Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
(MM&GL) BAB 30. Bebas.


__ADS_3

Felix masuk ke dalam ruangan itu, dibelakangnya sudah ada pengacara yang sudah ia bawa untuk membebaskan Joana. Ia menatap Joana lekat-lekat.


Wajahnya masih diperban, tapi ia memaksa untuk datang saat mendengar kabar dari anak buahnya tentang penggrebekan Devan. Tapi yang menuntunnya untuk datang bukanlah hal itu, melainkan saat tahu jika Joana tertangkap karena Devan meninggalkannya disana.


Felix lalu mengalihkan pandangannya kearah Rendra.


"Lepaskan dia, pengacaraku sudah mengurus semuanya," ujar Felix dengan suara yang sangat tenang.


"Tidak bisa! Dia ada di lokasi itu bersama Devan dan kami sedang menyelidiki kasus ini. Dia saksi kunci, tidak bisa pergi sebelum dirinya terbukti tidak bersalah," kata Rendra dengan segala emosinya, mana mungkin ia semudah itu membebaskan Joana?


Felix tersenyum tipis, ia memasukkan kedua tangannya didalam saku celana. "Baiklah, aku tahu apa yang sedang kamu tunggu," ucap Felix dengan santainya duduk disamping Joana.


Rendra mengepalkan tangannya, ingin sekali marah tapi ia hanya diam dengan mata yang tak henti melirik kearah Joana.


"Bagaimana keadaanmu? Apakah kamu terluka?" tanya Felix, ia memegang lengan Joana dengan lembut.


Joana langsung menghindar, ia mengangguk pelan. "Aku tidak apa-apa," sahut Joana singkat saja.


Felix menarik tangannya kembali, ia mengulum bibirnya tanpa mengatakan apapun. Saat ini ia hanya tinggal menunggu laporan tentang sidik jari yang sedang ditelurusi oleh pihak polisi. Ia berharap kalau memang bukan Joana pelakunya.


Tak sampai 10 menit, ponsel Rendra kembali berdering, membuat ketegangan di ruangan itu meningkat. Felix sendiri langsung melirik pengacaranya dan pria itu mengangguk.


"Aku rasa jawabannya sudah ditemukan. Joana tidak bersalah, dia bisa bebas hari ini." Felix bangkit dari duduknya.


Joana membesarkan matanya, ia menatap Felix tidak percaya. Secepat itu Felix membebaskannya? Apa yang sudah pria itu lakukan?


"Ayo, tidak akan ada yang melarangmu pergi dari tempat ini. Kamu tidak bersalah," kata Felix mengulurkan tangannya pada Joana.


Joana kebingungan, ia melirik kakinya sendiri.


"Oh, sebentar." Felix mengangguk mengerti, ia segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Ya, bawa masuk saja. Nona Joana membutuhkannya," kata Felix saat ditelepon lalu mematikannya lagi.


Joana tidak ingin bertanya, tapi beberapa saat kemudian asisten Felix datang dengan membawa kruk untuk Joana.


"Pakai ini coba, aku rasa kamu sudah bisa melakukannya," kata Felix dengan senyumnya yang manis.


Joana sedikit tersenyum, ia mengangguk mengiyakan lalu mencoba untuk berdiri dengan dibantu Felix. Pria itu sangat dekat dengannya, sehingga Joana bisa melihat wajahnya sangat jelas. Tapi ia tidak merasakan apapun, malah merasa tidak nyaman saat Felix menyentuh pinggangnya.


"Tanganmu," kata Joana.


"Oh, maaf." Felix tersentak, ia segera menjauhkan tangannya dari tubuh Joana seraya mengulas senyum sungkan.


"Saya rasa permasalahan ini sudah selesai. Klien saya sudah terbukti tidak bersalah. Kami akan pergi sekarang," ujar pengacara Felix kepada kedua polisi yang terlihat marah tapi tidak berdaya itu.


Felix tersenyum tipis, ia segera mengajak Joana meninggalkan tempat itu. Ia menemani wanita melangkah perlahan-lahan karena Joana cukup kesusahan menggunakan kruk.


