Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
Kritis.


__ADS_3

Xander setengah melompat dari mobilnya begitu ia sampai di rumah. Perasaannya campur aduk tak karuan karena istrinya. Ia ingin segera memeluk wanita itu dan harus berusaha sebaik mungkin mencari pengobatan yang baik untuk Stella.


"Stella!" Xander membuka pintu rumahnya dengan kasar.


"Kamu dimana Sayang?" Xander memanggil Stella dengan suara tercekat, rasa perih dan sakit karena terlambat mengetahui penyakit Stella membuat Xander sangat terpukul.


Xander bergegas mencari ke kamar, namun ketika sampai di tangga ia tertegun sejenak melihat darah yang terlihat membasahi lantai. Mata Xander membulat sempurna, seketika firasat buruk langsung menyergap dirinya.


"Stella!" Xander secepatnya berlari menuju kamar. Ia berharap kalau istrinya masih baik-baik saja.


Sesampainya di kamar, Xander membuka pintunya dengan kasar hingga membuat Stella sedikit terkejut. Begitu melihat Xander yang datang, Stella mencoba tersenyum dan bangkit dari duduknya meski masih gemetaran.


"By, udah pulang? Aku udah nungguin," ucap Stella mengulas senyum tipisnya.


Xander tak menyahut, ia menatap Stella lekat-lekat dengan matanya yang memerah menahan tangis. Wanita mungil yang berdiri di depannya ini, rela menahan sakit demi mempertahankan anak mereka hingga tubuhnya kurus. Wanita rapuh yang selalu berusaha terlihat tegar untuknya. Wanita rapuh yang selalu memberikan yang terbaik untuknya.


"Kenapa by? Pekerjaannya sudah selesai ya?" Stella kembali bertanya karena Xander hanya diam saja.


Xander menggelengkan kepalanya, hatinya sangat sakit melihat Stella yang masih memaksakan dirinya untuk selalu tampil cantik di depannya meski saat ini Stella sedang menahan sakit yang luar biasa hingga tak sadar kalau saat ini bedak dan lipstiknya belepotan.


Xander melangkahkan kakinya cepat-cepat dan langsung menyambar tubuh ringkih itu. "Maafkan aku, maafkan aku ..." ucap Xander menangis keras, tak sanggup jika melihat istrinya terus menerus kesakitan.


"Hubby kenapa?" tanya Stella bingung, ia mencoba menyentuh punggung Xander tapi tangannya tak bisa di gerakan karena gemetar.


"Aku sudah tahu, kenapa kau menyembunyikan ini dariku?" ucap Xander memegang kedua pipi Stella mengusapnya lembut.


Stella terkejut mendengar ucapan Xander, ia tak tahu harus mengatakan apa. Tapi tiba-tiba saja kepalanya semakin sakit dan tubuhnya gemetar hebat.


"Aku ... akhhhhh!" Stella berteriak seraya memegang kepalanya, hidungnya kembali mengeluarkan darah kental yang lebih banyak dari sebelumnya.


"Stella!" Xander tak kalah terkejutnya, ia mencoba memegangi tangan Stella yang gemetaran.


"Sakitiiit! Akhhhh!!!" Stella menggenggam tangan Xander dengan erat.


"Kita akan ke rumah sakit! Bertahanlah Sayang," ucap Xander mendongakkan kepalanya untuk menghalau air mata yang berjatuhan.

__ADS_1


Xander ikut sakit melihat Stella yang berteriak kesakitan seperti itu. Kalau bisa, ia ingin sekali menggantikan rasa sakit itu agar istrinya tak lagi merasakan sakit.


"Xander ... mungkin ...umurku tidak akan lama," Stella berusaha sekuat mungkin berbicara diantara rasa sakit yang menggerogotinya.


"Jangan katakan apapun Stella! Kau kuat, kau harus bertahan!" Xander menjerit histeris melihat Stella yang semakin lemas dan darahnya terus keluar dari hidung.


Stella menggelengkan kepalanya, ia menggenggam erat tangan Xander. "Kau harus tahu ... aku ... sangat mencintaimu ..." ucap Stella dengan nafas tersengal.


"Kalau begitu bertahanlah untukku! Aku tidak akan mengampuni mu kalau kau menyerah! Aku akan sangat marah padamu kalau kau berani melakukan itu!" teriak Xander langsung menggendong tubuh ringkih Stella. Sumpah demi apapun, ia tidak akan mengampuni dirinya sendiri jika terlambat sedikit saja.


