
Siapapun pasti tidak ingin terlahir dari keluarga yang memiliki masalah dalam hidupnya. Semua orang juga pasti ingin selalu menjadi terbaik untuk versi dirinya masing-masing. Tidak ada manusia yang ingin terkahir cacat atau memiliki kekurangan fisik lainnya.
Namun, terkadang manusia bersikap sangat serakah. Ingin menjadi yang terbaik tapi lupa dengan posisinya yang sama dimata Tuhan. Selalu tidak bersyukur dengan apa yang sudah dimiliki dan malah sibuk mengejar hal lain yang menyalahi norma kehidupan.
Joana sangat menyesali perbuatannya di masa lalu. Ia yang sangat jahat kepada seseorang yang begitu tulus menyayanginya, dan ia juga telah menyia-nyiakan pria sempurna yang mencintainya dengan memilih pria yang salah.
Seorang pria yang sudah ia anggap sebagai dewa, ternyata pria itu juga yang telah menyakitinya dengan sangat dalam. Bahkan sudah menghancurkan segala mimpi yang Joana bangun sedemikian indah.
"Joana, makan siang dulu yuk. Melukisnya nanti saja dilanjutkan lagi."
Bibi Tania seperti biasa, menghampiri putrinya untuk mengingatkan makan. Wanita yang sudah tidak lagi muda itu selalu ingin membuat putrinya nyaman didekatnya meski sampai detik ini Joana masih belum bisa menerima dirinya sebagai ibunya. Bibi Tania mengerti, semua ini memang salahnya dan ia harus menerima semua konsekuensinya.
"Aku ditawari oleh seseorang untuk pameran," ucap Joana tiba-tiba, ia berbicara tanpa melirik ibunya sama sekali.
"Kamu apa?" Tania seolah mendapatkan semangat baru mendengar Joana mau berbicara padanya.
Selama 6 bulan tinggal bersama, Joana sama sekali tidak mau berbicara dengan Tania karena wanita itu menganggap kalau Tania adalah sumber dari kesialan dalam hidupnya. Joana selalu marah dan menyalahkan Tania karena kondisinya saat ini.
"Tadi, ada teman yang menghubungiku. Dia mengatakan jika lukisanku bagus," kata Joana dengan suara pelan, ia bingung harus bersikap bagaimana kepada ibunya ini.
"Ya, ya temanmu benar, Sayang. Lukisan kamu itu memang sangat bagus, apa lagi yang dia katakan?" Tania menyahut dengan bersemangat, tak sabar ingin mengobrol panjang dengan putrinya.
"Sudah tidak ada lagi," ucap Joana kembali bersikap dingin, ia juga kembali menyibukkan dirinya dengan alat-alat lukis.
Tania sedikit kecewa, padahal ia masih ingin mengobrol banyak dengan Joana, tapi sepertinya Joana tidak ingin berbicara lagi.
"Jika aku pergi ke kota, apa kamu akan mengizinkannya?" tanya Joana kembali, masih ingin belum menoleh kepada sosok Bibinya.
"Ke kota? Untuk apa?" Tania ikut bertanya.
Tania tidak bisa sembarangan pergi ke kota karena sudah berjanji kepada Kakaknya kalau ia tidak akan menunjukkan dirinya di hadapan mereka. Jika sampai itu terjadi, semua fasilitas yang ia pakai saat ini akan dicabut oleh Kakaknya.
"Aku ingin ikut pameran lukisan, aku dengar sedang ada perayaan disana. Aku ingin mengikutinya," ucap Joana lagi.
Sebenarnya Joana enggan untuk berbicara pada wanita itu, tapi ia juga sudah tidak begitu membencinya. Hanya saja untuk menerimanya dan bersikap biasa saja sangat sulit.
"Joana, ibu pasti mendukung setiap keputusanmu. Tapi Ibu sudah berjanji pada Kak Medi dan kak Melisa untuk tidak lagi datang kesana. Mereka-"
"Aku tidak akan menganggu Stella jika memang itu yang mereka takutkan. Aku hanya ingin mengikuti pameran lukisan, apakah tidak boleh?" tukas Joana, kali ini ia memandang Tania dengan serius sekali.
Sungguh, ia tidak mau melakukan apapun pada Adiknya itu. Ia murni ingin mengikuti pameran lukisan yang ditawarkan oleh temannya. Joana tahu ia seharusnya sadar diri dengan kondisinya, tapi kali ini ada keinginan kuat dalam hatinya yang meminta ia untuk menunjukkan hasil karyanya.
__ADS_1
"Jika kamu keberatan, aku akan datang kesini. Hubungi saja Papa, katakan aku tidak akan menunjukkan diriku dihadapan mereka," ujar Joana lagi.
"Tidak, ibu tidak akan membiarkanmu pergi sendiri. Ibu akan menemanimu, ya," ujar Bibir Tania, tentu tidak akan tega jika Joana harus pergi ke kota sendirian.
"Baiklah, acaranya akan diadakan lusa. Besok kita akan berangkat," kata Joana dengan semangat yang tidak bisa dipadamkan.
