Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
Mencari Putri Yang Hilang.


__ADS_3

"Jadi tidak ada bayi perempuan selain putriku yang lahir ditanggal itu?"


Medison mencerca asistennya yang baru saja mendapatkan informasi yang sama sekali tidak berguna. Semuanya masih belum menemukan titik terang tentang siapa anak kandungnya sebenarnya.


"Benar Tuan, kemungkinan bayi yang mereka tukar itu bayi yang tidak lahir di hari itu," ucap Arash memijat kepalanya yang ingin pecah karena harus mencari keberadaan anak yang sama sekali tidak diketahui identitasnya.


Medison berdecak kesal, sebenarnya siapa orang yang sudah menukar anak mereka. Medison selalu berpikir, apakah anaknya itu baik-baik saja? Apakah dia sudah meninggal atau bagaimana?


"Tapi Tuan," ucap Arash membuat Medison menatapnya.


"Di hari kelahiran putri Anda, ada sebuah Panti Asuhan yang juga menemukan seorang bayi perempuan yang diletakkan di dalam kardus depan Panti,"


"Dimana lokasinya?" tanya Medison langsung.


"Panti Asuhan kasih bunda, apakah Anda ingin kesana?" ujar Arash tidak yakin sebenarnya jika anak itu merupakan anak tuannya, tapi tidak ada salahnya jika ingin mengetahui lebih lanjut.


"Panti asuhan kasih bunda?" Medison membesarkan matanya saat mendengar nama tempat yang tak asing di telinganya. Ya dia ingat, panti asuhan itu adalah tempat dimana ia mengadopsi Stella dulu. Kenapa bisa kebetulan seperti ini? Apa jangan-jangan ...


"Kita akan kesana sekarang. Arash, siapkan mobilnya," perintah Medison mencoba tenang, apakah yang dipikirkan saat ini benar adanya.


Stella, wanita itukah putrinya?


Arash mengangguk siap, ia bergegas menyiapkan mobil untuk Medison dan segera berangkat menuju Panti Asuhan itu.


Selama perjalanan, pikiran Medison begitu kalut. Tiba-tiba kenangan masa kecil Stella berputar di kepalanya. Jika benar wanita itu putrinya, itu artinya dia sudah begitu dekat dengan putrinya, namun ia sama sekali tidak menyadarinya.


Medison lalu ingat bagaimana sikap buruk keluarganya dulu saat dengan tega mengusir Stella. Jika semuanya benar, ia pasti akan menyesal telah membiarkan putrinya hidup dalam kesengsaraan.


"Apakah masih lama?" tanya Medison tak sabar ingin mengetahui kebenarannya.


"Sebentar lagi Tuan," sahut Arash menambah kecepatan mobilnya.


Tak sampai satu jam, mereka sudah tiba di Panti asuhan kasih Bunda. Ibu Laras yang sudah sangat mengenali Medison segera menyambut tamunya itu.


"Selamat sore Tuan Medison, senang Anda bisa berkunjung ke Panti asuhan kami," ucap Ibu Laras mengangguk sebagai sapaan.


"Selamat sore, apakah Ibu Laras ada waktu sebentar? Saya ingin membicarakan beberapa hal dengan Anda," ucap Medison meski tak sabar, ia lebih mengendapkan sopan santunnya.


"Bisa Tuan, kalau boleh tahu, ingin membicarakan apa ya?" tanya Ibu Laras sedikit was-was.

__ADS_1


Medison memberikan gestur sebagai tanda kalau hal ini adalah masalah pribadi. Ibu Laras mengerti, ia segera mengajak Medison menuju ruang kerjanya.


"Apa yang ingin Tuan katakan?" tanya Ibu Laras langsung.


"Sebelumnya aku minta maaf karena tidak bisa menjaga Stella dengan benar," ucap Medison merasa harus meminta maaf karena meninggalkan tanggung jawab begitu saja kepada anak yang sudah diadopsinya dari panti asuhan ini.


"Maksud Tuan?" tanya Ibu Laras bingung.


"Apa Stella tidak bercerita?" tanya Medison terkejut dengan respon Ibu Laras.


"Cerita apa Tuan? Apa tentang Stella yang sudah menikah dengan nak Xander?" tanya Ibu Laras memang tidak pernah diberitahu oleh Stella tentang apa yang dialaminya.


"Apa Stella masih sering kemari?" tanya Medison lagi.


"Ya, akhir-akhir ini Stella memang sering kemari, seminggu yang lalu juga nak Xander kesini untuk menjemput Stella," sahut Ibu Laras menjelaskan.


