
"Mega, kenapa kamu mengatakan aku jahat? Aku hanya sedang mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. Dan tempatmu memang disisiku," ujar Devan ringan tanpa beban.
Joana semakin marah, ia menatap Devan dengan penuh kebencian. "Aku bukan Mega, namaku Joana. Aku bukan Mega! Cepat kembalikan ibuku, arghhhhhhhh!" jerit Joana menangis frutasi, ia tidak mau kehilangan satu-satunya orang yang tulus mencintainya.
Mata Devan langsung berkilat mendengar ucapan Joana, ia orang yang paling tidak suka jika ucapannya dibantah seperti itu. Ia melirik Joana yang masih menangisi kepergian ibunya, ia malah merasa kesal karena menganggap Mega-nya justru lebih perhatian kepada orang lain.
"Aku tidak peduli siapa dirimu atau sekedar tahu siapa namamu. Yang aku tahu kamu adalah Mega-ku yang telah datang kembali," kata Devan dengan suara yang sangat dingin sekali.
"Aku bukan Mega! Namaku Joana, sampai kapanpun kamu tidak akan bisa merubahku menrubahku menjadi orang lain!" teriak Joana semakin marah.
Devan tidak peduli, siapapun yang sudah ia putuskan menjadi miliknya. Maka ia harus mendapatkannya, tidak peduli apapun.
"Ken, bawa Nona Mega pulang dan singkirkan wanita tidak berguna itu," titah Devan dengan raut wajah dingin.
Ken mengangguk sigap, ia dan anak buahnya yang lain langsung membawa Joana pergi mengikuti perintah Tuannya dan menyingkirkan jasad Tania serta membersihkan TKP agar tidak ada jejak apapun.
"Tidak mau! Lepaskan aku, ibu!" Joana berontak dan berteriak histeris, ia memegang tangan ibunya dengan erat.
Namun, para pria berhati iblis itu sama sekali tidak mempedulikannya. Mereka tetap memisahkan Joana dan ibunya yang diseret dengan kasar layaknya sampah. Air mata Joana tidak henti mengalir, kemalangan apa yang tengah menimpa dirinya ini.
'Tuhan, apa ini karmaku?' batin Joana dengan hati yang tersayat-sayat.
________
Joana dibawa di mansion yang letaknya sangat jauh dari hiruk pikuk kota. Ia tidak tahu tempat pastinya dimana, ia mencoba menghafalkan jalan ia pulang, tapi kepalanya malah sakit sekali. Kondisi kaki yang lumpuh membuat Joana tidak bisa melakukan apapun selain menangis.
Setelah sampai di mansion itu, Joana diantarkan ke sebuah kamar yang sangat luas. Disana sudah ada Devan yang berdiri menjulang layaknya malaikat kematian.
Joana menelan ludahnya kasar, perasannya campur aduk, antara takut dan juga ingin sekali marah. Satu hal yang akan sangat ia ingat dalam hidupnya, yaitu Devan adalah orang yang akan ia benci seumur hidupnya.
Devan tersenyum manis, wajahnya yang tadinya dingin berubah lembut. Ia berjalan mendekati Joana yang duduk di kursi rodanya itu.
"Jangan mendekat!" teriak Joana, ia takut pria menyeramkan itu akan macam-macam padanya.
"Ternyata dua tahun sudah merubah segalanya, Mega. Mana tatapan penuh cinta yang selalu kamu berikan padaku?" ucap Devan, suaranya terdengar lirih dan penuh kerinduan.
"Aku bukan Mega!" Joana kembali berteriak, rasanya tidak bisa untuk tidak bicara kasar.
Devan tidak langsung menyahut, ia tiba-tiba duduk didepan Joana membuat wanita itu kaget. Belum hilang rasa kagetnya, Devan tiba-tiba mengambil tangannya lalu memeluknya sangat erat.
"Aku sangat merindukanmu, Mega," ucap Devan, hembusan napasnya sangat berat dan ia menenggelamkan wajahnya diceruk leher Joana.
__ADS_1
Akhirnya kerinduan yang ia tahan selama 2 tahun terobati dengan memeluk Mega-nya kembali. Selama Devan hidup, hanya ini yang ia tunggu.
Joana tentu terkejut dengan sikap Devan ini, ia langsung mendorong Devan dengan kasar.
"Dasar pria gila! Apa kamu tidak mengerti perkataan manusia? Aku Joana!" teriak Joana marah.
Namun, suara Joana yang keras itu menyulut emosi Devan sehingga wajah pria itu langsung berubah. Ia mencengkram dagu Joana dengan kasar.
"Akhhhhhhh!"
"Dengarkan aku baik-baik, mau namamu Joana atau siapapun, aku tidak akan peduli. Bagiku kamu adalah Mega, dan kamu harus menjadi Mega-ku." Devan berbisik lirih ditelinga Joana, membuat wanita itu merinding.
"Sampai kapanpun aku tidak akan menjadi Mega," kata Joana menahan sakit di dagunya.
"Siapa bilang? Mulai detik ini kamu adalah Mega, dan malam ini kita akan menikah," kata Devan dengan sengaja mencium pelipis Joana membuat kepanikan wanita itu meningkat.
"Menikah?" Joana membulatkan matanya syok.
