Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
(MM&GL) BAB 19. Bagaimana Jika Suatu Saat Aku Mengkhianatimu?


__ADS_3

Devan meminta dengan sangat, sungguh tidak bisa jika harus berpisah lagi dengan wanita yang sudah menjadi bagian dalam hidupnya. Ia sudah mencoba untuk menerima Joana, tapi ia tidak bisa membiarkannya pergi begitu saja.


Mendengar perkataan dari Devan, Joana hanya bisa tersenyum, nyaris tertawa malahan. Ia menarik tangannya dengan lembut.


"Maksudmu, aku harus belajar mencintaimu. Tapi setelah kamu benar-benar sudah melupakan dia, kamu baru bisa mencintaiku sebagai aku. Lalu, bagaimana jika kamu tidak bisa melupakan dia? Apa aku harus terus menemanimu sampai dia datang kembali?" kata Joana merasa ucapan Devan itu tidak masuk akal sama sekali.


"Dia sudah pergi," kata Devan, hembusan napasnya kian berat, teringat akan kecelakaan tragis yang dialami Mega dua tahun lalu. "Dia sudah pergi, dia berdarah, aku sudah mencoba memeluknya, tapi dia memilih untuk pergi. Aku ... Aku ...." Napas Devan kian sesak hingga ia tidak bisa melanjutkan ucapannya.


"Dev, apa kamu baik-baik saja?" Joana khawatir, ia menyentuh lengan pria itu.


"Ya, ya, aku tidak apa-apa." Devan mencoba tersenyum, ia tidak mau menunjukkan kelemahannya didepan Joana.


"Ini sudah malam, sebaiknya kamu tidur saja. Aku akan menemanimu," kata Devan mengulurkan tangannya, mengusap rambut Joana dengan lembut.


"Dev," panggil Joana.


"Jangan katakan apapun, aku harap setelah kamu besok bangun dipagi hari, keputusanmu sudah berubah. Aku akan menunggu," ucap Devan lagi.


Joana mengigit bibirnya, kenapa rasanya susah sekali untuk melepaskan dirinya dari Devan? Ia tidak ingin lagi percaya kepada Devan, tapi kenapa pria itu justru bersikap baik padanya?


'Tidak, dia tidak bersikap baik. Dia tetap saja memaksaku untuk terus tetap tinggal. Sekuat apapun dia mencoba mempengaruhiku, aku tidak akan percaya padanya. Aku harus ingat, kalau dia orang yang sama dengan orang yang telah membunuh ibuku dan menghancurkan seluruh mimpiku.'


Devan terus mengelus rambut Joana, ia juga memikirkan banyak sekali hal yang membuat kepalanya sangat pusing sekali. Devan tidak henti menatap wajah Joana, ia melihat tahi lalat kecil yang ada diatas bibir wanita itu, ia mengusapnya.


'Aku memang egois, memintamu untuk tetap tinggal bersamaku. Tolong pahamilah diriku, aku masih sangat membutuhkanmu. Berusahalah untuk mencintaiku, aku berjanji akan merubah diriku untukmu, Mega.'


Devan menghela napas panjang, mungkin karena terlalu banyak hal yang ia lalui hari ini, ia merasa sangat lelah. Ia menjatuhkan kepalanya disisi Joana dengan tangan yang terus menggenggam tangan Joana.


Joana diam, menatap Devan yang kini terlelap damai disampingnya.


'Dev, mungkin jika caramu tidak salah untuk memilikiku, aku bisa mempertimbangkan perasaanku. Tapi semua yang kamu lakukan tidak bisa aku maafkan dan lupakan begitu saja ....'


_________


Pagi itu matahari bersinar sangat cerah, sinarnya membias kamar yang ditempati Joana. Saat ia terbangun, ia hanya sendirian di kamar itu. Devan sudah tidak ada, membuat Joana sedikit kebingungan. Pasalnya setiap hari Devan tidak pernah absen untuk membangunkan dirinya.


'Kemana dia?'


