Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
Buku Diary.


__ADS_3

"Jangan menghalangiku! Aku harus membunuh pengkhianat ini!" teriak Xander menepis tangan Luke yang mencoba melepaskan cekikannya dileher Joana.


"Jangan Tuan, percayalah ini tidak akan bagus untuk Anda. Nona Stella pasti tidak akan senang jika Anda seperti ini," ucap Luke mencoba sekali lagi menyadarkan Xander menggunakan kata "Stella" untuk membujuknya.


Ternyata hal itu terbukti ampuh, perlahan Xander mengendurkan cekikannya. Wajah Joana sudah pucat pasi seperti mayat hidup, tapi Luke bernafas lega karena melihat Joana masih bernafas meski tersengal.


"Stella …" Xander seperti orang linglung, ia langsung teringat akan wanita yang selama ini sudah di siksanya dengan alasan yang sama sekali tidak diperbuatnya.


"Argh!" Xander berteriak seperti orang gila saat menyadari bagaimana sikapnya yang sangat buruk kepada Stella. Wanita itu tidak salah apapun, tapi harus mendapatkan luapan amarah darinya.


Xander buru-buru pergi tanpa memikirkan apapun lagi. Saat ini tujuannya hanya satu, ia ingin secepatnya pulang ke Apartemen dan menemui Stella. Ia tak henti mengutuk kebodohannya yang dengan mudah percaya saja kepada Joana tanpa mau mendengarkan penjelasan Stella.


Padahal wanita itu sudah mengatakan yang sebenarnya dan memberinya cinta yang sangat tulus. Tapi apa yang dilakukannya? Dia malah menyiksa batin dan fisik Stella terus menerus.


"Maafkan aku Stella, ampuni aku …" batin Xander hanya bisa berharap kalau ia tak terlambat untuk meminta maaf pada Stella.


Ia ingin memeluk wanita penuh luka itu dan mengganti seluruh luka yang pernah dia berikan.


"Maafkan aku Stella …" Xander tak henti mengucapkan kata-kata itu terus menerus sampai ia tiba di Apartemen.


Xander memarkir mobilnya asal dan setengah berlari agar segera sampai di Apartemennya. Wajahnya menggambarkan kesedihan dan juga penyesalan yang nyata. Apalagi semua perlakuan kasarnya selama ini terus berputar di kepalanya membuat rasa penyesalan itu kian mendalam.


"Stella …" panggilnya dengan suara yang keras.


Tujuan utamanya langsung ke kamar, wanita itu pasti sedang berada disana saat ini. Namun Xander tidak menemukan siapapun ada disana. Xander lalu ke kamar mandi, berpikir kalau Stella berada disana, tapi ternyata juga tidak ada.


"Kemana Stella?" batin Xander berjalan keluar kamar. Ia mencari di setiap sudut rumah, tapi hasilnya nihil.

__ADS_1


"Stella …" Xander merasa sangat frustasi karena tidak bisa menemukan Stella.


"Ming!" teriak Xander memanggil pembantunya. Ia ingin tahu kenapa Stella bisa tidak ada di rumah. Kemana wanita itu pergi.


Tak ada sahutan membuat Xander merasa ada yang tidak beres. Mendadak firasat buruk menggelayutinya. Ia bergegas ke ruang belakang untuk melihat apakah Ming ada di kamarnya atau tidak. Tapi ternyata wanita itu tak ada.


"Tidak mungkin, Stella tidak mungkin pergi," gumam Xander kembali keluar untuk menemui kedua Penjaga yang biasa bertugas di depan.


"Ada apa Tuan?" tanya Penjaga.


"Dimana Stella?" tanya Xander tanpa basa-basi.


"Nona Stella ada didalam, Tuan" sahut Penjaga dengan sangat yakinnya.


"Ada didalam? Bodoh! Stella tidak ada disini!" teriak Xander sudah begitu murka langsung menghantam Penjaga itu hingga tersungkur di lantai.


Teman Penjaga itu seketika ketakutan menatap Xander. "Nona Stella benar-benar tidak keluar dari rumah, Tuan" ucapnya merasa tak pernah melihat Stella keluar dari sana.


