
Malam mulai datang, kegelapan melingkupi bumi yang kini telah sepi. Kepulan asap rokok Devan diterbangkan oleh angin yang berhembus sangat kencang. Ia kini terlihat sedang berdiri dipinggir pantai bersama seorang pria dan juga Ken.
Seharusnya Devan bisa langsung pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, tapi pria itu menghubunginya dan mengajaknya bertemu.
"Anda pasti tidak menyangka kalau sidik jarinya tidak cocok, hahaha. Sudah aku duga Tuan Devan, Anda pasti membutuhkan bantuan saya," ujar pria itu dengan tawa renyahnya. Merasa senang karena telah meloloskan Joana dari tes sidik jari.
"Ya, aku berterimakasih padamu. Tapi sayang sekali, kenapa kamu tidak melaporkan padaku jika mereka bertindak," kata Devan masih menikmati rokoknya, tidak begitu peduli dengan polisi yang telah menjilatnya itu.
"Ah itu, ada anak baru. Dia yang merencanakan penangkapanmu bersama komandan," ucap sang polisi.
"Benarkah? Itu artinya kamu tahu, kenapa tidak melaporkan padaku?" Devan menyudahi rokoknya, ia membuangnya ke lautan lalu memfokuskan tatapannya pada polisi itu.
"Jangan salah paham, Tuan Devan. Penggrebekan itu benar-benar sudah tersusun rapi. Hanya bagian satras narkoba yang tahu. Saya tidak terlibat apapun, bukankah saya sudah membantu melepaskan tunangan Anda," kata sang polisi mendadak gugup begitu melihat mata Devan.
Devan tersenyum, ia mendekati polisi itu sehingga menguarkan aura yang mengancam. Tapi Devan tidak melakukan apapun, ia hanya menepuk-nepuk lengannya dengan cukup kuat.
"Aku mengerti, katakan saja apa yang kamu butuhkan," ucap Devan dengan nada santainya.
"Astaga, Anda membuat saya takut, Tuan." Polisi itu langsung bernapas lega mendengar ucapan Devan. "Saya tidak butuh apapun, cukup berikan sedikit saja sabu-sabu. Barang itu, benar-benar membuat saya merasa senang," ucapnya dengan senyuman manis.
"Ken akan memberikannya, pergilah." Devan mengangguk, ia menunjuk Ken yang berdiri tak jauh darinya itu.
"Tuan akan memberikannya? Astaga, Anda memang sangat baik sekali. Saya akan mengambilnya." Polisi itu begitu sumringah dan bergegas mendatangi Ken.
Namun, saat ia mendekati Ken, ia merasakan aura bahaya yang keluar dari diri pria itu. Polisi itu langsung berjalan mundur.
"Mau kemana? Bukankah kamu butuh sabu? Aku akan memberikannya," kata Ken.
"Sial, kalian ingin menjebakku?" Polisi itu ingin segera melarikan diri, tapi Ken lebih sigap menarik tangannya dan tanpa ragu langsung melingkarkan sebuah kawat kecil ke leher polisi itu.
"Arghhhhhhhh, sial! Devandra setan! Arghhhhhhhh!" teriakan polisi itu terdengar sangat keras di malam yang sepi itu.
Devan tidak mempedulikannya, ia malah mengambil rokoknya dan menikmatinya seraya mendengarkan suara teriakan polisi itu. Seolah hatinya puas mendengar suara polisi yang tersiksa itu.
Ken terus menarik kawat itu dengan keras hingga polisi itu tidak berdaya. Beberapa saat kemudian, darah langsung muncrat saat Ken berhasil membuat leher polisi itu hampir putus dan sudah tidak bernyawa lagi.
__ADS_1
Setelah itu Ken mengambil batu lalu mengikatnya di kaki sang polisi dan tanpa perasaan membuang jasad sang polisi itu ke lautan.
"Sudah?" tanya Devan tanpa menoleh.
"Ya."
Devan mengangguk, ia lalu meninggalkan tempat itu seolah tidak terjadi apapun. Jika ada yang bertanya kenapa Devan membunuhnya? Jawabannya karena polisi itu sangat lancang bergerak tanpa perintahnya dan apa yang dilakukannya itu justru memberikan kesempatan bagi Felix untuk membebaskan Joana.
Satu-satu alasan yang sangat Devan tidak sukai adalah hal itu.
"Ah, kamu mengotori sepatuku, Ken. Darah penjilat itu ada disini," ucap Devan baru sadar sepatunya terkena cipratan darah dari polisi itu sehingga kotor.
"Saya akan membersihkannya," kata Ken mengambil sapu tangannya.
"Tidak perlu, buang saja. Aku tidak suka barang kotor seperti ini." Devan langsung saja melepas sepatunya dan mengganti dengan yang baru. Ia paling benci jika ada darah musuhnya tertinggal barang sedikit.