"Maaf Ibu Laras jika saya lancang, saya ingin bertanya, apakah benar kalau Ibu Laras telah menemukan bayi pada tanggal 12 Juni tahun XXXX?" tanya Medison langsung saja ke pokok masalah yang ia butuhkan.


"Tanggal 12 Juni?" Ibu Laras mengingat-ingat kembali pada tanggal itu, apalagi kejadiannya sudah sangat lama.


"Ya, saya ingat," ucap Ibu Laras membuat mata Medison berbinar cerah.


"Ya benar, seorang bayi perempuan yang sangat cantik," ucap Ibu Laras mengingat semuanya.


"Benarkah? Lalu, dimana bayi itu sekarang? Apa bayi itu Stella?" cerca Medison tak sabar sekali, entah kenapa ia sangat berharap kalau Stella memanglah anak kandungnya.


"Stella? Bukan, Tuan" Medison langsung lemas saat mendengar hal itu. "Namanya Sarah, sekarang dia sudah berada di luar negeri bersama keluarga barunya," sambung Ibu Laras kemudian.


"Apakah Ibu yakin kalau bayi itu yang ibu temukan?" tanya Arash mewakili atasannya yang syok.


"Yakin Tuan, saya mencatat semua bayi yang pernah saya temukan. Dan ditanggal 12 juni itu hanya Sarah yang saya temukan," ujar Ibu Laras membuka sebuah buku yang menjadi catatan pribadinya.


"Lalu kapan Stella ditemukan?" tanya Medison.


"Stella datang setelah seminggu kemudian, dia juga masih bayi merah saat itu. Tapi Stella bukan kami temukan Tuan, namun ada orang yang sengaja menitipkannya disini," ucap Ibu Laras ingat betul malam dimana seorang wanita yang datang menyerahkan Stella.


Saat itu hujan sangat deras dan wanita itu mengatakan akan mengambil bayinya kembali. Namun nyatanya wanita itu sama sekali tidak kembali, sebuah trik yang sudah sangat biasa dijumpai oleh Ibu Laras selama mengelola panti asuhan ini.


"Memangnya ada apa Tuan? Apa ada masalah?" tanya Ibu Laras cukup penasaran.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, apa ibu memiliki nomor Sarah yang bisa dihubungi?" tanya Medison mengabaikan rasa kecewa di hatinya. Bukankah dia seharusnya senang karena bisa tahu dimana anaknya? Meski semuanya belum pasti, tapi kemungkinan besar memang Sarah adalah putri kandungnya.


"Tidak ada Tuan, Sarah sudah memutuskan semua hubungan begitu keluarganya pindah ke sana,"


Medison men de sah kecewa, kenapa rasanya susah sekali ia ingin bertemu dengan anak kandungnya.


"Kalau alamat sebelumnya, apakah ibu punya?" tanya Arash.


"Ya punya, saya ambilkan sebentar," ucap Ibu Laras membuka catatan lamanya untuk mencari alamat Sarah.


Medison saling pandang dengan Arash, akhirnya ada setitik harapan untuk menemukan putrinya. batin Medison.


*****


Stella sedang membuat kue kering yang baru saja di ajarkan Mama Rita, wanita itu seharian ini menemani menantunya karena Xander masih bekerja.


"Coba dulu Ma, enak nggak?" ucap Stella memberikan kue kering yang baru saja di buatnya.


"Enak ini, kamu pinter buatnya," ucap Mama Rita mengangguk-angguk senang seraya mencoba kue buatan Stella.


"Masak sih Ma?" tanya Stella tak percaya.


"Serius, Mama nggak bohong. Kamu coba aja, Xander juga pasti seneng ini. Jam berapa dia pulang?" ujar Mama Rita tidak berbohong, kue buatan Stella memang enak.


"Enggak tahu, aku coba telepon deh," sahut Stella mengambil ponselnya yang berada di meja makan.


Stella langsung mencari nomor suaminya yang ada di bagian atas. Namun sebelum sempat ia menghubunginya, ada satu pesan baru. Tanpa pikir panjang Stella langsung membukanya. Begitu melihat apa yang di kirim di ponselnya, mata Stella terbelalak lebar.


"Hubby?" gumam Stella menutup mulutnya syok melihat foto suaminya yang sedang bersama Joana tanpa menggunakan pakaian.


"Enggak, ini nggak mungkin!" Stella menjerit histeris, tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.


"Sayang, ada apa? Kenapa kamu teriak-teriak?" Mama Rita terkejut mendengar suara Stella.


"Xander Ma, dia ..." Stella tak sanggup berkata lagi, ia menunjukkan foto yang baru saja dilihatnya kepada Mama Rita yang tak kalah terkejutnya.


Happy Reading.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2