Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
(MM&GL) BAB 45. Masih Ragu.


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Devan tiba-tiba saja menarik Joana ke dalam kamar dan mencium wanita itu dengan sangat liar. Devan seperti seorang yang sedang kehausan di gurun pasir saat mencium Joana, ia tak segan menyedot bibir wanita itu hingga menimbulkan suara berdecak.


"Dev," panggil Joana mencoba melepaskan tautan bibir mereka, ada banyak hal yang perlu mereka bicarakan, kenapa Devan justru menyerangnya seperti ini.


Devan tidak menghiraukannya, ia justru menenggelamkan wajahnya dileher Joana dan sesekali menggigitnya kecil. Menjilatinya sehingga membuat Joana ikut terpancing.


"Katakan padaku, kenapa kamu menghubungi dia?" bisik Devan seraya mengigit telinga Joana.


"Dia siapa? Felix?" Joana mengigit bibirnya untuk menahan desa hannya, ia berusaha untuk tetap waras meskipun digempur dengan sentuhan-sentuhan yang membabi buta.


"Jangan menyebut namanya!" Devan mendadak kesal, ia tanpa peringatan mengigit bahu Joana dengan cukup kuat sehingga langsung membiru.


"Arghhhhhhhh, sakit Dev!" pekik Joana, perih tentunya karena digigit keras seperti itu.


"Minta maaflah padaku, dan berjanjilah untuk jangan menemuinya lagi," ujar Devan menatap Joana dengan tajam.


"Aku minta maaf." Joana menurut, ia tahu jika Devan bisa semakin marah kalau ia tidak menurut. "Aku benar-benar minta maaf, aku menghubunginya hanya murni karena ingin membantumu keluar. Aku sangat mengkhawatirkanmu, Dev. Kamu pasti tahu apa yang aku rasakan," lanjut Joana dengan nada yang paling serius yang pernah terdengar.


"Apapun alasannya, kamu tetap tidak boleh dekat dengan dia, ingat itu." Devan tidak mau mendengarkan sama sekali, ia terlalu cemburu dengan kedekatan Joana dengan Felix.


Hal itu memicu Devan untuk membuat Joana bertekuk lutut padanya dan tidak pernah punya keinginan untuk meninggalkannya. Devan ingin menunjukkan keunggulannya kepada Joana agar wanita itu tahu jika Devan lebih segalanya dari Felix.


Joana ingin kembali menjelaskan, tapi Devan sama sekali tidak memberikannya celah untuk berbicara. Pria itu kembali menciumnya dengan liar dan tangannya bergerak menggerayangi tubuhnya dengan gerakan sen sual.


Joana memejamkan matanya, mencoba untuk tetap waras, tapi tentu tidak semudah itu. Ia adalah wanita normal, tubuhnya bergetar dan seperti tersengat aliran listrik saat Devan mencium, mera ba dan menjelajahinya dengan gerakan selembut sutra. Devan membuat Joana meninggalkan bumi barang sesaat.


"Devan ... lakukan sekarang juga." Joana sampai tidak tahan dan mengeluarkan suara lembut mendayunya. Ia merasakan sesuatu dalam dirinya akan segera meledak.


Devan tersenyum tipis, bukannya menuruti keinginan Joana, Devan justru menghentikan apa yang dilakukannya. Sehingga membuat Joana begitu terkejut.


"Dev." Sungguh Joana rasanya begitu frutasi saat Devan menghentikan sentuhannya.


"Itu hukuman untukmu, cobalah sekali saja mendekatinya lagi. Kamu akan tahu apa yang akan aku lakukan," kata Devan segera menjauhkan dirinya dari Joana yang kini sudah setengah telanjang dan wajah memerah menahan hasratnya.


Joana menatap Devan tak percaya, ia mengepalkan tangannya tanpa sadar. Matanya pun sontak berkaca-kaca akan perlakuan Devan ini. Semua itu benar-benar seperti penghinaan bagi Joana dan membuat hatinya begitu terluka.