Namun, jika Devan yang mengeksekusinya sendiri, ia justru sangat suka jika darah orang yang ia habisi mengenai dirinya. Sebuah kepuasan yang tidak akan bisa dirasakan oleh orang lain selain dirinya sendiri. Psikopat kejam yang haus akan darah pengkhianat.
________
Sebenarnya ia tidak boleh kecapekan karena saat ini kondisinya sudah mulai membaik. Joana bahkan tidak perlu menggunakan kruk lagi, tapi ia tetap harus berjalan pelan-pelan karena kakinya masih lemah. Tapi itu sudah perubahan yang sangat bagus untuk Joana. Ia hanya tinggal berlatih dan akan segera sembuh.
"Tuan Devan sudah pulang, Nona." Tita langsung memberitahu Joana saat mobil Devan memasuki area rumah.
Joana langsung berdiri, ia berjalan pelan menunggu Devan masuk ke dalam rumah. Ia sudah menyiapkan segala amarahnya dan siap untuk memarahi Devan.
Devan sendiri langsung masuk tanpa berpikir jika Joana masih belum tidur. Ia memandang wanita itu dengan wajah kaget, tapi tidak terlalu kentara. Melihat dari wajahnya, Devan sudah bisa menebak jika Joana sedang marah padanya.
"Tinggalkan kami," titah Devan pada para pelayan dan anak buahnya.
Tanpa diperintah dua kali, mereka langsung pergi meninggalkan Devan dan Joana. Keduanya kini sedang beradu tatapan yang sama tajamnya.
"Katakan." Devan langsung saja berbicara begitu ia sampai di depan Joana.
"Kamu yang harus menjelaskan," tukas Joana menahan segala emosinya.
__ADS_1
"Aku tidak sedang punya banyak waktu. Apa yang ingin kamu katakan?" kata Devan dengan wajah dinginnya.
Joana mengalihkan pandangannya, ia tidak boleh menangis terlebih dulu. Ia langsung saja melemparkan kamera kecil yang baru saja ditemukannya pada Devan.
"Apa maksudmu memasang ini di kamar? Kamu ingin mengambil keuntungan dari apa yang sudah kita lakukan?" bentak Joana begitu marah.
Joana masih sangat trauma saat dulu foto dan video vulgarnya bersama Marvin justru pria itu gunakan untuk mengancam dirinya agar dirinya selalu tunduk. Joana takut jika Devan akan melakukan hal yang sama.
Devan melihat kamera itu lalu membuangnya. "Aku tidak seburuk itu jika itu yang kamu takutkan. Aku juga bukan pria pengecut yang akan menggunakan hal seperti itu untuk mengancammu," kata Devan.
Padahal sebenarnya kamera itu akan ia matikan jika ia sudah bersama Joana. Dalam artian apa yang terjadi antara dirinya dan Joana tidak ada di CCTV itu.
"Kamu pikir aku akan percaya? Kamu adalah pria yang sangat licik. Entah apa tujuanmu, kamu itu begitu menjijikan, Dev!" teriak Joana benar-benar marah sekali ini.
"Apakah sudah? Aku ingin istirahat, banyak hal penting yang harus aku urus selain ini." Devan menanggapinya dengan dingin, seolah tidak begitu peduli dengan kemarahan Joana ini.
Joana mengepalkan tangannya, semakin emosi rasanya karena Devan tidak mempedulikannya sama sekali.
"Aku ingin pergi," kata Joana sebelum Devan benar-benar pergi meninggalkan ruangan itu.
Devan menegakkan tubuhnya, ia juga emosi tapi ia menahan dirinya. Diliriknya Joana yang kini tengah berdiri membelakanginya. Ia menatap rambutnya yang panjang terurai indah itu.
"Lakukan sesukamu."
Hanya kata itu yang Devan katakan lalu pergi meninggalkan Joana yang merasakan hatinya hancur berkeping-keping. Ia mengepalkan tangannya untuk menahan rasa sakit yang begitu menghujam. Air matanya turun membasahi wajahnya, tapi ia tidak sedikitpun menghapusnya.
Rasanya Joana ingin sekali tertawa, menertawakan kebodohannya sendiri yang ternyata sudah jatuh kedalam perangkap Devan dan kembali memberikan seluruh hatinya.
'Apakah memang harus seperti ini? Kenapa hatiku sangat lemah sekali? Kenapa aku sangat bodoh, dia tidak pernah benar-benar menginginkan aku, dia hanya menganggapku Mega sampai kapanpun. Kamu memang bodoh Joana.'
Joana segera meninggalkan tempat itu dengan membawa seluruh lukanya, ia tidak langsung pergi karena ini malam hari. Ia tidak mau membuat dirinya sendiri akan kerepotan, ia akan pergi besok dan bersumpah tidak akan kembali lagi menginjakkan kakinya di rumah neraka itu.
'Ya, memang seharusnya seperti ini. Aku dan dia memilih jalan yang berbeda dan sampai kapanpun tidak akan pernah bisa bersatu.'
__________
__ADS_1