
Felix memandang Devan bingung, tapi sesaat kemudian ia seperti menyadari sesuatu. Ia berdehem pelan untuk menormalkan detak jantungnya.
"Aku juga tidak suka menebak-nebak. Katakan saja, ada apa?" kata Felix, tidak ingin terjadi blunder, lebih baik dia bertanya saja.
Devan tersenyum sinis, ia mengambil rokoknya lalu duduk didepan Felix. Kali ini ia yang bersikap santai, tapi sorot matanya tidak berubah sama sekali.
"Ternyata benar, musuh yang paling susah ditangkap adalah musuh dalam selimut. Mereka seolah ikut berada di pihak kita, mengajak kita bermain ke tepian jurang, lalu saat kita lengah dia akan mendorongnya," ucap Devan seraya menikmati rokoknya, asap tampak mengepul disekitar wajahnya.
"Siapa lagi orang yang ingin mengkhianatimu? Mereka pasti sudah tahu bagaimana sifatmu, Dev. Aku rasa mereka tidak akan berani," sahut Felix, malah berpikir jika Devan kembali dikhianati anak buahnya.
"Seharusnya seperti itu, tapi melihat caranya. Sepertinya dia tidak takut denganku," kata Devan semakin mengembangkan senyum sinisnya.
"Selagi dia tidak bertindak terlalu jauh, biarkan saja dulu. Apa hanya ini saja yang ingin kamu katakan? Hari ini aku sibuk sekali, aku juga ada janji bertemu seseorang," ujar Felix berusaha menenangkan.
"Bertemu dengan Dokter yang akan memberikan pelatihan kepada istriku, begitu Felix?"
Skakmat! Devan langsung mencetuskan Boomerang yang sudah Felix buat sendiri. Pria itu kini menatap Felix dengan sorot mata membunuh.
Felix begitu kaget, ia menelan ludahnya kasar. "Apa maksudmu, Dev? Dokter apa? Pelatihan?" ucap Felix berpura-pura tidak tahu apapun.
Devan begitu geram, ia langsung saja mengeluarkan ponsel kecil dan obat yang disembunyikan oleh Joana lalu melemparnya tempat dihadapan Felix.
Sumpah demi apapun, saat ini jantung Felix berdetak sangat kencang. Ia tidak menyangka jika Devan akan mengetahui semua rencananya. Tapi, bagaimana bisa secepat ini? Bukankah Joana sudah menyimpan semua barang yang diberikannya?
"Katakan, apa maksudmu melakukan ini? Jawabanmu yang menentukan sikapmu nanti," tukas Devan menatap Felix terus menerus dengan sorot mata yang begitu tajam.
"Aku hanya ingin membantunya sembuh," jawab Felix.
"Kamu serius itu adalah tujuanmu? Bukan untuk menarik simpatinya agar dia berpihak padamu dan pergi meninggalkan aku?" sergah Devan dengan gigi gemeletuk.
"Dev, apa-apaan ini? Aku hanya murni ingin membantunya, dia seharusnya bisa berjalan seperti perempuan lainnya. Tapi apa? Dia justru terkurung di sangkar emasmu dan terus kamu paksa menjadi orang lain. Apa kamu-
__ADS_1
"ITU BUKAN URUSANMU!" hardik Devan melempar berkas-berkas Felix yang tertata dimeja ke lantai dengan keras. Suaranya sangat keras hingga menggema di ruangan sepi itu.
"Aku melakukannya karena rasa kemanusiaan! Seharusnya kamu yang berhenti melakukan hal bodoh ini. Dia tidak akan berubah menjadi Mega sampai kapanpun, Dev! Seharusnya kamu sadar itu!" Felix balas berteriak, sudah lelah mengingatkan Devan yang terus terobsesi pada Joana.
"Sial! Manusia memang tidak ada yang bisa dipercaya. Apa masalahmu sebenarnya, ha?"
Devan mengumpat marah, ia bangkit dari duduknya lalu menghampiri Felix dan mendorong bahu pria itu dengan kasar.
"Aku tidak suka kamu menjadikan dia Mega, karena dia bukan Mega. Dia juga berhak menentukan hidupnya sendiri," ucap Felix mencoba tenang meski saat ini ia sudah terpojok.
"Hidupnya adalah bersamaku. Dan apa kamu bilang? Dia bukan Mega? Tapi aku tidak peduli, aku akan terus menganggapnya Mega karena dia memang Mega," desis Devan terus bergerak maju mendekati Felix.
