Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
(MM&GL) BAB 36. Mari Menghancurkan Diri Kita Bersama.


__ADS_3

"Joana!"


Devan memekik kaget saat Joana mendorongnya ke ranjang lalu menindihnya. Bukan hanya itu saja, tapi Joana dengan berani mencium bibirnya dengan panas dan mesra.


Devan benar-benar terkejut, selama ini setiap ia menyentuh Joana, wanita itu sama sekali tidak pernah membalas ciumannya. Bahkan untuk sekedar membuka matanya saja Joana enggan. Tapi kali ini Joana benar-benar sangat berani dan sangat agresif. Devan saja sampai kewalahan menghadapi ciuman Joana yang sangat dadakan ini.


Joana membuang rasa malunya dengan mencium Devan terlebih dulu. Ia menggunakan cara lama yang pasti akan membuat semua pria bertekuk lutut. Yaitu dengan rayuan sentuhan yang menggelora. Ia sudah hafal titik mana saja yang bisa membuat pria akan mudah terpancing dan melahapnya tanpa ampun.


Puas bermain dibibir Devan, Joana menurunkan ciumannya ke leher pria itu, hanya sejenak lalu mencium da danya yang masih terbalut kemeja tipis itu. Menciumnya dengan bibirnya yang basah lalu perlahan-lahan membuka kemejanya sehingga dada bidangnya terekspos.


"Joana oh shittttt!" Devan mengeram dan mengumpat saat Joana bermain-main di daerah sensitifnya, wanita itu benar-benar liar dan menggila.


"Ini adalah milikku," ucap Joana mengecup dada Devan dengan mesra.


"Ya." Devan hanya sanggup bersuara sedikit, ia sudah dibuat mabuk kepayang oleh sentuhan memabukkan yang Joana berikan.


"Ini juga milikku." Joana berpindah, mencium leher Devan dan meninggalkan jejak kemerahan disana sehingga suara geraman Devan kian terdengar.


"Sssshhh ...."


"Ini juga milikku 'kan, Dev?" Kali ini Joana berbisik ditelinga Devan dan sesekali menjilatnya.


Benar saja, Devan sudah tidak tahan lagi dan mere mas pinggang Joana dengan cukup kuat.


"Semuanya milikmu, semuanya bagian diriku, adalah milikmu," ucap Devan dengan geraham yang mengetat, wajah hingga telinganya sudah memerah karena gairah sudah menguasai dirinya.


Joana tersenyum tipis, ia segera mencium Devan dengan lebih panas dari sebelumnya dan membuka kemeja pria itu dengan cepat. Tapi Devan tiba-tiba membalikkan keadaan dengan menindih Joana tanpa melepaskan ciuman mereka. Ia juga membuka kemejanya dan membuangnya sembarangan. Kini tubuh berototnya sudah terpampang didepan Joana.


Joana mengatur napasnya yang ngos-ngosan, ia menatap Devan dengan mata sayu hingga Devan langsung menyambar bibirnya kembali dengan sangat ganas. Tangannya bergerak liar melepaskan semua kain yang menempel pada tubuh Joana dan segera melemparnya.


"Ahhhhhhhhh...."


Suara de sahan itu langsung lolos begitu kulit mereka saling bersentuhan. Keduanya seperti membuang batasan masing-masing dan saling berciuman dengan panas. Sesekali Joana mendongak saat Devan mencium lehernya dengan begitu intens.


Punggung Devan juga tak luput dari cakaran tangannya untuk meluapkan perasaan yang menggebu-gebu itu. Pagi yang bersinar cerah itu seolah tidak memupuskan semangat mereka yang begitu menggelora.


Sampai pada akhirnya, Devan kembali menyentuh Joana dengan perasaan cinta yang sesungguhnya. Perasaan ingin memiliki sebagai Joana dan seseorang yang menjadi pemilik hatinya. Bukan lagi menganggap Joana adalah Mega yang sudah meninggal.

__ADS_1


"Dev ..." Joana mende sah lirih, ia mengigit bahu pria itu saat pertama kali sentuhan itu begitu terasa.


