Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
Sebuah Keputusan.


__ADS_3

Daniel menyusul Stella ke rumah sakit dengan terburu-buru. Wajah panik dan khawatirnya tak bisa ditutupi lagi. Ia benar-benar merasa bersalah karena sudah melukai wanita itu. Meski tak sengaja, tapi tetap saja ia yang sudah membuatnya terluka.


"Permisi suster, pasien atas nama Stella ada di sebelah mana ya?" tanya Daniel pada Resepsionis rumah sakit.


"Pasien dengan luka di hidung?" tanya suster memastikan.


"Iya, benar." Sahut Daniel cepat.


"Pasien masih berada di IGD Tuan," ucap suster menunjukkan letak ruang IGD yang berada tak jauh dari sana.


Setelah mengucapkan terima kasih, Daniel bergegas menuju ruang IGD. Ia tak akan mengampuni dirinya sendiri jika sampai terjadi sesuatu pada Stella.


Daniel baru saja akan masuk ke dalam, namun Xander sudah lebih dulu keluar dari sana. Keduanya langsung bertatapan sengit.


"Untuk apalagi kau disini?" ucap Xander memasang wajah jengkel yang tak bisa di tutupi.


"Minggir, aku ingin menemui Stella." Kata Daniel tak ingin memancing emosinya lagi jika menghadapi Xander.


Xander segera menahan bahu Daniel saat pria itu akan masuk ke dalam.


"Berhentilah mencintai istriku, lupakan dia. Dia sudah memilihku," ucap Xander memperingatkan namun tidak terlalu kasar, karena bagaimanapun juga, ia berhutang budi pada pria ini.


"Aku tidak percaya padamu." Kata Daniel menepis tangan Xander dengan kasar.


"Itu memang kenyataannya, kami akan kembali ke Jakarta setelah ini." Kata Xander sengaja mengatakan hal itu agar Daniel mengerti.


Daniel mengertakkan giginya erat, emosinya kembali muncul hingga ia langsung memukul pipi Xander dengan keras.


"Kau memang brengsek!" ucap Daniel begitu kesal.


Xander memegang pipinya yang terasa panas, nyeri dan juga sakit tentunya. Namun ia tak mengatakan apapun sampai Stella tiba-tiba muncul di belakangnya. Wanita itu sepertinya penasaran saat mendengar suara ribut-ribut.


"Ada apa ini?" tanya Stella menatap Xander dan Daniel bergantian.


"Oh tidak ada apa-apa, Daniel datang hanya ingin mengucapkan selamat karena kita sudah baikkan," kata Xander melirik Daniel sinis.


"Apa benar yang dikatakan dia?" tanya Daniel menatap lurus mata Stella.

__ADS_1


Stella menundukkan wajahnya, ekspresinya sangat tidak enak saat melihat wajah Daniel.


"Stella, jawab aku! Apa benar kau akan kembali pada ba ji ngan ini!" kata Daniel menunjuk batang hidung Xander.


"Jangan membentak istriku," ucap Xander menepis tangan Daniel.


"Stella ..." Sekali lagi Daniel memandang Stella untuk meminta jawaban dari wanita itu.


"Maafkan aku, Kak" ucap Stella lirih, ia tahu hal ini akan menyakiti Daniel, tapi ia juga tidak bisa memaksakan perasaannya.


Daniel menggelengkan kepalanya tak percaya, kenapa Stella bisa dengan begitu mudah memaafkan Xander? Apakah wanita itu lupa apa yang sudah pria ini lakukan padanya dulu.


"Aku kecewa padamu," ucap Daniel menatap Stella dengan sorot mata penuh kekecewaan yang nyata.


Daniel segera pergi dari sana setelah mengatakan hal itu, ia sempat berdiam sejenak menatap Xander yang mengulas senyum tipisnya, namun senyuman itu seperti sebuah ejekan baginya.


Xander menatap Daniel sampai pria itu lenyap dari pandangannya. Ia lalu menatap Stella yang menundukkan wajahnya. Xander mengusap lengannya lembut agar Stella menatapnya.


"Jangan sedih, suatu saat nanti, dia pasti akan menemukan orang yang tepat untuknya," ucap Xander mencoba memberi penghiburan kepada Stella.


