
Dokter Mazaya masih mengusap-usap lengan Stella untuk membuat wanita itu tenang. Ia tak bisa lagi memaksa Stella karena keputusan Stella sudah bulat.
"It's oke Stella, jika itu keputusan kamu, aku hanya bisa berdoa, semoga kau dan bayimu sehat sampai harinya nanti. Sekarang jangan nangis, jika kau menangis, bayimu juga akan ikut menangis," ucap Dokter Mazaya mengurai pelukannya dengan Stella.
"Terima kasih, Kak" ucap Stella mengusap sisa air matanya pelan. Tangisnya masih terdengar meski hanya sesenggukan.
"Untuk saat ini kau tidak bisa mengkonsumsi obatmu dulu, tapi aku akan memberikan vitamin untuk penguat kandunganmu," kata Dokter Mazaya.
Stella hanya mengangguk tanpa suara, banyak hal yang saat ini ia pikirkan. Namun satu hal yang paling penting, ia ingin secepatnya pergi dari kota ini, sudah itu saja.
"Apakah sudah?" suara Daniel terdengar memasuki ruangan membuat Stella menoleh.
"Kakak masih disini?" tanya Stella berpikir kalau Daniel akan pulang tadi.
Daniel terdiam, ia menatap Stella dengan pandangan kasihan namun juga terselip amarah disana. Ia tak bisa membayangkan apa yang sudah wanita ini lalui, bagaimana Stella menganggap semuanya baik-baik saja, padahal wanita itu sangatlah terluka.
Perlahan Daniel mendekatkan dirinya, ia menatap lekat wajah Stella dan langsung memeluk tubuh ringkih itu.
"Kak? Ada apa?" ucap Stella terkejut dan juga bingung.
"Aku sudah tahu semuanya," lirih Daniel menahan dirinya agar tak menangis. Dirinya memang pria yang cukup sentimentil, hal seperti ini tentu membuat hatinya tak tega.
Stella membesarkan matanya, ia sempat bingung, namun melihat Nanda yang berdiri tak jauh darinya, ia mengerti kalau wanita itu yang sudah menceritakan semuanya kepada Daniel.
"Kak, maafkan aku" kata Stella.
"Kenapa minta maaf? Kau tidak salah, kenapa kau menyembunyikan ini dariku?" ucap Daniel menatap Stella dengan tatapan teduhnya.
"Tidak kak, hal seperti ini memang sudah seharusnya tidak diceritakan. Itu semua hanya bagian masa laluku, sekarang aku ingin memulai kembali hidup baruku bersama anak ku," kata Stella mengusap perutnya penuh kasih.
Daniel menatap hal itu semakin merasa iba. "Aku akan membantumu," ucap Daniel mantap.
__ADS_1
"Untuk apa Kak? Aku tidak mau Kakak terlibat masalahku. Aku bisa menyelesaikan masalah ini sendiri," kata Stella tak ingin Daniel terlibat masalah hidupnya. Pria itu tidak punya hubungan apapun dengannya.
"Aku tidak meminta izin darimu Stella, kau ingin menyelesaikan ini sendiri? Apakah menurutmu kau bisa? Kau sedang hamil dan butuh seseorang yang menemanimu. Apa yang akan dikatakan orang jika tahu kau hamil tanpa suami?" kata Daniel sedikit kesal karena Stella selalu menolak jika dia ingin membantu.
"Maka dari itu aku akan pergi yang jauh, pergi ketempat dimana semua orang tidak mengenalku, Kak" kata Stella dengan sorot mata penuh tekadnya.
"Aku mencintaimu, Stella" ucap Daniel memegang kedua tangan Stella lembut.
"Kak?" Stella terkejut mendengar pengakuan Daniel.
"Ya, aku mencintaimu Stella. Hiduplah bersamaku, aku berjanji tidak akan pernah menyakitimu, aku akan menerima bayi itu menjadi bagian hidupku, menikahlah denganku Stella," ucap Daniel masa bodoh kalau saat ini Stella masih menjadi istri sah Xander. Pria itu terlalu ba ji ngan untuk mendapatkan wanita sebaik Stella. Daniel bersumpah akan membalas semua perbuatan Pria itu kepada Stella.
"Kak ini berbicara apa? Aku masih punya suami, Kak" ucap Stella melepaskan tangan Daniel.
