Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
(MM&GL) BAB 13. Sampai Kapanpun Tidak Akan Bisa Merubah Diriku.


__ADS_3

Mendengar suara berat dari Devan itu sontak membuat jantung keduanya seperti ingin terlepas dari tempatnya. Baik Felix maupun Joana langsung menoleh kearah sumber suara dan melihat Devan berdiri dengan raut wajahnya yang seperti biasa, dingin dan datar.


"Dev," ucap Felix terbata-bata.


"Bantuan apa yang kalian bicarakan?" Devan langsung bertanya to the point, ia juga tak henti menatap wajah keduanya dengan tajam.


"Bantuan ... ah jika Joana ingin tahu apapun tentang Mega, aku bisa memberikannya bantuan untuk mengingatnya. Karena dulu kita sering bersama," jawab Felix mencari alasan yang logis.


Joana mengendurkan bahunya yang tegang mendengar alasan itu, ia berharap kalau Devan akan percaya nanti.


"Siapa Joana?" Devan. "Maksudmu wanita ini? Dia adalah istriku, Mega." Devan menunjuk Joana dan menegaskan tentang siapa wanita itu sebenarnya.


Joana menggigit bibirnya, ia melirik Felix yang juga tampak menatapnya itu. Pastilah Felix kaget, Devan memang sudah sepenuhnya menganggap kalau Joana adalah Mega. Pria itu tidak mengenal tentang Joana, yang dia tahu hanya tentang Mega.


"Ya, maksudku Mega." Felix mengiyakan saja apa yang dikatakan oleh Devan. "By the way, hari ini kalau kamu sibuk, aku akan mengantar Mega pulang," ucap Felix.


"Aku memang sibuk," kata Devan. "Tapi bukan berarti tidak ada waktu untuk mengantar istriku pulang," lanjutnya seraya memberikan lirikan tajam pada Felix.


"Hahaha, terdengar sangat lucu, Devan. Kamu lupa bagaimana dulu kamu sering mengacuhkan Mega? Bahkan di hari ulang tahunnya kamu malah sibuk bekerja," ucap Felix dengan sinisnya.


Devan bungkam, sekelebat bayangan masa lalunya kembali memenuhi otaknya. Ia menggelengkan kepalanya, lalu menatap Joana.


"Mau pulang sekarang?" tanya Devan memilih mengabaikan ucapan Felix yang membuat hatinya terusik.


"Ehm, kalau kamu memang sibuk, aku bisa pulang bersama supir, Dev. Aku-"


"Tidak ada kata sibuk jika untukmu, Mega. Kamu pasti merasa tidak nyaman disini, aku akan mengantarmu pulang saja."


Dengan cekatan Devan mengangkat Joana lalu meletakkannya di kursi roda. Ia merasa hatinya benar-benar terusik karena ucapan Felix tadi. Mengingat-ingat, apakah memang ia sesibuk itu dulu sampai tidak ada waktu untuk calon istrinya sendiri?


'Itu dulu, sekarang aku akan memberikan seluruh waktuku untuk, Mega. Maafkan aku, Mega.'


_______


Malam harinya, Joana tampak sedang melukis diatas ranjang. Mengisi waktu membosankannya dengan melukis.


Devan memang memperbolehkan Joana melukis, asalkan itu tidak membuat Joana kecapekan atau menjadi melupakan tugasnya untuk mengurus Devan atau memberikan perhatian pada pria itu.


Saat Joana sedang asyik melukis, tidak sengaja kuasnya malah terjatuh, membuat ia menghentikan aktivitasnya.


"Ahhh, kenapa harus jatuh segala?" Joana menggerutu kesal.


Joana mengulurkan tangannya ke bawah untuk mengambil kuasnya yang jatuh. Tapi ia tidak menemukannya, sepertinya jatuh ke kolong kasur.


