Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
(MM&GL) BAB 31. Ketegangan.


__ADS_3

Felix mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan Joana yang menurutnya sangat konyol. Ia tertawa kecil, menatap Joana dengan ekspresi lucu.


"Apa yang lucu?" celetuk Joana, merasa tidak suka dirinya ditertawakan.


"Hahaha, tidak ada. Hanya merasa lucu, kenapa kamu bertanya seperti itu? Bukannya kamu sudah tahu Devan itu orangnya seperti apa?" kata Felix masih dengan tawanya.


Joana menekuk wajahnya, memang benar sih terdengar aneh jika membujuk Devan untuk berhenti. Pria itu saja tidak mau mendengarkan siapapun kecuali dirinya sendiri.


"Tuan, ini peralatan yang Anda butuhkan." Seroang pelayan menghampiri mereka berdua dengan membawa nampan yang berisi obat-obatan dan juga es batu.


"Ya letakkan disitu," sahut Felix menunjuk meja di sampingnya.


Pelayan itu segera menaruhnya disana lalu bergegas pergi meninggalkan mereka berdua kembali.


"Sudah makan?" tanya Felix dan dibalas gelengan oleh Joana.


"Aku akan mengobati lukamu dulu, setelah itu makan dan beristirahatlah. Masih ada sedikit waktu untuk tidur," tutur Felix seraya mengambil kapas dan betadine untuk mengobati lengan Joana yang terluka akibat terkena pecahan kaca tadi.


Untuk yang ini Joana tidak menolak, karena ia sendiri pun tidak bisa mengobati lukanya. Ia membiarkan Felix mengobatinya meski ia harus menahan perih yang luar biasa saat betadine itu menyentuh lukanya yang masih basah.


"Ssshhhh ...." Joana mendesis pelan untuk menyamarkan rasa sakitnya, rasanya benar-benar perih sekali.


"Sakitkah?" lirik Felix dengan mata indahnya.


"Sedikit," sahut Joana singkat saja, benar-benar tidak tahan dengan rasa sakit itu.


"Tahanlah sebentar, ini akan segera selesai."


Felix mengobati luka Joana dengan sangat telaten, ia menekan-nekan kapas itu dengan sangat lembut agar tidak menyakiti Joana. Setelah itu, ia membalutkan kasa pada luka itu agar tertutup sempurna.


Selama proses itu terjadi, Joana diam-diam meliriknya, menatap Felix yang sangat tenang dan perhatian itu. Seharusnya semua wanita pasti akan bergetar saat bersamanya, tapi tidak dengan Joana.


"Aku dengar, ibumu meninggal," kata Felix tiba-tiba.


"Ya." Joana langsung membenarkan.


"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Felix, kali ini ia menatap Joana dengan serius.


"Tidak melakukan apapun," sahut Joana singkat saja, ia malas jika membahas hal yang membuat amarahnya kembali muncul.


Felix tersenyum tipis, membuat Joana bingung.


"Itu pilihan yang bagus, balas dendam tidak akan membuat hidupmu lebih baik. Tapi justru semakin berantakan. Biarkan saja, Tuhan pasti sudah punya rencana yang lebih baik untukmu," ujar Felix.


"Jika kamu berada di posisiku, apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Joana.


"Tidak ada, tapi aku ingat dulu Mega pernah bercerita padaku. Dia ingin Devan sadar akan kesalahannya itu sendiri," kata Felix lagi.


"Maksudnya?" Joana memandang Felix bingung.


"Mega juga sama sepertimu, dia tidak suka Devan ikut terlibat perdagangan ilegal yang merugikan Negara. Mega ingin Devan bisa dihukum secara hukum negara dan diadili sepantasnya."

__ADS_1


"Maksudmu Mega ingin Devan di penjara?" Joana malah terkejut mendengar perkataan itu.


"Maksudnya Mega itu baik, dia tidak masalah jika harus menunggu bertahun-tahun Devan keluar dari penjara. Yang terpenting Devan bisa berubah," tuturnya lagi.