"Aku mencintaimu, Joana." Devan mencium kening Joana dengan sangat dalam, lalu mata, hidung, dan dagunya. Terakhir ia mencium bibirnya dengan mesra seraya melakukan perayaan cinta yang luar biasa.


Joana memejamkan matanya seraya memeluk Devan dengan erat, sesekali mencengkram punggungnya dan air matanya tidak bisa dicegah untuk tidak mengalir.


Bukan, bukan air mata penyesalan karena telah menyerahkan dirinya. Melainkan air mata kebahagiaan karena ia bisa merasakan Devan benar-benar mencintainya.


Dari caranya memandang, menciumnya, menyentuhnya dengan lembut dan penuh perasaan. Joana bisa merasakan perbedaannya. Serta untaian kata cinta yang Devan tunjukkan padanya, membuat perasaan cinta itu kian menguat dalam hatinya.


Akhirnya mereka benar-benar bersatu dengan perasaan cinta yang sama dan begitu menggelora. Mereka langsung berpelukan setelah semuanya terselesaikan.


"Aku ingin bertanya satu hal," ucap Devan seraya mengusap rambut Joana.


Kini keduanya tengah berpelukan seraya saling berhadapan dengan tatapan yang saling bertaut.


"Apa?" Joana tidak melepaskan tatapannya, entah karena sekarang ia sudah mencintai Devan atau bagaimana, tapi menurutnya Devan terlihat sangat tampan sekali hari ini.


"Apa kamu bersedia menemaniku sampai kapanpun?" tanya Devan, ia juga menatap Joana dengan tatapan yang sangat teduh. Benar-benar merasa sangat nyaman dengan wanita ini.


"Hmmm ... Aku bersedia, Dev." Joana mengangguk tanpa keraguan. Ia merangkul leher Devan dan sesekali mengusapnya.


"Aku bersedia," sahut Joana dengan suara tercekat.


"Bahkan jika semua yang aku lakukan adalah keburukan, apa kamu akan tetap disampingku?" Devan kembali bertanya seraya mengeratkan pelukannya.


Joana tidak langsung menjawab, jantungnya seketika seperti dihantam oleh sesuatu yang membuat ia seperti sesak napas. Tapi ia juga mengangguk pelan.


"Aku bersedia," jawab Joana masih terus mengusap leher Devan.


"Jika aku menjadi tua dan jelek, apa kamu masih mau denganku?" tanya Devan.


Joana langsung memasang wajah cemberut, ia melepaskan pelukannya pada Devan. "Untuk yang satu ini, sepertinya harus aku pikir-pikir lagi," kata Joana sekenanya.


Devan tertawa kecil, ia langsung memeluk Joana dan mencium pipinya dengan gemas. "Dasar, jadi maunya kalau aku muda aja?" celetuk Devan.


"Ya enggak, lagian pertanyaan kamu itu aneh. Aku mungkin dulu bukan wanita baik, tapi aku sudah belajar dari kegagalan dalam hidupku. Begitu aku memutuskan memilihmu, artinya aku sudah menerima setiap apa yang ada dalam dirimu, Dev," tukas Joana melirik Devan dengan kelas.

__ADS_1


"Benarkah? Itu artinya kamu akan tetap mendukungku meskipun aku adalah pengedar narkoba dan senjata ilegal? Aku bisa ditangkap sewaktu-waktu oleh polisi dan mungkin saja saat ini nyawaku sudah diincar oleh orang," kata Devan.


"Apa kamu tidak bisa berhenti?" lirih Joana, ia menatap Devan penuh kekhawatiran yang tidak bisa ditutupi.


"Berhenti tidak akan merubah apapun, justru akan menghancurkan segalanya. Perlu kamu tahu, aku tidak akan melakukan tindakan selagi mereka tidak mengangguku. Semua yang aku lakukan pasti ada alasannya," ujar Devan.


"Pasti bisa, Dev. Bukankah aku akan selalu bersamamu? Kamu berhenti ya? Kita memuai hidup baru dengan kehidupan yang sederhana. Aku tidak peduli jika harus makan nasi dengan garam, yang terpenting hidup kita akan aman, Dev," ucap Joana mencoba membuat Devan mengerti, ia menggenggam tangan pria itu dengan erat.


