Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
(MM&GL) BAB 53. Sepucuk Surat.


__ADS_3

Joana merasa seperti sedang bermimpi, ia berjalan ditengah karpet merah yang dikelilingi bunga mawar putih. Joana kebingungan, ia lalu menatap dirinya sendiri yang ternyata sedang menggunakan gaun pengantin putih yang sangat indah.


Taburan bunga tak henti dilemparkan kearahnya. Kalau tidak salah lihat, kini ia sedang berjalan kearah seorang pria gagah yang menunggunya didepan altar pernikahan dengan setelan jas yang senada dengan dirinya.


Joana tersenyum saat melihat sosok Devan yang tengah menunggunya itu. Ia segera mempercepat langkahnya agar segera sampai dengan Devan. Senyumnya kian merekah tatkala Devan membalas ciumannya.


"Dev," panggilnya dengan suara tertahan.


Entahlah, Joana jelas bukan orang yang cengeng, tapi mendadak ia ingin menangis hanya karena melihat Devan berdiri menunggunya di altar pernikahan. Tadinya ia sudah sangat takut jika Devan tidak menepati janjinya. Tapi ternyata Devan benar-benar kembali padanya.


Devan tersenyum, ia membuka kedua tangannya meminta Joana untuk mendekat membuat wanita itu kian tidak sabar.


Langkah kaki Joana goyah, ia berusaha untuk segera sampai, tapi anehnya saat ia berjalan mendekat, Devan justru terasa sangat jauh. Joana kebingungan, napasnya mulai terengah-engah karena berjalan dengan cepat. Akan tetapi, kenapa Devan justru tidak bisa ia gapai?


"Joana, kemarilah," panggil Devan masih mengulurkan tangannya.


"Devan!" Joana berteriak terkejut melihat Devan semakin jauh. Ia segera berlari mengejarnya.


Namun, Devan semakin lama justru terus menjauh dan perlahan-lahan lenyap begitu saja. Joana menatap sekelilingnya dengan wajah bingung. Taman indah yang penuh dengan bunga tadi dalam sekejap berubah menjadi tempat yang sangat gelap.


"Devan!" Joana berteriak memanggil-manggil Devan, berharap pria itu akan datang.


Joana berjalan kesana-kemari, mencari jalan untuk keluar dari tempat itu. Tapi sebelum ia pergi, tiba-tiba saja terdengar suara ledakan yang sangat keras disusul percikan api yang berkobar sangat besar.


Joana sangat terkejut sekali, ia mundur ke belakang dengan wajah yang sangat takut. Ia berusaha meninggalkan tempat itu, tapi ia justru kembali dikejutkan dengan sosok Devan yang tiba-tiba saja datang tapi bukan kearah dirinya, melainkan ke arah api itu.


"Devan! Berhenti, Dev! Itu api!" teriak Joana dengan mata melotot, tidak menyangka dengan apa yang akan Devan lakukan.


Devan tersenyum, ia menatap Joana sangat dalam sebelum menjatuhkan dirinya ke kobaran api itu.


___________


"DEVAN!"


Joana terbangun dengan suara teriakan yang sangat keras. Wajahnya sangat pucat dan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Suruh tubuhnya bergetar hebat mengingat mimpinya yang sangat buruk sekali. Ia menggelengkan kepalanya, mencoba untuk tidak percaya dengan mimpi barusan.


"Tidak mungkin, itu hanya mimpi. Ya semua ini hanya mimpi. Devan pasti sudah pulang, aku akan melihatnya," ucap Joana bergegas turun dari tempat tidurnya.


Joana segera berlari keluar kamar tanpa menggunakan apapun. Ia ingin melihat ke bawah karena berpikir mungkin Devan sudah pulang, hanya saja belum menemuinya. Itulah yang Joana pikirkan.


Namun, gayung Joana tak bersambut. Apa yang ia harapkan dalam sekejap hancur berkeping-keping saat melihat para pelayan sedang membersihkan rumah dan memajang foto Devan dengan karangan bunga.