"Dengarkan aku baik-baik, cepat cari Stella sampai dapat kalau kalian masih ingin hidup!" ucap Xander tak peduli kedua Penjaga itu sudah babak belur tak karuan.


Rasanya hari ini benar-benar sangat sial baginya. Ia mendapatkan kenyataan yang luar biasa menyakitkan. Selain itu, kenapa Stella bisa pergi? Sial! Dia kembali kecolongan. Wanita itu pasti sudah bersekongkol dengan Ming.


"Luke! Kerahkan seluruh anak buah kita untuk mencari Stella, kepung semua Bandara atau Stasiun yang ada di kota ini. Aku ingin kalian mendapatkan Stella secepatnya!" perintah Xander segera bergerak cepat. Ia tak akan membiarkan Stella pergi, ia harus menemui Stella dan membicarakan semua masalah ini segera.


Xander tak tinggal diam, ia masuk kedalam kamar Stella untuk mencari petunjuk sekecil apapun yang mungkin saja Stella tinggalkan. Ia membongkar semua lemari untuk mencari petunjuk itu. Tapi sialnya tidak ada apapun disana, ia justru dikejutkan dengan banyaknya pil kontrasepsi yang disimpan oleh Stella di dalam laci meja rias.


"Pil ini masih banyak, apa mungkin Stella tidak pernah meminumnya," gumam Xander segera mencari barang lainnya.

__ADS_1


Saat itu pandangannya tertumbuk pada sebuah buku diary kecil yang tersimpan di dalam laci kedua. Tertulis nama Stella disana membuat Xander segera membukanya. Sebuah diary yang memiliki halaman yang cukup tebal. Begitu banyak goresan tinta yang memenuhi buku itu.


Dear Xander


Hari ini adalah hari pertamaku bertemu denganmu setelah sekian lama. Saat itu kau berdiri gagah dengan memakai setelan jas hitam yang sangat cocok sekali denganmu. Kau mungkin tidak mengenalku, tapi aku sangat mengenalmu. Senyummu tidak pernah berubah meski sudah puluhan tahun berlalu.


Stella With Love ❤️


Xander mengerutkan dahinya, ia terkejut membaca tulisan itu. Xander menjadi menerka-nerka, sejak kapan Stella mulai mencintainya?


Xander segera membuka halaman-halaman lainnya yang berisi kalimat yang hampir sama seperti sebelum-sebelumnya. Hingga Xander mendapatkan sesuatu yang menarik perhatiannya.


Dear Xander


Kau tahu, hari ini aku sangat bahagia, namun aku juga sangat sedih secara bersamaan. Hari ini kita kembali bertemu, tapi lagi-lagi kau tidak mengenalku. Aku berpikir, aku masih bisa tersenyum dan mengatakan kalau aku baik-baik saja, tapi sayangnya saat itu kau sudah menjadi kekasih Kakakku. Aku ingin marah, kenapa kau tidak bisa mengenalku, aku sangat merindukanmu Xander.


Stella With Love. ❤️


Lagi-lagi Xander terkejut membaca tulisan Stella. Itu artinya Stella sudah mencintainya jauh sebelum ia bertemu dengan Joana. Tapi kenapa Stella selalu mengatakan kalau ia tidak mengenalnya? Siapa sebenarnya Stella?


Xander membaca kembali buku diary itu, semua isi hati Stella yang selama ini tidak diketahui akhirnya terungkap sudah. Xander benar-benar tak menyangka kalau Stella bisa mencintainya hingga sedalam ini. Stella bahkan mencatat semua hal yang ia suka dan tidak suka.


Hingga Xander berhenti membaca ketika sampai di halaman tengah. Disana terdapat sebuah foto polaroid kecil, Xander tak bisa menutupi rasa terkejutnya saat melihat foto itu.


"Lala …" gumam Xander menatap lekat foto itu.


Di foto itu ada dua anak kecil laki-laki dan perempuan yang sangat Xander kenal dengan jelas. Anak itu merupakan dia dan teman masa kecilnya dulu. Lala, nama panggilan Stella saat kecil dan merupakan wanita yang menjadi cinta pertamanya.

__ADS_1


Happy Reading.


Tbc.


__ADS_2