
"Bagaimana Bibi? Apa yang terjadi?" Joana bertanya tak sabar kepada Tania, sudah beberapa hari ini ia menunggu kabar baik tentang rencana mereka.
"Seusai rencana, Xander dan Stella bertengkar hebat, Xander bahkan sampai di usir dari rumahnya sendiri," ucap Tania tersenyum puas karena laporan dari anak buahnya.
"Lalu apalagi Bi?" Joana ikut tersenyum, sepertinya usahanya ini akan membuahkan hasil.
"Kau tahu Joana, Stella bahkan mengancam akan meminta cerai kalau Xander terbukti bersalah, bagus sekali bukan?" ujar Tania lagi.
Mata Joana berbinar cerah mendengarnya. "Kalau begitu, aku ingin menemui Stella Bibi," ucap Joana dengan wajah liciknya.
"Untuk apa kau bertemu wanita itu?" tanya Tania tak mengerti.
"Hanya ingin memastikan semuanya, Stella baru mengancam ingin cerai 'kan? Aku akan mereka benar-benar bercerai," ucap Joana tersenyum sinis.
Tania sempat terdiam, namun begitu apa maksud dari Joana, ia ikut tersenyum manis. Putrinya memang sangat hebat.
"Baiklah, Bibi akan mengantarmu menemui Stella," ucap Tania.
"Tidak perlu, aku sendiri yang akan bertemu dengannya," cegah Joana.
"Kenapa? Bagaimana kalau nanti Stella akan melukaimu?" ujar Tania khawatir akan terjadi sesuatu pada Joana jika menemui Stella sendiri.
"Bibi tenang saja, aku sangat mengenal Stella. Dia hanya wanita lemah, bahkan untuk menyakiti seekor nyamuk pun dia tidak akan mampu," ucap Joana tertawa kecil, sangat hafal betul bagaimana sifat Stella yang sering tidak tega.
Tania tidak membantah, ia akhirnya membiarkan Joana pergi sendiri untuk menemui Stella di rumahnya.
"Mohon maaf, Anda mencari siapa?" ketika Joana datang, ia disambut oleh pembantu rumah tangga di rumah Stella.
"Aku ingin bertemu dengan Stella, katakan saja Kakaknya datang," ucap Joana penuh percaya diri.
"Mohon tunggu sebentar Nona," Pelayan itu tidak bisa sembarangan membiarkan orang masuk, jadi ia harus memberitahu Nyonyanya dulu.
"Permisi Nona, di luar ada yang ingin bertemu," ucap Pelayan menghampiri Stella yang duduk di taman belakang.
"Siapa?" tanya Stella menekuk wajahnya.
"Katanya Kakak Anda," ucap Pelayan.
__ADS_1
Stella semakin menekuk wajahnya, Kakak? Kakak siapa? Joana kah?
"Suruh dia masuk Bi," ucap Stella penasaran siapa yang mendatanginya, tapi kemungkinan besar adalah Joana.
Dan seperti dugaannya, memang Joana yang datang dengan memasang wajah polos tanpa dosa yang terlihat begitu memuakkan bagi Stella. Ia hanya memandang wanita itu tajam, tapi Joana hanya bersikap santai.
"Rumahmu terlihat sangat nyaman Stella," ucap Joana jelas berbasa-basi.
"Apa yang membawamu kemari?" tanya Stella malas untuk menanggapi Joana.
"Apa aku salah jika ingin berkunjung ke rumah adikku sendiri?" ucap Joana mengulas senyum santainya.
"Tidak perlu berbasa-basi, katakan apa yang ingin kau katakan," sergah Stella mendudukkan dirinya untuk mengurangi rasa emosinya.
Joana masih tersenyum tipis, namun matanya terlihat begitu sinis. " Tidak ada, aku hanya ingin mengatakan padamu kalau Xander itu hanya milikku," ucap Joana ringan tanpa beban.
"Lalu apalagi yang Kakak inginkan? Ingin merebutnya kembali? Silahkan, aku sama sekali tidak keberatan jika Xander mau," ucap Stella juga sangat tenang tanpa emosi, padahal sejatinya ia sedang menahan perih dihatinya karena ada wanita yang terang-terangan menginginkan suaminya.