Joana mau tidak mau harus berusaha untuk turun, ia menggeser kakinya perlahan-lahan secara bersamaan lalu berpegangan pada ranjang. Joana melirik ke bawah kolong, dan ternyata memang jatuh kesana.

__ADS_1


"Shhhh, memang sangat merepotkan." Joana kembali menggerutu, ia mau tidak mau harus sedikit menundukkan tubuhnya agar bisa menggapainya.


Namun, Joana yang tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya malah terjatuh ke lantai.


"Aduh ...." Tubuh Joana tanpa ampun menghantam lantai dengan keras, ia kembali merasakan nyeri di kakinya.


'Kenapa kakiku sudah mulai bereaksi dan merasakan sakit? Apa itu tandanya kalau kakiku sudah mulai ada perkembangan?'


Joana berpikir keras, ia benar-benar yakin kalau nyeri di kakinya ini pasti ada kaitannya dengan kelumpuhan yang dideritanya. Joana merasakan sakit itu sampai ke punggungnya, benar-benar seperti sudah normal kembali.


'Apa aku coba berjalan?'


Joana melirik sekelilingnya yang tampak masih sepi, Devan juga belum pulang ke rumah. Itu artinya Joana sedikit lebih leluasa untuk berlatih.


Joana perlahan-lahan bangkit dengan berpegangan pada ranjang. Ia mencoba menggunakan kakinya sebagai tumpuan, tapi ternyata tidak semudah yang Joana kira. Wanita itu harus menahan sakit yang luar biasa di kaki sampai ke punggungnya.


'Ayo Joana, kamu pasti bisa.'


Joana menyemangati dirinya sendiri, ia mengabaikan keringat yang membasahi tubuhnya dan terus berusaha untuk berdiri sendiri.


Namun, hasilnya masih gagal, kaki Joana terlalu sakit sehingga ia tidak mampu untuk berdiri sendiri. Joana menangis, menangisi nasibnya yang begitu buruk. Apakah boleh ia meminta itu terlahir kembali menjadi Joana yang baru? Joana ingin merubah hidupnya menjadi lebih baik lagi.


"Bodoh! Seharusnya dulu aku tidak serakah! Aku sangat jahat kepada seseorang yang sudah menganggapku seperti saudaranya sendiri. Aku memang bodoh!" Joana menangis memukuli kepalanya sendiri, mengutuk kebodohannya yang dulu bersikap sangat kejam pada Stella.


"Mega, apa yang kamu lakukan?"


Devan yang baru saja datang kaget melihat Joana menangis seraya memukuli dirinya sendiri. Ia bergegas berlari dan menahan tangan wanita itu untuk menghentikannya.


"Lepaskan aku, Dev. Aku hanya wanita jahat yang sangat serakah. Aku ingin mati!" jerit Joana histeris, ia mendorong Devan agar menjauh darinya.


"Apa yang kamu katakan? Jangan pernah berpikir untuk mati, Mega. Aku mencintaimu, jika kamu marah, hukum saja aku. Tapi jangan memilih mati, aku sangat mencintaimu, Mega." Devan memeluk Joana sangat erat.


Luka yang dirasakan Joana belum sembuh, tapi kembali disiram garam oleh kata-kata Devan yang menyebutnya sebagai Mega. Ia ingin sekali berteriak kalau dirinya bukan Mega, tapi Joana!


"Kamu kenapa menangis seperti ini? Siapa yang mengatakan kalau kamu jahat? Justru aku yang jahat padamu selama ini, maafkan aku, Mega." Devan semakin mengeratkan pelukannya, merasa menyesal jika ingat sikapnya yang sangat kasar pada Mega.


Devan sudah berusaha keras untuk mengontrol dirinya sendiri, tapi setiap ia marah, kemarahannya benar-benar tidak bisa dikendalikan. Jangankan melukai orang, melukai dirinya sendiri saja Devan sering.


"Kamu tidak perlu menangis lagi, katakan saja padaku siapa yang telah menyakitimu. Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri," kata Devan memandang Joana begitu serius.