"Ya, dulu kita sudah berencana menikah. Tapi kamu malah pergi, malam ini aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi, Mega," kata Devan berubah menjadi lembut.
"Cih, apa kamu pikir aku sudi menikah dengan pria yang sudah membunuh ibuku sendiri? Sama sekali tidak! Lebih baik kamu membunuhku sekarang!" sergah Joana menatap Devan dengan penuh kebencian.
"Sekarang kamu menjadi lebih berani, tidak masalah, aku sangat menyukainya, Sayang. Istri seroang Devandra Dawson memang harus pemberani. Aku jadi semakin tidak sabar menjadikanmu istriku," ucap Devan dengan tawanya yang menyeramkan.
Joana kembali mendorong pria itu, sebenernya apa yang Devan pikirkan? Apakah wajahnya memang sangat mirip sekali dengan tunangannya? Tapi Joana heran dengan sikap Devan yang tiba-tiba berubah dengan cepat, apakah Devan memiliki kepribadian ganda?
Tok tok tok.
"Permisi, Tuan." Ken masuk ke dalam ruangan.
"Hm?" Devan menyahut tanpa menoleh, masih sibuk memandang sosok wanita yang sangat mirip dengan mantan tunangannya itu.
"Pendeta dan penata busana sudah datang, kapan acaranya akan dimulai?" tanya Ken.
"Sekarang."
_______
Joana merasa semua ini adalah kutukan untuk dirinya karena dulu ia begitu jahat kepada Stella. Disana Joana berbicara dan menjelaskan kalau ia tidak mau menikah, tapi para penata rias itu seolah menulikan telinganya sehingga ucapan Joana hanya dianggap angin lalu.
Mereka memperlakukan Joana sangat tidak manusiawi, di mana ia dimandikan dan digantikan baju menggunakan gaun pengantin yang terasa sangat berat.
__ADS_1
"Apa kalian semua tidak punya telinga? Tuanmu itu gila, aku bukan tunangannya! Hentikan ini, aku tidak mau!" Joana berteriak dan marah-marah karena menurutnya ini sudah sangat keterlaluan.
"Nona sebaiknya menurut saja, Tuan Devan bisa lebih marah jika Anda semakin melawan beliau," tutur salah satu penata rias Joana.
"Kalian memang sama gilanya dengan tuan kalian, aku tidak mengenalnya, bagaimana bisa aku harus menikah dengannya? Hentikan ini sekarang!" teriak Joana lagi, ia membuang setiap aksesoris yang dipakaikan penata rias itu di rambutnya.
Penata rias itu saling pandang, mereka kemudian mengangguk dan mengambil sesuatu didalam tas.
"Nona, maafkan kami, kami hanya menjalankan tugas."
Joana mengerutkan dahinya bingung, tapi beberapa saat kemudian ia merasakan bahunya seperti ditusuk sesuatu yang tajam. Lalu beberapa saat kemudian kesadarannya mulai hilang.
"Apa tidak masalah kita melakukan ini?" tanya salah satu teman perias, takut jika Devan akan marah.
"Ini perintah langsung dari Tuan Devan, sebaiknya kita cepat. Tuan Devan sudah menunggu dibawah."
________
Devan tersenyum manis saat Joana diantarkan turun ke bawah. Ia melihat wanita itu tak sadarkan diri, tapi ia begitu bahagia melihat Joana sudah tampil menggunakan gaun pengantin mereka.
Sebuah gaun pengantin yang sama persis seperti 2 tahun yang lalu. Kini Joana semakin terlihat mirip dengan Mega.
"Dia memang Mega, dia adalah Mega."
Devan tidak henti berkata seperti itu, obsesi gila yang nyaris tak tertandingi karena 2 tahun Devan hidup dengan penuh kehampaan setelah kecelakaan itu. Sekarang akhirnya ia bisa menemukan kembali Mega-nya yang telah lama pergi.
"Tuan, waktu baiknya sudah tiba," tutur Ken memberitahu.
Devan mengangguk singkat, ia langsung mendekati Joana lalu menggendong wanita itu untuk menghadap pendeta agar mereka segera dinikahkan.
Dengan dihadiri saksi seluruh anak buah Devan, pria itu mengucapkan janji suci pernikahan dengan Joana yang meringkuk didalam pelukannya. Ia berjanji selayaknya ia menikahi Mega, dengan tulus dan dari lubuk hatinya yang terdalam.
"Seperti cincin yang berbentuk bulat, tanpa awal dan tanpa akhir, sebagai lambang kasih Kristus, yang tanpa awal dan tanpa akhir. Atas dasar itu, cincin ini menyatakan bagi saudara Devandra Dawson dengan Mega Deya Anastasya, untuk meniru kasih Kristus dalam kehidupan rumah tangga dengan mengasihi pasangan tanpa awal juga tanpa akhir."
Pendeta lalu memberikan pemberkatan seraya memberikan cincin pernikahan untuk Devan dan Joana. Cincin itu juga cincin pernikahan mereka dulu, tapi sayang sekali Mega yang asli belum sempat memakainya. Sekarang Devan memakaikan cincin itu pada Joana.
"Istriku ...," bisik Devan lalu mencium kening Joana dengan sangat dalam. Mulai detik itu juga, tidak akan ada yang boleh mengambil Mega-nya lagi meskipun itu kematian.
Happy Reading.
TBC.
__ADS_1