Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
(MM&GL) BAB 43. Siasat.


__ADS_3

Felix langsung datang ke rumah Devan begitu mendapatkan telepon dari Joana. Pria itu cukup terkejut saat Joana mengatakan jika Devan dibawa oleh polisi. Setahunya Devan adalah pria yang licin, bagaimana polisi membawanya dengan mudah seperti itu?


Sesampainya di rumah Devan, ia langsung disambut wajah khawatir Joana. Ia langsung memeluknya untuk sekedar menenangkan.


"Tidak apa-apa, Devan pasti baik-baik saja," tuturnya seraya mengusap-usap baju Joana.


Joana membulatkan matanya akan sikap Felix itu, ia segera mendorong Felix menjauh dan menatap pria itu tidak suka.


"Aku memintamu kesini untuk membantuku bertemu dengan, Devan. Bukan untuk memelukku," ujar Joana sedikit ketus.


"Maaf, aku pikir kamu memang butuh teman untuk berbagi cerita." Felix mengulum bibirnya, tidak menyangka akan respon Joana yang seperti itu.


"Oh ya, katamu Devan dibawa oleh polisi, kenapa? Apa masalahnya?" tanya Felix mengalihkan pembicaraan ke hal lain.


"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi polisi itu menuduh Devan telah melakukan pembunuhan. Tolong bantu Devan," ucap Joana langsung saja mengutarakan maksud tujuannya menghubungi Felix.


"Pembunuhan? Siapa yang dibunuh?" Felix lagi-lagi terkejut mendengar jawaban yang keluar dari mulut Joana.


"Entahlah, Felix. Aku sebenarnya ragu jika Devan tidak melakukannya. Tapi aku percaya padanya, aku tidak mau kalau dia dipenjara. Dia sudah berjanji akan berubah," kata Joana semakin cemas saja mengingat nasib Devan yang tadi diseret polisi.


"Tunggu dulu, kamu mengatakan Devan akan berubah? Kenapa kamu begitu yakin?" tanya Felix lagi.


Joana mengigit bibirnya, ia lalu duduk untuk menenangkan dirinya sendiri diikuti oleh Felix yang kini tengah menunggu jawaban darinya itu.


"Aku sudah berdamai dengan diriku, Felix. Seperti katamu, membalas dendam saat ini bukan hal yang tepat. Aku ingin Devan berubah menjadi orang yang baik," kata Joana menjelaskan.


"Itu hal bagus, aku justru akan sangat mendukung keputusanmu." Felix mengangguk sebagai tanda setuju.


"Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana caranya membuat Devan berubah?" Joana bertanya dengan nada putus asa.


Rasanya jalan yang dilakukannya pun tidak akan membuahkan hasil yang memuaskan karena Devan tidak benar-benar ingin berubah. Pria itu masih suka menghabisi nyawa seseorang seolah nyawa bukanlah hal yang penting.


"Dia tidak akan berhenti, kecuali ..." Felix tampak ragu untuk mengatakannya, takut akan salah kata atau bagaimana.


"Kecuali apa?" Joana memandang Felix dengan dahi berkerut.


"Kecuali kamu yang melakukan tindakan sendiri," jawab Felix.


"Tindakan sendiri? Maksudnya?" Joana semakin tidak mengerti kemana arah pembicaraan Felix ini.


"Sebelum kamu memulai semuanya, kamu harus tahu jika Devan adalah orang yang sudah sangat lama menggeluti dunia bawah tanah. Relasinya sangat banyak dan dari mereka semua sangat takut kepada Devan. Dalam hal ini, kamu pasti bisa menilai bagaimana kuatnya Devan bukan?" Felix menjelaskan dengan serius dan dibalas anggukan oleh Joana sebagai tanda mengerti.


"Devan tidak pernah takut apapun karena dia punya kuasa. Selama kebohongannya tidak ada yang membongkar, maka dia akan selalu aman. Sampai saat itu, aku yakin Devan tidak akan benar-benar bisa berubah," lanjut Felix.

__ADS_1


"Apakah tidak ada cara apapun? Lalu tindakan apa yang kamu maksud tadi?" Joana menggenggam tangannya sendiri, takut bercampur bingung menghadapi masalah yang terjadi saat ini.


