
Stella begitu terkejut saat Xander tiba-tiba memeluknya. Pelukan itu sangat erat hingga Stella rasanya cukup susah bernafas. Apalagi Xander yang menciumi rambutnya membuat mata Stella ikut berkaca-kaca.
"Maafkan aku Sayang ..." ucap Xander dengan tangisnya yang lirih.
Menyadari ini semua tidak benar, Stella segera mendorong Xander menjauh dengan sekuat tenaga.
"Lepaskan aku!" teriak Stella marah dan juga takut bercampur menjadi satu.
"Stella, aku ingin minta maaf, tolong jangan mengusirku," ucap Xander kembali membujuk Stella, raut wajahnya memohon yang sangat pada wanita ini.
"Tidak! Pergi dari sini! Jangan menemui aku lagi!" kata Stella memilih menutup pintu Apartemennya karena tidak ingin menemui Xander.
"Tidak, tidak, aku tidak akan pergi sebelum kau memaafkan ku." Xander buru-buru menahan pintu itu sebelum Stella sempat menutupnya rata.
"Tidak mau! Pergilah dari sini!" ucap Stella menggunakan segala tenaga yang dimilikinya untuk terus menahan pintu agar tidak masuk.
"Stella, tolong maafkan aku. Beri aku kesempatan, kita perlu bicara," ucap Xander sedikit memaksa.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi! Semuanya sudah selesai," ucap Stella benar-benar tidak ingin menemui Xander untuk saat ini.
"Stella ..." pinta Xander menatap Stella dengan tatapan penuh harapnya.
"Aku mohon, pergi dari sini," kata Stella balas memohon Xander dengan matanya yang sudah basah.
Melihat tatapan mata Stella, perlahan Xander mengendurkan dorongannya pada pintu itu. Hatinya lebih sakit jika Stella menatapnya seperti itu.
"Aku tidak akan pergi sebelum kau memaafkan ku Stella, aku pasti menunggumu," ucap Xander melepaskan pegangannya pada pintu meski ia sangat tak rela.
Stella tidak begitu peduli, begitu Xander melepaskannya, ia langsung menutup pintu rapat dan menguncinya. Ia tak ingin menangis, tapi hatinya seolah memintanya untuk menangis. Kenapa Xander harus kembali lagi? Kenapa pria itu tidak terus membencinya saja agar ia bisa dengan mudah melupakannya, tapi sekarang ...
__ADS_1
Stella lalu teringat akan anaknya, ia selalu berpikir jika Xander tahu, pria itu akan mengambil anaknya, hanya itu yang saat ini ia takutkan.
"Kamu anak Mama, kamu anak Mama ..." gumam Stella memeluk perutnya, tangisnya menjadi histeris membayangkan jika hal itu sampai terjadi.
Hampir semalaman Stella menangis hingga ia tertidur sendiri. Ia baru terbangun saat mendengar gemuruh petir yang menggelegar diiringi kilat dan juga angin yang berhembus kencang melalui jendela kamarnya yang terbuka.
"Sepertinya akan turun hujan," gumam Stella beranjak turun dari ranjang untuk menutup jendela yang masih terbuka lebar.
Saat pandangan Stella menyapu bagian luar, netranya tak sengaja menatap sosok pria yang menunggu di depan mobilnya. Pria itu tak lain adalah Xander yang memang menunggu Stella sampai wanita itu mau menemuinya.
"Xander?" Stella menutup tirai jendela dengan cepat, ia pikir Xander hanya asal berkata saat pria itu mengatakan akan menunggunya.
Stella mencoba mengintip kembali Xander yang masih setia berdiri di depan mobil. Stella lalu melihat jam yang menunjukkan pukul 3 pagi. Apakah Xander sejak tadi menunggunya di sana? Jika iya, itu artinya sudah berapa jam saja pria itu terus di sana dengan melawan hawa dingin yang begitu mengigit.
"Biarkan saja," batin Stella memilih menutup jendela rapat karena sebentar lagi akan hujan.
