Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
(MM&GL) BAB 20. Bantuan Felix.


__ADS_3

Semua orang bisa mencintai dengan mudah. Tapi tak semua orang bisa memahami apa arti cinta yang sebenarnya. Terkesan sangat klise jika berbicara tentang cinta. Jika kita sudah memberikan segalanya, artinya kita sudah mencintainya.


Namun, sebenarnya cinta bukan tentang memberi dan menerima. Tapi tentang sebuah ketulusan, keihklasan, dan juga kepercayaan. Menjadi kunci penting dalam cinta itu sendiri, jika belum memberikan ketiganya, itu bukan cinta.


Devan mungkin ingin memberikan seluruh isi dunia untuk Joana agar wanita itu bisa menjadi miliknya. Sayangnya yang Joana butuhkan bukan itu. Ia hanya butuh kebebasan yang tanpa campur tangan Devan, menjalankan hidupnya sendiri seperti layaknya manusia normal biasa.


"Nona, ada paket untuk, Anda." Tita menghampiri Joana yang kala itu sedang berdiam melamun di galeri seninya.


Sejak kejadian pagi tadi, Devan langsung pergi ke kantor dan belum menghubunginya sama sekali. Sepertinya Devan sangat sibuk.


"Paket apa?" Joana mengerutkan dahinya bingung.


"Dari Tuan Felix," ujar Tita menyerahkan sebuah box yang cukup besar kepada Joana.


Joana semakin kebingungan, ia menatap paket itu dan Tita bergantian.


"Ini apa isinya?" tanya Joana.


"Saya kurang tahu, Nona. Anda bisa langsung membukanya, mari saya bantu," kata Tita.


"Tidak usah, aku akan membukanya sendiri. Kamu pergi saja," ucap Joana, menolak dengan halus.


Tita mengangguk mengiyakan, ia hanya pergi tak jauh dari Joana, karena ia diminta Devan untuk mengawasi Joana. Semua orang pasti takut kalau nantinya Joana akan kembali bertindak gegabah, pasalnya mood Joana sering berubah sewaktu-waktu.


Joana sendiri membuka kotak pita itu perlahan, saat ia memegangnya cukup berat, jadi ia tidak bisa menebak apa isi didalamnya. Joana membukanya perlahan, hingga saat kotak itu terbuka, ia terkejut dengan isinya.


"Kucing?"


Seekor kucing berwarna coklat yang sangat cantik sekali, matanya hijau berkilauan. Joana menggelengkan kepalanya, bagaimana bisa Felix memberikannya hadiah kucing tapi dimasukan wadah seperti itu?


"Felix benar-benar, untung saja kucingnya tidak mati," ucap Joana seraya meraih kucing manis itu ke dalam gendongannya.


Namun, saat ia memegang kakinya, ada sebuah surat yang sengaja ditali dengan kaki kucing itu.


Joana melihatnya, amplop kecil berwarna merah muda yang sangat lucu sekali. Joana mengambilnya, tapi ia sedikit ragu, ia melirik Tita yang masih berdiri mengawasinya.


"Ehm, Tita, sepertinya aku haus. Bisakah kamu mengambilkan aku minum?" ucap Joana.


"Baik, Nona." Tita mengangguk pelan lalu pergi meninggalkan ruangan itu.


Joana menghela napas lega, ia baru berani membuka amplop itu dan ternyata memang berisi sebuah surat yang ditulis oleh Felix.

__ADS_1


Hai, semoga suka dengan hadiah kecil yang aku berikan.


Aku tidak bisa sering-sering datang, tapi semoga dengan ini bisa membantu.


Dibawah lipatan kain ini, ada ponsel kecil dan juga obat untukmu. Simpan baik-baik, jangan sampai Devan tahu.


Joana sedikit terkejut, ia melihat sekelilingnya kembali, saat dipastikan sudah aman, barulah ia membuka kain yang digunakan sebagai alas kucing itu. Ternyata memang ada sebuah ponsel mini yang sengaja Felix letakkan disana.


"Nona, ini minumnya."


Joana tersentak, ia buru-buru memasukkan kembali ponsel itu dan menutupinya. Barulah ia menerima minuman yang diberikan oleh Tita.


"Terima kasih, aku akan meminumnya. Setelah itu aku mau istirahat," kata Joana.


"Baik, mari saya bantu membawakan ini," ucap Tita, mengulurkan tangannya untuk mengambil kotak besar yang berisi kucing itu.


"Jangan, jangan, aku akan membawanya sendiri. Antar aku ke kamar saja," tolak Joana dengan cepat, ia tidak boleh membiarkan Tita menyentuh benda itu sebelum ia menyimpan ponsel pemberian Felix ke tempat yang aman.


Tita mengangguk mengerti, ia lalu membantu Joana untuk pergi ke kamarnya, setelah itu barulah ia pergi meninggalkan Joana sendirian.


