Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
Kehangatan Keluarga.


__ADS_3

Kedatangan Xander dan Stella di rumah langsung disambut dengan begitu senang oleh Mama Rita. Ia memeluk Stella begitu lama dan mengelus lembut rambut Stella penuh kasih, seolah mereka berdua tidak pernah bertemu ribuan tahun.


Xander sendiri hanya bisa berwajah masam, ia yang anaknya kenapa yang disambut oleh Mamanya malah Stella. Apakah Mamanya lupa dengan anaknya sendiri.


"Kamu baik-baik saja 'kan Sayang? Mama kangen banget, kalau ada waktu sering-sering main kesini dong, Mama kesepian di rumah sendiri," ucap Mama Rita tersenyum manis kepada menantunya.


"Iya Ma, Stella usahakan," sahut Stella balas tersenyum.


"Udah, Mama ngundang kita kesini cuma mau lepas kangen sama Stella? Sebenarnya siapa anak Mama?" sergah Xander dengan kesalnya.


Mama Rita dan Stella saling pandang melihat tingkah Xander yang cemburu itu.


"Apa? Kamu anak nakal, kamu harus sering-sering ngajak Stella kesini. Jangan sibuk bekerja terus, bagaimana bisa memberikan cucu untuk Mama nanti," tukas Mama Rita tak menggubris kekesalan Xander, ia malah menggandeng menantunya untuk masuk kedalam rumah meninggalkan Xander sendirian.


Stella menyeringai tipis, seulas senyum manis tersemat dibibir tipisnya membuat Xander jengkel, merasa Stella mengejeknya. Ia bergegas menyusul Mamanya yang masuk terlebih dulu, dia benar-benar merasa terabaikan di rumah sendiri.


"Papa, udahan dong baca bukunya, lihat siapa yang datang?" ucap Mama Rita saat mereka semua tiba di ruang tengah, dimana Papa Xander sedang duduk bersantai seraya membaca bukunya.


"Sudah datang rupanya," Papa Xander meletakkan bukunya lalu menatap kedatangan anak dan menantunya.


"Selamat malam, Pa. Papa apa kabar?" ucap Stella langsung mengambil tangan Ayah mertuanya untuk bersalaman.


"Baik, Papa baik Nak," Papa Xander mengelus lengan Stella lembut lalu menatap putranya yang hanya diam saja.


"Xander?" ujar Papa Xander heran melihat muka anaknya yang sangat masam itu, ia melirik istrinya yang hanya tersenyum-senyum saja. "Kenapa dengan anak itu?" tanya Papa Xander.


"Biasalah Pa, anak kesayanganmu ini ngambek kalau dia tidak di nomor satukan. Heran Mama, sama istri sendiri kok cemburu," tukas Mama Rita meledek anaknya.


"Mama apaan sih, aku nggak cemburu tuh," sergah Xander membantah, tak terima dikatakan cemburu oleh Mamanya.


"Nggak cemburu tapi mukanya di tekuk gitu," ujar Mama Rita masih meledek anaknya.


"Enggak Ma, Pa! Mama tuh," Xander langsung mengeluarkan jurus andalannya mengadu kepada Papanya membuat kedua orang tuanya tertawa. Termasuk Stella yang ikut menahan senyumnya.

__ADS_1


"Apa? Udah besar loh kamu, nggak malu apa sama istri kamu," kata Papa Xander lagi.


"Sudahlah, sepertinya kalian berdua memang sudah tidak perduli padaku. Aku akan pulang saja kalau begitu," ucap Xander kesal sendiri karena kedua orang tuanya malah meledeknya.


"Pulang kemana? Ini kan rumah kamu, ada-ada aja. Ayo ajak istri kamu, kita makan malam sama-sama, Mama masak banyak hari ini," kata Mama Rita menggelengkan kepalanya, tingkah Xander sejak kecil itu tidak pernah berubah. Ia selalu ingin menjadi nomor 1 dimanapun tempatnya. Sifat Xander yang pencemburu dan mudah marah itu tak pernah hilang dari kecil.


Xander memastikan kedua orang tuanya sampai tidak terlihat, ia lalu menarik tangan Stella saat wanita akan pergi.


"Xander?"


"Puas kau sekarang? Kau berhasil menguasai orang tuaku," sergah Xander begitu kesalnya.


