
"Apa kamu yakin Devandra ada disana?"
Sementara itu disisi lain Rendra dan Fajar tengah mengintai kemana saja perginya Devan belakangan ini. Mereka sudah mendapatkan sempel dari permen yang kini dijual di club-club besar dan dikonsumsi banyak orang itu.
Namun, saat mereka menangkap satu orang dan mewawancarainya, mereka enggan membuka mulut dan hanya memberikan jawaban yang sama. Yaitu penjual itu adalah orang yang sangat kejam.
Siapa lagi kalau bukan Devandra? Sejauh ini hanya Devan yang ditakuti seluruh rekan bisnisnya. Karena setiap pengkhianatan sejenis apapun, Devan pasti akan menghukumnya dengan sangat brutal dan keji.
"Ya, kita harus bergerak sekarang. Aku yakin sekarang dia sedang menyebarkan narkoba jenis baru lagi. Dia itu benar-benar gila, jika dia tertangkap, aku pasti akan menghukumnya dengan berat," keluh Fajar benar-benar sudah muak sekali melihat Devan berulang kali lolos.
"Kita tidak bisa gegabah, Jar. Bisa saja Devan disana hanya sedang minum atau melakukan hal yang lainnya. Justru jika kita menangkapnya tanpa bukti, bisa membuat nama kepolisian tercemar. Kamu tahu berita apapun yang menyangkut dia pasti akan menjadi serbuan wartawan," tukas Rendra yang lebih berpikir matang-matang untuk melakukan penggerebekan pada Devan.
"Tidak ada gunanya. Sekarang kita harus bekerja cepat, Ren. Percaya padaku, Devan pasti sedang membawa barang itu. Ayo kita kesana."
Fajar tidak mau mendengarkan apapun yang dikatakan oleh Rendra. Polisi yang kini berkelas dua itu tengah gencar-gencarnya menyelidiki kasus Devan yang 4 tahun terkahir membuat badan kepolisian tidak berkutik.
"Apa kamu ingin nyawamu berakhir seperti Jendral Indra?" sergah Rendra.
Fajar langsung menghentikan langkahnya, ia hanya melirik Rendra dengan ekspresi malas. "Jika dugaanku benar, justru dia yang sudah mengantarkan nyawanya sendiri kepada Devan. Bukti itu, aku yakin dia yang telah merekayasa," cetus Fajar lagi.
Rendra menghela napas panjang, ia akhirnya mau mengikuti Fajar untuk mendatangi Devan. Lagipula ia seorang polisi, ia berjalan di pihak kebenaran. Kenapa harus ia yang takut? Justru jika polisi hanya diam saja, Devan akan semakin berkuasa bukan.
_________
Devan menegakkan tubuhnya begitu melihat permen kecil yang berbentuk seperti pil yang sangat kecil itu. Ia langsung menendang Marko agar menyingkir dari hadapannya dan melihat permen itu dari jarak dekat.
Marko menutup matanya dan memukul kepalanya sendiri. Sepertinya nyawanya memang benar-benar akan tamat hari ini.
Devan melihat benda itu dengan wajah yang tak tertebak, ia tahu orang yang memproduksi permen itu ingin menunjukkan ciri khasnya sendiri dengan membuat produk yang berbeda dari milik Devan. Ia juga bisa menilai kalau yang membuatnya sangat detail sekali sehingga meracik obat dengan bentuk seperti itu.
Devan lalu duduk berjongkok, ia ingin mengambil permen itu tapi tiba-tiba Ken menarik tangannya.
Devan tentu terkejut, tarikan itu cukup kuat hingga ia hampir terjatuh. Ia menatap Ken tajam sekaligus heran, karena tidak biasanya Ken bertindak seperti itu.
"Maafkan saya, Tuan. Saya hanya tidak ingin jika nantinya sidik jari Anda ada di permen ini. Saya baru mendapatkan laporan jika polisi datang kesini, kita harus secepatnya pergi," ucap Ken menjelaskan dengan cepat alasannya menarik tangan Devan seperti tadi.
Devan mengangkat alisnya, ia bangkit seraya menepuk-nepuk tangannya sendiri.
