
Joana datang ke kantornya setelah menyelesaikan semua pekerjaannya. Disampingnya sudah ada Marvin yang sejak tadi di rangkul mesra lengannya. Sebenarnya perusahan Entertainment itu merupakan salah satu anak cabang perusahan Marvin, hanya saja bukan dia yang mengelola. Jadi semua orang sudah tahu bagaimana posisi Marvin disana.
"Sayang, nanti malam kita jalan dong, aku udah lama banget nggak jalan berdua sama kamu," ucap Joana masih terus menggelayuti lengan Marvin sampai masuk ke dalam ruangan pribadinya.
"Memangnya kamu bisa?" ucap Marvin menyindir Joana yang sering menghabiskan waktunya bersama Xander.
"Kamu marah?" Joana tertawa kecil merasa kalau Marvin cemburu padanya. Ia segera mendudukkan dirinya di pangkuan Marvin tanpa tahu jika ada sosok orang lain yang berada di ruangan itu.
"Aku nggak berhak marah kan? Kau memang lebih mencintai dia daripada aku," kata Marvin memasang wajah masamnya.
Joana semakin tertawa, ia menangkup kedua pipi Marvin agar menatap ke arahnya.
"Siapa bilang aku mencintai dia? Kau tahu sendiri bagaimana perasaanku Sayang," ucap Joana tersenyum tanpa dosa.
Xander mengepalkan tangannya erat, jadi selama ini Joana tidak pernah mencintainya? Seketika saja ia merasa diguyur oleh air es yang sangat dingin saat mendengar pengakuan dari Joana.
"Lalu kapan kau akan melepaskannya? Kau tidak kasihan dengan adikmu?" kata Marvin lagi.
Xander menajamkan telinganya, ia sudah tak sabar ingin menghancurkan kedua manusia sialan itu, tapi dia menahannya. Ingin mendengar apakah ada lagi kebohongan yang ditutupi oleh Joana darinya.
"Untuk apa kasihan? Justru hal itu sangat bagus, wanita itu sudah merebut semua kasih sayang kedua orang tuaku. Jadi sudah seharusnya dia mendapatkan balasan yang setimpal," kata Joana tersenyum licik.
"Ya, tapi kalau bukan karena Stella, kau tidak mungkin gagal menikah dengan Xander," kata Marvin lagi.
"Kau benar, Xander benar-benar bodoh, dia percaya saja kalau Stella sudah menjebak dirinya. Oh, sungguh Stella yang malang," ucap Joana tertawa puas.
Mata Xander membulat sempurna, jantungnya seketika berdetak kencang mendengar kenyataan yang sangat mengejutkannya itu. Jadi Stella benar-benar tidak pernah menjebaknya? Tapi mereka berdua adalah korban dari kelicikan Joana.
"Hahaha, kau benar. Setelah ini tinggalkan saja pria bodoh itu. Aku sudah tak sabar ingin segera menikah denganmu," ucap Marvin menggoda Joana.
"Akan segera aku lakukan, dia juga sudah sangat membosankan," kata Joana terkekeh kecil melihat godaan Marvin. Mereka berdua langsung menyatukan bibir mereka dan bertukar saliva.
__ADS_1
Xander sudah tak bisa lagi menahan emosinya, darahnya mendidih melihat wanita yang dicintainya dan dibela mati-matian justru sudah membohonginya habis-habisan. Xander tak membuang waktunya lagi, ia segera keluar dari tempat persembunyiannya.
"Pengkhianat!" Xander berteriak sangat keras hingga membuat Marvin dan Joana terkejut.
Kedua orang itu reflek langsung melepaskan tautan mereka dan bangkit dari posisinya.
"Xander!" Joana tak bisa menutupi rasa terkejutnya. Ia tidak menyangka kalau Xander berada disana, sejak kapan pria itu datang.
"Wanita licik! Apa yang sudah kau lakukan!" teriak Xander yang sudah gelap mata tiba-tiba langsung menarik tangan Joana kasar dan mencengkeramnya kuat.
"Hei! Lepaskan Joana, jangan kasar padanya!" ucap Marvin mencoba membantu Joana.
Xander yang sudah di kuasai emosi, tak memikirkan apapun lagi. Ia langsung melibas kepala Marvin dengan pukulan keras.
"Kalian berdua ba ji ngan! Aku akan menghancurkan kalian!" teriak Xander seperti kesetanan. Ia menarik baju Marvin agar pria itu bangkit lalu menghajarnya tanpa ampun.
