
Devan lagi-lagi tersenyum, kali ini lebih manis dari sebelumnya, membuat Joana kebingungan.
"Aku memang pernah membuat kesalahan karena menganggapmu orang lain. Tapi hatiku tidak pernah salah," jawab Devan tanpa keraguan sama sekali.
Joana tidak bisa menjawab, tapi ia terus menatap Devan, mencoba mencari kebohongan dari sorot matanya. Tapi ia tidak menemukannya sama sekali.
"Sudah, jangan terlalu banyak membebani pikiranmu. Aku hari ini masih ada pekerjaan, nanti malam aku akan menjemputmu lagi," ucap Devan mengusap lembut rambut Joana sebelum pria itu bangkit dari ranjang lalu membuka lemari untuk mengambil baju kerjanya.
Joana menegakkan tubuhnya saat melihat Devan membuka lemari itu. Ia sangat takut sekali, ia melirik bagian bawah dimana ia menyimpan ponsel rahasia itu.
"Oh shittttt! Kenapa harus jatuh." Devan mengumpat pelan saat jasnya justru terjatuh ke bawah.
"Devan!" Joana tiba-tiba berteriak saat Devan menunduk untuk mengambil jasnya.
Devan terkejut, ia memandang Joana dengan alis yang terangkat. "Ada apa?" tanya Devan.
Joana menelan ludahnya, ia bingung sendiri harus mengatakan apa. Karena menyimpan rahasia, ia menjadi sangat takut seperti ini.
"Tidak, tidak, aku ingin ke toilet. Tolong bantu aku," kata Joana mencari-cari alasan yang masuk akal.
"Oh, kenapa harus mengangetkanku. Aku akan membantumu." Devan menuruti saja bagaimana permainan Joana yang sedang wanita itu mainkan saat ini.
Meskipun sejak tadi Devan sudah sangat ingin sekali marah, ia menahan dirinya. Ia tidak mau membuat Joana takut lagi dan akan lari dari sisinya.
Devan segera menggendong Joana dan membawa wanita itu ke kamar mandi. Wajahnya terlihat biasa saja, tapi entah kenapa Joana merasakan kalau Devan saat ini sedang marah padanya. Ia bisa melihat dari sorot matanya yang sering berkilat-kilat.
"Sudah, tinggalkan saja aku. Kamu siap-siap, nanti bisa terlambat," ujar Joana begitu sampai di kamar mandi.
"Baiklah." Lagi-lagi Devan menurut tanpa banyak memprotes.
Hal itu benar-benar membuat Joana bingung sekaligus takut. Ia tidak bisa menebak apa yang sedang Devan pikirkan saat ini. Karena pria itu bisa berubah-ubah setiap waktu tergantung suasana hatinya.
"Devan tidak mungkin tahu tentang ponsel itu 'kan? Aku sudah menyimpannya sangat dalam, dia pasti tidak akan melihat," ucap Joana meyakinkan dirinya sendiri jika tidak akan ketahuan.
"Mungkin aku hanya terlalu takut karena berbohong padanya. Aku yakin Devan tidak tahu tentang ponsel itu," kata Joana lagi, mencoba mencari sesuatu yang bisa mengurai kegusaran dalam hatinya ini.
Joana menggelengkan kepalanya, mencoba menepikan pikiran negatifnya agar ia tidak terlalu paranoid. Ia hanya masih terbawa suasana akan mimpi buruk yang baru saja dialaminya. Devan kemarin tidak di rumah jadi kemungkinan besar Devan tidak akan tahu tentang ponsel itu, itulah yang dipikirkan oleh Joana.
__ADS_1
Setelah menggosok gigi dan mencuci wajahnya, Joana langsung keluar kamar mandi. Ia pikir Devan sudah pergi, tapi ternyata pria itu masih berdiri didepan kamar mandi.
"Dev! Kenapa kamu berdiri disitu?" Joana kembali dikejutkan dengan tingkah Devan yang tiba-tiba muncul di depan matanya.
"Aku sedang menjagamu, apakah sudah selesai?" Seperti biasa, Devan sangat luar biasa tenang menghadapi Joana.
"Iya sudah, kamu tidak berangkat?" Joana mengernyitkan dahinya bingung.
"Kan aku sudah bilang kalau sedang menjagamu. Sekarang ayo sarapan, setelah itu baru aku pergi dengan tenang," ucap Devan dengan cekatan meraih kursi roda Joana lalu mendorongnya keluar kamar.
Joana mendongak sebentar, memperhatikan wajah Devan yang tampak biasa saja. Tapi kenapa ia merasakan firasat yang tidak enak sekali. Devan seperti menahan amarahnya, tapi sepertinya bukan kepada dirinya. Atau mungkin hanya perasaannya saja?
