Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
Malam Yang Indah.


__ADS_3

Peringatan!! Rate 21+


"Lalu kenapa kau harus takut? Bukannya kau sudah berubah?" kata Stella memandang tak mengerti.


Xander menekuk wajahnya, ia ikut memandang Stella yang bertanya dengan wajah polosnya. Ia kemudian tersenyum usil dan tiba-tiba saja ia menggulingkan tubuhnya hingga berada di dekat Stella.


"Xander!" pekik Stella kaget dengan moving tak terduga suaminya.


"Kau benar, aku sudah berubah, kenapa aku harus takut? Kita harus merayakan hari bahagia bukan?" ucap Xander mengedipkan sebelah matanya menggoda Stella.


"Ha? Maksudku bukan begitu ..." Stella kelimpungan sendiri rasanya melihat Xander sudah berada diatasnya.


"Apa?" ucap Xander mendekatkan wajahnya untuk terus menggoda Stella.


"Tidak begitu Xander, maksudku kau tidak perlu menghindari ku. Kita sekarang harus saling terbuka agar tidak terjadi kesalahpahaman," ucap Stella menjelaskan sangat cepat karena didera rasa gugup.


"Saling terbuka? Apa maksudmu kita harus membuka semua baju kita?" kata Xander memasang wajah pura-pura polos, padahal dalam hatinya ia tertawa geli melihat ekspresi Stella.


"Ha? Ya tidak begitu juga. Xander ... jangan menggodaku, aku tahu kau sudah tahu maksudku," kata Stella merengek dengan suaranya yang terdengar manja di telinga Xander.


"Tidak, aku tidak tahu maksudmu, kau tidak mengatakannya dengan jelas, bagaimana mungkin aku bisa tahu?" ucap Xander bukannya berhenti menggoda Stella, ia malah senang sekali melihat wajah panik istrinya.


"Maksudku itu kau tidak perlu takut lagi jika ingin melakukan itu. Kita sudah menikah, jadi sudah sewajarnya melakukan hal itu," kata Stella menjelaskan dengan cepat, ia membuang rasa malu yang luar biasa dalam dirinya.


Xander menahan bibirnya agar tidak tersenyum. Benar-benar gemas sekali dengan istri polosnya ini.


"Oh begitu, kenapa kau tidak bilang saja kalau kau menginginkannya?" Xander mendekatkan dirinya lalu berbisik lembut ditelinga Stella.


"Tidak, tidak Xander, aku tidak menginginkannya," ucap Stella panik, kepanikannya kini meningkat saat merasakan bibir basah Xander menyentuh lehernya.


"Benarkah?"


"Ya, aku ingin tidur, ini sudah malam," ucap Stella lagi.


"Bagaimana kalau aku yang meminta?" kata Xander rasanya belum ingin melepaskan Stella.

__ADS_1


"Kau memintanya? Sekarang?" ucap Stella sedikit terkejut.


"Ya, apakah boleh?" kata Xander menatap lekat wajah Stella dengan sorot mata mendamba.


Stella menelan ludahnya kasar, bodoh sekali memang dia. Tidak seharusnya ia membangunkan macam tidur seperti Xander. Sekarang ia pasti akan mendapatkan akibatnya.


"Aku, ehm ... kata Dokter boleh, tapi harus dilakukan pelan-pelan," ucap Stella menjawab dengan suara sangat pelan, ia bahkan tak berani menatap wajah Xander.


Xander tak bisa lagi menahan tawanya melihat wajah pasrah Stella. Ia tertawa terbahak-bahak karena Stella berpikir kalau dirinya memang sedang menginginkannya.


"Kenapa kau tertawa?" sungut Stella menatap Xander heran.


"Hahaha, kau itu sangat lucu. Kau pikir aku benar-benar akan meminta hal itu. Ya ampun, kau memang sangat polos," kata Xander masih dengan tawanya yang seperti ejekan bagi Stella.


"Apanya yang lucu? Aku serius! Kalau nggak mau ya udah!" tukas Stella mendorong tubuh Xander karena sangking kesalnya, ia lalu menggulingkan tubuhnya, membelakangi Xander untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah malu.


Xander menahan senyumnya, ia kembali merengkuh tubuh Stella dari belakang. "Siapa bilang aku nggak mau? Aku sangat mau, sangat, sangat mau ..." bisik Xander mengigit pelan telinga Stella.