"Kamu memang keterlaluan, Dev. Apakah aku serendah itu dimatamu?" lirih Joana, ia mencoba menutupi tubuhnya yang terekspos dan penuh bercak kemerahan karena ulah Devan.


"Aku hanya ingin kamu tahu. Tidak ada satu orang pun yang boleh kamu pikirkan selain aku," tukas Devan, mencoba menahan dirinya agar tidak terpancing saat melihat Joana yang sangat seksi itu.


Joana tersenyum kecut mendengarnya. "Ya, aku tahu memang tidak semudah itu membuatmu percaya padaku. Semua yang aku lakukan dan segala rasa khawatirku sepertinya tidak akan membuatmu percaya. Aku mengerti, Dev. Apa aku perlu membunuh diriku atau merelakan nyawaku agar kamu bisa mempercayaiku?" ucap Joana memandang Devan dengan tatapan penuh luka.


Joana mungkin wanita murahan, tapi yang dilakukan Devan ini benar-benar sangat melukai dirinya. Semua yang ia lakukan adalah demi Devan. Bahkan ia rela memaafkan Devan meskipun telah membunuh ibunya. Tapi nyatanya semua itu tidak bisa membuat Devan mempercayai dirinya.

__ADS_1


Devan mengusap wajahnya, lagi-lagi ia merasa bersalah. Ia mendekati Joana untuk meminta maaf, tapi wanita itu memilih untuk menghindar dengan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Aku minta maaf," kata Devan.


Joana tidak menyahut, ia lebih memilih menangis dalam diam. Mengigit bibirnya kuat-kuat agar suara tangisnya tidak terdengar.


"Aku benar-benar minta maaf atas perlakuanku tadi. Aku minta tolong padamu, cobalah untuk memahami diriku. Aku selalu terlambat menyadari perasaanku. Aku butuh kamu untuk selalu mengingatkan aku, Joana." Devan kembali berbicara, kali ini mengulurkan tangannya untuk mengusap tubuh wanita itu.


Joana tidak menyahut, ia benar-benar sangat kesal sekali kepada Devan. Ia tidak akan berbicara pada pria itu sebelum Devan benar-benar sadar akan kesalahannya.


"Joana," panggil Devan.


"Aku capek, Dev. Pengen tidur," sahut Joana dengan nada datarnya.


Devan mengulum bibirnya, ia menarik tangannya kembali saat mendengar ucapan Joana. Sepertinya ia benar-benar sangat keterlaluan sekali membuat Joana seperti ini.


"Baiklah, kamu boleh marah padaku karena aku memang bersalah. Aku akan menunggumu sampai kamu memaafkan aku dan hatimu lebih tenang," ucap Devan.


Lagi-lagi Joana tidak menyahut dan Devan mengerti, ia mendekati Joana lalu mencium pelipisnya.


"Maafkan aku, sekarang beristirahatlah. Aku akan menunggumu," bisik Devan.


Joana tidak menggubrisnya, biarkan saja Devan terus merasa bersalah. Pria itu memang sangat kejam dan tidak peka. Kenapa bisa Devan terus berpikiran jika ia akan pergi? Apakah Devan masih belum melupakan masa lalunya?


__________


Joana lalu beranjak dari kasurnya, ia segera mencuci mukanya lalu keluar kamar. Perutnya cukup lapar juga karena hanya makan sedikit tadi pagi. Kini cacing diperutnya sudah mulai berdemo meminta diisi.


Joana langsung keluar kamar, akan tetapi ia terkejut saat melihat Devan duduk didepan pintu kamarnya. Pria itu seperti menahan kantuknya disana.


"Devan! Untuk apa kamu disini?" tanya Joana.


"Bagaimana? Apakah hatimu sudah mulai tenang?" Devan bukannya menjawab justru balas bertanya, ia memandang Joana dengan tatapan yang tidak biasa.


