Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
Kenyataan Yang Menyakitkan.


__ADS_3

Xander berdiam diri di dalam mobilnya, mata tajamnya tampak mengawasi dengan serius sebuah mansion megah yang berada tepat di depan mobilnya. Setelah hampir seminggu Xander menggila karena tak ada titik terang tetang keberadaan Stella, kini ia lumayan lega karena berhasil menemukan Daniel.


"Bagaimana?" Tanya Xander pada anak buahnya yang ia tugaskan untuk mengecek keadaan mansion itu.


"Tuan Daniel ada di dalam, tapi kita tidak bisa sembarangan masuk, Tuan" ucap anak buah Xander.


"Kita akan tetap masuk," kata Xander segera turun dari mobilnya, ia sudah tak sabar sekali ingin bertemu Daniel.


Xander sudah seperti orang yang kehilangan setengah nyawanya. Ia hampir tak pernah tidur dan makan, ia hanya mencari Stella dan berharap bisa menemukan wanita itu.


"Siapa Anda?" seorang satpam langsung bertanya begitu melihat kedatangan Xander dan anak buahnya.


"Aku tidak punya urusan denganmu, cepat buka pintunya dan panggil Tuanmu itu," ucap Xander melayangkan tatapan tajamnya yang mematikan.


"Jika tidak punya keperluan, Anda dilarang masuk!" ucap satpam tegas.


Xander menekan giginya kuat, merasa semua ini tidak bisa diatasi dengan cara halus. Xander segera bertindak.


"Bereskan dia!" perintah Xander memberikan gestur kepada anak buahnya untuk menyingkirkan satpam itu.


Adu pukul pun tak terelakkan, antara anak buah Xander dan Daniel. Xander segera masuk saat ada celah, namun jalannya pasti tidaklah mudah karena anak buah Daniel juga sangat banyak disana.


"Ada penyusup masuk, aman dia!" teriak anak buah Daniel bersiap menangkap Xander.


Xander semakin geram dan mau tak mau harus menyelesaikan semua orang tidak penting itu. Dengan kepintarannya berkelahi, Xander bisa mudah menumbangkan musuhnya.


"Daniel! Keluar kau!" teriak Xander meludah ke tanah, sudut bibirnya terlihat sobek karena terkena pukulan tadi.


"Keluar brengsek! Jangan jadi pengecut! Kembalikan istriku!" teriak Xander lagi menendang pintu mansion dengan sangat keras hingga terbuka sempurna.


Plok … Plok …


"Selamat datang Tuan Xander, aku rasa Anda datang terlalu cepat, aku baru saja pulang dan ingin beristirahat,"


Ternyata Daniel sudah tahu kalau Xander akan mendatanginya. Ia sengaja menunggu pria itu dengan duduk di kursi kebesarannya. Ia tersenyum sinis melihat penampilan Xander yang terlihat sekali sangat acak-acakan, wajah pucat dan lingkar mata yang terlihat jelas, membuat pria itu tampak cukup menyeramkan.

__ADS_1


"Aku tidak suka basa-basi, katakan dimana istriku?" ujar Xander tak melepaskan tatapan matanya dari Daniel yang duduk sangat angkuh itu.


"Istri siapa yang kau maksud? Apakah wanita yang telah kau sakiti dan kau sia-siakan itu? Terkadang kau memang sangat lucu Tuan Xander," ucap Daniel menatap Xander jijik namun juga penuh emosi.


"Kau!" Xander mengepalkan tangannya erat. Terlalu emosi dengan gaya Daniel yang sangat santai.


"Aku mengatakan yang sebenarnya, berhentilah mencari Stella, dia sudah tidak membutuhkan pria brengsek sepertimu lagi," kata Daniel kali ini memilih bangkit dari duduknya dan berdiri tepat di depan Xander.


"Aku tidak akan pernah berhenti mencarinya! Jika kau berpikir ingin merebutnya dariku, langkahi dulu mayatku!" kata Xander menarik kerah baju Daniel kasar.


"Dengan senang hati aku akan melakukannya," sahut Daniel balik menarik kerah baju Xander kasar.


"Kita selesaikan ini sekarang juga!" Xander langsung melayangkan pukulannya ke pipi Daniel.


