
Daniel kembali menemui Stella di Apartemen, ia kemarin tak sempat berpamitan saat pergi karena panggilan mendadak dari ibu kota. Dua minggu meninggalkan Stella di sana sendiri, entah kenapa perasaan Daniel jadi tak enak. Jadi begitu pesawatnya mendarat, ia langsung ke Apartemen Stella terlebih dulu.
Ditangan Daniel telah menenteng dua kantong paper bag yang berisi makanan kesukaan Stella. Ia tersenyum tipis membayangkan bagaimana reaksi Stella nanti. Namun, senyuman itu seketika lenyap saat melihat pemandangan di depannya, ia sama sekali tidak tahu jika akan melihat hal yang sangat mengejutkannya. Matanya terbelalak seolah tak percaya melihat Stella yang berdiri, dengan Xander duduk seraya mencium perutnya. Apa-apaan ini?
"Stella!" panggil Daniel tak bisa menyembunyikan kekesalannya.
Stella dan Xander sedikit terkejut saat mendengar suara Daniel. Stella yang menyadari apa yang baru saja terjadi, mencoba mendorong Xander untuk pergi, namun Xander hanya diam saja.
"Kak Daniel? Xander, tolong lepaskan aku." Kata Stella merasa tak enak dengan Daniel, pria itu pasti sudah berpikiran aneh-aneh.
Xander tak membantah, ia berdiri dari duduknya, menatap Daniel yang kini melangkahkan kakinya lebar-lebar dengan emosi yang tak tertahankan. Begitu sampai di depan Xander, mereka saling bertatapan tajam dan juga sengit.
"Kak, aku ... Argh!!" Stella belum sempat berucap apapun, tapi tanpa aba-aba atau apa, Daniel tiba-tiba menghantam wajah Xander dengan bogem mentah yang begitu keras.
"Ba ji ngan! Beraninya kau mendekati Stella lagi!" teriak Daniel penuh amarah, ia membuang oleh-oleh yang dibawa lalu kembali merangsek maju untuk menghajar Xander.
"Kak Daniel! Hentikan Kak!" ucap Stella mencoba menahan Daniel untuk tidak bertingkah seperti itu, tapi Daniel tak peduli, ia kembali merangsek menghajar Xander.
Xander belum siap dan tak sempat melawan, tapi Daniel sudah melancarkan serangannya. Ia sempat terhuyung namun masih bisa bertahan. Kali ini Xander tak terima, apa salahnya? Stella adalah istrinya, kenapa jadi Daniel yang marah.
"Kau yang ba ji ngan! Kau sudah tahu kalau wanita ini punya suami, tapi kau malah mendekatinya!" ucap Xander begitu geram.
"Omong kosong! Aku tidak butuh basa-basimu!" kata Daniel sudah gelap mata dan kembali menyerang Xander.
Xander pun tak mau kalah, ia juga melawan karena merasa dirinya tak bersalah. Stella sudah berulang kali berteriak meminta mereka berdua berhenti, namun Daniel justru kian menjadi-jadi, ia yang marah dan juga cemburu, menghajar Xander dengan segala emosinya. Hal itu tentu saja membuat Xander kewalahan, dan sudah terpojok.
__ADS_1
"Sudah, berhenti Kak, aku mohon ..." ucap Stella sekali lagi mencoba merayu kedua pria dengan tegangan tinggi itu.
Daniel tak menggubris, ia justru menendang perut Xander hingga pria itu jatuh membungkuk, belum puas di situ saja. Ia sekali lagi ingin menghantam wajah Xander untuk menyelesaikan semuanya.
Stella yang melihat apa yang dilakukan Daniel begitu panik, kaget dan juga takut. Tapi melihat bagaimana Xander yang sudah tak berdaya untuk melawan, badannya seolah bergerak tanpa haluan. Ingin mencegah Daniel melukai Xander lebih parah, Stella memasang badannya tepat di antara mereka.
"Kak, jangan ..."
Bugh ...
Belum sempat Stella mengatakan apapun, Daniel sudah lebih dulu melayangkan pukulan untuk Xander. Tapi karena Stella berada tepat di tengah-tengah mereka, pukulan itu justru tak sengaja mengenai Stella hingga hidungnya berdarah.