Hal itu berhasil membuat Stella kaget bukan kepalang, ia belum sempat mengatakan apapun tapi Xander sudah membungkam mulutnya dengan ciuman panasnya.


"Xander!" Stella tak bisa lagi menahan suaranya begitu melihat apa yang dilakukan Xander di bawah sana.


"Xander! Jangan begini ..." ucap Stella di sela de sa hannya, ia menjambak rambut Xander untuk meminta pria itu menyudahi aktivitasnya. Ia bisa gila jika Xander terus seperti ini.


Xander tak menghiraukannya, ia malah sengaja mencium bagian diri Stella dengan penuh pemujaan. Ia ingin mengganti semua pengalaman buruk Stella dengan sentuhan yang indah.


"Xander ... please, stop it ..." ucap Stella mengigit bibirnya, ia menahan dirinya untuk tidak meledak agar tidak membasahi Xander.


"Jangan ditahan, lepaskan saja," ucap Xander kembali melakukan aktivitasnya dengan cepat hingga ia merasakan milik Stella berdenyut pertanda wanita itu sudah keluar.


Xander tersenyum, ia menyudahi aktivitasnya dengan mengecup milik Stella dengan keras, ia lalu berpindah mencium paha dalam Stella hingga meninggalkan bekas kemerahan, lalu naik ke perut bawahnya yang terlihat menonjol.


Pandangan Xander melembut. "Sehat-sehat diperut Mama," bisik Xander mencium perut Stella.


Stella yang sudah lemas karena pelepasannya hanya bisa menatap Xander dengan sayu. Ia merasakan pria itu mencium keningnya, lalu bibirnya seraya melakukan penyatuan dengan sangat pelan. Stella reflek mencengkeram lengan Xander saat pertama kali melakukannya kembali setelah sekian lama.

__ADS_1


"Apakah sakit?" tanya.Xander berhenti sejenak saat melihat wajah kesakitan Stella.


"Sedikit," cicit Stella masih malu jika harus bertatap muka dengan suaminya.


"Aku akan melakukannya pelan-pelan," ucap Xander mencium kembali bibir Stella.


Dan dialah Xander yang membuktikan perkataannya dengan bukti nyata, ia menyentuh Stella sangat pelan dan tak ingin menyakiti wanita itu. Ia benar-benar mengganti pengalaman buruk Stella dengan malam yang sangat indah.


"Terima kasih, aku mencintaimu Stella ..." bisik Xander mencium kening Stella dan memeluk wanita itu erat setelah mereka menyelesaikan semuanya.


Stella hanya mengangguk di dalam dekapan Xander. Entah ia mendengar atau tidak karena tubuhnya sudah terlalu lelah karena Xander baru saja menguras habis tenaganya. Meski Xander tidak kasar, tapi tetap saja sampai berulang kali melakukannya.


*****


Keesokan harinya Xander saat hari sudah sangat siang, ia terkejut saat tidak menemukan Stella berada disampingnya. Xander reflek langsung menendang selimutnya.


"Stella?" teriak Xander panik, ia sangat takut jika Stella tiba-tiba pergi.


Xander memakai celana nya dengan cepat, bayangan Stella pergi meninggalkannya begitu saja membuat Xander benar-benar takut jika hal itu terjadi lagi.


"Stella!" teriak Xander dengan suaranya yang keras hingga hampir ke seluruh rumah terdengar.


"Xander? Kenapa pagi-pagi teriak-teriak? Ada apa?" tanya Mama Rita heran melihat anaknya berteriak-teriak, apalagi melihat Xander yang hanya memakai celana tidur dan bertelanjang dada.


"Mama? Stella mana, Ma? Stella pergi lagi, Ma" ucap Xander tiba-tiba memeluk Mamanya dan menangis seperti anak kecil. Ia berpikir kalau Stella sudah pergi meninggalkannya lagi.


"Eh? Kamu kenapa nangis?" ucap Mama Rita terkejut melihat anaknya menangis. Namun ia juga ingin tertawa karena Xander yang berusia 26 tahun menangis karena takut kehilangan Stella.


"Stella pergi, Ma" ucap Xander masih menangis sesenggukan bak anak kecil.


"Siapa yang bilang Stella pergi? Ya ampun, kamu kayak anak kecil aja pakai nangis segala. Stella itu sedang masak di dapur," kata Mama Rita tertawa terbahak-bahak melihat tingkah putranya ini.


Happy Reading.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2