Devan tersenyum tipis, ia mengusap pipi Joana dengan lembut. "Sayangnya aku tidak suka sesuatu yang sederhana. Aku juga tidak akan membiarkan wanitaku harus kesusahan apalagi makan nasi dengan garam. Come on, Joana, kita berpikir realistis saja," kata Devan tetap kekeh dengan pendiriannya.


"Tapi yang kamu lakukan itu sangat keterlaluan, Dev. Justru kamu akan membuat orang yang mencintaimu selalu khawatir. Tolong sekali saja pikirkan perasaanku, Dev!" sentak Joana tidak bisa lagi menahan air matanya.


Entahlah, ia memang sangat cengeng sekali sekarang. Ia juga sebenarnya sangat benci dengan sikapnya yang ini. Tapi entah kenapa ia jadi seperti ini.


"Selama kamu mendukungku, aku pasti baik-baik saja, Joana. Tenanglah," tutur Devan mengusap lengan Joana, bermaksud menenangkan.


"Kamu bisa mudah mengatakannya, sekarang bagaimana jika posisinya dibalik? Aku yang menjadi buronan polisi dan banyak yang mengancam nyawaku. Apakah kamu juga akan bisa menganggap semuanya baik-baik saja?" sergah Joana masih terus menangis, tapi sepertinya air matanya tidak berpengaruh apapun pada Devan.


"Tidak akan aku biarkan, setiap bahaya yang mengancammu pasti aku yang pertama kali akan melindungimu," ucap Devan dengan raut wajah emosional.


"Kamu tetap akan khawatir padaku 'kan? Tidak mungkin tidak, Dev. Itulah yang aku rasakan saat ini, aku sangat mengkhawatirkanmu. Apakah memang tidak bisa untuk berhenti? Setidaknya untuk aku, Dev." Joana segera menggunakan dirinya sebagai senjata terakhirnya. Ingin melihat sejauh mana Devan bisa bertahan.


Devan berdecak pelan, ia mengusap wajahnya kasar lalu memutuskan untuk turun dan memunguti bajunya.


"Kamu pasti lelah, istirahatlah. Aku akan pergi sebentar," kata Devan meraih rokok dan ponselnya setelah ia memakai bajunya lalu pergi meninggalkan Joana ke balkon.


Joana semakin menangis, ternyata Devan benar-benar tidak bisa meninggalkan dunia hitam itu. Apakah memang seberat itu untuk berhenti? Tidak bisakah mereka berdua hidup normal seperti orang pada umumnya?


Joana segera turun dan mengikuti Devan. Ia tidak peduli dengan tubuhnya yang masih lemas karena baru saja bercocok tanam dengan Devan. Ia memakai bajunya lalu mendekati Devan yang tengah merokok, ia tidak mengatakan apapun, tapi ia langsung merebut rokok itu lalu menghisapnya di depan Devan.


"Joana, apa yang kamu lakukan?" Devan sangat terkejut sekali. "Kemarikan, kamu tidak boleh mengkonsumsinya," tutur Devan ingin meraih rokok tersebut.


Joana tidak menghiraukannya, ia tetap menghisapnya meski rasanya sangat aneh. "Kamu ingin terus merusak dirimu dan menjadikan nyawamu taruhan bukan? Lakukanlah, aku juga akan melakukan hal yang sama," kata Joana langsung terbatuk-batuk karena tak tahan akan bau asap rokok itu.


Devan berdecak sangat kesal, ia langsung mengambil rokok itu lalu menarikannya.


"Apa kamu gila, ha? Aku mengkhawatirkanmu, kondisimu itu lebih penting dari nyawaku sendiri!" bentak Devan begitu marah.

__ADS_1


"Apa kamu pikir aku tidak sama? Aku juga memikirkan dirimu, Dev! Jika memang tidak mau berhenti, mari menghancurkan diri kita bersama!"


___________


__ADS_2