Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
Penyesalan Yang Tidak Berguna.


__ADS_3

Bandara Soekarno-Hatta Jakarta.


Stella duduk memegang kartu boarding pass di tangannya dengan perasaan yang tak menentu. Ada banyak sekali perasaan yang mengganggu dan seolah ingin sekali membuat kebimbangan di hati Stella. Namun Stella menekannya kuat-kuat dan mencoba sebisa mungkin melupakan semuanya.


"Sebentar lagi pesawatnya take off, kamu butuh apapun lagi nggak, sebelum kita ke area boarding?" ucap Daniel.


"Aku mau ke toilet sebentar, Kak" kata Stella.


"Aku akan mengantarmu," ucap Daniel ikut bangkit untuk mengantar Stella.


"Tidak perlu kak, aku hanya sebentar. Kakak tunggu saja disini," kata Stella mencegah.


"Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama dua kali. Kamu belum aman disini," ucap Daniel masih trauma mengingat saat Xander yang tiba-tiba datang sebelum mereka pergi beberapa saat lalu.


Stella mengangguk pasrah, ia meski berpikir Xander tak akan menemukannya disini, tetap saja mereka harus berjaga-jaga.


"Masuklah, aku akan menunggu disini," kata Daniel berjaga tak jauh dari toilet.


"Ya,"


Stella segera masuk ke dalam toilet untuk menyelesaikan urusannya. Ia tak ingin berlama-lama disana karena pesawat mereka sebentar lagi akan take off.


"Sudah?" tanya Daniel saat melihat Stella kembali.


"Ya sudah," sahut Stella diiringi anggukan kepalanya.


Mereka segera berjalan kembali ke area boarding, suara pengumuman yang menggema di Bandara mengabarkan kalau nomor pesawat penerbangannya akan segera berangkat. Namun mereka sama sekali tidak menyangka kalau di Bandara itu juga sudah tersebar anak buah Xander dan mereka melihat Stella.


"Itu Nona Stella!" teriak salah satu anak buah Xander membuat Daniel dan juga Stella terkejut. Apalagi kini pria itu memanggil teman-temannya untuk menangkap Stella.


"Sial!" umpat Daniel kesal sekali karena ia hampir saja kecolongan.


"Kak, bagaimana ini?" karena panik dan takut menjadi satu membuat Stella tak bisa bergerak.


"Kita harus lari," kata Daniel menarik tangan Stella dan membawa wanita itu pergi dari sana.


"Itu benar-benar Nona Stella, cepat kalian kejar, aku harus segera menghubungi Tuan Xander," anak buah Xander bergerak cepat untuk mengejar Stella dan menghubungi Xander.


Xander yang berada di rumah masih begitu syok dengan semua kenyataan yang baru saja di dapatnya. Ia tak sanggup lagi membawa isi diary itu karena rasa penyesalan yang mendalam dalam hatinya.

__ADS_1


Saat mendengar ponselnya berdering, Xander tak langsung mengangkatnya. Butuh waktu beberapa saat baru Xander mengangkatnya.


"Ada apa?" tanya Xander rasanya tak memiliki tenaga lagi. Tubuhnya lemas karena mendapatkan hal yang bertubi-tubi menyakitkan. Wanita yang selama ini ia siksa dan ia sakiti ternyata wanita yang selama ini dia cari.


"Saya melihat Nona Stella di Bandara Tuan,"


"Di Bandara?" Xander menjambak rambutnya erat, mencoba melampiaskan rasa sakit batinnya dengan menyakiti fisiknya.


"Benar, anak buah kami sedang mengejarnya saat ini,"


"Aku akan datang, aku akan segera datang," Xander segera mematikan panggilan itu.


Ia bergegas berlari keluar dari Apartemennya. Ia harus menghela nafasnya berkali-kali untuk mengurangi rasa sesak di dadanya.


"Jangan pergi Stella, aku mohon jangan tinggalkan aku …" batin Xander tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika Stella benar-benar pergi meninggalkannya.


*****


Di Bandara, Daniel terus mengajak Stella berlari menerobos beberapa orang yang berlalu lalang. Ia tak akan membiarkan Stella sampai tertangkap.


"Kak, perutku sakit …" ucap Stella memegang perut bawahnya yang tiba-tiba merasa sangat nyeri.


"Tapi ini sangat sakit, Kak" ucap Stella benar-benar kesakitan karena digunakan untuk berlari.