"Stella, kau pasti sudah melihat foto yang aku kirimkan. Foto itu asli dan kami benar-benar sudah melakukannya," ucap Joana lagi.
"Cukup kak!" bentak Stella tak mau mendengar apapun lagi.
"Lalu apa yang Kakak inginkan?" tanya Stella menatap Joana serius.
"Ceraikan Xander," ucap Joana langsung tanpa basa-basi.
Stella tertawa kecil, sebenarnya sudah menduga kalau Joana akan meminta hal ini. "Setelah kami bercerai, Kakak akan menikah dengannya begitu?" ucap Stella tersenyum sinis.
"Kau pasti mengerti maksudku," kata Joana singkat.
"Kakak, Kakak, ternyata Kakak sama sekali tidak berubah, Kakak itu egois. Kakak memikirkan nasib Kakak tapi apa Kakak pernah memikirkan aku? Aku sedang hamil Kak, bagaimana mungkin aku akan membiarkan anakku lahir tanpa Ayahnya?" ucap Stella berwajah miris.
"Masih banyak pria yang mau denganmu Stella, sedangkan aku?" ucap Joana tak menyerah untuk membuat Stella bersimpati padanya.
Stella tak menyahut, saat itu pikirannya sangat tidak tertebak. Ia bahkan semalaman penuh terus memikirkan perkataan Joana.
Joana benar-benar pandai memanfaatkan keadaan, dia sengaja membuat Stella bersimpati dengan kondisi fisiknya. Apakah dia harus merelakan Xander untuk Joana?
__ADS_1
Akhirnya, setelah semalaman berkutat dengan pemikirannya. Stella menemui Mama Rita untuk mengatakan keputusannya.
"Jika itu keputusan mu, Mama tidak bisa melakukan apapun. Mungkin kamu dan Xander tidak berjodoh," Mama Rita jelas kecewa dengan keputusan menantunya, namun ia tak bisa memaksa Stella untuk tetap tinggal.
Setelah dari rumah Mamanya, Stella langsung datang ke kantor suaminya. Ia sempat menunggu sebentar karena Xander sedang meeting. Begitu datang, pria itu begitu terkejut melihat kedatangannya.
"Sayang, kamu datang? Kenapa nggak ngabarin dulu?" Xander menyambut Stella dengan senyum sumringahnya, ia langsung memeluk wanita itu hangat.
Stella hanya diam membalas, ekspresi wajahnya terlihat begitu datar. "Hubby udah makan belum? Aku tadi sempet masak sedikit," ucap Stella menunjukan rantang makanan yang dibawanya.
"Kamu masakin buat aku?" tanya Xander begitu senang.
Stella mengangguk singkat. "Mau makan sekarang?" ucap Stella membuka rantang makanan yang dibawanya.
"Boleh," sahut Xander tersenyum, meski sedikit heran dengan sikap Stella yang tiba-tiba berubah, dia tak terlalu memikirkannya.
Stella mengambil sendok dan garpu untuk Xander makan. Ia menunggu sampai pria itu selesai makan untuk mengatakan maksud tujuannya kemari.
"Masakan kamu selalu enak," puji Xander sangat kenyang setelah menghabiskan makanan dari Stella, rasanya sudah lama sekali ia tidak makan seenak ini.
Stella hanya tersenyum tipis tanpa menyahut, ia merapikan semua bekas makanan Xander sampai benar-benar bersih.
"Kau ingin mengatakan apa?" tanya Xander sudah bisa menebak kalau Stella tidak stang hanya untuk mengantarkannya makan siang.
"Aku ingin minta cerai," ucap Stella lirih.
"Apa?" Xander langsung menegakkan tubuhnya.
"Ceraikan aku by," ucap Stella tak berani menatap Xander.
Xander mengepalkan tangannya erat, ia langsung menarik lengan Stella agar menatap dirinya.
"Katakan sekali lagi kalau kau ingin bercerai dariku," ucap Xander menatap Stella dengan sorot matanya yang tajam dan penuh emosi.
"Ceraikan aku Xander, aku tidak mau.. Hmppppttttt.....
Happy Reading.
__ADS_1
Tbc.