"Apa aku perlu menggendongmu?" goda Felix melihat wajah Joana yang mulai berkeringat.


"Tidak tidak, aku pasti bisa. Kalau aku tidak menahan rasa sakitnya, aku tidak akan sembuh," tolak Joana menggeleng cepat-cepat.

__ADS_1


"Itu semangat yang bagus, Joana. Aku yakin sebentar lagi kamu pasti bisa berjalan. Semangat," ucap Felix membuat gerakan mengepalkan tangannya keatas untuk memberikan semangat pada Joana.


Joana tersenyum tipis, Felix ini adalah orang yang memiliki aura positif. Pria itu bisa membuat orang tertular akan senyumannya serta keramahannya. Dia juga pandai bergaul dan sangat bisa memposisikan dirinya.


Mereka berdua lalu berjalan perlahan-lahan menuju pintu keluar kantor polisi. Felix senantiasa menjaga Joana dibelakangnya, takut wanita itu akan jatuh sewaktu-waktu.


Namun, sebelum sampai di pintu, Fajar yang melihat Joana keluar langsung terlihat marah, ia bergegas mendatangi Joana dan menghadang langkahnya.


"Hei! Siapa yang mengizinkanmu keluar?" bentak Fajar seraya menunjuk batang hidung Joana.


Felix ikut terkejut, tapi sesaat kemudian ia langsung bertindak menyingkirkan tangan Fajar yang menunjuk kearah Joana.


"Kenapa? Aku yang telah menjemputnya, dia tidak bersalah," kata Felix langsung saja pasang badan.


"Siapa kamu ini? Apa kamu tahu? Dia adalah orang yang sangat berbahaya, sebaiknya jangan ikut campur. Dan untuk kamu, sebaiknya ayo kembali," tukas Fajar ingin menyeret Joana tapi Felix dengan cepat menepis tangannya.


"Jangan coba-coba menyentuhnya jika kamu tidak ingin patah tulang. Sebelum melakukan sesuatu, pastikanlah apa yang kamu lakukan ini benar," sergah Felix dengan begitu geram.


"Hotman, jelaskan pada polisi ini tentang siapa Joana," titah Felix pada pengacaranya.


Tanpa banyak berkata, pengacara Devan langsung menunjukkan berkas salinan kebebasan Joana pada Fajar sehingga pria itu membacanya dengan jelas.


Fajar sangat syok saat membaca semua isi berkas itu, ia ingin mengatakan sesuatu tapi Felix sudah membawa Joana pergi.


"Oh shittttt, lelucon apa ini sebenarnya?" Fajar mengumpat frutasi.


Fajar lalu bergegas mendatangi Rendra yang masih berada di ruangan BAP. Ia harus menanyakan semua itu apakah Joana benar-benar bebas?


"Ren, drama apalagi ini? Bagaimana bisa kamu membebaskan dia?" tanya Fajar dengan sangat emosi.


"Apa? Jadi namannya benar-benar Joana? Lalu Mega?" Fajar sangat syok melihat data itu.


"Mega adalah tunangan Devan dulu, dan dia sudah meninggal," jelas Rendra.


"What the fucckkkkk? Tadi adalah Mega, kamu juga sudah melihat sendiri fotonya, bagaimana bisa dia meninggal? Data ini pasti sudah direkayasa oleh Devandra!" teriak Fajar.


"Itulah yang aku pikirkan. Tapi wanita itu memang bernama Joana, bukan Mega. Tunangan Devan sudah meninggal dua tahun yang lalu!" Rendra balas berteriak, ia bahkan sampai menendang kursi yang tadi didudukinya karena terpancing emosi.


Fajar mengertakkan giginya, benar-benar merasa dipermainkan oleh Devan. Satu orang yang sudah sangat jelas dalang dibalik semuanya tapi sangat susah untuk ditangkap.


"Lalu, bagaimana pistol itu?" tanya Fajar menatap Rendra dengan serius.