Daniel menggigit bibirnya menatap wajah pucat Stella. Ia tak boleh egois, ia harus mementingkan kesehatan Stella terlebih dulu. Tapi dia juga tidak boleh sampai tertangkap.


Daniel memutar otaknya, anak buah Xander masih mengejar dan waktunya tak banyak lagi. Akhirnya Daniel segera menarik Stella untuk masuk kedalam salah satu toilet petugas. Sebenarnya itu dilarang, tapi tidak ada jalan lagi.


"Kita tunggu disini," ucap Daniel menuntun Stella agar wanita itu duduk di kloset toilet. Ia berdiri mengintip dari celah pintu untuk melihat keadaan luar.


"Aku akan keluar dulu, kamu jangan keluar atau pergi kemanapun, nanti aku akan menjemputmu lagi," kata Daniel merasa harus melakukan sesuatu.


"Kak Niel mau kemana?" tanya Stella takut jika Daniel akan meninggalkannya.


"Aku pasti kembali, tetaplah disini," kata Daniel melepas jas dan juga dasinya. "Apa kau punya masker?" tanya Daniel.


Stella mengangguk singkat, ia segera memberikan apa yang Daniel minta karena ia memang sering membawa masker kemana-mana.


Setelah memakai maskernya, Daniel segera keluar dari tempat persembunyiannya. Ia bergerak cepat untuk mengambil baju dan juga alat penyamaran lain untuk Stella.

__ADS_1


"Gantilah pakaianmu, kita harus secepatnya pergi," Daniel kembali dengan membawa baju Stella dan topi untuk wanita itu.


Stella menurut, ia menyuruh Daniel membelakanginya terlebih dulu dan ia segera mengganti bajunya dengan cepat. Setelah penyamarannya selesai, mereka segera keluar dari sana melewati anak buah Xander yang berkeliaran.


*****


Xander tiba di Bandara setelah membawa mobilnya dengan kecepatan penuh. Sesampainya disana ia melihat anak buahnya yang berkumpul.


"Mana Stella?" tanya Xander tak sabar.


"Maafkan kami, Tuan. Kami kehilangan jejak Nona Stella,"


"Bodoh! Menangkap satu wanita saja tidak becus!" umpat Xander rasanya ingin sekali menghajar anak buah tidak berguna itu.


"Nona Stella pergi bersama seorang pria, Tuan"


"Bersama pria?" Xander membesarkan matanya, seorang pria siapa?


Tak membutuhkan waktu lama untuk Xander tahu siapa pria itu, siapa lagi kalau bukan Daniel.


"Kurang ajar! Pria itu, beraninya dia membawa istriku," geram Xander mengepalkan tangannya erat.


"Sekarang cari mereka lagi, aku yakin mereka belum pergi dari sini," ucap Xander tak menyerah untuk mencari istrinya.


Xander juga bergerak cepat untuk menanyakan kepada petugas boarding tentang nama Stella yang akan melakukan penerbangan hari ini. Tapi tentu saja tak semudah itu mereka akan memberikan data-datanya karena semua itu bersifat rahasia.


"Sial! Aku bilang ini darurat, istriku akan pergi dan aku harus mencegahnya!" teriak Xander marah karena tak bisa mendapatkan informasi apapun tentang Stella.


"Tuan, kendalikan diri Anda," Luke dengan sigap menahan Xander untuk tidak membuat kekacauan disana. Ia baru saja kembali setelah mengurus Joana, tapi sekarang Xander akan membuat masalah lagi.


"Aku tidak bisa tenang, aku harus menemukan istriku!" teriak Xander mendorong tubuh tegap Luke dengan kasar.


Rasa sesal dan frustasi membuat Xander seperti orang gila mencari-cari Stella di Bandara. Tanpa dia sadari, sejak tadi Stella sudah berada di dekatnya dan melihat jelas apa yang dilakukan pria itu.


"Kenapa baru sekarang kau menyesal? Mungkin jika kau lebih dulu menyadari semuanya, aku tidak akan seperti ini Xander. Maafkan aku, aku harus pergi, selamat tinggal …" batin Stella mengusap air matanya yang meleleh tanpa bisa dicegah.


Stella segera melangkahkan kakinya pergi menjauh meninggalkan Xander tanpa menoleh lagi. Sudah cukup selama ini ia berjuang dan bertahan, kini saatnya dia menyerah dan berbahagia bersama anaknya.


Happy Reading.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2