
Daniel ternyata benar-benar menunggu Stella sampai selesai mengajar. Ia tak risih ikut bergabung dengan para ibu-ibu yang sedang menunggui anaknya, selama duduk disana Daniel rasanya sangat kenyang karena terus di tawari makanan.
Para ibu-ibu muda itu tentu tak ingin melewatkan momen bersama pria tampan seperti Daniel yang pastinya jarang ditemui di kota ini.
"Coba ini aja, ini enak banget loh. Asli buatan saya Tuan, bukan kaleng-kaleng rasa nya," ujar seorang ibu muda yang berpakaian modis, sejak tadi ia sibuk menawari makanan kepada Daniel.
"Tidak usah, saya sudah kenyang, lain kali saja ya," Daniel mengangkat tangannya menolak halus, perutnya benar-benar sudah sangat kenyang.
"Tuan ini pacarnya Bu Stella ya? Ya ampun, beruntung sekali Bu Stella, ngajar aja sampai ditungguin, takut hilang ya Tuan," goda ibu-ibu lain berpikir kalau Daniel dan Stella memang berpacaran. Karena selama ini jarang sekali ada pria yang datang kesana, malah Daniel itu pria pertama yang datang saja.
"Belum Ibu, doakan saja ya" ucap Daniel tersenyum tipis, tak ingin mengiyakan hal yang bukan kenyataan, meskipun dia juga sangat ingin hal itu memang terjadi.
"Kak Niel? Kakak masih disini?" Stella berseru kaget melihat Daniel yang duduk bersama ibu-ibu itu. Dia pikir Daniel tadi sudah pulang.
"Tenang aja Bu guru, kita enggak gigit pacar ibu Kok, dia anteng orangnya,"celetuk ibu-ibu muda membuat mata Stella terbelalak kaget.
Pacar? Sejak kapan Daniel menjadi pacarnya.
Daniel mengusap alisnya yang tidak gatal, ia bangkit dan mendatangi Stella yang menatapnya dengan ekspresi aneh itu.
"Kau sudah selesai?" tanya Daniel.
"Udah, ini tinggal pulangkan aja. Pacar apa yang mereka maksud, Kak?" ujar Stella masih dengan kerutan di dahinya.
"Aku tidak tahu, kalau sudah kita berangkat sekarang aja," ucap Daniel tak ingin Stella berpikiran yang aneh-aneh.
Stella masih menatap Daniel dengan wajah bertanya-nya. Namun ia mengangguk setuju, Daniel sudah cukup lama menunggunya disana.
"Baiklah, aku ambil tas dulu, Kak" ucap Stella kembali masuk ke kelasnya untuk mengambil tas dan memulangkan anak-anak didiknya.
*****
"Kira-kira Kakak mau beli kado apa?" tanya Stella ketika perjalanan menuju mall.
__ADS_1
"Ehm … menurut kamu apa yang bagus?" sahut Daniel.
"Apa ya? Mama Kakak sukanya apa?" ucap Stella berpikir kado apa yang sekiranya cocok.
"Aku juga enggak tau, nanti lihat aja disana," kata Daniel juga bingung barang apa saja yang di sukai Mamanya.
"Ish, Kakak gimana sih? Masa barang kesukaan Mamanya sendiri nggak tau?" kata Stella mencibir pelan.
"Hahaha, aku beneran nggak tau. Mama itu jarang koleksi barang, dia lebih suka koleksi tanaman hidup gitu, masa iya kita beli tanaman?" ucap Daniel dengan tawa kecilnya.
"Itu malah lebih bagus, nanti Mama Kakak pasti seneng banget," kata Stella semangat mengatakannya.
"Masa tanaman sih? Mama udah punya semua loh jenis tanaman aneh itu," ujar Daniel mengingat-ingat tanaman apa saja yang sudah Mamanya miliki di kebun samping rumah. Mamanya bahkan selalu beli jika ada yang jenis terbaru.
"Pasti ada, Kak. Coba Kakak ingat-ingat," ucap Stella.
Daniel terdiam sejenak, mengingat tanaman hias apa yang Mamanya belum punya. "Ah iya aku ingat, Mama dari dulu pengen banget punya Anggrek Rothschild." Seru Daniel teringat akan bunga yang Mamanya impi-impikan sejak dulu.
"Nah, kita beli itu aja Kak," ujar Stella dengan senyum tipisnya.