Daniel tak mau kalah, semua emosi dan dendamnya kepada Xander akan segera ia tuntaskan. Ia tak akan membiarkan pria ini mudah mendapatkan Stella. Apalagi setelah mendengar laporan dari Ming bagaimana kelakuan pria ini terhadap Stella selama ini, membuat darah Daniel mendidih.


"Ke pa rat! Kau sama sekali tidak pantas mendapatkan cinta Stella!" Daniel berteriak keras dan merangsek maju hingga Xander terjatuh kebelakang.


Daniel segera naik di atas Xander dan melayangkan pukulannya dengan membabi buta.


Bugh


"Ini untuk kau yang selalu menghina Stella!"


Bugh


"Dan ini, untuk kau yang berani membuat dia menangis setiap hari! Ba ji ngan! Kau harus mati!"


Daniel berteriak seperti orang kesetanan, ia memukuli Xander tanpa ampun hingga wajah pria itu berlumuran darah, tapi Daniel tahu jika pria itu masih sadar.


"Lihat aku!" Daniel menarik kerah baju Xander agar pria itu menatapnya.


"Dimana Istriku?" meski keadaannya saat ini babak belur dan badannya terasa remuk, Xander lebih mementingkan hal itu.


"Jangan harap aku akan memberitahu dimana Stella," kata Daniel berdecih.

__ADS_1


"Aku, aku ingin memperbaiki semuanya, aku sangat menyesal, tolong katakan dimana istriku?"ucap Xander membuang harga dirinya dengan memohon kepada Daniel.


"Sayangnya Stella sudah tidak ingin bertemu denganmu lagi. Dia sudah pergi jauh membawa anak kalian," kata Daniel mengatakan bom yang membuat hati Xander berdetak tak karuan.


"Anak?" Xander tak bisa menutupi rasa kagetnya, anak? apa mungkin Sella hamil? Pil kontrasepsi itu?


"Ya, kau terkejut sekarang? Apa kau bisa membayangkan, suatu saat anakmu akan lahir dan tumbuh besar tanpa tahu siapa Ayahnya. Dan saat waktu itu terjadi, aku yang akan berdiri disana, sebagai Ayahnya!" ucap Daniel tertawa jahat dan langsung memukul kembali wajah Xander sangat keras lalu bangkit dari atas tubuh pria itu.


Mata Xander terbelalak lebar, menatap Daniel dengan rasa amarah namun juga tidak berdaya. Kepalanya terasa pusing sekali, hatinya pun seperti di tusuk-tusuk ribuan belati tajam membayangkan apa yang dikatakan Daniel.


"Jangan …" Xander tak sanggup lagi menahan rasa sakit itu hingga akhirnya ia pingsan dengan air mata yang mengalir bercampur darahnya.


"Bawa manusia itu ke rumah sakit, jangan biarkan dia mati disini,"


*****


Xander membuka matanya perlahan yang terasa sangat mengganjal. Ia menatap langit-langit kamar rumah sakit dengan tatapan nanar. Kepalanya terlihat masih di perban dan tangannya masih di sangga oleh gips. Namun bukan itu yang Xander pikirkan, melainkan kata-kata Daniel yang terus terngiang di kepalanya.


"Stella …" batin Xander menyebut nama wanita itu dengan penuh kerinduan.


"Xander, kamu sudah bangun? Bagaimana keadaanmu?" ujar Mama Rita sontak bangkit dari duduknya saat mendengar suara putranya.


Ia baru saja mendapatkan kabar dari Luke semua yang terjadi pada putranya. Meski semarah-marahnya seorang ibu, pasti tak akan membiarkan anaknya terluka.


"Mama, Stella Ma …" ucap Xander menarik nafasnya yang terasa sangat berat.


"Iya Sayang, Mama tahu apa yang kamu rasakan, kamu harus sembuh dulu baru bisa mencari istrimu lagi," ucap Mama Rita menggenggam tangan Xander, ia mencoba memberi kekuatan, entah mencari kekuatan.


"Dia hamil anakku, Ma. Dia hamil, bagaimana keadaannya sekarang?"


Nyatanya sekuat apapun Xander menahan air matanya agar tidak terjatuh, tetap ia tak bisa, kenyataan ini luar biasa menyakitkan. Istrinya pergi dengan membawa anak mereka, tapi dengan bodohnya ia justru tidak tahu dan malah mendengar hal ini dari orang lain.


Happy Reading.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2