Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
Stella Berubah.


__ADS_3

Semenjak malam itu, Stella sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak lagi memikirkan Xander atau peduli kepada pria itu. Sudah cukup apa yang dilakukannya selama ini, tiga bulan bersama dan mencoba menjadi istri yang baik, nyatanya tak bisa membuat Xander berubah atau paling tidak memaafkannya.


Xander semakin hari semakin abai dan sering marah dengan alasan yang tidak jelas. Stella sudah bosan menjadi sasaran kemarahan Xander tanpa tahu apa kesalahan yang dibuatnya. Xander juga sudah tidak pernah lagi tidur di rumah, dia hanya datang pagi hari untuk berganti baju dan selalu saja seperti itu.


Sakit? Tentu saja hati Stella sangat sakit karena tahu alasan suaminya tidak pernah pulang karena menginap di tempat Joana. Jika Stella dulu akan menangis atau merengek meminta pria itu tinggal, sekarang tidak ada lagi Stella yang cengeng. Hatinya sudah terlalu sakit hingga tak bisa lagi merasakan bagaimana perasaan lain. 


Tapi sialnya bagi Stella, sekuat apapun Xander menyakitinya, rasa cinta dalam hatinya tak bisa hilang. Ia sudah berusaha membencinya, tapi tak pernah bisa, hatinya terlalu lemah untuk sekedar membenci pria itu.


"Halo Ma, iya ini Stella. Malam ini datang ke rumah Ma? Memangnya ada apa?"


Pagi-pagi saat ia bangun dari tidurnya, Mama mertuanya sudah menelponnya. Mama mertuanya itu memang sering menghubunginya untuk menanyakan kabar Xander. Stella rasanya tak tega jika harus menceritakan semua masalah rumah tangganya kepada Mama mertua. Karena ia tahu pasti hal ini akan sangat menyakiti hati beliau.


"Enggak ada acara apa-apa Sayang, Mama kangen sama kalian. Malam ini datang ya, Mama mau masak banyak. Tolong kamu bilang pada Xander jangan lembur terus,"


Stella terdiam, meminta Xander untuk datang kesana? Hal itu tentu mustahil terjadi karena ia saja tak pernah saling sapa dengan pria itu.


"Nanti Stella coba bujuk Xander ya, Ma. Tapi Stella nggak bisa janji," ucap Stella rasanya tak tega jika harus mematahkan keinginan wanita yang menerima kehadirannya dengan tulus ini.


"Iya, Mama sangat berharap kalian bisa datang,"


Stella menghela nafasnya, ia segera bersiap untuk berangkat ke sekolah. Sebelum itu ia menyempatkan diri untuk sarapan nasi goreng yang dibuatnya tadi pagi. Biasanya di jam segini, Xander akan pulang ke rumah untuk ganti baju.


Tebakan Stella tak meleset, beberapa saat kemudian, ia mendengar suara langkah kaki yang mendekat dan Xander muncul dari arah ruang depan. Stella hanya meliriknya tanpa menyapa, tetap melanjutkan sarapan paginya seolah tidak terusik dengan kedatangan Xander.


Xander yang biasanya langsung masuk kedalam kamar, pagi itu memilih duduk di meja makan, lebih tepatnya di depan Stella.


"Aku lapar," ucap Xander merasa perutnya sering mual akhir-akhir ini, ia jarang sarapan di rumah karena Joana tidak pernah membuat sarapan.


"Lalu?" Stella mengangkat alisnya.


"Buatkan aku makanan," kata Xander menatap Stella tajam.


Stella hanya memasang wajah datar, ia meletakkan sendok dan garpunya lalu minum air putihnya dengan santai. "Hari ini aku sangat sibuk, aku tidak bisa membuatkan sarapan untukmu, lagipula kenapa kau harus meminta makanan padaku? Apakah wanitamu tidak bisa mengurus mu?" ucap Stella datar tak bernada.

__ADS_1


"Kau berani membantahku?" sentak Xander geram, ia memegang dagu Stella dengan kasar.


Stella hanya diam, ia menepis tangan Xander pelan. "Aku tak punya waktu untuk berdebat denganmu Tuan Xander. Di dalam kulkas masih banyak stok bahan makanan, kau bisa memasak sendiri jika ingin. Aku akan berangkat sekarang," tukas Stella mengambil tasnya yang berada di meja dan bersiap pergi.