"Kenapa nggak bisa, Kak?" tanya Stella menatap Daniel bingung.
"Emangnya kamu nggak apa-apa kalau aku ajak kesana?" ucap Daniel melirik Stella dengan kerutan di dahinya.
"Ehm … sebenarnya aku juga mau ada acara sih Kak, tapi Bogor dari sini cuma butuh waktu 1 jam, jadi kayaknya masih sempet. Lagian aku kan udah janji mau nemenin Kakak, jadi harus sampai dapat dong," ucap Stella melihat jam ditangannya, masih ada cukup waktu untuk ia pergi ke Bogor.
"Baiklah, kita langsung ke Bogor aja kalau gitu," ucap Daniel mengulas senyum tipis yang tak terlihat.
Sepertinya hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupnya, ia memiliki waktu yang lebih lama bersama Stella. Dan ia harus memanfaatkan sebaik mungkin waktu yang ada.
"Ehm … kamu jalan sama aku kayak gini apa nggak ada yang marah La?" tanya Daniel memancing, ia ingin tau apakah Stella sudah punya kekasih atau belum.
"Ada lah, pasti ada yang marah. Kakak nggak tau ya kalau orang yang menjagaku sangat galak," kata Stella tersenyum sedikit mengingat bagaimana marahnya Xander saat tau jika ia dekat dengan pria lain, tapi ia tak peduli, toh pria itu juga punya wanita lain 'kan.
__ADS_1
Kadang Stella merasa bingung dengan sikap Xander yang seolah peduli dengannya, tapi terkadang juga penuh kebencian yang membuat Stella sangat takut untuk sekedar bertanya.
"Memangnya se galak apa sih? Apa dia seperti anjing spider yang selalu menggonggong jika Tuannya di dekati orang," ucap Daniel menanggapinya dengan bercanda.
Stella mengangguk cepat-cepat. "Ya dia seperti itulah, Kak. Jadi jangan sampai dia tahu kalau kita pergi, ini rahasia" kata Stella ikut tertawa karena julukan anjing spider itu memang sepertinya sangat cocok sekali dengan Xander yang hobi marah itu, tapi entah kenapa Stella masih saja mencintainya.
Sepanjang perjalanan itu Stella dan Daniel banyak bercanda, Daniel sering melontarkan jokes receh yang memaksa Stella terus tersenyum. Bagi Daniel sendiri, senyuman Stella membuat hatinya lebih bahagia, ia bisa tenang dan ikut senang jika wanita itu bisa tertawa lepas.
"Sudah Kak, jangan bercanda terus. Lihat jalanan sana, nanti kita malah jatuh lagi," tukas Stella memegang perutnya yang sakit karena terus dibuat tertawa oleh Daniel.
"Gimana aku mau lihat depan kalau di sampingku ada bidadari," ucap Daniel seraya mengerlingkan matanya.
"Dasar gombal," seru Stella mencubit gemas lengan Daniel, wajahnya sedikit tersipu karena ucapan Daniel.
"Ini serius loh, coba kamu lihat kaca itu, aku yakin kamu akan melihat bidadarinya" kata Daniel tak henti menggoda Stella.
"Apaan sih, Kakak tuh suka banget gombal. Apa Kakak lakuin ini ke semua cewek?" ucap Stella memutar bola matanya malas.
"Enggak," sahut Daniel santai saja, mobilnya kini sudah memasuki wilayah Bogor, ia hanya tinggal mencari toko tanaman hias yang paling terkenal di Kota ini.
"Bohong, Kakak pasti gombalin cewek-cewek terus," ucap Stella tak percaya.
"Aku serius,"
"Aku nggak percaya tuh,"
"Dibilangin nggak percaya, aku nggak pernah gombalin cewek loh, tapi aku cuma kayak gini ke cewek yang aku suka," ucap Daniel menatap Stella dengan tatapan seriusnya. Sengaja memberikan kodenya agar Stella tau apa yang dirasakannya.
Stella sedikit kaget, ia menatap Daniel yang juga menatapnya. Apa dia tidak salah dengar? Daniel mengatakan hanya akan menggombal kepada wanita yang dia suka? Apa itu artinya? …
"Ehm, ini masih jauh nggak sih Kak?" Stella segera mengalihkan pembicaraan, tak ingin larut terlalu dalam perasaannya.
Happy Reading.
__ADS_1
Tbc.
Jangan lupa pencet tombol like ya Kak …