__ADS_1


Para pelayan itu terlihat sangat sedih sekali, mereka menggunakan pakaian hitam sebagai tanda bela sungkawa atas kepergian atasan mereka. Sementara itu disisi lain ada Felix yang sedang berbicara dengan Ken yang masih sangat syok. Bahkan bajunya masih penuh darah dan penampilan pria itu sangat acak-acakan.


"Ken!" Joana bergegas mendatangi pria itu, ia harus menanyakan keberadaan Devan kepada Ken, karena tadi Ken yang pergi bersama Devan.


"Ken," panggil Joana.


Felix dan Ken langsung menoleh mendengar suara Joana. Wajah mereka terlihat terkejut dan saling pandang.


"Mana Devan? Kalian baik-baik saja 'kan? Kenapa semua orang melakukan ini? Apa kalian sedang mengerjaiku? Kalian ingin membuat kejutan untuk pernikahanku besok?" cerca Joana.


Ken mengulum bibirnya, ia tidak berani menatap wajah Joana atau sekedar mengatakan apapun, ia tidak tega jika harga mengatakan fakta yang nantinya akan membuat Joana terguncang.


"Joana, kembalilah ke kamar, ini sudah malam," ujar Felix.


"Diam! Aku tidak berbicara padamu!" bentak Joana menatap Felix penuh amarah.


Felix tidak bisa berbuat apapun, ia hanya bisa memandang Joana dengan penuh rasa iba. Joana pasti akan sangat terpukul nanti jika tahu Devan benar-benar sudah pergi.


"Ken, kenapa kamu tidak menjawab? Mana Devan?" Joana kembali bertanya, intonasi bicaranya mendadak keras karena Ken hanya bungkam.


"Oh, apakah mungkin dia masih dibelakang? Benarkah? Aku akan melihatnya kalau begitu," kata Joana mencoba mencari kekuatan untuk dirinya sendiri disaat perasannya mengatakan jika ada yang tidak beres.


Joana bergegas pergi keluar, ia ingin segera mencari Devan. Namun, ucapan Ken selanjutnya membuat langkah kakinya sontak berhenti begitu saja.


Air mata Joana meleleh tanpa bisa dicegah, lututnya mendadak lemas dan tidak bisa digerakkan. Perlahan ia menunduk untuk melihat benda yang diberikan oleh Ken padanya. Dengan tangan yang bergetar Joana mengambil benda itu. Sebuah amplop yang terlihat penuh dengan bercak darah dan kotak kecil bludru berwana biru.


Belum membukanya saja tangisan Joana semakin menderas. Ia tidak sanggup untuk membukanya, tapi ada dorongan kuat dalam dirinya untuk membuka kotak itu.


Dengan menahan segala perih yang begitu menyakitkan dalam hatinya, Joana membuka kotak kecil itu dan tangsinya pecah begitu saja saat melihat sebuah cincin berlian yang sangat cantik ada disana. Disampingnya ada cincin dengan motif simple, dan didalamnya ada tulisan nama mereka berdua, Devandra & Joana.


"Dev ...," lirih Joana menangis sesenggukan.


Joana lalu membuka amplop yang ada bercak darah itu. Sudah bisa dipastikan jika amplop itu berisi surat yang Devan tulis sendiri sebelum pria itu berangkat melakukan misinya. Seolah Devan sudah tahu jika kemungkinan terburuk akan ia alami.


Joana membaca satu bait pertama yang membuat hatinya tertusuk-tusuk belati tajam.


Hai ....


Aku sudah lama tidak menulis, pasti tulisanku sangat jelek. Baiklah, puaskan dirimu mengejeknya karena nanti aku pasti akan membalasmu.


Sebenarnya aku bingung harus menulis apa, tapi aku benar-benar ingin menulis.

__ADS_1


Katanya ... Dibalik seorang pria yang sukses pasti ada wanita hebat yang berdiri dibelakangnya.