"Nanti malam berdandanlah yang cantik, saat aku pulang, kita akan langsung pergi," ucap Devan tiba-tiba.
"Sebenarnya kita mau ke mana?" tanya Joana dengan sangat penasaran.
"Rahasia. Nanti kamu juga akan tahu."
Joana menghela napas panjang, ia tidak bisa melakukan apapun jika Devan sudah berkata seperti itu. Ia hanya mengikuti saja apa yang Devan inginkan. Yang jelas pagi itu Devan memperlakukannya sangat baik sekali.
"Aku akan berangkat dulu, hubungi saja aku jika kamu membutuhkan sesuatu," kata Devan menyudahi acara sarapannya.
Joana mengangguk-angguk sebagai jawaban, ia tetap menekuri piringnya yang masih berisi makanan.
"Joana," panggil Devan.
Joana mendongak, menatap Devan seolah bertanya ada apa?
"Apa kamu yakin, tidak ada hal yang ingin kamu ceritakan padaku?" tanya Devan.
Joana membulatkan matanya, tapi sebisa mungkin ia terlihat untuk tetap tenang.
"Cerita apa, Dev? Tidak ada apapun," ucap Joana dengan nada yang sangat meyakinkan.
Devan mengepalkan tangannya, ternyata Joana benar-benar tidak ingin jujur padanya. Sekarang ia sudah tahu langkah apa yang harus ia lakukan.
"Baiklah, aku akan berangkat dulu." Devan bangkit dari duduknya, ia mendekati Joana lalu mencium kening wanita itu sebelum benar-benar pergi meninggalkannya.
__ADS_1
Joana menghela napas lega, akhirnya Devan pergi meninggalkannya. Ia sudah sangat khawatir kalau pria itu akan mencurigainya nanti.
_______
Devan mendatangi kantor Felix dengan raut wajah yang menyeramkan. Mungkin jika ada burung disekitar Devan akan kabur semua karena dari jarak 10 meter saja kemarahan pria itu sudah terlihat.
Kebodohan apa yang sebenarnya sedang Felix lakukan sampai berani-beraninya berniat mengkhianati Devan seperti ini. Devan tidak peduli, jika benar Felix sengaja ingin membantu Joana lolos dari tangannya dan berniat untuk berkhianat dibelakangnya, tidak peduli bagaimana persahabatan mereka, Devan pasti akan menghancurkan pria itu.
"Selamat pagi, Tuan Devandra. Anda datang sangat pagi sekali." Asisten Felix menyapa dengan ramah.
"Dimana Tuanmu?" Devan bertanya langsung to the point, siapapun tahu kalau ia sedang tidak ingin bermain-main saat ini.
"Tuan Felix ada didalam, Tuan." Asisten Felix menjawab dengan tubuh yang gemetaran, ia sudah takut sendiri melihat raut wajah Devan yang menyeramkan itu.
Devan mengertakkan giginya, tangannya kian mengepal. Ia lalu melirik kedua asistennya dan Felix dengan tajam.
"Tinggalkan kami berdua," titahnya dengan nada serius.
Mereka langsung menyingkir tanpa diperintah dua kali. Mereka pasti lebih sayang nyawa mereka sendiri daripada ikut campur urusan Devan.
Setelah semua orang pergi, Devan langsung masuk ke ruangan Felix tanpa mengetuk pintunya terlebih dulu.
Felix yang kala itu sedang mengecek berkas, terkejut tentunya karena kedatangan Devan itu. Tapi ia kemudian tersenyum santai.
"Bro, sepagi ini? Ada apa gerangan? Apa ada masalah?" Felix menyapa seolah tidak terjadi apapun, ia bahkan masih bisa tersenyum manis pada Devan.
"Ada, ada masalah." Devan menyahut dingin, ia jijik sekali melihat tampang tak berdosa Felix yang bisa-bisanya tersenyum seolah tidak terjadi apapun itu.
"Why? Ada masalah apa? Tentang perusahaan atau-"
"Aku benci berpura-pura apalagi berbasa-basi, Felix. Sekarang keputusan ada ditanganmu, kamu ingin bercerita sendiri padaku, atau aku sendiri yang akan membunuhmu dengan tanganku?" Sergah Devan dengan segala emosi yang tidak ditutupi.
Kali ini kesabaran Devan sudah benar-benar habis. Haruskah ia dikhianati oleh orang terdekatnya sendiri? Apakah sesusah itu menjadi orang jujur? Devan lebih suka jika Felix mengatakan secara langsung daripada diam-diam dibelakang ingin menghancurkannya. Setelah ini, Devan pasti akan mengambil tindakan tegas jika sudah tahu apa alasan Felix melakukannya.
________
__ADS_1