Satu pertanyaan yang muncul dibenak Joana. Tanpa sadar dirinya sudah mulai terbiasa dengan kehadiran pria itu.


Joana lalu mencoba untuk turun, ia meraih kursi rodanya yang letaknya cukup jauh. Joana menghela napas panjang, ia harus memanggil bantuan kalau seperti ini.


'Tidak, tidak, aku harus belajar mandiri. Aku harus mencobanya.'


Joana menarik napas panjang, ia tidak mau terus berketergantungan dengan orang lain. Ia harus melatih dirinya sendiri untuk bisa berjalan, siapa tahu Tuhan masih berbaik hati padanya untuk memberinya kesembuhan.


Dengan perlahan Joana mencoba berdiri dengan berpegangan pada nakas yang ada disamping ranjang. Joana sangat kesusahan, beberapa kali kakinya gemetaran begitupun tubuhnya.

__ADS_1


Joana menarik napasnya sekali lagi, ia perlahan-lahan mencoba berdiri dengan kakinya sendiri. Ia menahan rasa sakit saat kakinya berusaha untuk menopang tubuhnya, ia menggenggam nakas itu dengan sangat kuat.


'Sedikit lagi, sedikit lagi.'


Entah benar-benar keajaiban atau memang kebetulan, Joana akhirnya bisa berdiri dengan kakinya sendiri meski masih gemetaran.


"Aku bisa," ucap Joana menutup mulutnya tidak percaya. Rasanya ingin tersenyum tapi matanya sudah basah terlebih dulu.


Sedikit harapan akhirnya hadir dalam kekelaman hidup Joana. Ia kemudian mencoba melangkah dengan menyeret kakinya, tapi sangat susah sekali. Kakinya seperti kesemutan tapi sangat sakit, ia terus berusaha.


Namun, semuanya memang tidak bisa instan. Baru dua langkah Joana berjalan dengan kaki terseret, ia sudah tidak sanggup hingga ia terjatuh.


Joana kembali menangis, tapi ia segera menepis air mata itu. "Aku tidak boleh menyerah, jika Devan tidak akan membiarkanmu mati, aku berusaha untuk pergi darinya. Ya, aku harus pergi sejauh mungkin dari pria itu," ucap Joana membulatkan tekadnya untuk sembuh.


Namun, Joana tiba-tiba berpikir, ia tidak akan bisa sembuh kalau hanya berlatih sendiri. Hanya satu orang yang bisa membantunya saat ini.


"Felix! Ya, aku harus meminta bantuan padanya," kata Joana semakin bersemangat.


Joana harus bersemangat agar bisa melepaskan diri dari Devan dan pergi sejauh mungkin dari pria itu. Bahkan jika bisa, Joana harus membalaskan dendam ibunya yang telah dibunuh oleh Devan.


"Mega."


Joana tersentak saat mendengar suara Devan, wajahnya yang semula penuh emosi berubah terkejut. Ia menoleh, melihat Devan yang baru saja keluar kamar mandi.


"Dev, aku pikir kamu sudah pergi," kata Joana terbata-bata, ia melihat sekelilingnya takut sendiri jika Devan tadi sempat melihatnya belajar berjalan.


"Aku tadi-"


"Mana yang sakit? Kenapa tidak memanggilku saja?" tukas Devan terlihat sangat khawatir sekali, ia melihat kaki Joana untuk mengecek keadaan wanita itu.


"Aku tidak apa-apa, aku hanya ingin ke kamar mandi," kata Joana, mencari-cari alasan. Entah kenapa ia gugup sendiri, apa karena ia sedang menyembunyikan sesuatu?


"Aku akan mengantarmu," ujar Devan, langsung sigap meraih tubuh Joana lalu menggendongnya.


"Tidak perlu, tidak perlu, aku bisa sendiri," tolak Joana berusaha berontak.


"Bisa sendiri bagaimana? Kakimu belum sembuh, untuk sekarang ini aku yang harus melayanimu," kata Devan mengulas senyum tipisnya yang memikat.


