
"Bagaimana hasilnya?"
Melisa langsung bertanya begitu melihat suaminya datang. Ia tidak bisa ikut ke luar negeri karena tidak ingin membuat Joana curiga. Namun selama tiga hari suaminya pergi, Melisa benar-benar sangat cemas. Antara senang dan tidak. Senang karena ada titik terang tentang putrinya, namun ia sedih jika harus berpisah dengan Joana.
"Bukan," ucap Medison lesu, ia langsung membanting tubuhnya seraya memijit kepalanya yang berdenyut.
"Bukan? Maksud Papa?" tanya Melisa menghampiri suaminya, ingin mendengar lebih jelas apa yang terjadi.
"Sarah bukan putri kita, Papa sudah menemuinya dan dia setuju untuk melakukan tes DNA. Tapi hasilnya ..." Medison menghela nafas panjang, tak sanggup lagi mengatakan kenyataan yang luar biasa menyakitkan.
Setelah mendapatkan alamat Sarah yang berada di luar negeri, Medison melakukan penerbangan dengan harapan bisa menemukan putrinya yang hilang. Tapi ternyata Tuhan belum mengizinkan dirinya untuk bertemu dengan putri kandungnya karena DNA nya dan Sarah tidak cocok.
"Mungkin ini saatnya Papa menghentikan semuanya, anggap saja semua ini adalah kesalahan. Selamanya hanya Joana yang akan menjadi putri kita," ucap Melisa bukan tak ingin percaya dengan suaminya, tapi ia takut jika hasilnya akan mengecewakan.
"Terserah Mama, tapi Papa tegaskan, Papa tidak akan menyerah mencari putri kandung kita," ucap Medison tak bisa jika mengabaikan masalah ini begitu saja. Apalagi ini merupakan tindak kejahatan dan ia harus mencarinya. Medison menduga kalau yang melakukan ini adalah orang terdekatnya.
****
Joana sudah menunggu Xander dengan tampilan cantiknya. Pria itu memilih ruangan privat membuat Joana penasaran apa yang sebenarnya akan dikatakan oleh Xander. Namun itu lebih bagus, karena ia bisa leluasa berduaan dengan Xander.
"Tuan Xander sudah datang," ujar Pelayan menghampiri Joana.
"Suruh dia masuk saja," ucap Joana membenarkan sedikit penampilannya. Ia gugup sekali karena akan bertemu dengan pujaan hatinya.
Xander masuk kedalam ruangan dengan wajah dingin dan tak tertebak. Ia melirik Joana dari atas sampai bawah baru duduk di tempatnya.
"Kau datang lebih awal," ucap Xander menatap lekat-lekat wajah Joana.
"Ya, kau baru selesai bekerja langsung kesini 'kan? Aku pesankan minuman dulu," ucap Joana memanggil Pelayan untuk meminta hidangan.
Xander tak mencegah, ia hanya terus menatap Joana hingga wanita itu gugup.
"Kenapa kau menatapku terus?" tanya Joana menyelipkan sulur rambutnya di belakang telinganya.
Xander menarik sudut bibirnya, ia lalu bangkit dari duduknya. "Bagaimana keadaanmu?" tanya Xander berjalan memutari Joana.
"Aku baik, kenapa mengajak bertemu? Ada yang ingin kau katakan?" ucap Joana melirik Xander.
__ADS_1
"Bukankah kau senang bisa bertemu denganku?" ucap Xander kini mengambil sehelai rambut Joana dan memegangnya.
"Maksudmu?" tanya Joana terbata, entah kenapa ia gugup sekali dengan tingkah Xander.
"Tidak perlu berpura-pura, kau baru saja menemui Stella 'kan? Kenapa kau menemuinya? Apa yang kau katakan padanya?" ucap Xander memutar kursi roda Joana agar mereka berhadapan.
"Aku tidak mengatakan apapun, aku ..." Joana menelan ludahnya kasar, bingung harus berkata apa.
"Kau memintanya bercerai dariku 'kan? Bravo, usahamu berhasil, sekarang kau puas?" ucap Xander memegang lengan Joana erat.
"Tidak Xander, aku tidak melakukan itu," ucap Joana meringis kesakitan.
