tahu, Joana. Setelah aku memilihmu, itu artinya aku sudah menyerahkan seluruh hidupku untukmu. Aku akan selalu percaya padamu meksipun yang kamu katakan adalah kebohongan. Kamu adalah satu-satunya orang yang aku inginkan. Jadi satu hal yang aku minta, Cintailah aku ... Joana."
Devan berbicara dengan nada yang sangat serius tapi suaranya sangat lembut sekali. Pria itu mengulurkan tangannya kepada Joana, seolah meminta wanita itu menerima cintanya yang sangat tulus itu.
Joana justru kebingungan, kenapa Devan tiba-tiba begitu baik padanya? Apakah Devan benar-benar serius sudah mencintainya?
"Sebelum aku menjawabnya, apakah kamu yakin, kamu mencintaiku sebagai aku? Bukan karena aku mirip dengan Mega?"
__ADS_1
_________