Joana sendiri segera membuka ponsel itu, ternyata meskipun kecil, ponselnya sangat canggih. Bisa digunakan untuk membuka internet dan yang lainnya. Saat Joana sedang melihat-lihat, ponselnya berdering membuat ia terkejut. Tapi ia segera mengangkatnya.


"Halo?" ucap Joana dengan ragu.


"Aku baik," jawab Joana sedikit canggung. "Terima kasih, terima kasih atas bantuannya," sambungnya lagi.


"Jangan katakan terima kasih dulu, Joana. Aku belum bisa membuatmu lolos dari tangan Devan," kata Felix.


"Iya," sahut Joana lagi, benar-benar masih canggung dengan Felix.


"Baiklah, aku sudah senang kalau kamu baik-baik saja. Kedepannya, aku akan mengirimkan tutorial dari dokter tentang pelatihan untuk kakimu. Dan jangan lupa terus minum obatnya, dokter bilang itu bisa membantu penyembuhan kakimu," kata Felix.


"Ehm, iya. Terima kasih," ujar Joana lagi.


Keduanya pasti masih sama-sama canggung, karena mereka hanya bertemu satu kali dan itupun tidak lama.


"Baiklah, aku akan menutup teleponnya. Ingat, simpan baik-baik ponsel ini, jangan sampai Devan tahu," kata Felix mewanti-wanti.


Joana hanya mengangguk meski Felix tidak melihatnya, setelah berbasa-basi sebentar, panggilan itu akhirnya berakhir.


Joana menggenggam ponselnya dengan erat, ia melirik sekelilingnya, bingung harus menyembunyikan ponsel itu dimana agar Devan tidak bisa menemukannya.

__ADS_1


Joana sampai mengitari sekitar kamar itu, mencari tempat yang tidak akan dijangkau oleh Devan. Dan setelah berpikir keras, akhirnya Joana menyimpan ponsel itu dibawah ranjang, tapi ia mengambilnya kembali.


"Tidak, disini tidak aman. Devan bisa saja melihatnya. Aku harus mencari tempat lain," ucap Joana.


Joana mencari tempat yang lain, hingga akhirnya ia menemukan tempat yang tidak akan dijangkau oleh Devan. Yaitu di dalam lemari dibagian bawah, Devan tidak mungkin menjangkau tempat itu karena hanya berisi bedcover.


"Disini aman sepertinya, semoga Devan tidak menemukan ponsel ini," ucap Joana dengan penuh harap, ia sendiri sangat takut sekali jika Devan akan mengetahuinya, kemungkinan besar ia pasti yang akan mendapatkan amukan dari pria itu.


________


Malam sudah sangat larut saat Devan pulang ke rumah. Keadaan rumah sudah sangat sepi sekali, karena orang-orang sudah tidur. Ia sendiri langsung masuk ke dalam kamarnya yang terlihat remang.


Devan menatap Joana terlihat meringkuk dibalik selimut tebalnya. Wajahnya tampak dingin dan tidak tertebak sama sekali. Ia lalu melepaskan jas yang dipakainya serta sepatu, lalu ia ikut berbaring disamping wanita itu.


Merasakan gerakan disampingnya, Joana membuka matanya. Ia mengerutkan dahinya seraya menoleh ke belakang.


"Dev, baru pulang?" tanya Joana dengan suara serak, matanya masih sangat mengantuk sekali.


"Hm, ini sudah malam. Tidurlah lagi," sahut Devan mengusap lembut lengan Joana.


Joana tidak langsung menyahut, ia tiba-tiba memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Devan.


"Peluk," ucap Joana dengan suara yang tidak begitu jelas.


"Hm?"


Joana merapatkan tubuhnya, sepertinya ia sendiri sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Devan yang selalu bersamanya. Joana memeluk Devan tanpa diminta, wanita itu juga menyusupkan tangannya ke dalam kemeja Devan, mengusap dadanya yang hangat.


"Joana?" Devan cukup terkejut akan sikap Joana itu, tapi wanita itu sudah tertidur kembali.


Devan menghela napas panjang, ia mengusap rambut Joana perlahan. Sorot mata Devan benar-benar tidak bisa ditebak sama sekali. Setelah memastikan wanita itu tidur dengan nyenyak, Devan melepaskan Joana dengan gerakan sangat pelan agar tidak membangunkan wanita itu.


Devan turun dari ranjang, ia berjalan kearah lemari dan membukanya. Tanpa mengatakan apapun, Devan mencari sesuatu yang tersimpan dibalik bedcover yang ada disana. Setelah menemukannya, Devan tersenyum sinis dengan mata yang berkilat-kikat.


Devan memegang ponsel kecil itu dengan kuat, nyaris meremas malahan. Jangan dikira ia bodoh, tidak mengetahui apa yang sudah Joana lakukan.


"Teruslah berusaha untuk kabur dariku, semakin kamu ingin pergi, semakin kuat juga keinginanku untuk menahanmu," geram Devan dengan gigi gemeletuk menahan amarah.


"Felix ...."


_________

__ADS_1



__ADS_2