Joana mengernyit aneh, meskipun cukup masuk akal, tapi kenapa ia yang tidak bisa terima? Kenapa Mega justru ingin Devan di penjara?


"Tuan Felix." Asisten Felix terburu-buru masuk ke dalam ruangan itu, membuat keduanya menoleh.


Felix mengangkat wajahnya, melihat ekspresi wajah anak buahnya yang sangat gugup itu.


"Ada apa?" tanya Felix.


"Tuan Devan, datang."


Felix diam, ia melirik Joana yang langsung terkejut itu. Ia tersenyum menenangkan. "Jangan khawatir, aku akan menemuinya. Kamu istirahat saja, Mauli akan membantumu untuk ke kamar," kata Felix.


Felix lalu memanggil pelayannya yang perempuan untuk menemani Joana. Ia sendiri langsung menemui Devan yang datang. Sebenarnya sudah bisa ditebak, Devan pasti datang karena setiap apa yang terjadi dalam hidup Joana, tidak mungkin Devan tak tahu. Sekarang sepertinya ia harus menghadapi sahabatnya yang pemarah itu.


_______


Devan mungkin akan menghancurkan rumah Felix kalau pria itu tidak segera datang. Tapi untungnya Felix sudah menemui Devan sebelum Devan benar-benar mengamuk.


Melihat kedatangan Felix, Devan segera menemui pria itu dan langsung mendorongnya dengan kasar.


"Apa belum cukup luka yang aku berikan? Apa aku perlu menambahnya lagi agar kamu berhenti mendekati Joana?" hardik Devan, tidak bisa rasanya hanya bicara dengan nada biasa saja.


"Rendahkan suaramu jika kamu ingin bertemu dengan dia," kata Felix mencoba tenang menghadapi kemarahan Devan itu.


"Ya, memang seharusnya kita mengakhiri sekarang, Dev. Apa yang kamu lakukan ini terlalu jauh," ujar Felix.


"Sejak kapan kamu begitu peduli dengan hidupku?" Devan terkekeh-kekeh sinis. Ia lalu berjalan mendekati Felix dan berdiri tepat dihadapan pria itu. "Apa sekarang, kamu ingin berpura-pura baik agar menarik simpati Joana, begitu?" lanjutnya lagi.


Felix menipiskan bibirnya, ia tersenyum santai dan malah menepuk bahu Devan.


Devan meliriknya tajam, segera menarik tubuhnya, enggan untuk bersentuhan dengan Felix.


"Aku rasa kamu berpikir terlalu jauh, Dev. Aku menyelamatkan Joana karena laporan dari anak buahku. Aku tahu ini sangat lancang, tapi dia memang tidak bersalah bukan? Dia hanya berada ditempat yang salah saat kejadian itu terjadi," kata Felix.


"Maksudmu dia salah saat bersamaku?" Devan semakin menajamkan tatapannya.


"Tidak juga, lebih tepatnya kamu salah karena melibatkan dia dalam masalahmu."


Devan menegakkan tubuhnya mendengar jawaban yang keluar dari mulut Felix. Ia melirik pria itu semakin tajam, jika bisa seolah ia akan membunuh Felix hanya dengan tatapan matanya.


"Bukankah ini terlalu jauh? Aku sudah mengampunimu dua kali. Sebaiknya manfaatkan sebaik mungkin kesempatan yang aku berikan. Sekarang, biarkan aku menjemput istriku," ucap Devan langsung saja menyelonong masuk untuk menjemput Joana.


Namun, Felix justru menahan bahu Devan membuat tangan Devan langsung mengepal.


"Kali ini aku menentangmu, biarkan dia bebas," kata Felix.


"Beri aku satu alasan, kenapa aku harus membiarkannya pergi?" kata Devan.

__ADS_1


"Bukankah kamu sudah tahu alasannya?" Felix menjawab seraya menatap mata Devan dengan sangat serius.