"Xander! Hentikan!" Joana berteriak panik melihat Marvin yang berdarah-darah karena perlakuan Xander. Ia mencoba menghalangi Xander untuk tidak memukul Marvin, tapi pria itu malah menepis tangannya kasar.
"Xander! Jangan Xander! Tolong!" Joana segera bersujud di depan Xander, memohon agar pria itu tidak melakukan hal yang nekat.
Xander mengertakkan giginya, badannya sudah penuh dengan keringat dan nafasnya terengah-engah. Baju dan rambutnya pun sudah acak-acakan karena perkelahiannya barusan.
"Katakan padaku sudah berapa lama kau mengkhianati ku?" tanya Xander mengetatkan rahangnya, ia tak ingin lagi melihat wajah wanita licik yang sudah mengkhianatinya itu.
"Maafkan aku," ucap Joana menangis sesenggukan, tubuhnya gemetaran karena sangat ketakutan.
"Katakan sejak kapan?!" Bentak Xander semakin emosi.
"Sebelum kau mengenalnya, dia sudah mempunyai hubungan denganku. Jadi disini kau yang datang dan merusak segalanya," ucap Marvin meski menahan sakit ditubuhnya, ia ingin mengatakan hal yang sebenarnya.
Joana terkejut, ia tak percaya kalau Marvin akan mengatakan hal seperti itu.
__ADS_1
Xander menekan giginya kuat-kuat, itu artinya Joana memang sudah mengkhianatinya sejak awal. Dan bodohnya dia percaya begitu saja selama dua tahun mereka menjalin hubungan. Xander menatap kedua orang itu tak percaya, rasanya ia ingin sekali tertawa untuk kebodohannya selama ini.
"Kalian berdua memang iblis! Hati kalian sangat busuk! Tapi kalian malah menumbalkan orang lain dalam hubungan hina kalian! Menjijikan!" kata Xander meludah ke lantai.
"Maafkan aku Xander, tapi percayalah aku tidak pernah menjebak Stella," ucap Joana masih mencoba membujuk Xander dengan satu-satunya cara yang bisa dilakukan.
"Percaya padamu?" Xander tertawa sinis, ia membanting vas bunga yang dipegangnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping.
Joana terkejut melihat hal itu, ia melihat Xander yang ekspresi wajahnya semakin menggelap dan tak tertebak.
"Kau memintaku percaya padamu Joana?" ucap Xander berjongkok seraya mencengkram dagu Joana kuat.
Joana mengangguk cepat-cepat, ia mulai ketakutan tapi juga tak berdaya.
"Jangan bermimpi, kau sudah sangat mengenalku, dan kau harusnya sudah tahu apa hukuman jika ada orang yang mengkhianati ku," ucap Xander tanpa diduga langsung mencekik leher Joana dengan kuat.
"Argh! Sakit … lepas…kan…aku" Joana memukul-mukul tangan Xander, berharap pria itu akan melepaskannya.
"Sakit? Apakah kau pernah berpikir bagaimana sakitnya Stella saat kau menjebaknya?" ucap Xander tersenyum miris, ia mengingat bagaimana sikap buruknya selama ini kepada Stella.
"Maaf …" ucap Joana memejamkan matanya kuat-kuat, air matanya terus mengalir karena sakit di kerongkongannya.
"Tidak semudah itu Joana, kau sudah menghancurkan hidupku, jangan harap aku akan semudah itu melupakanmu, kau harus mati!" ucap Xander tak memikirkan apapun lagi, ia terus mencekik leher Joana, tak perduli wanita itu meronta minta dilepaskan.
Semua yang dilakukan Joana tidak akan bisa dimaafkan sampai kapanpun. Joana bukan hanya mengkhianatinya, tapi wanita itu juga sudah menghancurkan hidupnya hingga ia membalas dendam kepada orang yang salah.
"Astaga Tuan! Apa yang Anda lakukan!" Luke berteriak terkejut melihat kondisi ruangan Joana yang hancur tak berbentuk. Ia semakin terkejut melihat Tuannya yang mencekik leher Joana.
"Lepaskan dia Tuan," ucap Luke menarik tangan Xander kuat, ia tak akan membiarkan Tuannya terkena masalah jika sampai membunuh orang.
Happy Reading.
__ADS_1
Tbc.