Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
Holiday Part 1.


__ADS_3

"Terima kasih, tapi kalau boleh tahu, penyakit apa yang kau maksud tadi?" Xander menatap Dokter Mazaya dan Stella bergantian.


Stella menahan nafasnya, ia memberikan kode kepada Dokter Mazaya untuk tidak mengatakan apapun.


"Penyakit? Penyakit apa sih by? Kamu salah denger mungkin," ucap Stella menyentuh lengan suaminya lembut.


"Nggak, tadi Mazaya bilang penyakit kamu, kamu sakit apa? Kenapa nggak bilang sama aku?" cerca Xander tak mungkin salah dengar karena posisi mereka sangat dekat.


"Aku nggak sakit by, mungkin Kak Mazaya cuma terlalu mengkhawatirkan ku karena kita jarang bertemu. Iya 'kan Kak?" ucap Stella sangat gugup luar biasa, ia takut jika Xander tak percaya padanya.


"Ya benar Xander, kemarin Stella pernah mengeluh sakit kepala, jadi aku masih memikirkannya," ucap Dokter Mazaya tak setuju sebenarnya jika Stella menyembunyikan masalah ini.


"Nah kan, aku baik-baik aja kok by," kata Stella menatap Xander dengan tampang meyakinkannya.


Xander masih menyipitkan matanya, kenapa seolah ia tidak percaya dengan yang dikatakan oleh Stella. Ia ingin bertanya lebih lanjut, tapi nomor antrian Stella di panggil, jadi Xander mengurungkan niatnya.


"Duluan ya Kak, sampai ketemu lagi," kata Stella berpamitan kepada Dokter Mazaya sebelum pergi.


Dokter Mazaya mengangguk seraya tersenyum tipis. Ia mende sah pelan memikirkan tentang Stella, ia merasa harus melakukan sesuatu agar Stella mau berobat sebelum semuanya terlambat.


****


Setelah melakukan pemeriksaan dan dinyatakan kondisi Stella baik-baik saja. Pasangan suami istri itu langsung melakukan perjalanan ke Negara X. Jika bertanya kenapa Dokter kandungan Stella tidak begitu tahu kondisi Stella, alasannya karena penyakit itu hanya bisa ditangani oleh Dokter khusus. Jadi jika hanya melakukan pemeriksaan biasa, kondisi Stella terlihat baik-baik saja.


"Kamu kenapa sih by? Dari tadi diam aja," celetuk Stella memperhatikan ekspresi tak biasa dari suaminya.


"Kamu beneran baik-baik saja? Gimana kalau kita nggak usah berangkat? Aku nggak mau kamu capek," kata Xander masih memikirkan tentang penyakit yang dimaksud Dokter Mazaya waktu itu.


"Ya ampun, aku baik-baik saja by. Kamu nggak lihat, aku sehat banget gini. Kamu terlalu khawatir," ucap Stella menunjukan dirinya memang sehat-sehat saja.


Xander menarik sudut bibirnya, tak tega juga jika harus membuat istrinya sedih dengan membatalkan acara liburan ini. Apalagi sebelumnya mereka sering dirundung masalah, jadi refreshing memang sangat di perlukan untuk mereka berdua.


"Ya udah, kamu tiduran sini. Perjalanannya sangat lama, nanti aku bangunkan kalau udah sampai," ucap Xander menarik bahu Stella agar bersandar di pundaknya.


Stella mengangguk senang, ia memejamkan matanya seraya tersenyum manis. Liburan kali ini harus menjadi momen yang sangat menyenangkan agar suatu saat nanti, Xander bisa mengenangnya jika dia tidak ada.


Perjalanan mereka menempuh waktu 10 jam di udara, dan masih harus melanjutkan perjalanan lagi satu jam menuju Villa tempat mereka menginap. Karena saat ini di sana sedang musim salju, udara di sana sangat dingin.

__ADS_1


"Gimana? Masih dingin banget?" tanya Xander membantu membalutkan syal tebal ke leher istrinya.


"Udah enggak by," sahut Stella memegang pipinya yang terasa membeku.


"Baiklah, kita sudah sampai di Villa, aku siapin air hangat dulu, nanti kamu bisa mandi terus istirahat," ucap Xander menggandeng tangan istrinya masuk ke dalam kamar mereka.


Kamar tidur yang sangat luas dan indah, cahaya yang remang membuat suasana terasa begitu syahdu. Api unggun yang berada di ruangan itu menambah kesan yang menarik.


Setelah membersihkan dirinya, Stella langsung merebahkan dirinya di dada Xander yang sejak tadi tiduran di depan api unggun yang menyala. Xander tersenyum, ia menggeser sedikit tubuhnya untuk memberi ruang kepada Stella.


"Disini udaranya dingin banget, tapi aku suka," kata Stella.


"Iya, sekarang sudah malam. Kau harus tidur agar besok pagi-pagi kita bisa melihat aurora," kata Xander mengelus lembut rambut Stella.


