
"Kamu yakin udah nggak apa-apa? Kita ke Dokter dulu ya?"
Sejak meninggalkan restoran dari kota Bogor ke Jakarta, hal itu yang ditanyakan oleh Daniel berulang kali. Ia sangat khawatir karena Stella menolak terus, ia takut akan infeksi atau bagaimana jika tidak segera diobati.
"Enggak usah Kak, aku beneran nggak apa-apa, langsung antar pulang aja," ucap Stella benar-benar hanya ingin pulang dan tidur itu saja, masalah perutnya yang masih perih, ia akan mengobatinya sendiri nanti.
Daniel mengangguk, tak bisa lagi memaksa Stella karena wanita itu sudah dengan tegas mengatakan kalau tidak mau. Ia segera membawa mobilnya ke alamat yang Stella sebutkan.
"Kamu tinggal disini?" Tanya Daniel sedikit terkejut melihat bangunan Apartemen yang dimaksud Stella.
"Iya, aku langsung turun ya Kak. Makasih udah di anterin pulang," ucap Stella sedikit mengulas senyum tipisnya.
"Aku yang harus berterima kasih karena kamu udah mau nemenin aku. Mana kamu sampai luka kayak gini lagi," kata Daniel malah tak enak hati.
"Astaga Kak, aku beneran nggak apa-apa kok. Nggak perlu terlalu khawatir, Kak" ucap Stella meyakinkan kalau dirinya baik-baik saja.
"Ya, kalau ada apa-apa hubungi aku aja, nggak usah sungkan" ucap Daniel lagi.
"Siap, aku turun dulu ya kak, see you …" ucap Stella mengambil tasnya lalu turun dari mobil Daniel.
Daniel masih diam disana memastikan kalau Stella benar-benar sudah selamat masuk ke dalam Apartemennya. Namun saat ia akan memutar mobilnya, ia teringat akan sesuatu.
"Astaga! Bunga untuk Stella, bagaimana aku bisa melupakannya," Daniel menepuk dahinya, karena terlalu khawatir pada Stella ia sampai melupakan bunganya.
Daniel turun dari mobilnya, ia mengambil bunga juliet rose yang sudah disimpannya di jok belakang, lalu ia membawa bunga itu masuk ke dalam Apartemen. Daniel sedikit berdecak, lagi-lagi penyakit lupanya kambuh, ia tak tahu dimana unit Apartemen Stella.
"Selamat siang Tuan, apa ada yang bisa kami bantu?" sapa Resepsionis saat Daniel mendatanginya.
"Begini, saya ingin mengantarkan bunga ini kepada teman saya, tadi dia lupa membawanya saat kita keluar," ucap Daniel menunjukkan bunga yang dipegangnya.
"Baik, apa Anda sudah menghubungi teman Anda?" tanya Resepsionis tak bisa sembarangan memberikan informasi unit Apartemen ke sembarang orang.
__ADS_1
"Sudah tapi dia tidak mengangkat, aku akan mengantarkannya saja," kata Daniel terpaksa sedikit berbohong karena ia ingin mengantarkan sendiri bunga ini untuk Stella.
"Mohon maaf Tuan, permintaan Anda sepertinya tidak bisa kami penuhi. Jika memang berkenan, Anda bisa menitipkan bunga itu disini, nanti kami yang akan memberikannya kepada beliau. Siapa nama teman Tuan? Kami akan menghubunginya nanti," ucap Resepsionis itu lagi, memang sudah menjadi peraturan di Apartemen itu untuk tidak sembarangan menerima tamu demi kenyamanan penghuni Apartemen.
Daniel terdiam sebentar. "Stella, nama teman saya Stella Medison," kata Daniel terpaksa menyetujui peraturan yang ada.
"Baik, untuk Nona Stella ya? Tapi …" Resepsionis menghentikan ucapannya membuat Daniel menekuk dahinya.
"Kenapa?" tanya Daniel.
"Mohon maaf Tuan, tapi penghuni disini tidak ada yang bernama Stella," ucap Resepsionis setelah membaca semua nama penghuni Apartemen itu.
"Nggak ada? Coba cek lagi," kata Daniel terkejut dan juga bingung tentunya.
"Sudah Tuan, memang tidak ada penghuni yang bernama Stella di Apartemen ini. Apa mungkin menggunakan nama lain?" ucap Resepsionis yakin, semua data yang tertulis disana sangat akurat dan pastinya terpercaya.