"Iya iya, lukisan mana yang akan kamu ikutkan pameran, Sayang?" tanya Tania penuh rasa ingin tahu.
Joana berpikir sejenak, memandang beberapa lukisannya yang terpanjang didalam kamar yang selama ini menjadi tempatnya melukis itu. Ia memperhatikan satu-satu sampai menemukan lukisan yang menurutnya sangat indah dimatanya.
"Aku akan membawa yang itu."
________
Joana sebenarnya tidak percaya diri jika harus menunjukkan dirinya didepan publik. Setelah enam bulan, ini kali pertama ia melihat dunia luar kembali. Beberapa kali merapikan penampilannya, merasa kurang cocok dengan kondisinya yang lumpuh itu.
'Andai dulu aku tidak nekat melakukannya, aku pasti masih bisa berjalan sekarang.'
Kata-kata itu selalu saja terngiang dibenak Joana, ia hanya bisa berandai dan menyesali perbuatannya yang sangat jahat dulu. Sekarang entah kehidupan seperti apa yang akan ia temui, ia hanya berharap ia tidak bertemu dengan orang-orang di masa lalunya. Karena setiap mengingatnya, hati Joana terasa sangat nyeri.
"Udah nggak ada lagi yang mau kamu bawa? Kita berangkat sekarang?" tanya Bibi Tania menghampiri Joana di kamarnya.
"Iya," sahut Joana singkat padat dan jelas.
"Ibu suka kalau kamu menggerai rambut seperti ini, anak ibu cantik," ucap Bibi Tania tersenyum begitu tulus.
Joana menegakkan tubuhnya, melihat senyuman tulus itu membuat hatinya mendadak seperti disirami oleh air yang dingin dan menyejukkan. Benar-benar terusik akan senyuman itu, tapi Joana mengabaikannya.
"Jangan membuang waktu, sebaiknya kita berangkat sekarang," kata Joana segera menjauhkan dirinya, ia mendorong kursi rodanya sendiri lalu meninggalkan Bibi Tania.
Bibi Tania mengigit bibirnya, lagi-lagi ia harus menelan kekecewaan akan sikap putrinya.
'Sampai kapan kamu akan menghukum ibu seperti ini?'
_______
Pertama kali tiba di kota yang dulu pernah ia tinggali, membuat perasaan Joana campur aduk. Semua kenangan masa lalunya seolah berputar-putar di kepalanya hingga terasa sangat pusing. Ia mengingat kenangan manisnya dulu, dimana ia begitu dicintai oleh keluarganya, mempunyai adik yang sangat perhatian. Dan yang paling membahagiakan, ia memiliki kekasih yang memperlakukannya layaknya ratu.
Namun, karena keserakahannya, semuanya hancur tak tersisa.
"Nanti acaranya akan diadakan dimana?" tanya Tania memberanikan diri untuk menyentuh tangan putrinya, ia tahu apa yang sedang dirasakan oleh wanita itu.
__ADS_1
Joana menoleh, ia melihat tangannya yang dipegang oleh Tania. "Ada di gedung X, jam 7 malam dimulai acaranya," sahut Joana menarik lembut tangannya.
"Nanti mau temani?" tanya Tania.
"Terserah, kalau tidak merepotkan," jawab Joana masih bersikap dingin.
"Mana mungkin kamu merepotkan ibu, kamu 'kan anak ibu," ucap Tania mengulas senyumnya.
Joana langsung meliriknya, tapi ia tidak mengatakan apapun. Ia sibuk memandang pemandangan kota yang masih sama seperti enam bulan yang lalu.
"Aku ingin ke minimarket sebentar," kata Joana teringat ingin membeli keperluannya.
"Nanti didepan ada minimarket, kita berhenti saja disana," sahut Bibi Tania.
Joana mengangguk, ia diam saja sampai sampai tiba di minimarket yang ada dimaksud oleh Bibinya.
"Kamu mau beli apa? Biar ibu belikan," tutur Tania.
"Aku ikut saja," sahut Joana lagi.
Bibi Tania tidak melarang, ia segera turun lalu membantu mengeluarkan kursi roda Joana. Ia pasti akan menuruti setiap kata-kata putrinya, yang penting Joana senang, itu sudah cukup untuknya.
Setelah kursi rodanya diturunkan, Tania lalu membantu Joana untuk duduk. Akan tetapi karena posisi jalanan yang ada didepan mini market itu sedikit menanjak, kursi roda Joana tiba-tiba menggelinding begitu saja.
"Joana!" pekik Tania begitu kaget, ia segera berlari untuk menahannya.
Namun terlambat, kursi roda Joana tetap melaju dengan cepat hingga Joana sendiri tidak bisa mengendalikannya.
"Awas!" teriak Joana meminta orang-orang yang ada di depannya menyingkir. Tapi semuanya benar-benar tidak bisa dikendalikan, kursi roda Joana yang melaju cepat itu tidak sengaja menabrak seorang pria yang kebetulan lewat disana.
"Akhhhhhhh!"
BRAKKKKKKKK!
Happy Reading.
TBC.
Hai hai, jangan lupa komentar ya guysss ....
Visual Joana nih_
__ADS_1