Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
(MM&GL) BAB 7. Semua Tentang Mega.


__ADS_3

Menangis rasanya memang sangat melelahkan, tapi yang dilakukan Joana hanya menangis meratapi nasibnya yang menyedihkan. Fisiknya sakit, tapi hatinya jauh lebih sakit.


Setelah menuntaskan keinginannya, Devan langsung tertidur seraya memeluknya. Tapi Joana tidak bisa tidur karena tubuhnya sangat nyeri. Mungkin karena sudah tidak pernah melakukan hal itu, membuat Joana merasa kesakitan. Apalagi ia tidak bisa menikmati percintaannya dengan Devan sehingga semua yang dilakukan penuh paksaan terasa sangat menyakitkan.


Joana menyingkirkan tangan Devan yang memeluk pinggangnya dengan posesif, ia lalu perlahan-lahan menggeser tubuhnya dengan sangat hati-hati. Ia harus mencari cara agar bisa kabur dari tempat itu.


Joana harus bersusah payah bangun dengan berpegangan pada kepala ranjang. Setelah itu ia menjatuhkan dirinya ke lantai.


BUGH.


Tubuh Joana tanpa ampun menghantam lantai dengan keras, membuat ia meringis kesaktian. Joana benci situasi ini, kenapa kakinya harus lumpuh?


"Aku benci, aku sangat benci, kenapa kamu tidak bisa berjalan. Cepatlah berjalan, aku membencimu." Joana memukuli kakinya sendiri dengan keras, menangis seperti wanita menyedihkan dan tidak berdaya.


"Cepat berjalan, setidaknya bergunalah!" teriak Joana terus saja memukuli kakinya yang mati rasa itu.


Namun, apakah itu berguna? Sama sekali tidak. Justru suaranya yang cukup keras membuat Devan terbangun dari tidurnya.


"Mega? Kenapa kamu tidur dibawah?" Devan terkejut melihat Joana ada dilantai.


Devan langsung turun dan mendekati Joana, tapi wanita itu langsung beringsut menjauh.


"Jangan," ucap Joana menutupi tubuhnya dengan selimut yang tadi masih dipegangnya. Bayangan saat tadi Devan memaksa dirinya membuat ia sangat takut.


"Kenapa?" Devan tidak menghiraukannya, ia mendekati Joana dan dengan cepat menyentuh tangannya.


"Jangan, jangan, aku mohon jangan lakukan lagi," kata Joana dengan histeris, tubuhnya gemetaran hanya karena Devan menyentuh tangannya.


Devan mengernyitkan dahinya, ia memegang pipi Joana dengan lembut. "Apa aku menyakitimu?" tanya Devan terdengar sangat bersalah.


Joana menggeleng pelan seraya menangis, ia tidak mau mengatakan apapun hal yang nantinya akan membuat Devan semakin marah.


"Jangan lakukan lagi, aku mohon," pinta Joana.


"Hm, kita sudah terlalu lama tidak melakukannya. Maaf jika aku tadi sedikit kasar, aku berjanji tidak akan melakukannya lagi. Sekarang ayo tidur, aku akan membantumu," kata Devan mengerti.


Mungkin ada saat dimana ia terlalu bersemangat saat menyentuh Joana sehingga membuat wanita itu kesakitan. Dan Devan memakluminya karena dulu Mega juga sering trauma setelah mereka berhubungan, apalagi jika Devan dalam keadaan mood buruk. Mega bisa habis diperlukan kasar oleh Devan.

__ADS_1


Devan lalu meraih Joana ke dalam gendongannya, ia meletakkan Joana dengan sangat berhati-hati di ranjang. Ia tidak melakukan apapun, ia malah menyelimuti Joana lalu duduk disampingnya.


"Apa aku menyakitimu?" Devan kembali bertanya, ia mengusap-usap rambut Joana penuh kasih.


Lagi-lagi Joana hanya menggeleng pelan, benar-benar masih sangat takut pada Devan. Pria yang bisa berubah menjadi iblis sewaktu-waktu.


"Baiklah, ayo tidur lagi. Ini masih terlalu malam," ujar Devan masih terus mengelus rambut Joana.


Joana memejamkan matanya rapat-rapat, berusaha keras mengabaikan Devan dan menurut apa yang dikatakan pria ini. Mungkin untuk saat ini ia memang harus diam terlebih dulu sembari mencari cara untuk kabur dari rumah ini.


Devan terus mengelus rambut Joana sampai wanita itu tertidur. Tatapan Devan tak lepas memandang wajah Joana, benar-benar sangat mirip Mega. Tapi saat Devan memandangnya kembali, ia baru sadar jika Joana bukanlah Mega.


Devan langsung menjauhkan dirinya, sorot matanya tampak berubah-ubah. Antara kaget, bingung menjadi satu. Tapi sesaat kemudian Devan menggelengkan kepalanya.


"Aku terlalu banyak pikiran, dia memang Mega," ucap Devan tersenyum tipis.


Setelah itu ia ikut merebahkan tubuhnya disamping Joana lalu memeluknya kembali. Tak lupa memberikan ciuman manis di kening Joana.