Daniel menggelengkan kepalanya pelan, apakah Stella berbohong padanya? Tapi dia melihat sendiri kalau wanita itu masuk kesini. Jika Stella tidak tinggal disini, lalu Stella tinggal bersama siapa?
Daniel terus memikirkan hal yang menurutnya sangat janggal itu, ia sampai tidak sadar menabrak sosok orang lain yang ada didepannya.
"Apa kau tidak punya mata! Berjalanlah dengan benar!" bentak Xander sangat emosi karena bajunya jadi kotor akibat tabrakan itu, tanah dari bunga itu tak sengaja mengenai bajunya.
"Tuan Xander?" Daniel sedikit kaget saat melihat orang yang ditabraknya adalah Xander.
"Ternyata kau! Pantaslah begitu ceroboh, lain kali kalau jalan gunakan matamu!" sergah Xander semakin emosi melihat Daniel. Tanpa berkata apapun lagi, Xander segera pergi dari sana seraya mulut tak henti menggerutu.
Daniel mengerutkan dahinya, benar-benar heran dengan Xander. Pria itu sepertinya memiliki tempramen yang buruk sekali. Daniel heran kenapa Xander terlihat sangat tak menyukainya, seingatnya ia tak pernah punya masalah dengan pria itu.
*****
Xander masuk ke dalam Apartemen dan membanting pintu dengan keras. Seharian ini ia dalam mood yang buruk, kepalanya pusing dan perutnya mual entah karena apa, ia paling tidak bisa mencium bau yang cukup menyengat. Padahal biasanya ia tak seperti ini, sungguh aneh sekali rasanya.
__ADS_1
"Apa kau tidak bisa menutup pintu lebih pelan?" tukas Stella terlihat kesal karena terkejut mendengar suara pintu yang tertutup dengan sangat keras.
"Bukan urusanmu!" sahut Xander sedikit ketus, namun tidak dengan hatinya yang merasa senang saat bisa melihat wajah Stella.
"Ck, setidaknya sayangilah barang-barang mu, jika rusak nanti kau juga repot," kata Stella tak kalah ketusnya, ia langsung beranjak pergi daripada berdebat dengan Xander.
"Mau kemana kau?" sentak Xander menyusul Stella dengan cepat, ia masih belum puas melihat wanita itu kenapa malah pergi.
"Aku capek, ingin istirahat." Kata Stella singkat padat dan jelas, ia sudah makan dan minum obatnya, sekarang waktunya dia tidur.
"Siapa yang menyuruhmu istirahat? Urusan kita belum selesai" kata Xander menarik tangan Stella dengan keras hingga wanita itu membentur dada bidangnya.
"Apa yang kau lakukan?" pekik Stella terkejut.
Xander menatap Stella tajam, ia mengamati setiap sudut wajah cantik didepannya. Dengan bola mata bulat dan bulu mata lentik, pipinya yang memerah menggemaskan, terakhir bibir tipis merah jambu yang sudah lama sekali tak ia rasakan.
"Xander! Lepaskan aku!" sentak Stella berontak dari pelukan Xander.
Xander bergeming, ia terus menerus menatap Stella dengan sorot mata mendamba, ini benar-benar aneh. Semua rasa pusing, mual dalam dirinya seolah langsung lenyap begitu saja saat berdekatan dengan Stella.
Kali ini Xander lebih mengikuti hatinya, ia tanpa pikir panjang langsung memeluk Stella erat, mencium harum tubuh khas Stella yang menenangkan.
"Xander kau …" Stella membeku, ia bingung kenapa Xander tiba-tiba memeluknya. Tapi Stella ingat kalau ia sudah berjanji untuk tidak lagi peduli dengan Xander, jadi hal ini tidak bisa dibiarkan.
"Xander lepas! Apa yang kau lakukan!" Stella mendorong Xander dengan kuat hingga pelukan mereka terlepas.
Xander terkejut, ia menatap Stella tajam, namun wanita itu juga menatap Xander tak kalah tajamnya. Xander lalu mengusap wajahnya dengan kasar, mengutuk perbuatan impulsif nya yang sangat memalukan.
"Jangan berpikir macam-macam, aku hanya tidak sengaja memelukmu. Bersiaplah, kita akan langsung ke rumah Mama, aku tidak suka orang yang terlambat"
Xander langsung saja pergi setelah mengatakan hal itu. Sepertinya otaknya sudah tidak beres. Ia tak boleh membiarkan hal ini terus terjadi, tidak mungkin kan kalau dia …
__ADS_1
Happy Reading.
Tbc.