"Tapi aku belum ngantuk by," ucap Stella memainkan kancing baju suaminya.


"Mau minta apa? Hm?" Xander menangkap tangan Stella lalu menciumnya lembut.


"Nggak minta apa-apa, tapi belum ngantuk," kata Stella memandang suaminya sendu.


"Mau diginiin?" dengan satu kali tarikan, Xander langsung merubah posisi mereka hingga Stella berada di bawahnya.


"Terus mau apa? Katakan saja, suamimu ini siap melakukannya untukmu," bisik Xander menguyel-uyel pipi Stella dengan gemas.


Stella tertawa kegelian, ia mendorong kepala suaminya pelan. "Beneran mau nurutin apapun keinginan aku?" tanya Stella.


"Ya, katakan saja,"


"Hm, baiklah. Aku mau kau menyanyikan satu lagu untukku," ucap Stella tersenyum senang saat mendapatkan ide jahil di kepalanya.


"Menyanyi? Nggak, aku nggak bisa," kata Xander malas jika harus bernyanyi.


"Bohong banget sih, dulu kamu pernah nyanyiin Joana, sekarang kenapa nggak mau? Kamu nggak cinta ya sama aku," Stella mendorong Xander agar menyingkir dari atasnya, ia lalu bangkit dan melipat tangannya di atas perut.


"Itu 'kan beda Sayang, itu cuma bagian dari rencana," kata Xander menggaruk kepalanya.


"Bilang aja kalau kamu nggak mau nyanyi buat aku," ucap Stella masih dengan mode ngambeknya.

__ADS_1


"Bukan Sayang, kamu beneran mau aku nyanyikan?" tanya Xander langsung dijawab anggukan cepat oleh Stella.


"Baiklah, tapi kamu sini dong, jangan jauh-jauh dari aku," ucap Xander manarik tangan Stella.


Stella yang tak siap langsung saja limbung di dada suaminya. Keduanya saling tatap dan terdiam, Xander yang selalu tak tahan melihat bibir merah jambu istrinya langsung me lu matnya dengan cepat. Tangannya kembali menarik wanita itu hingga duduk di pangkuannya dengan bibir yang saling bertaut.


Stella sempat menolak karena ia ingin Xander menyanyi. Tapi ia malah terbawa suasana dengan permainan Xander, ia yang awalnya mau tak mau malah ikut balas mencium Xander dan bertukar saliva.


Perlahan Xander mendorong tubuh Stella hingga rebah sempurna di kasur lipat di bawahnya. Tangannya menyingkap baju tidur Stella hingga menampakkan bahu seputih susu yang begitu menggoda.


"Xander ... kau belum menyanyi untukku ... ah"


Xander tak menghiraukan perkataan Stella, ia malah menenggelamkan wajahnya di leher jenjang istrinya dan membuat tanda cinta di sana.


Setelah puas bermain-main dengan area kesukaannya Xander bersiap untuk memulai semuanya, namun tiba-tiba Stella mendorongnya hingga membuatnya terkejut.


"Stella ..." Xander terkejut melihat Stella yang tiba-tiba merangkak di atasnya.


"Aku mau di atas by," ucap Stella sedikit malu-malu, namun ia membuang sejenak rasa malunya agar suaminya terpuaskan.


Xander membasahi bibirnya saat melihat tubuh sintal istrinya, ia mengambil bantal lagi agar posisinya menjadi setengah bersandar. Ia lalu menuntun Stella untuk melakukan penyatuan yang ternyata cukup susah.


Entah karena milik Xander yang terlalu besar atau milik Stella yang terlalu sempit. Yang jelas Stella cukup kesusahan saat melakukan penyatuan.


"Argh ... Sayang ..." Xander mengerang pelan saat miliknya terbenam sempurna di lembah yang sangat sempit.


Stella tersenyum tipis, ia mencium bibir Xander seraya menggerakkan tubuhnya perlahan-lahan. Xander hanya bisa mendongakkan kepalanya saat dibuat mabuk kepayang dengan perlakuan Stella. Sesekali tangannya me re mas bokong Stella saat gelombang kenikmatan itu datang.


Kedua bukit kembar Stella juga tak lepas jadi santapannya. Xander me nye dotnya bergantian hingga meninggalkan bekas-bekas kemerahan.


"Ah Xander! Ah ..." Stella men de sah seraya memegang pundak suaminya erat saat pria itu menghentakkan tubuhnya dari bawah.


"Bersama," bisik Xander memeluk Stella erat seraya me lu mat bibirnya. Dengan di temani api unggun yang hangat, keduanya saling melepas kenikmatan dunia dengan perasaan yang menggebu dan tak terlupakan.


Beberapa saat kemudian, gerakan keduanya mulai tak terkendali dan terdengar erangan panjang pertanda keduanya sudah menyelesaikan semuanya. Stella yang sudah lemas langsung tidur begitu saja sebelum Xander meminta lagi jatah keduanya nanti.


Happy Reading.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2