Joana mengerutkan dahinya, tapi sedetik kemudian ia membesarkan matanya. Ia memandang Devan yang terlihat sangat mengantuk itu.


"Jangan bilang sejak tadi kamu ada disini?" sergah Joana.


"Aku sudah bilang akan menunggumu. Aku benar-benar minta maaf, aku sadar jika aku sangat keterlaluan. Aku tidak bisa memahami apa yang kamu rasakan, maafkan aku," ucap Devan dengan tampang bersalahnya.


Joana sebenarnya iba, dan rasa marahnya tadi sudah menguap begitu saja. Tapi ia tidak mau membuat jalan Devan mudah. Enak saja, sudah memainkan dirinya sesuka hati, sekarang justru langsung meminta maaf.


"Aku tidak yakin orang sepertimu benar-benar bisa meminta maaf, Dev. Sudahlah, aku memang bersalah karena lancang bertemu dengan pria lain dibelakangmu, aku yang minta maaf," celetuk Joana.

__ADS_1


"Tidak, tidak, aku sudah sadar akan kesalahan aku. Tapi aku juga tidak membenarkan kamu bertemu dengan dia, aku tidak rela," kata Devan.


"Kenapa tidak rela? Aku dan tidak punya hubungan apapun. Lagipula bagaimana mungkin kamu berpikir aku bisa mencintai dia, bukankah aku sudah memiliki kamu yang lebih dari dia?" tukas Joana begitu kesal.


Devan tersenyum, kali ini ucapan Joana membuat hatinya begitu senang. "Maaf, aku tidak bisa melihat cintamu karena tertutup oleh rasa cemburuku yang begitu besar. Joana, tolong kasihanilah aku, jangan berdekatan dengan dia lagi," ucap Devan seraya memegang tangan Joana lalu menciumnya.


Bibir Joana berkedut, hampir saja ia tersenyum manis karena perlakuan manis Devan. Tapi ia menahannya dengan sekuat tenaga.


"Kamu ingin aku memaafkanmu?"


"Ya." Devan langsung mengangguk dengan cepat.


"Kamu harus menuruti semua yang aku inginkan hari ini," kata Joana tersenyum jahil.


"Ya katakan saja, jangankan hari ini. Aku pasti akan selalu menuruti semua keinginanmu sekarang dan sampai kapanpun," sahut Devan tidak keberatan sama sekali.


"Gombal banget," cibir Joana.


"Aku tidak pernah melakukannya, semua yang aku katakan pasti murni dari hatiku," kata Devan masih dengan sikap datarnya.


"Baiklah, kalau begitu hari ini kamu harus menemanimu makan, aku sangat lapar," ucap Joana seraya mengelus perutnya yang rata.


"Ingin makan dimana? Aku akan meminta Ken reservasi tempatnya." Devan mengangguk tanpa keberatan sama sekali, ia segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Ken.


"Eh! Aku tidak ingin makan di restoran," kata Joana mencegah saat Devan ingin menghubungi Ken.


"Tidak ingin makan di restoran, lalu?" Devan mengerutkan dahinya tidak mengerti.


"Ya, hari ini aku ingin makan seblak yang dijual dipinggir jalan raya. Sepertinya itu sangat enak," ucap Joana sudah begitu ngiler membayangkan makanan seblak.


"Seblak? Makanan apa itu?" Devan semakin tidak mengerti, baru mendengar jika ada makanan yang bernama seblak.


"Nanti juga tahu, aku mau makan itu pokoknya," ucap Joana dengan nada tegas yang tidak bisa dibantah.


"Baiklah, aku akan meminta Ken menyiapkan mobil dulu." Devan mengangguk mengiyakan.


Namun, lagi-lagi Joana menahan tangannya membuat Devan bingung.


"Aku tidak mau naik mobil, tapi mau jalan kaki."


"Apa?"


___________

__ADS_1


__ADS_2