
Stella menyelesaikan semuanya dengan cepat, pertama kali yang ia urus adalah tentang sekolahnya. Ia memasrahkan semua tanggung jawab mengajar kepada asistennya yang bernama Nanda. Wanita itu merupakan asisten sekaligus teman dekat Stella, jadi ia sudah mengerti semua yang terjadi pada kehidupan Stella.
"Kak, apa kau benar-benar serius? Kau itu sedang hamil kak, apa tidak sebaiknya Kakak memberitahukan kehamilan Kakak pada Xander, siapa tahu dia akan berubah pikiran karena tahu kalau ada darah dagingnya yang mengalir pada diri Kakak," ucap Nanda rasanya tak tega jika membiarkan Stella hidup sendirian tanpa seorang suami. Apalagi sekarang Stella sedang hamil dan pastinya akan butuh sekali dukungan dari seorang suami.
"Untuk apa Nan? Asal kau tau, Xander pernah mengatakan kalau dia tidak ingin mempunyai keturunan dari wanita seperti diriku," ucap Stella masih teringat jelas bagaimana Xander yang mencekoki dirinya pil kontrasepsi agar ia tidak hamil. Pria itu juga dengan gamblang mengatakan kalau tidak sudi memiliki anak darinya.
"Baiklah kalau itu keputusan Kakak, semoga Kakak bisa kuat melewati ini semua, hiduplah dengan baik Kak," ucap Nanda menatap Stella dengan penuh perasaan haru, wanita di depannya ini sangatlah berjasa dan memiliki hati yang sangat baik.
Dulu ia tak punya apa-apa, hanya seorang anak perantauan yang bermodalkan beasiswa dan ingin meraih asa di kota Jakarta. Saat itu hanya Stella yang mau memberinya pekerjaan sebagai guru honorer di sekolah ini. Nanda akan sangat ingin kebaikan Stella sampai kapanpun.
Kadang Nanda heran, kenapa wanita sebaik Stella harus mendapatkan nasib yang begitu buruk.
"Terima kasih Nanda, kau juga harus hidup dengan baik. Aku pasti akan sangat merindukanmu nanti," kata Stella memeluk Nanda hangat, ia sudah menganggap wanita ini sebagai keluarganya sendiri.
"Aku juga pasti akan merindukanmu, Kak" kata Nanda tak bisa membendung air matanya.
Seindah apapun sebuah perpisahan, pasti akan menyisakan rasa sedih yang mendalam. Nanda tak ingin egois meminta Stella tetap tinggal, karena itu sama saja akan membuat Stella semakin menderita.
"Jangan nangis dong, aku juga ikut nangis nih," ucap Stella tertawa namun juga menangis.
"Tidak kak, ini hanya kemasukan debu," kata Nanda ikut tersenyum meski matanya terasa basah.
"Dasar! Ayo peluk aku sekali lagi, setelah ini aku akan pergi," kata Stella merentangkan kedua tangannya, ia tahu kalau kepergiannya ini tak akan bisa ditentukan sampai kapan, yang jelas ia ingin pergi sejauh mungkin dari Xander dan meninggalkan kota ini untuk selamanya.
*****
"Hati-hati dijalan ya Kak, jangan lupa kabari aku,"
Nanda mengantarkan Stella menuju taksi yang sudah dipesan, ia sebenarnya ingin mengantar wanita itu sampai ke Stasiun tapi Stella menolak.
"Pasti, jaga dirimu baik-baik," kata Stella melempar sedikit senyumnya sebelum ia masuk ke dalam taksi.
Nanda mengangguk singkat, ia melihat Stella yang bersiap masuk ke dalam taksi namun di urungkan karena tiba-tiba kepala Stella terasa sangat pusing, semuanya terasa gelap dan kepalanya terasa berat.
"Kak, Kak Stella kenapa?" tanya Nanda begitu panik.
"Pusing," lirih Stella mencengkram pintu taksi dengan keras, rasa sakit itu terasa menusuk-nusuk hingga ia tak tahan rasa sakitnya.
__ADS_1
"Akh!" pekik Stella tak bisa lagi menahan rasa sakit itu hingga ia pingsan saat itu juga.
"Astaga! Kak Stella!" Nanda menjerit histeris saat melihat tubuh Stella yang tiba-tiba ambruk.
Supir taksi yang akan membawa Stella pun terkejut dan turun dari mobilnya.
"Ada apa Nona?" tanya Supir taksi.