"Kita tidak akan pergi."
"Maksudnya, Tuan?" Ken menatap Devan dengan bingung.
__ADS_1
Devan mengangguk pelan. "Ya, kita tidak akan pergi darisini. Aku ingin bertemu dengan polisi itu, sepertinya dia belum mengenalku dengan baik, Ken," ucap Devan tersenyum santai, tapi tatapan matanya terlihat berkilat-kilat.
Ken terdiam sejenak, ia kemudian mengangguk singkat lalu memberikan kode kepada anak buahnya untuk menyambut tamu yang akan mereka temui.
"Oh ya, Marko." Devan tidak langsung berpindah, ia mendekati Marko lagi sehingga membuat pria yang sudah cukup berumur itu ketakutan.
"Iya, Tuan?" Marko menjawab dengan terbata-bata.
"Kamu sangat mengenalku dengan baik bukan? Mungkin aku bisa memberimu kesempatan, tapi sebagai gantinya ...." Devan mendekati Marko hingga sangat dekat lalu membisikkan sesuatu yang membuat bulu kuduk Marko merinding.
"Aku yakin kamu bisa melakukannya, Marko. Sekarang ayo, kita temui polisi ingusan itu," kata Devan terkekeh-kekeh seraya merangkul bahu Marko seolah tidak terjadi apapun.
Marko memejamkan matanya singkat udara disekitarnya seolah menipis hingga napasnya sangat sesak. Saat ini ia benar-benar berada di posisi yang begitu sulit saat ini. Memang harus diterima segala resiko jika ia berani macam-macam dengan Devandra. Sekarang ia harus membayar semuanya atau tidak nyawa dan keluarganya yang menjadi taruhan.
________
Rendra dan Fajar datang ke klub itu dengan pakaian biasa. Tidak menggunakan pakaian kepolisian yang sangat mencolok karena malam itu mereka sengaja menyamar.
Club malam itu benar-benar besar, semakin bertambah jam bukannya sepi, justru bertambah pula jumlah pengunjung yang berdatangan. Rendra dan Fajar tidak begitu memperhatikannya karena target mereka adalah Devan.
"Dia mungkin berada diatas, dia tidak mungkin membaur dengan orang-orang seperti ini," ujar Fajar melirik sekelilingnya yang tampak sangat ramai itu.
"Kita langsung kesana." Rendra mengangguk mengerti, ia segera mengajak Fajar untuk naik ke lantai atas dimana ruangan VIP berada.
Namun, saat mereka sampai dilantai atas, mereka justru terkejut melihat kondisi tempat itu yang sangat tenang. Beberapa orang hanya sibuk dengan dunianya sendiri dengan bermain kartu karena bagian atas klub itu memang sebuah kasino.
Sementara itu, Rendra dan Fajar mengedarkan pandangannya kearah lain. Dimana mereka melihat Devan yang duduk dengan tenang seraya bermain kasino bersama Marko.
"Itu Devan, ayo kita kesana," ujar Fajar langsung saja emosi melihat wajah Devan yang dinilai sangat angkuh itu.
Rendra ingin mencegah, tapi Fajar sudah lebih dulu bertindak mendekati Devan. Membuat ia pun mau tidak mau segera mengikutinya.
Devan sendiri hanya acuh, menganggap kedatangan mereka sangat tidak penting.
"Kami dari kepolisian." Fajar langsung menunjukkan kartu identitasnya kepada Devan. "Kami disini ingin melakukan penyelidikan kepadamu. Bisakah Anda ikut dengan baik tanpa membuat keributan?" ujar Fajar tanpa keraguan sama sekali.
Devan meliriknya, ia kembali melihat kartunya dan terus saja bermain dengan santai.
"Apa Anda tidak mendengarnya? Seorang polisi sedang membutuhkan penjelasan darimu. Menolak sama saja melanggar hukum!" sergah Fajar begitu geram.
Devan tetap saja cuek dan terus bermain kartu. Sampai kesabaran Fajar benar-benar habis barulah Devan berbicara.
__ADS_1
"Kenapa hanya aku? Disini banyak orang yang bermain. Apa perlu pemilik club' ini menunjukkan izin resminya?" ucap Devan benar-benar sangat tenang, sengaja mempermainkan emosi kedua polisi yang menurutnya ingusan itu.