Joana sampai membesarkan matanya, apakah ia tidak salah lihat? Devan tersenyum sangat tulus padanya.


"Daripada sibuk melayaniku, kenapa kamu tidak membantuku untuk bisa berjalan sendiri?" tanya Joana, tiba-tiba punya ide cemerlang.


"Apa itu yang kamu inginkan?" Devan justru balik bertanya, ia memandang Joana serius.


Joana mengigit bibirnya sebelum mengangguk lemah. "Aku sangat ingin, sangat ingin bisa berjalan seperti dulu lagi. Tapi kamu tidak akan sebaik itu mengabulkannya bukan? Jadi, aku akan mengubur-"


"Jika memang itu yang kamu inginkan, aku akan melakukannya," ucap Devan langsung menyela sebelum Joana menyelesaikan ucapannya.

__ADS_1


"Apa?" Joana sangat kaget mendengarnya, kenapa jadi semudah ini?


"Kamu serius, Dev? Kamu akan membantuku untuk bisa berjalan?" tanya Joana memperjelas, ia lupa jika saat ini masih berada didalam gendongan Devan.


Devan tersenyum, ia mengusap pipi Joana, membuat wanita itu sedikit terkejut.


"Semua hal yang bisa membuatmu bahagia pasti akan aku lakukan. Aku hanya meminta, tetaplah bersamaku, Mega," kata Devan mencium kening Joana dengan lembut.


Joana awalnya terlena, tapi saat mendengar nama Mega, ia langsung tersadar dan reflek mendorong bahu Devan.


"Aku bukan Mega!" seru Joana dengan suara tegas.


"Aku lupa, aku tidak akan-"


"Tidak akan apa? Mengulanginya lagi? Mustahil! Karena aku ada disini gara-gara dia. Hanya karena dia kamu menghancurkan hidupku, gara-gara dia-"


"Ssstttttt!" Devan meletakkan telunjuknya tepat dibibir Joana, membuat wanita itu langsung bungkam.


Joana membuka mulutnya, ia merasakan tubuhnya seperti bereaksi karena sentuhan itu.


"Aku minta maaf," ucap Devan, lagi-lagi membuat Joana terkejut.


"Aku minta maaf jika caraku salah, tapi aku tidak pernah menyesal telah memilihmu sebagai penggantinya. Aku yakin, aku bisa melupakan dia, beri aku waktu, aku hanya belum terbiasa," lanjut Devan memandang Joana sangat dalam sekali.


"Apa kamu yakin bisa melupakan dia?" tanya Joana, ia juga memberanikan diri untuk menatap hazel milik Devan yang begitu memikat.


"Tidak ada alasan yang membuatku ragu, aku percaya kamu pasti bisa memberikan aku harapan itu," balas Devan.


"Kamu begitu percaya padaku, bagaimana jika suatu saat nanti aku akan mengkhianatimu?" Entah kenapa pertanyaan itu langsung meluncur begitu saja dari bibir Joana.


Devan lagi-lagi tersenyum. "Percaya padamu adalah pilihanku, dan menentukan pilihanku tidak salah itu adalah keputusanmu."


Jawaban yang keluar dari bibir Devan itu benar-benar diluar dugaan Joana. Ia melihat Devan yang bisa berubah menjadi orang lain dalam sekejap saja. Mendapatkan kepercayaan sebesar itu, membuat detak jantung Joana tiba-tiba berpacu lebih cepat.


Bola mata Joana hanya bisa bergerak-gerak menatap Devan tanpa ada niat untuk mengucapkan sepatah katapun.


Devan sendiri masih tersenyum pada Joana, ia memegang pipi wanita itu lalu perlahan mendekatkan dirinya dan mencium bibir Joana dengan sangat lembut.


Joana membesarkan matanya, ia memilih memejamkan matanya seraya mencengkram bahu tegap Devan.


'Ini salah! Ini semua salah! Aku tidak boleh kalah sebelum berperang!'


_________


Bonus visual Joana sama Devan nih!!!


__ADS_1



__ADS_2