*****


"Xander, keadaan Stella sangat kritis. Saat ini pembuluh darah Stella ada yang pecah karena penyakit itu semakin mengganas. Kami harus melakukan tindakan, tapi sebelumnya kami terpaksa mengeluarkan bayi Stella terlebih dulu,"


Xander seperti dihempaskan dari ketinggian menuju lembah suram yang mematikan saat Dokter Mazaya mengatakan kondisi Stella. Xander sudah seperti orang bodoh karena saat ini pikirannya benar-benar kacau.


"Lakukan yang terbaik Dokter," hanya kata itu yang Xander sanggup ucapkan.


Jika memang harus mengorbankan anak mereka demi kesembuhan Stella, itu artinya memang anak itu bukan rejekinya. Yang paling penting saat ini adalah kesembuhan istrinya sudah itu saja.


Ucapan Dokter Mazaya itu hanya Xander anggap sebagai angin lalu. Saat ini pikirannya jauh terbang pada momen bersama Stella.


"Kira-kira anak kita cewek apa cowok?"


"Nggak tahu, aku nggak pengen tahu jenis kelaminnya dulu. Yang jelas cewek atau cowok, aku akan selalu menyayanginya By,"


"Kalau cewek pasti mirip kamu,"


"Ya, dia akan menggantikan aku mengurus mu saat aku tidak ada nanti,"


Xander tersenyum saat mengingat momen itu, matanya tanpa sadar sudah basah saat sadar kalau Stella memang sudah memberikan kode waktu itu, hanya saja ia terlalu bodoh dan tidak menyadarinya.


"By, apa aku boleh meminta sesuatu padamu?"


"Tentu saja, kau mau minta apa? Katakan saja Sayang,"

__ADS_1


"Aku mau di gendong by,"


"Hanya gendong saja?"


"Siap laksanakan Nyonya,"


"Apa aku berat by?"


"Tidak sama sekali, percayalah tangan ini akan sangat kuat menggendong mu setiap hari. Jika tua nanti kedua tanganku tidak lagi kuat menggendong mu, aku masih kuat untuk selalu menggandeng mu di sisiku Sayang,"


"Maka, lakukanlah setiap hari by, aku mau kau terus menggendong ku seperti ini,"


Tangis Xander semakin kencang saat mengingat Stella yang meminta di gendong olehnya waktu itu. Lagi-lagi ia kembali melakukan hal bodoh dengan tidak menyadarinya lebih awal. Andai saja ia mengetahui penyakit Stella lebih awal, ia pasti akan mencarikan pengobatan terbaik untuk istrinya.


"Sudah Nak, saat ini bukan waktunya menyesali semuanya. Kamu harus berdoa agar Stella diberi kesembuhan," Mama Rita memeluk putranya yang sangat hancur, ia juga sejak tadi menangis saat mengetahui kondisi Stella.


Semua keluarga Stella sangat syok dan terpukul saat mengetahui keadaan Stella. Apalagi Medison dan Melisa yang tak henti menangisi putri mereka. Kendrick saja sejak tadi juga ikut menangis karena melihat kondisi menantunya.


"Mama tahu, saat aku kembali mengajaknya pulang. Aku selalu mengatakan, tenang saja, aku pasti akan selalu menjagamu ... tapi aku bodoh Ma, aku bodoh karena tidak bisa menjaga Stella. Dia sakit dan aku tidak mengetahuinya. Aku gagal menjadi suami yang baik dan Ayah yang baik," ucap Xander dengan suara tercekat, ia menjambak rambutnya untuk melampiaskan segala rasa sakit batinnya.


"Kamu tidak gagal Nak, kalau kamu menyerah sekarang itu baru gagal. Kamu harus kuat demi Stella, dia pasti tidak akan senang melihatmu seperti ini. Kamu harus kuat," ucap Mama Rita menggenggam tangan Xander untuk memberi atau entah mencari kekuatan.


Xander balas memegang tangan Mamanya, mencoba tegar demi Stella yang sedang berjuang di dalam sana. Namun, tiba-tiba saja datang badai yang luar biasa menyakitkan hingga membuat tubuh Xander luluh lantak.


Happy Reading.


Tbc.


Rekomendasi novel bagus gengs ...


Mampir yuk ke karya teman author ...


Judul : Bella's Script.


Author : Naya Handa.

__ADS_1



__ADS_2