"Kau!" Fajar mengangkat tangannya, tapi dengan cepat Rendra segera menariknya.
"Waktu itu mungkin kamu bisa lolos, Devandra. Tapi percayalah sebuah kebetulan tidak akan terjadi berkali-kali. Persiapkan saja dirimu, jika aku berhasil mengangkapmu, aku pasti akan memastikan kamu mendekam di penjara seumur hidup," kata Rendra ikut emosi juga melihat Devan yang menurutnya terlalu memandang remeh dirinya itu.
Devan tersenyum, kemudian tertawa terbahak-bahak diikuti oleh anak buahnya. Siapa yang menyangka jika polisi ingusan itu akan mengatakan hal seperti itu padanya.
"Baru tingkat dua ternyata. Bukan hal sulit, besok Ken akan mengurusnya," kata Devan melirik Fajar dan Rendra dengan sinis.
"Ayo lanjutkan lagi, anak kecil sebaiknya pulang saja. Ini hanya pantas dilihat orang dewasa. Pulanglah ke pangkuan ibumu sana," ejek Devan dan kembali disambut tawa renyah oleh anak buahnya.
"Kurang ajar!" Fajar yang sejak tadi sudah sangat emosi langsung menghantam wajah Devan tanpa peringatan apapun.
"Oh shittttt! Beraninya kau!" Ken sendiri langsung berteriak marah, ia segera pasang badan dengan membalas pukulan Fajar itu.
Namun, Fajar segera mengelak dan balas menghantam wajah Ken. Tapi tentu saja hal itu tidak berpengaruh apapun, justru membangunkan macan tidur dalam diri Ken yang langsung mengamuk meminta mangsa.
Rendra juga langsung sigap, semua ini benar-benar diluar rencananya. Justru sepertinya ia dan Fajar yang akan habis ditangan anak buah Devan jika tidak segera pergi
"Persetan dengan semuanya! Siapapun yang menyentuh Tuanku, maka harus mati ditanganku." Ken sangat marah sekali hingga tidak melepaskan Fajar dengan mudah.
Pria itu tidak menyerang Fajar dengan tangan kosong, tapi dengan pisaunya. Menyabet lengan, kaki dan apapun yang bisa disentuhnya.
"Arghhhhhhhh! Baji ngan kau!" Fajar tidak mau kalah, ia mengambil botol minuman yang ada disana lalu melemparkannya ke arah Ken.
Tempat yang tadinya sudah dibersihkan kembali amburadul tak karuan. Hanya Devan yang masih diam melihat kekacauan itu. Ia mengamati semuanya, lalu mengambil pisaunya sendiri dan tanpa ragu menarik lengan Fajar lalu menusuknya tanpa ampun.
"Arghhhhhhhh!" teriak Fajar dengan mata melotot kaget.
"Fajar!" Rendra sendiri berteriak keras, ia langsung mendorong lawannya dan ingin menyelematkan Fajar.
Namun, anak buah Devan malah menghajarnya tanpa ampun sampai ia tidak bisa melawan karena kakinya mendadak goyah melihat bagaimana cara Devan menghabisi teman seperjuangannya itu.
Devan dengan kejam mencabut pisaunya lalu kembali menusuknya dibagian yang sama berkali-kali hingga darah muncrat kemana-mana mengalir membasahi lantai. Devan tersenyum puas baru melepaskan Fajar yang tubuhnya langsung tumbang ke lantai.
Devan tersenyum seperti psikopat gila yang puas setelah membunuh lawannya. Ia membiarkan tangannya yang berlumuran darah dan segera pergi meninggalkan ruangan itu dengan senyuman penuh kepuasan.
Rendra memandang Devan penuh kebencian, sebelum ia benar-benar pingsan, ia sudah bersumpah akan membalas kematian sahabatnya itu.
'Kamu memang sangat kejam, Dev. Kamu harus membayar setiap nyawa yang telah kamu hilangkan dengan begitu mudah. Aku pasti akan datang menuntut balas!'
__ADS_1
_________