
Malam kembali datang, cahaya matahari tergerus tergantikan cahaya rembulan. Sama seperti malam sebelumnya, Stella menghabiskan malam ini dengan kesendiriannya. Namun kali ini dia tidak berdiam diri di kamar, ia memilih memasak makan malam. Entah kenapa ia ingin sekali makan nasi goreng.
"Nona, biarkan Saya saja yang membuatnya, Nona tunggu saja di meja makan," ucap Ming tak enak jika membiarkan Stella masak sendiri.
"Tidak apa, lagian anak aku pengen makan masakan aku sendiri," kata Stella fokus kepada masakannya. "Ehm, Ming. Aku ingin bertanya sesuatu padamu," ucap Stella di sela-sela ia memasak.
"Bertanya apa Nona?" tanya Ming masih siap di posisinya.
"Kamu udah lama kenal sama Daniel?" tanya Stella mengecilkan suaranya di akhir kalimat, takut jika ada orang yang mendengar suaranya.
"Saya sudah bekerja 10 tahun di rumah Tuan Daniel, Nona" sahut Ming seadanya.
Stella mengangguk singkat, ternyata sudah cukup lama Ming bekerja bersama keluarga Daniel.
"Nona, kemungkinan besar dua hari lagi Tuan Xander akan melakukan bisnis keluar kota. Tuan Daniel mengabarkan kepada Saya kalau saat itulah kita akan pergi," kata Ming menginformasikan hal yang tadi di dapatkannya.
"Dua hari lagi?" Tangan Stella mendadak berhenti mengaduk nasi yang dimasaknya. Ada segelintir perasaan yang mengusik hatinya, perasaan yang seolah ingin menahannya tetap berada disana.
"Benar Nona, Saya akan menyiapkan semuanya. Nona siapkan saja semua barang penting yang akan Nona bawa, untuk yang lainnya Tuan Daniel yang akan mengurusnya," kata Ming dengan wajah seriusnya.
"Baiklah," kata Stella mengulas senyum tipisnya. Ia kembali melanjutkan memasak dengan pikiran melayang entah kemana.
Jujur saja meski Xander sering menyakitinya, hatinya tak pernah berubah sedikitpun. Semakin lama cinta itu bukannya mereda, tapi semakin kuat dan melekat dalam hatinya. Tapi kali ini bukan hanya sekedar perasaannya saja yang penting, ia harus menggunakan logikanya. Jika dia tetap bertahan disana, ia akan membahayakan anaknya juga.
"Mungkin ini memang yang terbaik untuk semuanya, Xander tidak akan pernah mencintaiku sampai kapanpun, aku harus sadar dan pergi sejauh mungkin karena kehidupan pria itu," batin Stella seraya memejamkan matanya erat, mencoba berdamai dengan takdir dan juga perasaannya.
__ADS_1
****
"Ming, makanannya sudah siap, ayo kita makan dulu," ucap Stella tersenyum senang melihat nasi goreng yang dibuatnya sudah jadi.
"Tidak usah Nona, Anda makan saja dulu," kata Ming tak enak jika harus makan bersama majikannya.
"Tidak apa-apa, ayolah Ming. Temani aku ya," kata Stella langsung saja menarik tangan Ming dan mengajak wanita itu duduk.
"Kamu nggak usah sungkan, aku udah capek-capek masak, jadi kamu harus makan," ucap Stella mengambilkan nasi goreng untuk Ming terlebih dulu baru untuk dirinya sendiri.
"Nona sangat baik sekali," puji Ming dengan tulus, ia bisa melihat wanita di depannya ini memiliki hati yang lembut, kenapa ada orang yang tega bersikap jahat padanya.
"Aku itu orang jahat Ming, aku sudah membuat Kakak angkat ku berpisah dengan calon suaminya," kata Stella tersenyum kecut, jika memang dia orang baik suaminya sendiri tak akan memperlakukannya seperti ini.
"Saya tahu kalau hal itu pasti hanya sebuah kesalahpahaman, Nona." kata Ming lugas, sangat yakin kalau Stella memanglah orang baik.
"Wah-wah, enak sekali ya hidup seorang Nyonya Oliver,"
Sebuah suara wanita yang sangat familiar terdengar memecah keheningan, suara tepuk tangan yang menggema membuat kedua orang itu menoleh. Dilihatnya Joana berdiri dengan memasang senyum angkuhnya.
Stella hanya melirik malas, apalagi yang wanita ular ini inginkan, pikirnya.
"Ming, aku sudah selesai makan. Aku akan ke kamar dulu," ucap Stella tak ingin meladeni Joana, ia tahu jika wanita licik ini hanya akan mencari masalah dengannya.
"Wow, bagus sekali. Kau masih berani padaku ya?" ucap Joana menahan tangan Stella sebelum wanita itu beranjak.
__ADS_1
Stella menghela nafasnya, ia melepaskan tangan Joana pelan. "Sebenarnya masalahmu apa sih Kak? Kau terlihat sangat baik di depanku tapi ternyata seperti ini sifat aslimu? Sebenarnya apa salahku?" ucap Stella kali ini bukan menatap Joana tajam penuh permusuhan seperti biasa, dia menatap Joana dengan tatapan sendunya. Tatapan seorang Adik yang terluka karena sikap Kakaknya, padahal dalam lubuk hatinya yang terdalam ia tak pernah sedikit pun membenci Joana.
"Oh Stella, sebenarnya aku juga sangat kasihan padamu, tapi mau bagaimana? Posisimu saat itu berada di tempat yang tepat, aku akui saat itu aku memang ingin menggagalkan pernikahanku dengan Xander. Tapi aku tak menyangka kalau kau malah dengan senang hati membantunya," ucap Joana mengulas senyum sinisnya, ia menepuk pelan pipi Stella dengan ekspresi wajahnya yang menjengkelkan.
"Kakak memang benar-benar jahat!" ucap Stella mendorong Joana dengan kasar, terlalu kesal karena Joana memang tak sebaik yang dia kira.
Tapi sialnya saat ia mendorong Joana, pada saat yang bersamaan pula Xander datang dan melihat apa yang terjadi. Wajah Xander langsung mengetat dan menatap Stella tajam.
"Xander, tolong aku, Stella mendorongku," kata Joana segera memanfaatkan situasi ini.
Stella berdecak kesal, Joana memang seorang aktris yang sangat hebat. Wanita itu bisa berubah dalam sekejap, dari seorang iblis menjadi wanita yang paling tersakiti.
"Apa kau terluka?" tanya Xander membantu Joana untuk bangun.
"Tanganku sakit," kata Joana merengek manja.
Xander segera menuntun Joana untuk duduk di kursi, ia lalu mendatangi Stella yang sejak tadi diam saja.
"Apa yang sudah kau lakukan pada Joana?" bentak Xander mencengkram lengan Stella kuat.
"Sebelum kau memarahiku, tanyakan saja kepada wanitamu itu. Seseorang tidak akan melakukan tindakan kalau tidak ada yang memulai," ucap Stella menghempaskan tangan Xander kasar. Sudah cukup dia mengalah, dia tak ingin disalahkan karena bukan salahnya.
"Kau!" Xander mengepalkan tangannya erat dan bersiap memukul Stella, tapi wanita itu lebih sigap menahannya.
"Xander, dengarkan aku baik-baik. Aku mungkin akan menerima setiap luka yang kau berikan padaku, tapi jika hanya karena wanita itu kau melukaiku? Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi," ucap Stella segera pergi meninggalkan ruangan itu. Suaranya yang dingin dan datar membuat semua orang yang berada disana seolah membeku.
__ADS_1
Happy Reading.
Tbc.