"Selamat tidur, istriku," ucap Devan.


________


Keesokan harinya Joana tidak menemukan Devan saat ia terbangun. Tapi didalam kamarnya sudah ada 4 pelayan yang sudah siap dengan tugasnya masing-masing.


Ada yang membawa makanan, ada yang membawa baju dan dua lainnya memunguti pakaian Devan dan Joana yang berceceran dilantai.


Joana mengumpat dalam hatinya, Devan benar-benar pria yang sangat aneh. Bagaimana bisa membiarkan para pelayan itu masuk ke dalam kamar saat kondisinya yang masih sangat berantakan seperti ini.


"Nona, tadi Tuan Devan berpesan. Setelah Anda mandi, Anda bisa langsung sarapan. Setelah itu Tuan meminta Anda membaca ini," ujar salah satu pelayan memberikan sebuah buku yang sangat map pada Joana.


"Apa ini?" tanya Joana dengan dahi mengernyit.


"Ini data-data tentang Nona Mega. Semua hal yang Nona Mega sukai dan tidak sukai ada didalam sini. Termasuk selera pakaian Nona Mega, nanti siang Nona akan saya temani pergi ke salon dan klinik," ujar pelayan itu dengan bahasa yang lugas.


Joana memandang pelayan itu tidak percaya. "Apa maksudnya ini? Untuk apa aku harus mempelajari semua tentang Mega?" tanya Joana.


"Agar Anda bisa menjadi Nona Mega yang sebenarnya. Tuan Devan sangat tidak suka jika beliau dibantah, sebaiknya Nona menurut saja," kata Pelayan itu lagi.

__ADS_1


"Memangnya, kemana Mega?" tanya Joana lagi, begitu penasaran.


"Nona Mega yang asli sudah meninggal."


Joana menahan napasnya, ia kaget bukan kepalang mendengar pernyataan itu. Firasat buruk mendadak menggelayuti dirinya. Ia berpikir jika mungkin saja Mega meninggal dibunuh Devan.


"Tuan Devan tidak mungkin membunuh wanita yang dicintai. Nona Mega meninggal karena kecelakaan saat mereka akan menikah," ujar pelayan menjelaskan tanpa diminta.


Joana meliriknya sekilas. "Baiklah, aku akan mandi dulu. Bisakah aku meminjam ponselmu?" ujar Joana mencoba peruntungan.


"Tuan Devan akan menghubungi Anda saat sarapan nanti. Sekarang saya akan membantu Anda mandi," kata Pelayan dengan raut wajah dinginnya.


Joana mengertakkan giginya, tidak ada gunanya ia meminta tolong pada para pelayan yang bekerja seperti robot itu. Mereka pasti lebih mendukung Devan daripada dirinya. Ia benar-benar harus berpikir keras agar bisa kabur dari sini.


"Kalian tidak perlu mengikutiku ke kamar mandi. Aku bisa mandi sendiri," ketus Joana saat melihat pelayan itu ingin ikut masuk ke dalam.


"Kami hanya ingin memastikan Anda baik-baik saja, Nona."


"Tenang saja, aku hanya wanita lumpuh. Aku tidak akan kabur ke mana-mana, jika itu yang kalian takutkan," kata Joana melirik pelayan itu dengan sinis.


Pelayan itu tampak menimbang-nimbang, tapi apa yang dikatakan oleh Joana memang masuk akal. Joana tidak akan pergi kemanapun karena kondisi kakinya.


"Baiklah, saya akan menunggu diluar."


Pelayan itu akhirnya meninggalkan Joana sendirian di kamar mandi. Kesempatan itu Joana lakukan untuk menyusun strategi agar bisa keluar dari rumah itu.


Joana melihat sekelilingnya, tapi tidak menemukan apapun selain ventilasi kecil yang ada di bagian atas kamar mandi. Tidak mungkin dia memanjat kesana. Satu-satunya cara agar ia bisa keluar tentu jika ia sedang diluar rumah ini.


"Tadi pelayan itu mengatakan akan mengajakku ke salon, aku harus menggunakan kesempatan itu untuk kabur," ucap Joana tersenyum manis, akhirnya ada celah untuk bisa keluar dari tempat yang seperti neraka baginya itu.


Namun, siapa sangka jika gerak-gerik Joana sudah berada dalam pengawasan Devan. Pria itu duduk diruang kerjanya seraya menatap layar laptop yang menyala. Disana terlihat semua yang Joana lakukan termasuk di kamar mandi karena Devan sudah memasang kamera kecil yang tidak akan terlihat oleh siapapun.


"Apa yang dia rencanakan?" gumam Devan mulai menegakkan tubuhnya saat melihat senyuman Joana.


"Lakukan saja apa yang akan kamu lakukan, Mega. Aku ingin melihat sejauh mana kamu bisa berlari. Sudah aku bilang, tempatmu hanya disisiku," ucap Devan dengan seringai sinis yang tak tertahankan. Matanya yang berwarna hazel itu kembali berkilat-kikat layaknya api yang menyala.


__ADS_1


__ADS_2