"Kau begitu ingin kembali padaku, apa kau lupa siapa yang membuat hubungan kita hancur? Apa aku perlu mengingatkan padamu kalau kau yang sudah menghancurkan hubungan kita!" bentak Xander menghempaskan tangan kecil Joana kasar.
"Tapi aku baru sadar kalau aku mencintaimu Xander," ucap Joana menatap Xander sendu.
"Cih, cinta? Itu bukan cinta Joana, kau hanya menganggap ku pria bodoh yang akan mau menerima mu kembali setelah ba ji ngan itu membuat kau seperti ini," ucap Xander berdecih sinis.
"Ini bukan salah Marvin, saat itu aku memang hamil anakmu dan aku terpaksa menggugurkannya agar Marvin tidak tahu, tapi semuanya di luar kendaliku," ucap Joana menutup wajahnya, menangisi kebodohannya yang memilih jalan aborsi.
"Dan kau pikir aku akan percaya? Aku selalu menggunakan pengaman, jadi anak itu pasti bukan anakku," kata Xander tersenyum sinis.
"Aku tidak ingin apapun, aku hanya ingin semuanya kembali seperti semula. Hanya kau dan aku, tanpa ada Stella," ucap Joana langsung tanpa ragu.
"Jadi?"
"Aku ingin kita menikah Xander, membangun rumah tangga bersama dan masa depan kita berdua. Kau mau kan mengulangi semua rencana indah kita dulu?" ucap Joana tersenyum sendu.
Xander tersenyum kecil, hampir saja ia tertawa. Ia mengusap dagunya dan menatap Joana dari atas sampai bawah.
"Apakah menurutmu aku mau menikahi wanita cacat sepertimu?" ucap Xander menatap Joana sinis.
"Kakiku akan sembuh kalau aku terus berobat," ucap Joana mengepalkan tangannya, hatinya sakit saat Xander menghinanya.
"Dan aku harus menunggu agar kau bisa berjalan lagi?" ucap Xander meremehkan.
"Aku yakin ini tidak akan bertahan lama Xander, percayalah padaku, aku pasti akan kembali seperti dulu lagi," ucap Joana bersikeras.
__ADS_1
Xander kembali tersenyum, ia bangkit dari duduknya dari memegang dagu Joana. "Kau begitu ingin menikah denganku, apa kau tidak takut jika aku akan memperlakukanmu seperti Stella dulu?" tanya Xander serius.
"Aku yakin masih ada rasa di hatimu untukku," sahut Joana sedikit meringis karena Xander mencengkram dagunya erat.
"Kau terlalu percaya diri," Xander menghempaskan wajah Joana dengan kesal. Wanita ini kenapa tidak pantang menyerah.
"Baiklah, karena kau bersikeras, aku akan menikahi mu"
Joana membesarkan matanya terkejut. "Kau apa?" tanya Joana takut salah dengar.
"Kita akan menikah, tapi dengan satu syarat. Aku ingin mengundang seluruh teman dan juga media untuk meliput acara pernikahan kita," kata Xander dengan wajah seriusnya.
"Tapi Xander, bagaimana dengan Kakiku?" Joana menatap kakinya dengan ragu, ia tidak berani jika menunjukan kondisinya di publik.
"Pilihannya ya atau tidak, jika tidak yasudah. Anggap saja tawaranku tadi tidak ada," kata Xander melihat jam tangannya pertanda ia tak punya waktu banyak.
"Aku mau," ucap Joana langsung.
Xander mengembangkan senyumnya, ia lalu bangkit dari duduknya.
"Kau yang meminta menikah denganku, jadi jangan harap aku akan membuat hidupmu mudah Joana. Aku pastikan rumah tangga ini akan seperti di neraka," ucap Xander menatap Joana tajam lalu pergi begitu saja.
Joana sedikit merinding mendengar ucapan Xander. Apa yang akan pria itu lakukan jika mereka menikah nanti. Tapi Joana tak ingin mundur, setidaknya Xander menjadi miliknya. Hal itu sudah membuatnya bahagia.
"Kita lihat, siapa yang akan bertahan disini Xander Oliver,"
Happy Reading.
Tbc.
Selamat siang gais, author mau kasih rekomendasi novel bagus nih.
Mampir ya ke karya teman author ...
Judul : Talak Aku
Author : Arion Alfattah
__ADS_1