"Sidik jarinya tidak cocok." Jawaban dari Rendra langsung membuat Fajar lemas.


'Haruskah kali ini dia yang kembali kalah?'


_________


Felix membawa Joana ke rumahnya yang tak kalah megah dari rumah Devan. Ia mengajak wanita itu duduk diruang tengah dan meminta pelayan untuk memberikan kotak obat untuk mengobati lengan Joana yang terluka.


"Bagaimana kejadiannya? Kenapa kamu bisa sendirian disana? Apakah Devan?" tanya Felix.

__ADS_1


"Aku tidak tahu, disana sangat kacau sekali. Ini bukan salah Devan, tapi salahku sendiri. Dia menyuruhku untuk diam, tapi aku yang tidak mendengarkannya," jelas Joana seadanya saja.


"Kamu mengkhawatirkannya?"


Pertanyaan Felix itu langsung membuat Joana bungkam. Ia mengigit bibirnya, ingin mengatakan iya, tapi kenapa ia harus khawatir?


"Tidak perlu menjawabnya jika tidak nyaman," ujar Felix seolah tahu apa yang dipikirkan Joana. "Malam ini menginaplah disini dulu, besok aku akan mencarikan tempat tinggal untukmu," lanjutnya lagi.


"Tempat tinggal?" Joana memandang Felix terkejut.


"Ya, ini kesempatanmu pergi 'kan?" kata Felix.


Felix mengigit bibirnya, ia memandang Felix yang masih terlihat pucat dan wajahnya diperban itu.


"Lukamu?"


"Ini bukan masalah besar untukku. Devan tidak akan bertindak melewati batas jika denganku. Percayalah, aku pasti akan membantumu dan aku baik-baik saja," ujar Felix dengan wajah yang bersungguh-sungguh.


"Kenapa begitu yakin? Devan itu orang yang licik, Felix. Dia bahkan bisa tahu tentang ponsel itu," kata Joana menggeleng tidak setuju.


Bukan tidak ingin kabur, tapi ia tidak mau Felix akan terluka kembali gara-gara dirinya.


"Setiap rumah Devan ada CCTV-nya. Mungkin kamu lupa meletakan ponsel itu ditempat yang terjangkau CCTV," ucap Felix.


"Apakah termasuk di kamar?" Joana terkejut sendiri jika memang benar Devan memasang CCTV di dalam kamar. Bukankah itu sangat aneh?


"Banyak hal yang bisa Devan lakukan. Yang jelas, saat ini dia sedang tidak ingin kamu pergi dari sisinya," kata Felix. "Joana, mungkin kamu baru mengenalku, tapi aku tulis ingin membantumu. Aku bisa memberikan tempat yang aman agar Devan tidak bisa menemukanmu," lanjutnya seraya menggenggam tangan Joana.


Joana memandang genggaman tangan itu, sekarang ia malah merasa bingung. Devan mengatakan kalau Felix ini sahabatnya, tapi kenapa Felix seolah ingin mengkhianati Devan?


"Aku melakukannya karenamu," ucap Felix tiba-tiba.


"Ha?"


"Aku kasihan padamu, sudah cukup korban Devan selama ini. Aku tidak mau lagi membiarkannya terjerumus semakin dalam, apalagi melibatkan orang yang tidak bersalah seperti dirimu. Sudah cukup dulu Mega yang telah menderita sendirian," tutur Felix.


"Jika tidak ingin membiarkannya terjerumus semakin dalam. Kenapa tidak membantunya berhenti untuk melakukan perdagangan senjata dan narkoba?"


________


Devan baru selesai membersihkan dirinya, ia baru saja akan menggunakan kemejanya, tapi Ken terburu-buru masuk ke dalam ruangannya. Dari raut wajahnya tampak ada yang tidak beres.


"Ada apa?" tanya Devan tanpa menoleh.


"Nona Joana sudah bebas," sahut Ken.


"Siapa?" Devan langsung menegakkan tubuhnya mendengar kabar itu.


"Tuan Felix."


________

__ADS_1


Visual Felix nih_



__ADS_2