Devan tersenyum, tapi matanya langsung berkilat-kilat penuh amarah. "Mungkin dulu aku masih membiarkannya. Tapi jangan harap sekarang aku akan membiarkanmu menyentuhnya!" seru Devan.


"Kenapa? Bukannya kamu juga tidak bisa mencintai dia? Lalu kenapa kamu-"


BUGH


Tanpa menunggu jawaban yang terlontar dari mulut Felix, Devan langsung menghantam kepala pria itu dengan keras. Ia tidak peduli saat ini Felix masih diperban wajahnya, pria itu yang sudah memulai peperangan terlebih dulu.


Kali ini Felix tidak tinggal diam, ia juga balas menghantam Devan dengan pukulan telak. Kesabaran orang juga ada batasnya bukan? Ini ingin Devan tahu kalau ia pun bukan orang yang mudah dikalahkan.


"Baji ngan! Aku sudah tahu maksudmu dari awal memang menginginkan dia! Bedebah setan!" teriak Devan seraya menendang perut Felix.


"Cih, jangan bertingkah seolah kamu menginginkan dia, Devan! Kalau bukan karena wajahnya yang mirip Mega, kamu juga tidak akan pernah melihatnya!" Felix balas berteriak, perutnya terasa nyeri hingga ia harus membungkuk.


"Mulutmu memang sangat suka berbicara sembarangan. Diam atau aku akan merobeknya."


Devan kembali merangsek maju, ia benci dengan kata-kata Felix dan niat busuk pria itu. Sudah ia duga jika kedatangan Felix pasti hanya akan mengacaukan hidupnya lagi. Pria ini entah kenapa sangat Devan ragukan sekarang. Atau sebenarnya sejak dulu ia yang bodoh?


Felix sudah hampir sekarat saat Devan mendorongnya sampai terjatuh ke lantai. Pria itu juga babak belur meski tak separah Felix, tapi sepertinya Devan tidak ingin berhenti.


"Hentikan!" teriak Joana kaget melihat Felix yang sudah tak berdaya tapi dipukuli habis-habisan oleh Devan.


Devan langsung berhenti saat mendengar suara Joana. Pria itu dengan terseok-seok mendatangi mereka dan langsung menatap Devan penuh kekesalan.


"Apa yang kamu lakukan? Apa kamu tidak bisa bersikap baik sebentar saja di rumah orang lain?" sergah Joana dengan wajah marahnya.


Joana lalu mencoba membantu Felix meski ia sendiri kesusahan untuk berdiri. "Apa kamu bisa berdiri? Aku akan membantumu," kata Joana seraya mengulurkan tangannya.


Felix mendesis pelan, tubuhnya sakit semua karena ia sebenarnya belum sembuh. Ia mencoba bangkit dengan menyambut uluran tangan itu.


Namun, sebelum Felix sempat menyentuh tangan Joana, Devan tiba-tiba menarik tangannya dengan kasar hingga Joana sendiri hampir terjatuh.


"Devan!" seru Joana marah bercampur terkejut.


"Pulang," kata Devan begitu dingin, suaranya sangat datar pertanda pria itu sedang marah.


Joana ingin membantah, tapi ia diam dan menariknya tangannya kembali.


"Felix, ayo aku akan membantumu," kata Joana kembali menatap Felix yang babak belur itu.


"Apa kamu tidak bisa mendengar yang aku katakan?" desis Devan dengan gigi gemeletuk menahan amarah.


Joana tidak menggubrisnya, ia tidak suka dengan sikap Devan yang menurutnya selalu marah ini. Felix adalah orang yang sudah membantunya, tapi kenapa Devan justru marah-marah sampai melukainya. Tindakannya itu benar-benar membuat Joana kesal.


Devan begitu geram, ia langsung menarik tangan Joana lebih kasar dari sebelumnya hingga kruk yang dipakai Joana terlepas.


"Apa-apaan?"


"AKU BILANG PULANG SEKARANG!"

__ADS_1


________


__ADS_2