Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
(MM&GL) BAB 44. Devan Vs Felix.


__ADS_3

"Dev, aku ingin berbicara kepada Felix sebentar."


Saat Joana sudah berada diluar ruangan, ia mendadak menghentikan langkahnya yang hampir sama di mobil. Ia harus mengucapkan banyak terima kasih karena Felix sudah mau membantunya seperti ini. Bahkan tanpa Joana meminta, Felix sudah tahu apa yang Joana butuhkan.


Termasuk rekayasa foto yang Felix minta buatkan secara dadakan oleh anak buahnya. Karena bukti itu memang akan menjadi bukti penting dalam kasus Devan ini.


"Aku rasa baru meninggalkanmu selama kurang dari 3 jam. Kenapa sudah begitu dekat dengan dia?" sahut Devan memasang ekspresi yang sangat tidak suka. Wajahnya masam sekaligus menahan amarah.


"Kamu jangan salah paham, Dev. Aku hanya meminta dia membantumu. Aku sangat khawatir tadi, aku takut kalau-"


"Kamu meremehkan aku?" sergah Devan tanpa menunggu Joana menyelesaikan ucapannya, wajah marahnya itu kini kian terlihat.


Joana mengigit bibirnya, ia memegang tangan Devan untuk menenangkan pria itu, tapi tiba-tiba saja Devan meraih tengkuknya lalu mencium bibirnya dengan sangat panas.


Joana tentu terkejut, saat ini mereka masih berada ditempat umum dan banyak sekali orang yang berlalu-lalang. Pastinya mereka melihat apa yang Devan lakukan, Joana ingin melepaskan dirinya, tapi Devan benar-benar tidak memberinya celah. Pria itu menciumnya dengan sangat panas seraya memegang kedua kepalanya.


Devan sengaja melakukannya, mencium Joana didepan umum dan tepat saat Felix sampai didekatnya. Ia ingin menunjukkan kepemilikannya kepada pria itu. Setelah Felix melihatnya, barulah ia melepaskan ciumannya.


Felix tentu melihat semuanya, ia tidak buta sehingga tidak melihat apa yang dilakukan oleh Devan. Ia hanya menunduk seraya mengulas senyum kecutnya. Instingnya mengatakan jika kali ini Devan memang sudah mencintai Joana.


"Devan!" seru Joana melotot kesal.


"Kamu sangat cantik sekali hari ini," ucap Devan mengelus lembut bibir Joana yang basah karena ulahnya.


"Kamu tidak lihat ini ditempat umum?" tukas Joana menepis pelan tangan Devan, ia tidak segila itu berciuman ditempat umum apalagi sedang di kantor polisi seperti itu.


"Ehem." Felix berdehem keras saat tiba disamping mereka berdua.


Devan menegakkan tubuhnya, ia segera merangkul pinggang Joana dengan begitu posesif dan sengaja ingin memanasi Felix.


"Felix, aku ucapkan terima kasih padamu," ucap Joana.


"Tidak perlu seperti itu, Joana. Aku dan Devan sudah bersahabat sejak kami kecil," sahut Felix mengulas senyum khas dirinya.

__ADS_1


"Apakah sudah selesai? Aku ingin membawa calon istriku pulang. Setelah ini aku harap kalian tidak lagi bertemu diam-diam dibelakangku," kata Devan diiringi desisan kesalnya, menatap keduanya dengan tatapan tajam membunuh.


"Jangan berprasangka buruk, Dev. Aku tidak punya maksud apapun, justru aku ingin membantumu," ujar Felix.


"Aku harap memang itu tujuanmu," tukas Devan dengan ekspresi malasnya.


"Dev," tutur Joana, ia menarik tangan Devan seraya memelototinya, pria itu terlalu tidak sopan kepada Felix yang notabenenya adalah orang yang telah membantunya keluar.


"Kenapa? Ingin pulang sekarang? Masuklah ke mobil terlebih dulu, ada yang perlu aku bicarakan dengan dia," ujar Devan menunjuk Felix dengan dagunya.


"Membicarakan apa?" Joana memandang Devan penuh rasa ingin tahu.


"Joana, aku sangat tidak suka jika perintahku dibantah. Bisakah kali ini saja kamu menurut padaku?" kata Devan, menyebarkan auranya yang mengancam bagi Joana.


Joana terlihat ragu, ia menatap Felix dengan khawatir. Devan ini adalah orang yang tidak bisa ditebak, bisa saja Devan melakukan sesuatu yang diluar akal manusia. Atau mungkin akan kembali membuat keributan.


"Aku akan tetap disini, bukannya kamu bilang aku berhak tahu apapun yang kamu ketahui?" celetuk Joana dengan sikapnya yang keras kepala.


"Joana." Devan mengeram rendah, ia menatap Joana semakin tajam dan berkilat-kilat. Tidak suka dengan cara Joana yang membantahnya itu.


Joana masih ingin protes, tapi melihat tatapan mata Devan yang sangat tajam itu membuat nyalinya ciut juga. Mungkin kali ini ia harus mengalah dulu, dan kembali ke mobil adalah pilihan yang tepat.