Namun nyatanya ia yang tak bisa tenang, saat hujan turun dengan begitu derasnya, Stella kembali menengok ke jendela, berharap jika Xander sudah pergi dari sana. Tapi pria itu tetap bertahan di bawah guyuran hujan yang begitu derasnya.
"Apa yang sebenarnya dia pikirkan," ucap Stella tak bisa menyembunyikan kecemasannya. Jika Xander terus berdiri di sana, pria itu pasti akan sakit.
"Dasar keras kepala, apa dia pikir aku akan luluh melihat dia seperti itu," gumam Stella berdecak seraya menjauh dari jendela.
Mencoba membuang jauh-jauh rasa khawatir yang seharusnya tidak pantas Xander dapatkan. Ia sudah pernah berjuang, namun disia-siakan, lalu untuk apalagi sekarang meminta untuk kembali.
Hampir 1 jam, Stella berkutat dengan pikiran-pikirannya. Terkadang apa yang dikatakan tidak seusai dengan ekspektasi yang ada, ia ingin tidak peduli, namun nyatanya cintanya mengalahkan segalanya.
Stella akhirnya mengambilkan selimut dari dalam lemarinya, tak lupa ia mengambil payung untuk menemui pria keras kepala yang sedang bertingkah bodoh itu.
Xander sudah menggigil kedinginan, giginya gemeletuk karena hawa dingin yang menggerogotinya. Namun ia tak ingin sekalipun beranjak dari sana, baginya hal ini tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang telah Stella rasakan selama ini.
__ADS_1
"Kenapa kau masih disini?" bentak Stella menatap Xander dengan begitu kesal, namun banyak khawatirnya.
"Aku menunggumu," ucap Xander mencoba tersenyum meski gagal karena tubuhnya yang menggigil.
"Pulanglah ..." kata Stella tak tega melihat wajah Xander yang pucat dan bibir pria itu membiru.
"Aku tidak akan pergi jika kau tidak memaafkan ku," kata Xander bahkan rela jika harus terus berdiri di sana.
"Apa kau pikir aku akan memaafkan mu jika kau bertingkah bodoh seperti ini?" kata Stella semakin kesal karena Xander sangat keras kepala.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin kau tahu, aku sudah tau semuanya. Maafkan aku sudah menyakitimu selama ini. Aku sangat menyesalinya Stella, tolong beri aku kesempatan ..." ucap Xander mencoba memegang tangan Stella tapi wanita itu menghindar.
Stella mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia lalu melihat selimut yang dibawanya, ia maju selangkah hingga saat ini Xander berada satu payung bersamanya.
"Pulanglah, jangan sampai kau sakit, kasihan Mama," ucap Stella menyerahkan payung yang dibawanya ke tangan Xander dan juga selimut yang dibawanya.
Stella melangkah mundur tapi Xander menahan tangannya.
"Aku tahu kau masih mencintaiku, kembalilah padaku Stella, kita akan mulai semuanya dari awal," ucap Xander menatap Stella dengan tatapan serius namun sangat lembut.
Stella tak menjawab, ia melepaskan tangannya perlahan lalu beranjak pergi dari sana. Membiarkan dirinya terkena air hujan untuk kembali masuk ke dalam Apartemen. Hatinya masih terlalu sakit jika mengingat apa yang dilakukan Xander dulu.
Xander yang melihat apa yang dilakukan Stella menunduk lesu, apa begini perasaan Stella saat dulu ia menolaknya? Apakah memang tidak ada sedikitpun kata maaf dalam diri Stella untuk dirinya?.
"Aku tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan mu kembali Stella, kau harus tahu kalau aku juga mencintaimu," batin Xander bertekad tak akan menyerah begitu saja hanya karena Stella menolaknya. Jika Stella menolaknya sekali, maka ia akan melangkah ribuan kali untuk mendapatkan hati wanita itu kembali.
Happy Reading.
Tbc.
__ADS_1