Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
Xarena Shazia.


__ADS_3

Xander membantu Stella untuk duduk di kursi rodanya. Wanita itu masih sangat lemah tapi Stella memaksa ingin bertemu anak mereka. Xander sudah berusaha melarang, tapi siapa yang tega jika melihat wajah memohon istrinya.


"Gimana? Ada yang sakit nggak?" Xander bertanya cemas, tapi juga tak tega mematahkan semangat istrinya.


"Enggak, aku tadi sudah meminum obat nyeriku," sahut Stella tersenyum manis, meksi saat ini luka bekas operasinya sangat ketat jika digunakan untuk duduk, tapi Stella tak memperdulikannya, ia hanya ingin segera menemui anak mereka.


Xander mengangguk, ia lalu mendorong Stella menuju ruang NICU dimana anak mereka berada. Xander sendiri tidak tahu anaknya itu laki-laki atau perempuan, ia terlalu memikirkan Stella sampai lupa segalanya.


Stella tak bisa menyembunyikan raut wajah bahagianya, semakin mereka mendekat ke ruang NICU, semakin bersemangat pula Stella. Ia sungguh tak sabar ingin bertemu anaknya. Stella selalu berpikir anaknya itu pasti ketakutan sendirian di sana.


"Stella?" Mama Rita dan Kendrick terkejut melihat kedatangan Stella, mereka berdua juga sejak tadi melihat cucu mereka.


"Ya, Stella memaksa ingin kesini Ma. Padahal dia masih sakit," kata Xander mengadu, bukan tak sayang pada istrinya, tapi Xander benar-benar tak tega melihat Stella yang selalu memohon setiap saat.


"Putri kalian ada di sana," ucap Kendrick menunjuk bagian tengah ruangan.


"Putri? Xander, anak kita perempuan?" ucap Stella memandang Xander seraya mengulas senyum manisnya.


Xander mengangguk seraya ikut tersenyum, ia tak menyangka sudah dikaruniai putri kecil. Bayinya terlihat sangat kecil dibanding yang lain. Mata Xander sudah berkaca-kaca, jantungnya seolah berdetak begitu kencang saat pertama kali melihat putrinya.


Itu anaknya? Sekarang ia sudah resmi menjadi seorang Ayah?


Stella memegang kaca NICU yang terasa dingin, matanya juga sudah basah karena melihat sosok anaknya. Ia terus memperhatikan anaknya yang sama sekali tidak bergerak. Apakah anaknya baik-baik saja? Atau bagaimana?


"Selamat sore Tuan Xander, Nyonya Stella," seorang Dokter wanita terlihat datang menghampiri Xander dan juga Stella membuat mereka langsung menoleh.


"Nama saya Wenny, saya Dokter yang menangani putri Anda. Sampai saat ini keadaan putri Anda belum mengalami kemajuan, tapi alhamdulillah tidak mengalami kemunduran," ucap Dokter Wenny menjelaskan.


"Apakah Anda ingin melihatnya kesana?" ucap Dokter Wenny lagi.

__ADS_1


"Apakah bisa?" tanya Xander terkejut.


"Ya, saya izinkan. Mungkin putri Anda juga ingin bertemu orang tuanya, mari ..." ucap Dokter Wenny memimpin jalan terlebih dulu.


Xander dan Stella tak bisa menyembunyikan binar bahagianya. Mama Rita dan Kendrick juga ikut senang.


"Sampaikan salam Papa padanya, katakan Kakek dan Nenek menyayanginya," kata Kendrick menepuk pelan pundak Xander.


"Makasih Pa," sahut Xander tersenyum sedikit lalu mendorong kursi roda Stella masuk ke ruangan NICU.


Stella menjalin jari-jemarinya dengan gugup, perutnya seperti dihinggapi ribuan kupu-kupu yang membuat ia ingin terbang. Semakin ia dekat dengan anaknya, semakin gugup juga Stella.


Hingga perlahan kursi rodanya berhenti di samping seorang bayi perempuan yang sangat mungil. Bayi itu sangat kecil dan masih kemerahan, wajahnya sangat persis seperti Xander.


"Ini putriku?" tanya Stella dengan suara tercekat.


"Bolehkah?" tanya Stella ragu.


"Saya izinkan," kata Dokter Wenny tersenyum tipis.


Stella mengulurkan tangannya ke dalam inkubator putrinya. Bayi itu sama sekali tak bergerak, ia sedikit mendekatkan dirinya agar bisa melihat jelas wajah anaknya.


"Hai Sayang, ini Mama," ucap Stella dengan suara bergetar, ia mengelus tangan putrinya dengan sangat pelan. Ia ingin menciumnya, namun sayangnya tidak bisa.


Dokter Wenny memilih menjauh untuk memberi ruang kepada kedua orang tau baru itu.


"Xarena Shazia, Mama dan Papa memberi nama itu untukmu yang berarti anak perempuan yang tenang dan berkilauan seperti berlian. Xaren sangat hebat karena berani disini sendirian tanpa Mama dan Papa," ucap Stella mencoba agar tidak menangis. "Maafkan Mama sudah membuat Xaren lahir lebih cepat, tapi percayalah, Mama dan Papa sangat menyayangi Xaren sebelum Xaren ada. Xaren segalanya bagi kami sekarang," ucap Stella lagi.


Xander mencubit hidungnya agar tidak menangis mendengar kata-kata istrinya. Entahlah, dia akhir-akhir ini menjadi sangat cengeng sekali. Namun ia juga bangga karena kini ia sudah menjadi seorang Ayah dari putri yang sangat cantik.

__ADS_1


Xander bersumpah, apapun yang terjadi nanti, ia akan melindungi putrinya dan selalu menjaganya dengan segenap nyawa yang ia punya.


Hening tidak ada suara apapun lagi, Stella terus mengelus tangan putrinya. Stella yakin, jika sedetik saja ia meninggalkan ruangan ini, ia pasti akan sangat merindukan Xaren.


Tiba-tiba keheningan itu berubah tatkala Stella merasakan tangan putrinya bergerak. Ia langsung menatap Xander yang juga sangat syok melihat hal itu.


"By, dia bergerak," ucap Stella sedikit bingung, tapi sesaat kemudian ia kembali kaget saat Xaren tiba-tiba menangis dengan keras.


Stella menatap itu tak percaya, ia senang bisa mendengar suara anaknya untuk pertama kalinya. Tapi ia juga khawatir anaknya kesakitan atau bagaimana.


"Dokter, kenapa putriku menangis?" tanya Xander juga sangat kebingungan mendengar tangis putrinya yang sangat keras.


"Apakah genggaman tangannya sangat kuat?" tanya Dokter Wenny.


"Iya, sangat kuat Dokter," sahut Stella menangguk cepat-cepat.


"Ini pertanda bagus, sejak Xaren lahir, dia belum menangis sama sekali. Sepertinya Xaren memang menunggu orang tuanya datang untuk menjenguknya," ucap Dokter Wenny tersenyum.


Stella dan Xander begitu terkejut, namun mereka juga sangat senang. Akhirnya ada keajaiban dari Tuhan yang membuat mereka bisa berkumpul menjadi keluarga yang utuh.


Happy Reading.


Tbc.


Jangan lupa like dan komen ya kak ...


Author juga mau kasih rekomendasi novel bagus nih, mampir ya ke karya teman author ...


__ADS_1


__ADS_2