"Tindakan dengan mencaritahu tentang bisnis ilegal Devan," kata Felix.


"Apa?" Joana begitu terkejut.


"Tenang dulu, kamu hanya perlu mencari tahu dimana Devan memproduksi barang-barang itu dan kemana saja Devan mengedarkan barangnya. Darisini kamu bisa mengambil tindakan selanjutnya," ujar Felix menjelaskan dengan sangat jelas sekali.


"Bukankah itu sama saja seperti mengkhianati Devan?" Joana mengerutkan dahinya semakin dalam, ia merasa tindakan itu sangat jauh.


"Bisa dibilang seperti itu. Tapi kamu akan tahu bagaimana hasilnya nanti, Joana. Kamu tidak perlu memenjarakan Devan, tapi cukup memberitahu polisi tentang semua itu. Yang mereka cari selama ini adalah hal itu, jadi jika mereka sudah menemukannya, mereka tidak akan mengejar Devan dan Devan pun tidak akan bisa melakukan apapun bukan?"


Joana terdiam, semakin ragu dengan cara yang dikatakan oleh Felix ini. Memang ada benarnya, ia bisa berpura-pura membantu polisi itu mengungkap dimana pabrik pengolahan senjata dan obat-obatan terlarang itu. Tapi nanti dia secara diam-diam akan mengajak Devan pergi meninggalkan negara ini dan hidup bersama dengan kehidupan baru.


"Joana, aku tahu kamu sangat mencintainya. Kamu juga tidak ingin dia terus-menerus menghancurkan dirinya sendiri seperti ini bukan? Jika kamu takut Devan akan tertangkap, aku bisa memberikan perlindungan kepada kalian," tutur Felix lagi.


"Apakah kamu bisa melakukannya?" Joana memandang Felix dengan ragu.


Felix tersenyum tipis. "Aku dan Devan memiliki kekuasaan yang bisa dibilang hampir sama. Bedanya aku tidak berbisnis ilegal seperti dia," seloroh Felix.


"Ya, seharusnya dia bekerja tanpa mengambil resiko besar seperti ini. Aku benar-benar khawatir padanya, Felix," kata Joana.


"Well, sepertinya kamu memang benar-benar sudah mencintai dia ya. Sayang sekali untuk kali ini aku yang kalah langkah," celetuk Felix mengulum bibirnya.


"Lupakan, sekarang waktunya kita fokus kepada tujuan kita. Aku juga sudah tidak sabar melihat Devan berhenti melakukan kejahatan. Semoga nanti dia bisa benar-benar berhenti seperti keinginan Mega," ujar Felix.


"Aku akan selalu memastikan dia mendapatkan yang terbaik, Felix. Semua orang berhak untuk berubah dan mendapatkan kesempatan kedua," sahut Joana cukup tidak suka jika Felix menyebut nama Mega.


"Kamu benar, Devan benar-benar berada ditangan orang yang tepat sekarang," ucap Felix mengulas senyumnya yang manis kepada Joana.


"Jangan terlalu berlebihan, aku juga bukan wanita baik," tukas Joana.


"Yang melihat yang bisa menilai. Andai dulu aku yang mengenalmu lebih dulu," kata Felix terus saja memandang tak jemu pada Joana.


Joana begitu terkejut, tapi ia segera menguasai dirinya. Ia tidak ingin terlibat masalah apapun kepada orang yang nantinya justru akan menimbulkan masalah yang lebih besar. Ia harus menjaga hatinya agar tidak gampang goyah, lagipula sepertinya hatinya memang tidak akan goyah.


"Jadi, sekarang kita bisa menemui Devan?" Joana segera mengalihkan pembicaraan ke hal lain.


"Tentu saja," sahut Felix mengangguk mengiyakan.


"Baiklah, ayo pergi sekarang," kata Joana buru-buru bangkit dari duduknya.


Namun, sebelum ia pergi Felix memegang tangan Joana sehingga membuat wanita itu kaget. Ia hampir saja memaki, tapi ucapan Felix selanjutnya membuat ia mengurungkan niatnya.