"Berhenti mempermainkannya. Kamu sudah membuat hidupnya menderita dengan merubahnya menjadi orang lain. Apa sekarang kamu ingin menjadi orang yang begitu kejam dengan memperdaya dia dengan kata cinta?" sergah Felix cukup emosi jika mengingat rencana Devan yang ingin menjerat Joana dengan cintanya agar tidak punya keinginan untuk kabur darinya.
"Kamu terlalu banyak bicara, Felix. Biar kuberi pilihan, mau wajah, lengan atau kaki?" Devan sudah sangat muak, ia langsung mengeluarkan pisau yang selalu ia bawa kemana-mana dan mengacungkannya kepada Felix.
"Dev, apa ini?" Felix mengangkat tangannya, terkejut tentunya jika Devan akan melakukan ini.
"Kamu sudah mengenalku sejak umurku 10 tahun. Kamu tahu aku sangat membenci pengkhianat, sekarang kamu ingin menjadi bagian dari mereka dengan bermain api dengan istriku?" sinis Devan.
BUGH
Devan tak suka berbasa-basi atau mengancam, ia langsung menghantam kepala Felix bogem mentah hingga pria itu terjengkang ke belakang. Belum puas sampai disitu saja, Devan juga menendang ulu hati Felix sampai pria itu terbatuk-batuk.
"Sebelum kamu bertindak, seharusnya kamu sudah tahu apa resiko yang akan kamu dapatkan. Tadi aku bertanya, memilih wajah, lengan, atau kaki? Tapi kamu tidak memilihnya, baiklah, sekarang aku sendiri yang akan menentukan."
Sretttttttttttt!!
Crakkkkkkkkk!!
Tanpa ancaman atau peringatan apapun, Devan langsung menyabet wajah Felix dengan pisaunya hingga wajahnya menganga dengan darah yang mengalir ke bawah membasahi lantai.
__ADS_1
"Arghhhhhhhh!" Felix berteriak sekeras mungkin, rasa pedih dan ngilu itu secara langsung ia dapatkan.
Devan berdiri membelakangi Felix dengan memegang pisau yang masih berlumuran darah. Pria itu sama sekali tidak peduli mendengar suara jeritan sahabatnya yang begitu menyayat hati.
"Pengkhianat memang pantas dilukai, jika tidak ingat janjiku pada Ayahmu, hari ini ku pastikan menjadi hari terakhirmu bernapas," ujar Devan dengan geraham mengetat, seolah belum puas hanya membuat wajah tampan Felix terluka.
Felix menangis bercampur merintih, ia memegang pipinya yang terluka. Tapi ia masih bertahan, ia memandang Devan penuh kebencian.
"Kamu tahu Dev, bahkan sepotong besi yang kuat bisa hancur karena karatnya sendiri. Seperti itulah yang akan terjadi padamu nanti, kamu akan hancur karena kesombonganmu sendiri!" teriak Felix antara marah dan tidak berdaya.
Devan tertawa mendengarnya, ia berbalik lalu menendang pelan kaki Felix.
"Dan kamu juga harus tahu, jika tidak semua besi itu murahan. Sampai sejauh ini, apa kamu paham?" ucap Devan mengangkat dagunya dengan angkuh.
Felix tidak bisa menjawabnya, tapi ia memegang tangannya dengan kuat untuk melampiaskan rasa nyeri diwajahnya.
"Hentikan Dev, jangan menyakitinya lagi," kata Felix jelas cari mati.
"Oh shittttt! Membiarkanmu hidup sepertinya keputusan yang salah. Aku akan-"
Devan sudah bersiap untuk melibas habis Felix, tapi pintu ruangan itu terbuka membuat ia mengurungkan niatnya.
"Tuan!" Asisten Felix langsung berteriak begitu melihat kondisi Tuannya yang berdarah-darah.
Devan berdecih pelan, kesenangannya seolah terganggu dengan tikus pengacau itu. Ia segera bangkit dan membersihkan bajunya lalu beranjak pergi seolah tidak terjadi apapun.
"Tuan," panggil Ken.
"Kita pergi, aku sudah memberinya pelajaran. Dia tidak akan buka mulut," sergah Devan sudah paham apa yang akan dikatakan oleh asistennya itu.
Devan tidak peduli jika Felix nantinya akan melaporkan dirinya ke polisi atau bagaimana, yang terpenting ia sudah menuntaskan keinginannya sekaligus memberikan peringatan pada Felix jika jangan coba-coba bermain dengannya seorang Devandra Dawson.
__ADS_1
'Jika sepotong besi akan hancur dengan karatnya sendiri, aku tidak peduli. Itu artinya sudah menunjukkan seberapa kuatnya aku, tidak akan ada yang bisa menghancurkan diriku, selain diriku sendiri.'
__________