Stella mengerutkan dahinya, ia kemudian tertawa geli dan melepaskan tangannya dengan santai. "Menguasai? Apakah itu mungkin terjadi Xander? Kadang pemikiranmu terlalu dangkal, Tuan pencemburu," kata Stella tersenyum mengejek lalu pergi meninggalkan pria itu sendirian.


"Kau!" Xander semakin kesal karena Stella malah menyebutnya seperti itu. Apa memang dia terlalu berlebihan? Kenapa kedua orang tuanya bisa begitu menyukai Stella? Apa yang istimewa dari wanita itu?.


*****


"Mama masak sebanyak ini? Ya ampun Ma, kenapa harus repot-repot?" ucap Stella terkejut melihat banyaknya makanan yang disajikan.


Stella mengulum bibirnya, tak menyahut karena bagaimana mungkin Xander meminta di masakan makanan, pria itu saja sudah hampir dua bulan tak pulang ke rumah dan selalu menolak saat dia me masakannya dulu.


"Tapi ini banyak banget Ma, mana mungkin aku akan menghabiskannya," sahut Xander juga heran melihat banyaknya makanan yang di masak Mamanya.


"Gampang, nanti biar dia makan pengawal dan pelayan di rumah. Duduklah, ayo makan." Ucap Papa Xander ikut menimpali.


Xander menurut, ia mendudukkan dirinya di samping Stella. Saat ia akan mengambil nasinya, tiba-tiba Mamanya melarang.


"Kenapa lagi sih, Ma?" kata Xander heran.


"Biarkan Stella mengambilkan makanan untukmu. Stella, ayo layani dulu suami kamu," kata Mama Rita selalu mengendapkan hal itu karena sudah menjadi tradisi di keluarganya dulu.


Stella dan Xander saling pandang, tak ingin membuat kedua orang mertuanya curiga, Stella menuruti saja keinginan Mama mertuanya. Ia mengambilkan nasi terlebih dulu untuk Xander.

__ADS_1


"Mau lauk apa?" tanya Stella tak tahu apa yang diinginkan suaminya.


"Terserah," kata Xander singkat.


Stella sedikit bingung, terserah itu merupakan jawaban yang cukup susah di pahami. Jika ia mengambilkan lauk yang tidak sesuai dengan keinginan Xander, pria itu pasti akan marah.


"Nah, ikan bakar ini saja ya, kau kan paling suka olahan ikan laut," kata Stella tersenyum lebar.


Xander justru terkejut karena Stella tahu makanan kesukaannya. Padahal Joana yang menjalin hubungan dengannya selama dua tahun saja sering lupa apa makanan yang ia suka, tapi Stella …


"Benar, Xander memang paling suka ikan laut," sahut Mama Rita tersenyum manis.


Stella mengangguk dan segera mengambilkan lauk ikan bakar itu untuk Xander, ia tak tahu jika Xander sejak tadi terus menatapnya dengan pandangan yang sulit di artikan.


Makan malam itu terasa hangat, semua orang tampak mengobrol ringan dan akrab. Stella dan Xander juga sesekali saling berbicara. Tanpa sadar momen makan malam itu membuat hubungan Stella dan Xander lumayan ada kemajuan.


"Iya, Xander itu memang gitu dari dulu. Dia suka cari perhatian orang, kalau semua-semua harus dia yang nomor satu," ucap Mama Rita tertawa mengingat tingkah putranya waktu kecil.


"Beneran, Ma?" Stella ikut tertawa mendengar cerita masa kecil suaminya.


"Enggak, Mama bohong, mana mungkin aku seperti itu," bantah Xander tak ingin mengakui, namun diam-diam ia ikut mengulas senyum tipis saat melihat Stella yang tertawa begitu lepas.


"Nyonya, ini makanan penutupnya," seorang pelayan datang mengantarkan dessert membuat semua perhatian teralihkan.


"Oh, bawa sini Mba," kata Mama Rita meminta para pelayan itu menyuguhkan dessert kue pandan yang menguarkan bau yang sangat harum.


"Wah, baunya harum banget Ma," kata Stella langsung ngiler ingin melahap dessert itu.


Tapi tidak dengan Xander yang justru mendorong piringnya menjauh. "Singkirkan ini Ma," kata Xander menutup hidungnya, perutnya terasa mual karena mencium bau yang menyengat.


"Kenapa …" Mama Rita belum selesai mengucapkan perkataannya namun Xander sudah lebih dulu bangkit dan berlari ke toilet, ia sudah tak tahan dengan baunya hingga ia ingin muntah.


Happy Reading.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2