Xander mengertakkan giginya, semakin geram melihat gaya Stella yang tidak takut padanya itu. 


"Jangan memancingku Stella!" bentak Xander menggebrak meja dengan keras hingga membuat Stella terkejut.


Stella menatap Xander yang sangat marah itu, ia sebenarnya takut tapi mencoba tak terlihat takut. 


"Sebenarnya apa masalahmu? Kalau kau punya masalah dengan wanitamu jangan kau lampiaskan padaku! Kau juga harus ingat, kalau kau sudah memilih dia, jadi jangan pernah mengharapkan apapun lagi dariku!" Sergah Stella berucap pelan namun sangat menusuk.


Stella langsung saja pergi setelah mengatakan hal itu, ia tak akan sanggup lagi jika harus berlama-lama bersama Xander. Ia takut hatinya akan melemah kembali.


"Oh ya, nanti malam Mama menyuruh kita datang ke rumah. Kau bisa atau tidak? Jika tidak, aku akan mengatakan kepada Mama kalau kau tidak bisa," sebelum pergi, Stella ingat akan hal itu.


"Mama?" Xander mengernyitkan dahinya.


"Kau ingin membuat namaku jelek dimata Mama?" sergah Xander.


"Terserah apa katamu, kalau kau memang tidak bisa katakan saja sendiri kalau begitu, aku akan pergi" kata Stella tak menunggu Xander menjawab perkataannya, ia langsung saja pergi begitu saja meninggalkan Xander.


"Sial!" Xander mengumpat kesal, ia menjambak rambutnya frustasi karena sikap Stella yang mulai berani padanya. Ini tentu tak boleh dibiarkan, wanita itu harus diberi pelajaran agar tidak main-main dengannya.


****


Stella sampai di sekolahnya saat kelas masih sepi karena memang semua muridnya belum berangkat. Ia melangkahkan kakinya dengan tak bersemangat, terlalu banyak masalah membuat Stella kadang tak fokus mengajar.


"Selamat pagi bu guru Stella," sapaan riang dari Daniel membuat Stella terkejut.


"Kak Niel? Ngapain Kakak disini?" ucap Stella kaget dan juga bingung melihat Daniel ada di sekolahnya.


"Kejutan," kata Daniel tersenyum manis.

__ADS_1


"Kurang kerjaan banget sih, Kakak nggak kerja?" tanya Stella menggelengkan kepalanya karena tingkah random Daniel.


"Kerja dong, tapi nanti. Aku mau ketemu Bu guru Stella dulu, bisa kan Bu?" canda Daniel sengaja menggoda Stella.


"Enggak, aku lagi sibuk," tukas Stella memutar bola matanya malas.


"Baiklah, aku akan menunggu di luar ya Bu guru. Nanti kalau enggak sibuk panggil aja," ucap Daniel mengerlingkan matanya.


"Dasar Kakak! Bercanda terus, sebenarnya ada apa sih?" Stella mencubit lengan Daniel dengan keras karena gemas dengan pria itu.


"Hahaha, nggak ada apa-apa sebenarnya. Hari ini Mama ulang tahun, aku ingin mengajakmu pergi mencari kado untuk Mama. Itu kalau kamu nggak keberatan sih," ujar Daniel mengusap tengkuknya grogi, ia sudah menyusun kata-kata ini sejak semalam agar Stella mau pergi bersamanya. 


Sudah berbagai cara ia coba untuk mendekati Stella, tapi nyatanya tidak semudah itu. Stella orang yang cukup susah jika di ajak berpergian, berbeda sekali dengan para wanita yang sering dekat dengannya.


"Nanti ya? Aku masih harus mengajar dulu tapi, Kak" kata Stella dengan wajah berpikirnya.


"Aku akan menunggu," sahut Daniel cepat.


"Eh, tapi lama Kak. Sekitar dua jam, Kakak kerja saja dulu, nanti aku kabari lagi." Ucap Stella tak enak rasanya jika Daniel harus menunggunya mengajar.


"Gampang itu, yang penting kamu bisa 'kan?" ucap Daniel memastikan lagi kalau Stella mau diajak pergi.


"Lihat nanti ya, Kak"


Happy Reading.


Tbc.


Jangan lupa dukungan like dan komen ya guys …


Author kagak usah di kasih kopi gapapa, yang penting like dan komen jangan kelewatan…


Wkwkwk, mode malak ini 🤭

__ADS_1


__ADS_2