
Xander tiba di Apartemen Joana setelah 30 menit kemudian. Ia tidak turun dari mobilnya karena wanita itu sudah lebih dulu menunggunya di lobby. Mood Xander begitu buruk karena Joana yang mengomel tak jelas sejak pagi, apalagi kepalanya yang berdenyut pusing dan mual membuat Xander benar-benar tak ingin membuka mulutnya untuk sekedar berbicara.
"Kenapa nggak bukain pintu?" kata pertama yang meluncur begitu Joana masuk kedalam mobil.
"Udah?" Xander justru bertanya hal lain daripada melanggati kekesalan Joana.
Joana berdecak kesal, ia mendekatkan dirinya lalu mencium bibir Xander dengan cepat. Ia tahu jika Xander sedang dalam mood buruk, dengan sebuah ciuman pasti akan pria itu luluh.
"Masih pagi Jo, masih pagi," tapi Joana salah, Xander justru semakin tidak mood dan melepaskan tangan Joana yang melingkar di lehernya.
"Kenapa sih? Biasanya juga kayak gitu kan?" ucap Joana mengerucutkan bibirnya kesal.
"Nggak apa-apa, aku lagi sibuk banget hari ini, harusnya secepatnya ke kantor tapi kamu minta jemput dulu," ucap Xander melajukan mobilnya perlahan meninggalkan Apartemen Joana. Ia tak tahu jika ucapannya itu menyulut emosi Joana.
"Apa kamu bilang? Jadi kamu terpaksa jemput aku gitu?" ucap Joana berang.
"Apaan sih Jo, aku nggak mau ribut," kata Xander menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kamu nggak mau ribut tapi kamu bilang gitu ke aku, kalau kamu nggak bisa jemput aku ngomong aja, kenapa harus jemput segala? Kamu keberatan kan? Iya kan?" sergah Joana geram sekali.
"Enough, jangan berpikir aneh-aneh. Kamu ngerasa nggak sih Jo kalau hubungan kita itu udah toxic?" ucap Xander balas melirik Joana kesal.
"Toxic? Kamu bilang toxic? Wow, bukankah itu tidak lucu? Yang salah disini itu kamu ya Xander, apa kamu lupa gara-gara siapa kita batal menikah? Gara-gara kamu, kamu tidur bersama adikku dan menikahinya!" teriak Joana sangat marah kali ini.
"Oh, jadi aku disini yang salah? Oke fine, tapi kau juga harus ingat kalau aku sudah berulang kali memintamu menikah denganku lagi, tapi apa yang kau katakan? Kau selalu menolak dengan alasan omong kosong itu," kata Xander juga tersulut emosinya karena merasa dirinya tak bersalah dalam hal ini.
"Omong kosong? Baik, turunkan aku sekarang juga," kata Joana tak terima Xander menyebutnya seperti itu.
"Mau apa? Jangan gila kamu," kata Xander tak menggubris perkataan Joana.
"Aku bilang berhenti!" bentak Joana dengan suaranya tegas dan melengking.
Xander mendengus kesal, ia menuruti permintaan Joana untuk menepikan mobilnya.
"Mau kemana? Percayalah aku tidak akan mengejar mu kalau kau turun," ancam Xander melirik Joana tajam.
__ADS_1
Joana tak peduli, ia tetap turun dari mobil Xander dan membanting pintunya dengan keras. Ia adalah wanita yang paling tidak suka disalahkan, Xander seharusnya sangat tahu hal itu. Tapi pria itu salah karena sudah memancing emosinya.
Xander memukul setir mobilnya dengan sangat keras, sudah cukup rasanya ia mengalah pada Joana. Untuk kali ini dia tak akan diam saja, ia mungkin salah, tapi seharusnya Joana tahu kalau dirinya lebih memilih dia daripada Stella.
"Selamat siang Tuan Xander,"
Xander tak menggubris setiap karyawan yang menyapanya di kantor. Tatapan matanya lurus dan ekspresi wajahnya sangat dingin. Berjalan dengan mantap menuju ruang kerjanya.
"Tuan, Saya sudah membawa apa yang Anda minta," ucap Luke langsung menyambut kedatangan Xander.
"Apa yang kau dapatkan?" tanya Xander dingin tak bernada.
