
"Siapa yang ada bersamaku saat kau tidak ada? Dia ... dia yang ada bersamaku Xander. Kau tidak berhak menyalahkannya atau membencinya. Aku yang lebih dulu datang padanya dan memintanya untuk ada untukku. Jika kau berpikir aku akan mudah memaafkan mu hanya karena sebuah penyesalan. Maka pemikiranmu itu sangat bodoh," ucap Stella lagi, Xander sengaja diam agar Stella mengeluarkan segala perasaannya selama ini.
"Kau begitu mudah menyakitiku tapi kau juga begitu mudah memintaku kembali padamu. Kau pikir aku wanita seperti apa? Pernahkah kau berpikir sekali saja Xander? Aku bukanlah Stella yang dulu, aku bukan wanita pemurah maaf untuk semua kesalahanmu. Kau sudah memiliki Joana, untuk apalagi memintaku kembali? Lebih baik ... kita berpisah saja ..." ucap Stella sudah tak bisa lagi mengucapkan sebuah katanya, perih sekali ya Tuhan mengingat semua kenangan yang ia tekan dalam-dalam hatinya.
Xander menggelengkan kepalanya, ia langsung menarik Stella dalam pelukannya. Ia menangis dalam penuh penyesalan. Stella berontak, tak ingin Xander memeluknya. Ia benci sekali dengan pria ini, tapi kenapa seolah hatinya tak bisa membenci. Ia marah, tapi kenapa hatinya tak bisa marah.
Xander terus memeluk Stella meski wanita itu terus berontak, ia mengelus lembut punggung Stella dan tak henti menciumi rambutnya. Perlahan Stella berhenti berontak, tangisnya pecah di dalam pelukan Xander. Saat Stella sudah mulai tenang, Xander mengurai pelukannya, ia mengusap lembut air mata Stella yang terus mengalir.
"Biarkan aku pulang, lepaskan saja aku ..." ucap Stella lirih, pandangannya tampak begitu sayu dan sangat lelah.
"Tidak Sayang, tidak ada yang perlu di lepaskan. Maafkan aku selalu membuatmu kecewa, aku minta maaf karena sudah sangat keterlaluan padamu. Tolong, beri aku satu kesempatan saja, biarkan aku memperbaiki segalanya. Aku sudah tidak punya hubungan apapun dengan dia, tolong maafkan aku ..." pinta Xander menggenggam erat Stella, tatapan matanya lurus dan juga serius. Ia ingin membuat Stella mengerti jika dia sudah menyesali semuanya.
Stella tersenyum namun ia menangis, ia menarik tangannya lembut. "Pulanglah, Mama pasti mencari mu, biarkan aku di sini bersama anak kita. Aku pasti akan menjaganya sangat baik nanti," ucap Stella menahan sakit di hatinya saat mengatakan hal itu.
Xander tak bisa membendung air matanya, ia langsung menjatuhkan dirinya ke lantai dan duduk bersujud di kaki Stella.
"Ampuni aku Stella, jangan meminta berpisah dariku. Aku benar-benar menyesali semuanya, tolong berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Aku janji tidak mengganti semua luka yang pernah aku lakukan," ucap Xander menangis memohon pengampunan kepada Stella.
"Berikan aku kesempatan itu Stella, aku hanya mencintaimu, aku tidak sanggup jika kau meminta berpisah dariku. Lebih baik, kau membunuhku saja Stella, jangan tinggalkan aku lagi," Xander benar-benar sangat menyesali perbuatannya. Penyesalan itu memang sudah sangat terlambat, dan ia hanya bisa memohon kebaikan hati Stella untuk memaafkannya.
Stella ikut menangis melihat Xander yang bersujud di bawah. Apakah pria itu benar-benar menyesal dan akan menepati semua janjinya?
"Simpan saja janjimu itu Xander, aku sudah muak dengan semua sikapmu. Kenapa kau mempersulit semuanya? Kau sudah menolak ku, tetaplah membenciku seperti saat dulu. Jangan kembali datang hanya memberi harapan semu," ucap Stella tak ingin semudah itu memaafkan Xander hanya karena pria itu bersujud padanya.
Padahal sejatinya, cinta dalam dirinya masih sangatlah indah untuk pria ini. Tapi luka yang dibuat Xander benar-benar menjadi trauma tersendiri untuk Stella.
__ADS_1
"Aku menyesal Stella, berikan aku satu kesempatan untuk membuktikan semuanya. Aku janji tak akan menyakitimu lagi," ucap Xander semakin menangis meraung, ia tak mau jika Stella akan pergi meninggalkannya lagi. Ia benar-benar sudah jatuh cinta terlalu dalam pada sosok wanita ini.