"Baiklah, aku akan pergi ke mobil dulu," kata Joana.


Devan hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun. Tapi Joana justru menarik-narik bajunya sehingga membuat Devan kebingungan.


"Ada apa?" tanya Devan.


Joana tersenyum tipis, ia lalu mendekatkan dirinya pada Devan dan menjinjit untuk berbisik ditelinga pria itu. "Kamu tahu kenapa aku menyukaimu? Karena wajahmu yang sangat dingin dan menyebalkan. Aku tidak berjanji untuk berhenti mencintaimu jika kamu terus memasang wajah seperti itu," lirih Joana.


Bibir Devan otomatis terangkat untuk menyala senyum tipisnya. Ia ingin mengatakan sesuatu tapi Joana sudah lebih dulu menjauh seraya mengerlingkan sebelah matanya.


'Dia itu benar-benar, awas saja nanti.'

__ADS_1


Devan begitu gemas melihat tingkah Joana yang menurutnya sangat menyenangkan itu. Wanita yang jujur dan apa adanya. Joana tidak ragu untuk mengatakan apapun yang ada dalam hatinya. Hal itu mampu membuat Devan yang tadinya begitu kesal mendadak lupa akan kekesalannya.


"Dev, apa yang ingin kamu katakan? Waktuku tidak banyak," sergah Felix mulai kesal juga lama-lama melihat kemesraan Devan dan Joana.


"Oh, aku hanya ingin mengatakan padamu. Berhenti mendekati Joana, kami akan segera menikah," kata Devan memusatkan perhatiannya pada Felix.


"Baru akan menikah bukan? Belum tentu hal itu akan terjadi. Bisa saja dia seperti Mega dulu," celetuk Felix.


"Apa maksudmu berkata seperti itu?" Devan menatap Felix begitu tak suka, seolah Felix mengatakan jika ia dan Joana tidak akan pernah bisa bersatu.


"Tidak ada, aku hanya kasihan dengannya. Jika kamu terus seperti ini, kamu hanya akan membuat hatinya hancur jika sewaktu-waktu polisi atau musuhmu menyerangmu. Berhentilah, Dev, masih banyak waktu dan mulailah hidup baru bersamanya," tutur Felix begitu bijak.


"Sebenarnya ini bukan tentang aku, Felix. Tapi tentang dirimu. Aku heran kenapa dari dulu kamu begitu sibuk mengurus asmaraku? Apa yang sebenarnya kamu harapkan?" sembur Devan, ingin belajar dari masa lalu dimana Mega justru lebih memilih Felix untuk dijadikan tempat untuk berbagi keluh kesah.


"Tidak juga, tapi mereka yang datang padaku terlebih dulu. Seorang wanita tidak akan datang jika dia tidak benar-benar nyaman dengan seorang pria. Mungkin itu yang Mega rasakan padaku dulu, tapi dia tetap mencintaimu, Dev." Felix menggelengkan kepalanya, membantah tuduhan implisit itu.


"Benarkah? Bukankah kamu yang mencari kesempatan untuk mendekati mereka saat aku tidak ada? Benar seperti itu, Felix? Jika iya, aku tegaskan padamu. Cobalah mengulangi hal sama dengan merayu Joana agar berada di pihakmu, aku yakin kamu tidak akan bisa melakukannya," ucap Devan menarik sudut bibirnya menjadi senyuman licik.


Felix tertawa kecil. "Kamu seperti anak kemarin sore yang sedang mengajakku bertaruh, Dev. Tapi ini sangat menarik, apakah benar Joana seperti yang kamu katakan?" sahut Felix masih dengan tawanya.


"Aku percaya padanya." Devan menjawab tanpa keraguan sama sekali.


Felix semakin mengembangkan senyumnya, ia berjalan mendekati Devan lalu menepuk bahunya perlahan.


"Pilihan yang sangat bagus. Kita lihat, siapa yang akan menang nantinya," kata Felix.


Devan mengepalkan tangannya, ia menepis tangan Felix dengan kasar. "Berhenti mengharapkan dia, jika sampai kamu mendekatinya, aku sendiri yang akan membunuhmu dengan tanganku," ancam Devan.


"Bukankah kamu sendiri yang mengatakan kalau kamu yakin?" Felix membalikkan kata-kata Devan dengan nada sarkas sehingga pria itu tidak sanggup berkata apapun.


"Sebaiknya jaga baik-baik apa yang kamu miliki saat ini, Dev. Dunia selalu berputar, tidak selamanya kita akan selalu berada diatas. Mungkin hari ini kamu bisa menang, tapi besok? Belum tentu," lanjut Felix memicingkan matanya seraya mengulas senyum yang tidak biasa.


Devan berdecih pelan, rasanya kini ia semakin yakin jika Felix ini sudah mulai keluar jalur yang selama ini dianutnya. Dulu Devan mungkin sangat bodoh karena terlalu percaya padanya. Tapi sekarang ia tidak akan melakukan hal yang sama.

__ADS_1


'Satu jengkal saja Felix berani menyentuh Joana, ia pasti akan benar-benar mencabut nyawanya.'


__________


__ADS_2