"Saya berhasil mendapatkan beberapa rekaman CCTV di Apartemen Nona Joana, tapi beberapa rekaman tidak terlihat jelas karena lokasi CCTV yang tidak strategis," ucap Luke mengikuti langkah Xander masuk ke dalam ruangannya.
Xander hanya diam saja, namun sebenarnya ia mendengarkan apa yang dikatakan oleh Luke. Xander segera duduk di kursi kebesarannya, menunggu Luke menyalakan laptop untuk memutar CCTV.
"Rekaman ini terjadi baru-baru ini, mungkin sekitar satu bulan yang lalu," ucap Luke menjelaskan CCTV pertama yang ia putar.
Di dalam rekaman itu, terlihat Joana datang sendirian ke Apartemen. Lalu tak selang berapa lama datang seorang pria ke Apartemen Joana.
"Benar, Tuan Marvin Bernando," sahut Luke membenarkan.
"Dia manager Joana, untuk apalagi dia kesana?" ucap Xander geram karena Marvin masih mendekati Joana di belakangnya.
"Saya kurang tahu Tuan, tapi setelah Tuan Marvin masuk kesana, beliau baru keluar setelah beberapa jam kemudian," kata Luke kembali memutar CCTV lain.
Dimana 4 jam kemudian Marvin pergi meninggalkan Apartemen Joana, lalu Xander datang kesana.
"Dia pergi sebelum aku datang," ucap Xander mulai menerka semua kejadian ini.
"Ya, Tuan" kata Luke menunjukkan lagi bukti rekaman CCTV yang lain.
Tatapan Xander mulai menggelap saat menyadari jika Marvin memang sering datang ke Apartemen Joana ketika dia tak ada, dan pergi sebelum dia kembali. Apakah benar kalau selama ini Joana bermain api di belakangnya.
"Apa masih ada lagi?" kata Xander sudah mengepalkan tangannya erat. Emosinya memuncak membayangkan jika kemungkinan Joana selingkuh adalah benar.
__ADS_1
"Anda akan tahu setelah ini," ucap Luke memutar CCTV terakhir yang menjadi kunci dari semua kecurigaan Xander.
Di rekaman CCTV itu, Joana dan Marvin tampak datang bersamaan. Keduanya sangat mesra dan beberapa kali terlihat berciuman panas. Marvin bahkan sudah meraba-raba tubuh Joana sebelum keduanya masuk ke dalam Apartemen.
"Brengsek!" umpat Xander begitu murka hingga membanting laptop itu menjadi hancur berkeping-keping.
Semua adegan itu sangat jelas di matanya dan Joana benar-benar sudah berselingkuh di belakangnya. Xander tak menyangka kalau wanita yang dia puja bisa melakukan hal gila seperti ini.
"Joana …" Xander menggeram marah menyebut nama wanita itu.
"Tuan,"
"Dimana wanita itu Luke? Cari wanita itu sampai dapat!" perintah Xander dengan aura kemarahan yang kental. Rasa sakit hati karena dikhianati membuat Xander benar-benar membuat murka.
Di dunia ini hanya ada satu orang yang tak akan Xander maafkan kesalahannya. Yaitu seseorang yang sudah berani mengkhianatinya. Ia tak akan melepaskan wanita itu meski Joana akan mengemis ampun padanya.
*****
Xander melangkahkan kakinya tegas menuju kantor Entertainment dimana Joana berada. Anak buahnya sudah mendapatkan lokasi wanita itu dengan mudah dan Xander tak membuang waktunya lagi.
"Tuan Xander," ucap Regan sang supervisor di kantor tersebut. Ia sudah cukup mengenal Xander dekat karena pria itu sering menjemput Joana.
"Aku ingin menemui Joana, dimana dia?" ucap Xander menekan emosinya yang sudah di ubun-ubun.
"Joana masih ada pemotretan bersama Tuan Marvin, mungkin sebentar lagi akan kembali, tunggu saja," kata Regan melihat jam di tangannya.
"Baiklah aku akan menunggu," kata Xander mengangguk singkat. Ia lalu menatap Regan serius. "Regan, tolong jangan katakan pada Joana kalau aku datang," ucap Xander.
"Oh, baiklah, ada apa memangnya?" tanya Regan sedikit penasaran.
"Aku ingin memberi kejutan," ucap Xander tersenyum misterius.
Happy Reading.
Tbc.
__ADS_1