"Stella!" teriak Xander bangkit lalu buru-buru menahan Stella yang sempat terhuyung.
Kejadian itu begitu cepat dan tak terduga, Daniel saja masih syok dengan apa yang baru saja dilakukannya.
Stella sediri mendesis kesakitan karena pukulan itu sangat keras, kepalanya langsung berdenyut pusing hingga membuat pandangannya berkunang-kunang dan pingsan seketika.
"Maafkan aku, Stella ... apa kau baik-baik saja?" ucap Daniel mengutuk kebodohannya yang melukai Stella.
"Jangan menyentuhnya! Aku tidak akan mengampuni mu jika terjadi sesuatu pada Stella." Bentak Xander saat Daniel ingin mendekati Stella.
Xander langsung menggendong tubuh mungil Stella untuk di bawa ke rumah sakit. Ia sangat khawatir akan kondisi wanita itu.
*****
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit, Stella segera di tangani. Untungnya tidak terjadi hal serius, hanya luka lebam di pipi, jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan.
"Bagaimana keadaanmu? Apakah masih sakit?" tanya Xander langsung mendatangi Stella saat wanita itu sudah sadar.
"Tidak, aku baik-baik saja," sahut Stella harus berucap perlahan karena pipinya yang sakit.
"Maafkan aku, seharusnya tadi kau tidak perlu menolongku. Kau jadi terluka seperti ini," ucap Xander menggelengkan kepalanya, menyesal karena membiarkan Stella terluka.
"Ck, sudahlah. Lebih baik sekarang kau pergi saja, jangan menggangguku lagi Xander," tukas Stella.
"Stella, tolong beri aku kesempatan sekali lagi, aku sudah tahu semua yang terjadi bukanlah salahmu. Aku benar-benar menyesal Stella, aku mohon maafkanlah aku," ucap Xander mengambil kedua tangan Stella lalu menciumnya.
"Kenapa baru sekarang? Dulu aku selalu berusaha menjelaskan apa yang terjadi padamu, tapi apa yang kau lakukan? Kau lebih percaya pada Joana daripada aku," ucap Stella menarik tangannya kasar, ia sudah cukup bersabar menahan perasaannya selama ini. Kali ini ia ingin mengeluarkan segala yang terpendam dalam hatinya.
"Iya aku salah, aku minta maaf. Saat itu aku dibutakan oleh rasa sakit hatiku dan tidak bisa berpikir jernih," ucap Xander menatap Stella dengan tatapan bersalahnya.
"Semudah itu kau minta maaf Xander? Apa kau pernah merasakan bagaimana sakitnya menjadi aku? Setiap hari aku selalu mencoba bersabar dengan semua sikap kasar mu! Aku selalu mencoba membuat diriku lebih baik untukmu! Tapi apa Xander? Kau justru semakin menyakiti hatiku dengan memilih tinggal bersama Joana!" ucap Stella tak bisa membendung air matanya saat mengingat kilas balik rumah tangannya dulu.
"Maafkan aku, kau boleh menghukum ku apa saja, tolong maafkan aku ..." ucap Xander tak berani menatap wajah Stella yang penuh air mata.
"Setelah semuanya terjadi kau baru minta maaf? Lalu dimana saja kau dulu saat aku menangis karena kau selalu menolak masakanku? Dimana saja kau saat aku menangis karena kau meninggalkanku setelah kita bercinta? Dimana saja kau saat setiap malam aku menangis karena kau tidak pulang dan memilih menginap di tempat Joana? Malam itu aku memintamu untuk tetap tinggal, tapi apa yang kau lakukan? Kau menolak ku seperti wanita sampah yang tidak berguna ..." ucap Stella menangis histeris, pandangannya penuh luka dan rasa kecewa yang mendalam. Diakhir kalimatnya terdengar begitu lirih dan Xander bisa merasakan kesedihan itu.
Xander menunduk dan menangis, seburuk itukah sifatnya dulu kepada Stella? Ia memang sangat bodoh dan tidak bisa membedakan mana cinta dan kepalsuan.
Happy Reading.
__ADS_1
Tbc.