__ADS_1


"Aku ingin bertanya sekali lagi, apa kamu yakin ingin melakukan tindakan ini?" tanya Felix memastikan segalanya.


Joana menarik napas panjang sebelum mengangguk penuh keyakinan.


"Sangat yakin."


Jawaban Joana itu membuat Felix mengulas senyum yang tidak terlalu terlihat. Cukup bahagia ada seseorang yang mau membantu sahabatnya untuk berubah ke jalan yang lebih baik.


___________


Rendra memandang Joana dengan tatapan yang tajam bercampur sinis. Ia berdecih pelan seolah begitu muak dengan drama pasangan licik itu.


"Aku tahu kenapa orang mengatakan jika jodoh adalah cerminan diri. Seorang penjahat yang sangat kejam memiliki seorang kekasih yang licik dan manipulatif. Sungguh pasangan yang serasi," cemooh Rendra.


Devan ingin membuka mulutnya, tapi Joana segera menahan tangannya, pertanda ia yang akan mengatasi polisi yang banyak bicara itu.


"Terima kasih atas pujiannya Letnan Rendra. Aku disini ingin menjemput calon suamiku karena dia tidak bersalah apapun," kata Joana dengan sangat tenang.


"Boleh, asalkan kamu bisa membuktikan kalau Devan benar-benar dirumah saat jam 2 dini hari," ucap Rendra menarik salah satu sudut bibirnya.


Joana justru tersenyum, nyaris tertawa malahan, membuat semua orang yang ada disana heran, termasuk Devan. Apa yang sedang Joana pikirkan?


"Ayolah Letnan Rendra, saya tahu Anda bukan orang yang polos. Menurut Anda apa yang dilakukan oleh kedua pasangan yang sangat romantis ditengah malam buta seperti itu?" sahut Joana dengan suara renyahnya. "Tapi tidak masalah jika memang Anda meminta bukti. Saya akan menunjukkan foto romantis saya dengan kekasih saya. Semoga ini bisa membantu," lanjut Joana menunjukkan sebuah ponsel yang berisi sebuah foto dimana Devan dan Joana sedang tertidur seraya berpelukan mesra dengan dibalut selimut tebal.


Rendra melihat bukti itu, ia mengambil ponsel itu dan mengecek tanggal dan waktu kapan foto diambil. Tapi ia justru mendapatkan hal yang sangat-sangat mengecewakan.


"Bagaimana? Apakah bukti ini sudah cukup? Calon suamiku tidak salah apapun, dan dia bisa bebas sekarang," tukas Joana mengulas senyum liciknya.


Para polisi itu tidak bisa menjawab atau sekedar membantah. Mereka hanya diam saja saat melihat Devan akhirnya harus kembali lolos dari jerat hukum.


"Semuanya sudah jelas dengan bukti yang dibawa oleh Nyonya Joana. Kami sangat kecewa dengan keputusan polisi yang asal menangkap orang dan menyudutkannya tanpa bukti. Apakah kinerja seperti ini masih pantas disebut sebagi lembaga hukum?" celetuk pengacara Devan dengan begitu pedasnya.


"Tutup mulutmu baji Ngan!" Rendra berteriak dan hampir saja merangsek maju, tapi Shaka menahannya.


"Jangan terpancing, dia hanya kebetulan lolos saat ini," bisik Shaka.


Devan tersenyum tipis, tapi senyuman itu justru seperti sebuah ejekan bagi Rendra. Ia mengepalkan tangannya dan semakin ingin menghabisi Devan.


"Sayang, kamu sudah bebas. Ayo pulang sekarang," ujar Joana menghampiri Devan sehingga pandangan mereka terputus.


Devan menoleh, ia menatap Joana dengan tatapan yang tak biasa. Banyak pertanyaan dalam benaknya saat ini. Tapi ia tidak mau bertanya sekarang. Ia hanya mengangguk lalu meraih pinggang Joana dan mengajaknya pergi meninggalkan tempat itu.


Namun, saat Devan melihat sosok Felix diambang pintu, ia berhenti sejenak untuk menatap pria itu tapi tidak mengatakan apapun. Hanya lewat mata, dan Felix pasti sudah paham maksudnya.

__ADS_1


__________


__ADS_2