
"Ceraikan aku Xander, aku tidak mau.. Hmppppttttt.....
Ucapan Stella langsung terpotong begitu Xander mencium bibirnya dengan paksa. Pria itu memaksa bibir Stella untuk terbuka dan menerima ciumannya.
"Hmmpptt ..." Stella memukul-mukul punggung Xander agar melepaskan ciumannya, tapi Xander yang sudah dikuasai emosi dan rindu membuat ia tak bisa berpikir jernih.
Xander terus mencium bibir Stella dengan kasar, ia bahkan sudah mendorong wanita itu hingga rebah di sofa. Ia benci Stella meminta bercerai darinya, ia tidak salah apapun, kenapa Stella tidak mau percaya padanya.
"Xander stop!" teriak Stella saat Xander ingin membuka bajunya.
"Kenapa? Kau ingin meminta cerai? Jangan harap aku akan melakukannya!" bentak Xander dengan suara kerasnya.
"Kau tanya kenapa? Aku tidak bahagia menikah denganmu!" ucap Stella tak kalah kerasnya.
Xander menatap Stella tak percaya, apa ia tidak salah dengar. "Kenapa tidak bahagia? Kenapa kau bisa berubah secepat ini? Apa kau tega memisahkan anak kita denganku?" ucap Xander tak lagi kasar seperti sebelumnya, namun juga tidak bisa dikatakan lembut.
"Semua orang memang berhak berubah termasuk aku!" kata Stella kali menatap Xander dengan tatapan sulit di artikan.
Xander bahkan seolah tidak mengenali wanita yang kini sedang bersamanya. "Apa kau akan bahagia jika bercerai denganku?" tanya Xander lirih.
"Bahagia atau tidak itu adalah urusanku," ucap Stella membuang pandangannya kesamping.
"Jelas itu urusanku! Sekarang kau sedang hamil anakku Stella!" bentak Xander memukul sofa di samping kepala Stella dengan keras hingga wanita itu terkejut.
"Aku tidak akan melarang jika kau ingin bertemu dengannya, tapi tolong lepaskan aku kali ini saja," ucap Stella meski gemetar ketakutan, ia tetap mempertahankan sikapnya.
"Baik jika itu maumu, tapi aku tidak akan menceraikan mu. Kalau kau memang ingin lepas dariku, kau yang harus menggugat cerai diriku!" ucap Xander langsung bangkit dari atas tubuh Stella.
Stella mengigit bibirnya memandang Xander yang kini membelakanginya. "Baik, aku akan melakukan itu, tapi sebagai permintaan terakhir. Bolehkah aku minta satu hal padamu?" ucap Stella lirih.
Xander tak menjawab, namun Stella tahu jika pria itu pasti mendengar ucapannya. "Aku minta, setelah kita bercerai, kau harus menikahi Joana," kata Stella menahan hatinya yang tercabik.
Xander tersenyum setengah tertawa miris. "Apa sebenarnya yang ada di pikiranmu? Kau ingin aku menikahi wanita licik itu? Sampai matipun, aku tidak akan melakukannya," ucap Xander.
__ADS_1
"Tapi dia lebih membutuhkanmu Xander, sekarang dia lumpuh."
"Dia lumpuh karena perbuatannya sendiri, kenapa harus aku yang bertanggung jawab?" sentak Xander langsung menyela begitu saja.
"Terserah kau mau bilang apa, tapi aku yakin, kau sangat tahu maksudku," ucap Stella mengambil tasnya bersiap meninggalkan Xander, ia lelah jika harus berdebat dengan Xander nanti.
Stella langsung pergi meninggalkan mobil Xander, sebelum masuk mobilnya, ia melihat dua orang yang juga masuk ke dalam mobil. Stella hanya meliriknya, lalu masuk ke mobilnya sendiri.
Di ruangan, Xander masih diam saja, ia membiarkan Stella pergi tanpa mencegah sama sekali. Setelah itu ia membanting semua barang-barang yang ada di ruangannya.
"Ceraikan aku ..."
"Aku tidak bahagia menikah denganmu ..."
"Menikahlah dengan Joana ..."
"Kau pasti tahu maksudku ..."
"Argh!! Brengsek! Aku tidak akan mengampuni kalian semua!" teriak Xander kini membanting kursi hingga hancur berkeping-keping.
Xander lalu menjatuhkan dirinya di sofa seraya mengatur nafasnya. Keringatnya bercucuran dan penampilannya acak-acakan. Setelah nafasnya mulai teratur, Xander mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Halo Xander?" terdengar suara riang di seberang sana begitu panggilan tersambung.
"Temui aku di kafe StarLight sekarang!" ucap Xander langsung mematikan panggilan itu secara sepihak. Ia lalu mengambil jas miliknya dan meninggalkan kantor.
*****
Kediaman Medison.
Joana tampak bersorak riang begitu mendapatkan telepon dari Xander. Ia segera mengabari Bibinya tentang hal ini.
"Woho, benarkah? Apa yang dia katakan?" ujar Tania ikut antusias.
__ADS_1
"Dia ingin bertemu denganku Bi," ucap Joana menggebu-gebu.
"Bertemu? Apa mungkin ini ada hubungannya dengan kedatangan Stella tadi di kantor Xander?" ucap Tania menerka-nerka.
"Stella datang ke kantor? Untuk apa?" tanya Joana mengerutkan dahinya.
"Dia meminta Xander menceraikannya," ucap Tania membuat mata Joana membulat sempurna.
"Bibi serius?"
"Ya, kata mata-mata yang mengawasi Xander, Stella pulang dari kantor sambil menangis, ada salah satu OB yang mengatakan kalau mereka berdua baru saja bertengkar karena Stella meminta cerai," ucap Tania memang selama ini terus mengawasi gerak-gerik Xander.
"Itu kabar bagus Bibi, akhirnya Stella menyerah juga," ucap Joana tersenyum puas, sepertinya usahanya kemarin berhasil membuat Stella goyah.
"Ya, sekarang Xander memintamu bertemu, kau harus memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin," ucap Tania mengelus lembut lengan Joana.
"Pasti Bibi," sahut Joana mengangguk mantap, ia segera merias dirinya dengan secantik mungkin untuk menemui Xander.
Setelah dirasa sudah cantik, Joana segera turun dengan ditemani oleh Tania. Disaat bersamaan, ternyata Papa Medison juga baru pulang.
"Papa? Papa sudah pulang?" tanya Joana heran karena Papanya sudah pulang dari luar negeri, padahal baru 3 hari Papanya pergi.
Medison mengusap wajahnya kasar, tanpa mengatakan apapun, ia segera pergi dari sana dengan menyeret kopernya dengan langkah gontai.
"Papa kenapa ya Bi? Dia kayaknya berubah sekarang?" tanya Joana merasa Papanya kini menjauhinya, tidak seperti dulu.
"Nggak apa-apa, mungkin aja Papa kamu lagi capek, nggak usah sedih, kan mau ketemu Xander," bujuk Tania.
Joana mengangguk singkat, ia mengabaikan sikap Papanya yang belakangan ini cuek dan abai. Sekarang ia harus fokus dengan pertemuannya dengan Xander.
Happy Reading.
Tbc.
__ADS_1