Aku dulu merasa kata-kata ini aneh, aku bisa sukses meskipun tanpa wanita.


Namun, sekarang justru aku baru menyadarinya, wanita hebat yang dikirimkan oleh Tuhan untuk menemaniku disaat aku sukses dan dalam kondisi terburuk sekalipun.


Ya, kamu pasti tahu orangnya.


Terkadang dia itu sangat keras kepala seperti aku. Namun anehnya tingkahnya terkadang sangat manja dan aku sangat menyukainya.


Aku selalu suka dengan senyumannya yang tulus dan sorot matanya yang sangat kagum padaku. Seolah dia ingin mengatakan pada seluruh dunia kalau aku adalah seseorang yang dicintainya.


Benar, dia memang wanita yang istimewa dan aku ingin segera memiliknya seutuhnya. Tapi terkadang takdir itu sangat jahat, entahlah, jika memang waktunya aku pergi, kamu hanya perlu tahu ... Aku sangat mencintaimu, Joana.


Jika kamu membaca surat ini, artinya sesuatu sedang terjadi padaku. Jangan bersedih atau menangis, aku tidak menyukainya dan aku tidak mau menjadi alasan tangisanmu adalah aku. Cukup lanjutkan saja perjuanganku dan berhati-hatilah, banyak musuh yang berada didekatmu. Aku yakin kamu wanita yang hebat.


D4487JRX.


"Devan!" Joana berteriak keras setelah surat itu selesai ia baca. Tubuhnya langsung merosot jatuh ke lantai dan menangis sejadi-jadinya seraya memeluk surat itu dengan sangat erat, memeluknya sangat erat seolah itu adalah Devan.


"Kamu pembohong! Aku membencimu, Dev! Kamu pembohong! Kamu berjanji akan kembali padaku!" teriak Joana begitu histeris.


Bodoh! Seharusnya aku melarang Devan pergi tadi. Seharusnya ia mengunci pria itu di kamar dan mengajaknya untuk mengobrol dan menikmati malam. Seharusnya ia bisa menahannya agar tidak pergi. Pelukan itu ....


"Devan!" Joana menangis sejadi-jadinya, menutup wajahnya dengan kedua tangan dan tubuhnya terguncang hebat.


Felix yang melihat Joana seperti itu seolah ikut merasakan sakitnya, ia ikut berjongkok dan mengelus lembut lengan Joana.


"Tegakkan kepalamu, ikhlaskan dia. Biarkan dia beristirahat dengan tenang," ucap Felix dengan suara yang sangat lembut.


Joana meliriknya dengan tajam, ia menatap Felix dengan pandangan yang sangat menusuk. Ia kemudian tersenyum tanpa terlalu terlihat dan sesaat kemudian ia menepis tangan Felix dengan kasar.


"Jika ingin melihat sahabatmu beristirahat dengan tenang. Carikan aku siapa pengkhianat itu dan bawa dia ke depanku. Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri," kata Joana dengan sorot mata berkobar penuh amarah.


"Joana, apa yang kamu bicarakan? Kamu pikir Devan akan menyukainya?" Felix menggeleng tidak setuju, ia tidak akan Joana bertindak senekat itu.


"Aku adalah wanitanya Devandra, aku harus kuat seperti priaku. Apa sekarang kamu takut, Felix?" ucap Joana semakin menatap Felix dengan tajam, seolah dari tatapan matanya bisa membunuh pria itu.


"Aku tidak mengerti maksud kamu, yang jelas aku yakin bukan ini yang diinginkan oleh Devan. Dia pasti akan lebih kecewa melihatmu seperti ini, Joana," ujar Felix.


"Jangan menceramahiku, Felix! Tunjukkan saja padaku, apakah benar kamu berada di pihak Devan atau justru sebaliknya? Bawa pengkhianat itu ke hadapanku, jika kamu tidak bisa melakukannya, artinya dugaanku benar. Kamulah pengkhianat itu!"

__ADS_1


___________


__ADS_2