"Aku tahu, kau bisa bercerai dengan Xander bukan? Aku akan mengurus semuanya dan memastikan kau akan hidup tenang bersama anak mu Stella. Kita akan hidup bersama di tempat yang jauh dari kota ini, percayalah padaku Stella," ucap Daniel tak menyerah untuk meyakinkan Stella.
Stella terdiam, ia semakin bingung dengan sikap Daniel yang seperti ini. Jujur saja Stella tak pernah menyangka kalau Daniel ternyata mempunyai perasaan padanya. Tapi apa mau dikata, Stella tak bisa jika hanya menerima Daniel untuk sekedar menjadi pelariannya, bukankah hal itu akan sangat menyakiti Daniel nantinya?
Daniel membuang pandangannya, perih sekali rasanya ditolak oleh wanita yang dia cintai seperti ini. Namun ia tak mungkin memaksa, jika tidak sekarang mungkin nanti Daniel bisa mendapatkan Stella.
"Baiklah, kalau kau memang tidak bisa menerimaku, tolong beri aku kesempatan untuk membantumu," ucap Daniel kali ini menatap Stella dengan raut wajah memohonnya.
Stella terdiam sesaat, ia menghela nafasnya dalam-dalam sebelum mengangguk mengiyakan penawaran Daniel.
*****
Xander mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, wajahnya terlihat penuh amarah dan ingin segera mencari Stella. Wanita itu bisa-bisanya pergi bersama pria lain dan sudah berani bersikap kurang ajar pada Joana.
Kali ini tujuan utama Xander langsung ke Sekolahan Stella, ia tahu pasti wanita itu ada disana sekarang. Namun sesampainya disana ia tak menemukan siapapun, hanya ada Satpam penjaga Sekolah yang bertugas, selain itu Sekolahan itu juga tutup.
"Selamat sore Tuan, ada yang bisa Saya bantu?" ucap Satpam pada Xander.
__ADS_1
"Dimana Stella?" tanya Xander to the point.
"Nona Stella? Mohon maaf sebelumnya, Anda siapanya Nona Stella?" ucap Satpam tak bisa sembarangan membagi informasi tentang atasannya tersebut.
Xander berdecak kesal, ia menarik kerah baju Satpam itu dengan kasar. "Katakan dimana Stella?" bentak Xander tak bisa lagi menahan emosinya.
"No … na Stella pergi Tuan, tadi beliau pingsan," Satpam itu tampak ketakutan melihat sorot mata Xander yang sangat tajam.
"Stella pingsan?" Xander sedikit terkejut mendengarnya, ia langsung menghempaskan Satpam itu dengan kasar.
"Iya Tuan, Nona Stella dibawa ke rumah sakit oleh Tuan Daniel," jelas Satpam itu lagi tak ingin menutupi apapun karena takut jika Xander akan marah lagi.
"Stella bersama Daniel?" seru Xander semakin geram begitu mendengar kalau Stella ternyata bersama Daniel.
Dengan emosi yang masih menyala-nyala, Xander segera menaiki mobilnya, ia ingin pergi mencari Stella setelah Satpam itu menyebutkan nama Rumah Sakit yang dikunjungi oleh Stella. Namun baru saja ia membuka pintu mobil, ada sebuah mobil lain yang datang ke Sekolah itu.
Tatapan Xander semakin menggelap saat tahu jika Stella lah yang turun dari mobil bersama Daniel. Mereka sengaja kembali ke Sekolahan untuk mengambil beberapa barang Stella yang lupa tertinggal.
"Brengsek!" umpat Xander membanting pintu mobilnya dengan keras, ia melangkahkan kakinya lebar-lebar untuk menghampiri Stella.
"Aku masuk sebentar, Kak. Kakak disini aja," ucap Stella ingin mengambil laptopnya, karena di dalam sana ada banyak sekali file dan kenangan penting dalam hidupnya.
"Aku akan menemanimu saja, kau masih sangat pucat," ucap Daniel khawatir melihat wajah Stella yang masih sangat pucat itu.
"Tidak usah Kak, aku bisa sendiri Kok," kata Stella sedikit melepar senyum tipisnya.
"STELLA!!!"
Happy Reading.
Tbc.
__ADS_1