"Aku harap seperti itu," ucap Stella lirih, ia merasa menjadi wanita paling jahat di dunia ini karena sudah membuat pria sebaik Daniel sakit hati.


"Apa kita harus kesana?" tanya Stella enggan rasanya jika harus kembali ke Jakarta.


"Apa kau keberatan?" tanya Xander tak ingin memaksa jika Stella masih kurang nyaman.


"Aku hanya masih takut," ucap Stella jujur.


Xander menghela nafas panjang, ia menarik lengan Stella agar menatap dirinya.


"Stella, aku sudah menyelesaikan urusanku dengan wanita itu, aku dan dia sudah tidak punya hubungan apapun. Aku tidak berjanji untuk hal yang tidak bisa aku tepati. Tapi di detik ini, aku berjanji akan selalu menjagamu dan tidak akan pernah menyakitimu lagi. Percayalah padaku." ucap Xander menatap Stella dengan tatapan serius namun lembut, sorot matanya tampak begitu teduh.


Stella terdiam, menganalisa semua perkataan Xander yang membuat hatinya menghangat. Saat ia merasa dirinya sudah yakin, ia mengangguk pelan.


"Aku percaya padamu."


*****

__ADS_1


Daniel pergi mengendarai mobilnya dengan sangat kencang. Ia tak punya tujuan pasti, hanya saja ia ingin melupakan rasa sakit yang begitu menghujam jantungnya. Sakit itu bahkan lebih sakit dari pada saat Stella menolaknya dulu.


Sampai lelah Daniel memutar-mutar mobilnya, akhirnya ia berhenti di Pantai Pasir Putih. Di sana terlihat masih sangat tenang dan sejuk, Daniel sengaja ke tempat ini karena tempatnya yang sangat sepi. Namun baru saja ia duduk, ia mendengar suara wanita yang berteriak begitu kencang.


"Tolong! Lepaskan aku!" suara itu semakin jelas di telinga Daniel.


Awalnya Daniel tak ingin peduli, tapi semakin lama justru semakin mengganggu. Dengan langkah lebar, Daniel berjalan ke arah suara itu berasal. Terlihat seorang wanita yang sedang di tarik paksa oleh dua orang berbadan besar. Daniel mengerutkan dahinya saat mengenali wanita itu.


"Dasar bedebah! Aku bilang aku akan membayar hutangku! Kau tidak perlu memaksaku seperti ini!" teriak Maira takut namun juga berontak dari dua debt collector yang menagih hutangnya ini.


"Kami tidak akan percaya padamu lagi, ayo ikut kami ke rumah Tuan Joko, kau harus menikah dengannya untuk melunasi hutangmu." Tukas pria yang sedang menarik lengan kecil Maira.


"Aku tidak mau menikah dengan bandot tua itu!" teriak Maira semakin histeris.


Kedua pria itu juga tak henti menarik tangan Maira membuat Daniel cukup geram melihatnya.


"Lepaskan dia!" ucap Daniel berdiri di tengah-tengah kedua orang itu.


Semua orang langsung menoleh saat mendengar suara orang lain. Maira sendiri sangat terkejut melihat bosnya ada di sana.


"Tuan Daniel? Untuk apa Anda disini? Cepat pergi, jangan ikut campur." Ucap Maira panik, ia takut kalau Daniel akan terluka jika melawan kedua orang ini.


Daniel hanya melirik Maira sekilas, ia lalu kembali menatap kedua debt collector itu dengan wajah dinginnya.


"Lepaskan wanita itu!" ucap Daniel datar dan dingin.


"Cih, enak sekali meminta melepaskan. Asal kau tahu, wanita ini memiliki hutang yang banyak kepada bos kami, jadi dia harus membayarnya," ucap debt collector memandang sinis pada Daniel.


"Berapa hutangnya?" tanya Daniel.


"5 juta, tapi karena dia tidak membayar selama 2 bulan, jadi hutangnya menjadi 10 juta," ucap debt collector angkuh.


"Hei! Apa-apaan itu? Ini tidak ada di perjanjian, kenapa menjadi banyak sekali," protes Maira.


"Memang seperti itu aturannya, kau mau membayar atau tidak? Jika tidak, kami akan membawamu pergi," ucap debt collector lagi.


"Tulis nomor rekeningnya disini, aku akan membayar semuanya,"

__ADS_1


Happy Reading.


Tbc.


__ADS_2