"Dia pingsan, tolong bantu saya mengangkatnya," ucap Nanda panik sekali.
"Stella!" sebuah suara bass terdengar dari arah belakang membuat Nanda dan Supir itu menoleh.
Daniel membesarkan matanya terkejut melihat Stella yang pingsan itu.
"Kenapa dengan Stella? Apa yang terjadi?" Daniel langsung sigap meraih tubuh Stella dari pangkuan Nanda, ia semakin terkejut melihat wajah Stella yang pucat dan sudut bibir Stella yang membiru, jelas sekali itu merupakan bekas luka.
"Dia tiba-tiba pingsan Tuan Daniel," ucap Nanda cepat.
"Bagaimana bisa? Aku akan membawanya ke rumah sakit," kata Daniel langsung sigap membopong tubuh mungil Stella.
Nanda segera mengikuti setelah sebelumnya ia membayar Supir taksi itu karena tak jadi dipakai jasanya.
Sesampainya disana pun Daniel tak membuang waktunya, ia menggendong kembali tubuh Stella dan membawa wanita itu masuk.
"Emergency sus! Emergency!" teriak Daniel membuat semua orang terkejut.
Para petugas medis pun langsung sigap menyiapkan brankar untuk pasien yang baru datang.
"Apa yang terjadi dengan pasien?" tanya salah satu perawat.
"Dia pingsan," sahut Daniel cepat, ia mengikuti brankar Stella di dorong sampai ke UGD.
"Baik, Tuan mohon tunggu di luar, kami akan segera melakukan tindakan," ucap perawat melarang Daniel untuk masuk ke dalam karena sudah menjadi prosedur rumah sakit.
Daniel menghela nafasnya, ia tak rela sebenarnya, tapi ia juga bisa melakukan apapun. Ia sangat khawatir dengan kondisi Stella yang tiba-tiba pingsan itu.
"Bagaimana Tuan?" tanya Nanda.
__ADS_1
"Belum tahu," sahut Daniel singkat, ia memilih mendudukkan dirinya untuk mengurangi rasa khawatirnya.
Nanda ikut mendudukkan dirinya, bersamaan dengan itu seorang Dokter yang akan menangani Stella lewat.
"Nanda? Kau disini?" ucap Dokter Mazaya sedikit kaget melihat Nanda ada disana, ia sudah mengenal wanita ini karena mereka bertiga memang cukup dekat.
"Iya Dokter, Kak Stella tiba-tiba pingsan," ucap Nanda menjelaskan.
"Stella? Jadi dia yang ada di dalam?" ucap Dokter Mazaya tak menyangka kalau Stella yang akan ditanganinya.
"Iya Dokter,"
"Baiklah, aku akan melihatnya dulu," kata Dokter Mazaya sempat melirik Daniel sekilas sebelum ia masuk ke dalam ruang IGD.
Sejauh ini Stella memang sering mengeluhkan rasa sakit, tapi ia jarang pingsan kalau tidak benar-benar sakit.
Saat Dokter Mazaya memeriksa Stella ternyata wanita itu terbangun. Padahal kondisi Stella masih cukup lemah.
"Dokter …" ucap Stella lirih.
"Stella? Apa yang terjadi padamu? Apa yang kau rasakan?" tanya Dokter Mazaya mengecek kondisi Stella dengan stetoskopnya.
"Pusing …" sahut Stella dengan mata terpejam.
"Apa kau tidak meminum obatmu?" tanya Dokter Mazaya lagi. "Sepertinya kau harus dicek darah," kata Dokter Mazaya merasa kondisi Stella cukup mengkhawatirkan.
Stella hanya mengangguk singkat, ia tak tahu kenapa kepalanya tiba-tiba sangat sakit sekali. Padahal seingatnya ia baik-baik saja tadi.
Dokter Mazaya memutuskan keluar untuk mendatangi Nanda, sepertinya wanita itu tahu sesuatu.
"Bagaimana Dokter?" tanya Daniel langsung bangkit saat melihat Dokter Mazaya keluar.
"Kondisinya cukup lemah, aku akan melakukan tes darah dulu kepada Stella, semoga dugaanku tidak benar," kata Dokter Mazaya dengan wajah cemasnya.
"Dugaan apa Dokter? Apa kondisi Stella parah?" tanya Daniel tak mengerti kenapa Stella harus cek darahnya, tapi melihat ekspresi dari Dokter Mazaya saja, Daniel tahu jika ada sesuatu yang besar.
Happy Reading.
__ADS_1
Tbc.