Joana tersenyum sinis disela-sela tangisnya, ia balas menatap Devan tajam.


"Tidak perlu membalasnya, cukup berikan aku pistolmu, aku sendiri yang akan membalaskan dendamku," ucap Joana.


"Apa maksudmu? Apa kamu meremehkan kemampuanku?" Devan sang sumbu pendek itu kembali marah.

__ADS_1


"Tidak, aku tahu kamu memang hebat. Bahkan sangat hebat, menjadikanku anak yatim dalam satu malam dan menghancurkan seluruh mimpiku. Kamu memang manusia terkejam Devan! Jika kamu ingin membalaskan dendamku, maka bunuh dirimu sendiri, itu yang membuatku sangat puas!"


Joana kali ini tidak berpura-pura lagi, menunjukkan kebenciannya pada Devan agar pria itu sadar dengan apa yang dilakukannya itu salah.


"Nada bicaramu terlalu tinggi, Mega. Kamu tahu, aku tidak suka-"


"Tidak suka jika aku melawanmu begitu? Baik, mulai sekarang aku akan diam. Mungkin saat ini kamu bisa memiliki ragaku dan merubahku menjadi orang lain. Tapi sampai kapanpun, aku bukan Mega, tapi orang lain."


Ucapan Joana itu menyulut emosi Devan kembali, pria itu tak segan langsung menarik tangan Joana hingga tubuh mereka kembali bersentuhan.


"Setidaknya itu lebih baik, aku lebih rela melihatmu setiap hari meskipun hatimu tidak pernah untukku daripada aku melihatmu mati."


Seperti yang sudah-sudah, Devan langsung melakukan hal yang sering ia lakukan jika ia marah. Devan akan menyentuh Joana sangat liar dan kasar. Biasanya Joana sampai harus mendapatkan perawatan karena perlakuan kasar Devan.


Joana memang dulu adalah wanita berpengalaman, tapi jika bersama Devan, Joana harus mengakui kalau dirinya harus bertekuk lutut. Tidak sanggup untuk mengimbangi Devan yang merupakan pemain handal serta stamina prime.


_________


Joana terbangun saat matahari sudah meninggi, ia kembali harus mendapatkan infus karena kondisinya yang lemah setelah Devan menyentuhnya kembali.


'Sebenarnya tubuhnya itu terbuat dari apa?'


Joana sampai heran, kenapa Devan bisa begitu kuat. Bahkan Devan bisa menyentuhnya selama 8 jam tanpa henti. Sedangkan ia sudah tidak mengingat apapun, ia hanya mengingat ia sudah mendapatkan pelepasannya yang entah keberapa kalinya.


"Permisi, Nona." Tita sang pelayan pribadi Joana terlihat masuk ke dalam kamar, wanita itu sudah tidak kaget jika melihat Joana selalu terbangun dengan kondisi acak-acakan seperti itu.


"Apa perintah Tuanmu kali ini?" Joana bertanya seraya melirik pelayan itu dengan malas.


"Tuan Devan tidak berpesan apapun, hanya meminta Anda untuk makan dengan tepat waktu dan hari ini Tuan Devan memberikan Anda waktu free untuk berjalan-jalan," ujar Tita.


"Waktu Free?" Joana menegakkan tubuhnya, apakah ia tidak salah dengar?


"Benar, nanti Anda akan ditemani oleh Tuan Felix jika ingin."


"Felix?" Joana kembali terkejut, kenapa Felix bisa dengan mudah mendapatkan izin untuk membawanya pergi?


"Iya, Nona. Apakah Anda bersedia? Saya akan-"


"Aku bersedia, aku bersedia." Joana langsung menyela tanpa menunggu Tita menyelesaikan ucapannya.


Joana tentu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang sudah terbuka di depan mata.


'Felix? Apa benar dia ingin membantuku?'


__ADS_1


__ADS_2