"Apa kau bisa memegang janjimu itu?" ucap Stella mencoba melihat keseriusan di mata Xander.
"Kau boleh membunuhku jika aku sampai melupakannya," ucap Xander tegas dan lantang.
"Akan aku lakukan, bahkan aku akan membunuhmu dengan kedua tanganku sendiri," ucap Stella ketus.
"Aku lebih rela kau membunuhku dari pada kau meninggalkanku. Stella, kembalilah padaku, mari membangun semuanya dari awal, aku mencintaimu ..." ucap Xander kembali meraih tangan Stella dan menggenggamnya lembut.
"Aku tidak yakin kau mencintaiku," kata Stella mengerutkan dahinya, merasa aneh jika Xander tiba-tiba mencintainya.
"Kenapa tidak? Kau tahu, bahkan ikatan takdir kita sudah tercipta semenjak kita masih kecil. Saat kau belum tahu apa itu cinta, namun sebenarnya sudah tumbuh cinta di antara kita. Terima kasih, terima kasih sudah kembali padaku, terima kasih sudah menjadi Lalaku yang tidak pernah berubah," ucap Xander mencium kedua tangan Stella penuh cinta.
Stella terkejut mendengar ucapan Xander, apa ia tak salah dengar? Tadi Xander menyebutnya Lala? Apakah Xander ...
"Ya, aku sudah tahu semuanya. Maafkan aku tidak bisa mengenalmu. Tapi percayalah, hatiku padamu tidak pernah berubah sejak dulu, kau akan tetap menjadi Lala ku, dulu, sekarang dan selamanya," ucap Xander mengulas senyumnya hingga matanya yang sembab terlihat menyipit.
"Bullsit, kau saja tidak bisa mengenaliku," sergah Stella tersenyum sinis.
"Tentu saja tidak bisa, waktu kita bertemu dulu kau masih sangat kecil. Wajahmu juga sangat pas-pasan, apalagi kau juga sering ingusan,"ucap Xander meledek seraya memasang wajah pura-pura menyayangkan.
Mata Stella terbelalak lebar, ia menatap Xander dengan tatapan kesalnya. Berani-beraninya pria itu meledeknya ingusan.
"Biarkan saja! Yang penting aku tidak merugikan orang lain," kata Stella melipat kedua tangannya di atas perut, wajahnya tampak sangat kesal karena Xander meledeknya.
__ADS_1
Xander tersenyum kecil, ia bangkit dari duduknya lalu kembali menarik tangan Stella. Ia merapikan rambut Stella meski wanita itu memasang wajah bete.
"Apasih, pergi saja sana. Jangan dekat-dekat wanita yang punya wajah pas-pasan sepertiku," ucap Stella ngambek.
"Jangan marah, aku kan mengatakan itu dulu. Sekarang, kau satu-satunya wanita paling cantik di dunia ini. Dan kau, satu-satunya wanita yang ada di hatiku," ucap Xander mengulas senyum manisnya, kata-katanya terdengar begitu gombal, tapi semua itu tulus dari dalam hatinya.
Kecantikan Stella bukan cantik yang cantik banget, dia cantik namun juga sangat manis. Bagi orang yang melihatnya, pasti akan menolehkan kepalanya dua kali jika bertemu dengan Stella.
Wajah Stella bersemu merah mendengar ucapan receh dari Xander. "Apa kau yakin, hanya aku yang ada disini?" ucap Stella menunjuk dada Xander.
"Sangat yakin, tidak akan ada tempat sedikitpun untuk wanita lain termasuk Jo ..." ucapan Xander langsung terputus saat Stella tiba-tiba meletakkan telunjuk di bibirnya.
"Jangan menyebut namanya lagi," kata Stella masih sakit jika mengingat mantan kakak angkatnya itu.
Xander tersenyum kecil, ia mengambil tangan Stella lalu meletakkan di pipinya. "Maafkan aku, aku benar-benar sudah tidak punya hubungan apapun dengannya lagi," ucap Xander serius.
"Baiklah, kali ini aku bisa memaafkan mu, tapi jika lain kali kau mengulanginya lagi, aku tidak akan ..."
Stella belum sempat menyelesaikan ucapannya, tapi Xander sudah lebih dulu mencium bibirnya hingga ucapannya menguap begitu saja.
"Tidak ada lain kali, ini terakhir kalinya aku membuatmu menangis," kata Xander menarik tubuh mungil Stella ke dalam pelukan hangatnya.
Xander memeluk Stella sangat erat, helaan nafasnya sangat berat namun sangat lega karena Stella mau memberinya satu kesempatan. Ia bersumpah, akan memanfaatkan kesempatan ini baik-baik dan tak akan menyakiti Stella lagi.
Happy Reading.
__ADS_1
Tbc.